Rabu, 30 Desember 2015

CINTA TAK PERNAH TEPAT WAKTU

CINTA TAK PERNAH TEPAT WAKTU. Aku jadi teringat ketika akan membeli buku itu, karena ketika sedang mencari buku tersebut di togamas Solo, buku tersebut hanya tinggal satu, dan sempat mutung ketika aku cari namun tidak ketemu. Dan atas bantuan salah satu pegawai di sana, akhirnya buku yang tinggal satu itu ketemu juga, dan saya pun langsung membelinya.

Awalnya aku mengira novel itu adalah novel debutan dari sang penulis, yaitu Puthut EA. Namun ternyata novel ini semacam lanjutan dari novel terdahulu, yang berjudul “Berani Beli Cinta dalam Karung?” dan di akhir novel yang baru saja aku baca (Cinta tak pernah tepat waktu) juga diceritakan bagaimana novel “Berani Beli Cinta dalam Karung?” tesebut dapat di selesaikan hanya dalam waktu 3 minggu saja oleh sang penulis, siapa lagi kalau bukan Puthut EA.

Cinta tak pernah tepat waktu, tentu novel ini berkisah tentang si “aku” yang dalam perjalanan cintanya belum bisa move on dari mantan pacarnya yang sudah menikah. Dan karena belum move on itu pula ia tidak berani berhubungan dengan wanita lain. Dalam novel tersebut juga diceritakan, bagaimana si Aku dalam novel tersebut bisa menjalin hubungan, sedang ia belum sembuh dari lukanya karena di tinggalkan. Ibarat pemain sepak bola, sembuhkan dulu cideranya, baru bermain lagi, karena memaksakan untuk tetap bermain dalam keadaan cidera hanya akan menambah semakin parah cidera tersebut.

Cerita menjadi menarik, karena dibumbui cerita tentang kehidupan aktifis, serta beberapa kisah tentang aktifis-aktifis lainnya. Dan hal ini justru menurut saya menjadi semakin menarik, karena mencoba untuk melihat kehidupan lain, di luar kisah cinta itu sendiri.

Ditambah lagi, dalam cerita tersebut juga menceritakan kehidupan seorang penulis. Ada istilah-istilah yang baru aku ketahui dalam kehidupan penulis, ada istilah detectif partikelir, pembunuh bayaran, dewa laut, dan lain-lain. Juga menceritakan tentang bagaimana seorang penulis bekerja dengan satu satu misalnya, artinya satu bulan bekerja, satu bulan libur, dan ada pantangan yang harus dihindari, yaitu seperti bekerja ngedur tanpa jeda, karena hal ini akan membuat seseorang menjadi serakah.


Dan novel ini di akhiri dengan cerita yang sedikit dramatis, ketika lukanya sudah sembuh dan siap untuk menjalin hubungan dengan wanita, ia jatuh cinta kepada seorang pemilik kedai kopi, dan ketika ia akan menyatakan cintanya namun ia urungkan niat tersebut, karena atas informasi temannya yang telah melakukan penyelidikan wanita tersebut sudah mempunya suami dan anak. Dan lebih dramatis lagi ketika ia bertemu dalam sebuah kereta, dalam hening mereka yang awalnya enggan untuk bertegur sapa kemudian saling mengobrol dan yang membuat mak deg adalah ketika ia tahu bahwa dulu ia pernah berbohong bahwa ia sudah punya suami dan anak, karena wanita tersebut sering merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dirinya. Dan dicobalah menanyakan dengan kata “seandainya”. “Seandainya dulu aku langsung mengutarakan cinta kepadamu, apakah kamu mau menerimaku?” Dan semakin mak jleb ketika wanita itu menjawab “iya”. Namun si wanita ternyata baru saja menikah. Dan sepertinya memang begitu, cinta tak pernah tepat waktu.
Read more ...

