Senin, 24 November 2014

SKRIPSI

SKRIPSI, mahasiswa strata 1 pasti akan menemui tugas suci itu, karena mau tidak mau hanya untuk sekedar menaruh gelar kesarjanaan tepat di belakang nama, skripsi harus (segera) diselesaikan. Entah mengapa skripsi yang (hanya) berupa kumpulan lembaran kertas yang berisi karya ilmiah itu begitu menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran. Padahal untuk mengerjakan tugas-tugas setiap mata kuliah mahasiswa mampu menyelesaikan dalam semalam. Namun kenapa untuk menyelesaiakan skripsi butuh waktu yang cukup lama, saya sendiri menyelesaikan skripsi hampir satu tahun lebih. Dan Alhamdulillah aku sudah bisa mengakhiri masa-masa itu, masa dimana aku harus rela berjam-jam duduk di depan layar komputer untuk menyelesaikan proposal. Masa dimana aku harus rela di PHP berulang kali karena kesibukan dosen yang tak bisa diduga. Masa dimana aku harus menjadi orang yang sangat sensitive ketika ada orang yang dengan songonnya mengatakan “bagaimana skripsimu?” Dan baru setelah aku menyelesaikan skripsi aku baru berani menuliskan tuisan tentang skripsi ini. Bagi kalian yang masih berjuang untuk lulus, jangan pernah patah semangat. hahahaha

Skripsi, prosesmu tak sesimpel dengan namamu, makhluk yang tak bernyawa ini malah menjadi seperti monster yang tak kasat mata, tumbuh di dalam diri setiap mahasiswa tingkat akhir. Kata skripsi yang awalnya nampak biasa-biasa saja, namun bias berubah kata yang sangat sensitive didengar di telinga. Kata skripsi sudah menjadi seperti sebuah sensor yang ketika kata itu muncul, maka itu sama dengan tombol sensitive itu sudah on, apa yang terjadi? Mau marah tidak enak sama temen sendiri, dan jurus terakhirnya adalah mengalihkan topic pembicaraan atau diam seribu bahasa. Namun demikian skripsi juga dirindukan (beberapa) mahasiswa yang sudah ingin segera menyelesaikan skripsi dengan harapan bias segera lulus. Tidak sedikit pula yang masih bingung dengan tema apa yang akan diambil untuk tugas suci bernama skripsi itu.

Saya belajar banyak hal mengenai proses skripsi, karena banyak sekali pelajaran tentang hidup ini yang tidak bisa didapatkan hanya melalui kelas-kelas mata kuliah, meski saya kuliah di psikologi, namun semua masalah yang aku pelajari di kelas masih di dominasi oleh teori-teori, padahal studi mengenai fenomena-fenomena social di sekitar kita sangat menarik untuk di ulas melalui sudut padangan keilmuwan psikologi.

Proses skripsi mengajarkanku bahwa terkadang segala sesuatu berjalan tidak sesuai rencana, target lulus yang sering mundur karena ada kendala dengan skripsi misalnya. Skripsi adalah sebuah perjuangan yang berawal dari diri sendiri, banyak kendala yang sebenarnya muncul bukan dari dosen pembimbing, namun justru berasal dari dalam diri sendiri. Ketika rasa malas yang tak berkesudahan, kendala dalam proses skripsi yang tidak segera di selesaikan dan malah menghindari dengan segala aktifitas yang membuat skripsi semakin kabur dan enggan untuk segea di selesaikan.

Harus aku akui, diriku juga seperti mahasiswa tingkat akhirnya, ada kalanya aku menjadi bersemangat, hingga merelakan sedikit jam tidur bekurang untuk menyelesaikan proposal agar segera bisa maju ke dosen pembimbing, namun terkadang juga aku menjadi tak peduli lagi dengan skripsi, karena masih banyak di luar sana aktifitas yang lebih menyenangkan daripada duduk berlama-lama di depan layar komputer dan menatap ms word untuk mengerjakan skripsi. Kebiasaan menulis blog juga membuatku sedikit susah untuk memulai menulis kata demi kata dalam skripsiku, maklum lah blogku bukan berisi tulisan-tulisan ilmiah, karena  saya terbiasa menulis dengan gaya freewriting.

Sujud syukur akhrnya aku bisa mengakhiri masa-masa skripsi, di tengah rasa malas yang terus menghampiri, di tengahh kegiatan-kegiatan lain yang jauh lebih menyenangkan, serta di tengah pekerjaan sambilan yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang jajan. Lulus kuliah bukan berarti perjuangan sudah selesai, di depan masih ada hal yang lebih besar untuk aku hadapi, tentu saja mencari pekerjaan. Beginilah mahasiswa, ketika belum lulus sering galau karena skripsi tak kunjung selesai sedangkan teman-teman seangkatan sudah banyak yang bekerja, ada juga yang sudah menikah. Dan setelah lulus malah bingung karena pengalaman yang minim membuat kami fresh graduate susah mencari pekerjaan.

Mengeluh bukanlah solusi, terus berusaha dengan melakukan yang terbaik adalah jalan yang harus ditempuh. Semoga kami para sarjana baru (mau) di wisuda terus bisa survive di tengah tuntutan segera menikah, eh maksudnya di tengah tuntutan untuk segera mendapatkan penghasilan sendiri, sehingga bisa buat modal untuk menikah. Hahahaha ujung-ujungnya nikah juga J

Salam