Jumat, 07 November 2014

Marathon

Aku adalah seorang pelari marathon. Bersama beberapa pelari lainya sedang mengikuti sebuah peerlombaan, yang menurutku tak pernah aku menganggapnya sebagai perlombaan. Memulai perlombaan dengan beberapa orang yang sudah bersiap di garis star.  Dan ia, iya, ia adalah orang yang awalnya tak pernah aku rencanakan tiba-tiba saja menarik perhatianku diantara pelari-pelari lainnya

Semua bersama-sama berlari dari start, aku tahu betul, kala itu ia langsung berlari sprint ketika star baru dimulai, padahal ini adalah lari marathon, bukanlah lari sprint. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga ia memilih berlari jauh lebih cepat dari yang lainnya. Pikirku ia akan sampai di garis finish paling awal. Atau setidaknya lebih dulu sampai pada garis finish daripada aku. Aku tahu betul tentang kemampuanku, aku tak mungkin berlari cepat hingga berada di garis depan setelah start baru saja dimulai. Karena aku tahu, aku akan kehabisan energy dan aku sendiri malah sanksi dengan diriku apakah bisa sampai garis finish atau tidak, karena terlalu memaksakan. Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Mungkin ia tak pernah smenyadari, bahwa ada seseorang yang dibelakangnya. Iya, ada aku yang terus mencoba berlari meski dengan langkah yang sudah tak lagi tegap,  agar bisa terus mengikuti langkah kakinya, namun langkah kakiku tak mampu  melewati atau sekedar membersamainya.

Jalur lari masih panjang, ia masih berada jauh didepanku, dan semakin lama  malah jauh dari penglihatanku. Aku pikir ia akan jauh meninggalkanku dan sampai di finish terlebih dahulu. Aku terus berlari, namun kini sudah tak ada punggungnya lagi yang mampu aku lihat ketika aku terus berlari menatap kedepan. Mencoba terus berlari dan sesekali aku harus berhenti dan hanya melangkah dengan langkah pendek serta berusaha untuk berjalan hingga garis finish. Entah kapan sampainya, karena aku sudah tak mungkin untuk menjadi orang pertama yang sampai digaris finish. Aku hanya ingin terus berlari sampai finish, meski hanya akan menjadi orang yang terakhir menyentuh garis finish. Yang terpenting bagiku adalah garis finish, karena dari awal tujuanku adalah garis finish, sedangkan menjadi orang pertama yang menyentuh garis finish sudah bukan lagi menjadi ambisiku. Dan dari awal aku juga tidak pernah menganggapnya sebagai perlombaan.

Sekian lama aku berlari, melihat kabar dan kemeriahan tentang pelari lain yang sudah sampai di garis finish. Mungkin mereka yang sudah berada di garis finish sudah duduk santai, ada yang focus pada lomba marathon selanjutnya, ada juga yang sudah lelah berlari dan masih terlalu nyaman beristirahat.  

Aku yang sudah mulai lelah berlari, dan mencoba bertahan agar bisa sampai di finish, hingga aku lalai, bahwa ia yang selalu aku lihat didepanku, malah kini tanpa kusadari malah sudah berada dibelakangku. Entah kenapa ia bisa aku lewati padahal dulu aku tahu betul bahwa kamu mampu jauh berada di depanku untuk melwati garis finish. Ingin rasanya aku tahu kenapa ia bisa tertinggal olehku. Namun lagi-lagi aku enggan untuk belari kebelakang atau sekedar memperlambat langkah. Karena ketika aku melihat ke belakang dirimu seperti sedang berhenti dan sedikit menghiraukan garis finish. Entah kenyamanan apa yang membuatnya enggan untuk melanjutkan hingga sampai finish, mungkin kakimu sudah tak kuat lagi untuk melanjutkan langkah hingga finish. Harus aku akui, aku juga pernah mengalami apa yang kau alami saat itu. Ketika berlari dan memutuskan untuk beristirahat, namun malah menjadi lena dan rasanya-rasanya garis finish yang menjadi tujuan akhir dari marathon ini seakan kabur dari penglihatan. Namun aku mencoba untuk membuka mata dan meyakinkan bahwa garis finish sudah dekat dan aku harus segera sampai entah bagaimana pun caranya, meski hanya dengan langkah yang sangat pelan, setidaknya aku berusaha untuk mendekati garis finish.

Akhirnya aku sampai pada garis finish, sedangan ia? Aku tak tahu dimana posisinya saat itu. Setelah melepas lelah, aku mencoba untuk menengoknya dan berlari ke belakang, aku hanya ingin memastikan bahwa dirinya masih berusaha untuk berlari hingga garis finish. Dan ketika aku coba untuk melihat keadaannya, sepertinya ia sedang beristirahat dan menurunkan langkah kakinya. Aku pikir ia sudah benar-benar lelah. Di saat itulah aku beranikan diriku untuk memberi semangat kepadanya dan meyakinkan bahwa ia bisa sampai garis finish.

Entah kehadiran yang kurang tepat hingga niat baikku seakan ia terjemahkan lain, padahal aku tulus untuk memberi semangat kepadanya, meski aku masih enggan untuk mengulurkan tanganku untuk menuntun hingga garis finish, karena aku tahu ia akan menghiraukan uluran tanganku. Saat aku coba mengingatkan bahwa ia harus terus berlari meski hanya dengan langkah kecil. Namun entah kenapa ia justru seakan tak pernah menghiraukanku. Iya, harus aku akui aku salah, aku tidak berusaha untuk memahami kondisinya.

Sekarang aku bukan tidak peduli lagi dengan dirinya, namun cukuplah aku memperhatikannya dari jauh. Dan sesekali memastikan bahwa dirinya masih ingin terus berlari atau berjalan hingga garis finish. Senang ketika dirinya sekarang sudah berusaha terus melangkahkan kaki hingga ke finish, karena tujuan dari perlombaan ini adalah sampai garis finish.


Sedangkan aku? Tak apalah aku hanya sebagai penonton kali ini, ikut merayakan setiap pencapaiannya, meski ia tak menyadari keberadaanku.  Itulah mengapa aku tak pernah menganggap bahwa marathon ini bukanlah sebuah perlombaan karena perlombaan hanya akan menghasilkan pemenang, yang hanya akan menumbuhkan kesombongan atas pencapaian diri, bukan kepedulian kepada sesama.