Selasa, 29 Desember 2015

Kamu dan Kopi


Aku bukanlah pecinta kopi, aku hanya suka minum kopi, udah gitu aja! Aku tidak paham dengan kopi apa yang kuminum. Arabika kah? Atau robusta kah? Aku tidak paham itu! Yang kutahu hanya kopi, minuman hitam pekat, itu saja. Ketika pagi hari, entah itu sedang di rumah, atau ketika sedang dinas pagi di kantor aku akan menyempatkan waktu untuk ngopi, ya setidaknya secangkir kopi lah, meski perut masih dalam keadaan kosong sekalipun. Betapa bahagianya aku yang tidak memiliki riwayat sakit maag, sehingga aku tidak khawatir dengan asam lambungku akan naik ketika meminum kopi dalam keadaan perut masih kosong.

Awalnya aku mengenal kopi dari orang-orang terdekatku. Aku masih ingat betul, ketika itu aku masih kecil, orang-orang terdekatku, termasuk Ibu, memiliki rutinitas minum kopi atau ngopi di pagi hari. Dan di situlah aku mulai penasaran dengan kopi. Bagaimana rasanya minuman panas berwarna hitam pekat itu, hingga banyak orang yang menyempatkan waktu di pagi hari untuk meminumnya.

Namun ketika aku ingin mencobanya. Mereka selalu membuat alasan, bahwa aku tidak boleh minum kopi, karena aku masih kecil. “Besok kalau udah gede, baru boleh minum kopi”. Aku yang masih kecil pun hanya mengiyakan saja ucapannya. “Aku pengen cepet gede, biar boleh minum kopi”. Begitulah masa kecilku yang dikelilingi oleh mereka penikmat kopi, terutama ibuku, Ibu yang dari dulu tinggal di Sumatera, setiap pulang ke Solo tidak pernah lupa untuk membawa kopi dari Sumatera.

Pertama aku mengenal rasa kopi, aku meminum kopi hitam pekat yang sebenarnya untuk suguhan para tamu, namun karena yang membuat kelebihan satu, jadi aku yang meminumnya. Waktu pertama kali aku meminum kopi, yang kurasakan adalah manis. Jadi hingga aku dewasa pun, yang namanya kopi, ya rasanya manis. Ditambah lagi dengan banyaknya kopi-kopi yang beredar saat ini dengan variasi rasa, membuat keyakinanku semakin terpatri bahwa kopi itu manis. Bukan pahit!

Namun sejak pertemuan dengan seorang teman. Keyakinanku tentang kopi pun semakin runtuh. Ketika itu aku diajak oleh temanku ke sebuah kedai kopi, aku yang kebetulan tidak ada agenda lain pun, menuruti keinginan temanku tersebut.
Seperti biasa ya, Mas ia mulai memesan kopi, Nampak ia sudah sering berkunjung ke kedai mungil itu. Kedai itu hanya berukuran kecil, hanya ada  4 meja kecil, yang setiap mejanya terdiri dari 4 kursi yang mengelilinginya. Bisa dikatakan kedai tersebut tidak begitu ramai, namun nampaknya sudah punya pelanggan tetap.
“Kamu suka kopi juga? Tenang kali aku yang traktir deh”
“Iya, sama aja”.
Jujur aku tidak tahu dengan kopi apa yang ia pesan, pikirku yang kami pesan adalah kopi hitam pekat seperti yang aku minum sehari-hari. Ia mulai bercerita tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, tentang hobi, kemudian tentang hubungan percintaannya, iya begitulah ketika orang sudah mulai nyaman, mereka akan secara tidak sadar sebuah obrolan itu akan menuju pada sebuah topik yang bernama “curhat” ya begitulah wanita, dikasih pundak, langsung bersender. hehehe

Tiba-tiba pelayan pun datang seakan menyela obrolan kami. “kopinya” suara Mas-mas penjaga kedai yang membuat obrolan kami jeda sesaat.
“Diminum dulu kopinya yuk, mumpung masih panas”
Aku perhatikan ada ritual khusus yang ia lakukan sebelum menyeruput kopinya. Ia menutup matanya dan menghirup kepulan asap yang ke luar dari air kopi panas tersebut, seperti halnya dengan berdoa sebelum makan.

“Hey, malah bengong, kopinya itu, keburu dingin” Ia sepertinya tahu bahwa aku sedang memperhatikannya ketika ia sedang meminum kopi.
“Nanti lah, masih panas”.
“Wah, kamu itu, sukanya menunda kenikmatan, kopi itu akan semakin nikmat jika di sruput ketika dalam keadaan panas, coba anget atau dingin, pasti udah nggak senikmat ketika masih panas, coba aja deh”

Aku mulai menghirup kecil kopi di cangkirku agar bisa segera kunikmati. Dan ketika aku mulai menyeruput kopi itu, tiba-tiba rasa yang begitu pahit mulai masuk dan sampai pada lidah, aku pun agak kaget dan hampir aku muntahkan. “Ini kopi kok aneh ya, lupa di kasih gula ini”.
“Lho, kita kan pesennya sama, jadi yang begini rasanya, tempatku juga sama kali, coba rasain”. Jawabnya. Aku pun langsung memanggil pelayan untuk meminta segelas air putih.
“Ohiya, Mas, sekalian sama gula ya?” ia juga meminta gula. Ia sepertinya tahu, bahwa aku tidak terbiasa dengan kopi tanpa gula seperti dirinya.
“Kamu nggak ngerasa gimana gitu, minum kopi dengan rasa pahit yang seperti ini?”
“lah, yang namanya kopi ya kaya gini, aku kalau di kedai ini biasanya minum kopi seperti ini, kopi tanpa gula”

Aku mulai mencampurkan sedikit gula untuk mengurangi rasa pahit pada kopi itu, sambil mencari tahu, kenapa ia bisa begitu menyukai kopi tanpa gula, yang akan lebih dominan dengan rasa pahit. “Kenapa sih, kamu malah suka dengan kopi tanpa gula”. Ia seakan sulit untuk menjawab pertanyaanku.
“Kenapa ya? Ya pokoknya beda aja, orang bilang bahwa ia suka atau katakanlah penikmat kopi, tapi kenapa ia tidak suka dengan rasa asli dari kopi itu sendiri? Ia memanipulasi rasa asli dari kopi dengan tambahan coklat, madu, cream, kemudian gula. Ia seperti halnya mengingkan kenikmatan hidup tanpa ingin merasakan kepahitan hidup itu sendiri”.  Kemudian berhenti sejenak untuk kembali menikmati kopinya yang sudah mulai dingin.

Aku pun mulai serius untuk mendengarkannya, karena ia nampak antusias dengan apa yang ia coba jelaskan, kemudian ia mulai melanjutkan kembali pembicaraanya “Jadi, sepertinya mereka hanya ingin merasakan effect dari kopi tanpa mau menikmati rasa kopi yang sebenarnya, mungkin kamu juga adalah orang-orang yang aku maksud, kamu mungkin suka minum kopi, kalau boleh tahu kamu minum  untuk apa?”

Aku menghela nafas sebentar, dan ketika aku akan menjawab pertanyaannya, ia seperti tidak sabar dan mulai melanjutkan kembali pembicaraannya “Mungkin kamu minum kopi ketika sudah mulai lelah dan mengantuk padahal masih banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan kan? Karena aku tahu bahwa kamu bukan perokok, jadi bukan rokok yang kamu butuhkan ketika kamu sudah mulai lelah dan mengantuk kan. Tapi kopi!” Aku pun hanya bisa mengangguk dan sesekali meminum kopi yang sudah aku beri sedikit gula tersebut.

“Lagian dari segi kesehatan, terlalu banyak konsumsi gula juga tidak baik kan? Lihat saja dirimu sekarang, ngemil jalan terus, minum pun sering yang manis-manis, apalagi sekarang sedang ngobrol sama aku, bisa diabetes kamu kalau sering-sering kaya gini”
“Preeeeet” kami pun tertawa lepas seakan memecah suasana yang  tadinya serius.

Kopi yang sudah mulai dingin dan hanya masih beberapa sruputan lagi, seakan menjadi tanda bahwa hanya beberapa menit lagi kami akan mengakhiri obrolan di kedai kopi. Dan setelah ia menghabiskan kopi dalam cangkirnya, sebelum menuju kasir untuk membayar kopi kami, ia malah bertanya dengan nada yang sedikit mengejek, ”Ehiya jomblo terus, kapan mau nikahnya?”

Sambil menghabiskan kopi aku sedikit melototinya, “Ngomong apa sih?” jawabku. Dengan penuh canda ia malah seakan mengejekku

“Ohiya, pahitnya kopi aja nggak mau, apalagi pahitnya hidup”


sumber gambar; musmus.me
Read more ...

Rabu, 16 Desember 2015

Aneh

“Kamu sadar tidak, kalau dirimu itu aneh?”
“Maksudnya?” aku bertanya balik kepadanya, meski aku sadar bahwa ia sedang menyerangku dengan kalimat itu.
“Kamu sadar tidak, kalau kamu itu aneh?” ia lebih menekankan pada kata aneh
“Oh, iya aku sadar, sadar banget malahan, dan aku jauh lebih aneh dari yang kamu pikirkan tentang aku” jawabku yang mecoba untuk bertahan dengan serangannya.
“oh, ya?” sepertinya ia malah menjadi penasaran denganku
“Ya, dan aku sadar kalau diriku aneh”
“kamu itu, ya?”
“Itu apa”
“Aneh”
“Aku kan sudah mengatakan kepadamu, bahwa aku memang aneh, aku sadar bahwa diriku aneh” Dengan sedikit senyum aku melihat betapa ia malah merasa jengkel dengan jawabanku, kemudian malah pergi meninggalkanku.

Harus aku akui memang, bahwa aku adalah orang yang aneh, meski terkadang aku sering berpura-pura menjadi manusia normal. Sebagai lelaki normal memang seharusnya aku sudah mulai tertarik dengan wanita untuk segera aku halalkan untuk menjadi teman hidupku. Apalagi di mata reka-rekan kerjaku, aku adalah lelaki yang nampak dewasa, padahal aku sedang berpura-pura agar terlihat dewasa. Aku pernah pacaran, dengan seseorang yang berbeda agama denganku. Kala itu aku tidak peduli dengan perbedaan keyakinan itu. Dan dengan dia pula aku merasakan pahitnya cinta.

Lantas kenapa aku sekarang tidak mau berpacaran (lagi)? Karena aku takut. Aku tidak takut dengan pahitnya cinta, karena aku pernah merasakan itu. Justru aku takut dengan manisnya cinta. Kenapa bisa begitu? Karena aku aneh!
Aku suka melamun, bahkan ketika sedang mengendarai motor sekalipun. Aku pernah dipinggirkan oleh polisi lalu lintas karena “diduga” aku menerobos lampu merah. Mungkin itu benar adanya karena aku suka melamun ketika sedang berkendara motor. Dan disitulah aku mulai sadar akan kemampuanku, aku seperti mempunyai kemampuan multy tasking, di samping mengendarai motor yang mengharuskan untuk berkonsentrasi, namun disisi lain aku malah sering melamun, yang terkadang aku tergaget, kala ada bunyi klakson dari belakang. Dan banyak postingan di blog pribadiku ini lahir dari lamunanku ketika sedang berkendara motor. Kok bisa gitu? Karena aku aneh!

Dan karena keanehan itu (melamun ketika berkendara) aku jadi merasa gagap ketika berboncengan dengan temanku, apalagi dengan lawan jenis. Aku tidak grogi, namun ada ketakutan karena di saat yang bersamaan aku membawa dua nyawa sekaligus, yaitu nyawaku sendiri dan nyawa orang yang memboncengiku. Dan sekali lagi itu karena aku sadar bahwa diriku aneh, terutama sering melamun ketika berkendara motor.

Dan kamu, iya kamu! Aku berharap kamu adalah bagian dari keanehan-keanehan dalam hidupku. Kenapa bisa begitu? Karena jodoh adalah hal aneh, ketika ada dua orang manusia yang dalam diam saling mencintai, dalam sujud saling mendoakan, kemudian dipertemukan dalam pelaminan. Apa tidak aneh hal semacam itu? Semoga kamu masuk daftar keanehan dalam hidupku.


Read more ...

Senin, 14 Desember 2015

Hidup Dalam Rutinitas

Tidak terasa sudah satu tahun aku hidup dalam rutinitas. Dan tidak sadar pula kalau cuti tahunanku sudah lahir, serta sudah dipotong dengan cuti lebaran kemaren.  Beruntung aku bisa sedikit keluar dari rutinitas, karena aku bekerja dengan sistem shift. Awalnya terdengar wagu, seorang staff HRD namun bekerja secara shift. Mungkin hal ini hanya terjadi di tempatku bekerja. Dua minggu aku masuk pagi dan dua minggu aku masuk siang, agar aku dan partner kerja, sekaligus supervisorku bisa bertemu dengan dua shift, baik shift A maupun shift B. Karena di tempatku bekerja, hanya ada dua shift.

Aku hidup dalam rutinitasku, ketika aku masuk shift pagi. Habis subuh, kira-kira sekitar pukul 04.30 pagi aku harus menyalakan air dan segera mandi, pukul 05.00 aku harus segera berangkat ke kantor. Target sampai kantor maksimal pukul 05.30, namun biasanya sebelum itu, aku sudah sampai di kantor, meski bisa dibilang aku berkendara dengan lumayan santai, yaitu dengan kecepatan rata-rata 50km/jam.

Sampai di kantor, dengan memasang muka kecut tanpa senyum berdiri di depan gerbang untuk memastikan karyawan segera masuk dan mulai bekerja. Sampai sekitar pukul 05.45, aku menunggu beberapa menit, hanya untuk memastikan tidak ada yang terlambat. Jika ada yang terlambat segera aku beri sedikit sarapan pagi untuk mereka, tentu dengan nada santai untuk menyinggung keterlambatan mereka sambil membubuhkan tanda tangan pada surat terlambat.

Habis itu pergi ke office, menyalakan komputer, sambil menunggu, aku membuat secangkir kopi. Aku terbiasa ngopi meski perutku masih dalam keadaan kosong belum kemasukan nasi sama sekali. Pagi dan sore hari adalah waktu kesukaanku untuk menyruput minuman hitam pekat itu. Sambil menunggu kopi menghangat, aku membaca berita-berita di media online, seperti kompas.com, cnn Indonesia, membaca artikel di mojok.co atau di minumkopi.com. Ohiya, karena berangkat terlalu pagi, biasanya ritual buang hajat, baru aku tunaikan ketika sudah di kantor, dan itu menjadi bagian dari rutinitasku.

Kemudian aku turun ke produksi, mengecek absensi secara langsung dari user untuk tiap-tiap bagian, sembari mendengarkan keluhan tentang kinerja serta absensi karyawan, serta melakukan pembinaan jika diperlukan. Dan terkadang aku juga mulai bosan dengan keluhan yang itu-itu saja.

Setelah itu, sekitar pukul 07.00 melakukan briefing dengan karyawan baru (jika ada karyawan baru yang pertama kali mulai bekerja), biasanya menjelaskan tentang masalah jam kerja, fasilitas-fasilitas perusahaan, BPJS, sistem penggajian, dan semua hal yang ada dalam perjanjian kerja. Baru kemudian aku mengantarkan berkas kepada admin untuk segera di input. Serta mengantarkan karyawan baru tersebut untuk diserahkan kepada user.

Kemudian aku menuju ruang rekruitmen. Dan di ruang rekruitmen itulah aku merasa senang dengan pekerjaanku, karena aku bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda, serta dari latar belakang yang berbeda pula, baik dari tempat tinggal, pendidikan serta pengalaman. Di ruang rekruitmen itu pula aku terkadang belajar dari orang-orang yang aku interview. Dari hasil interview, aku memberikan penilaian untuk bisa lanjut atau tidak, jika lanjut akan segera aku tes-kan kesehatan terlebih dahulu sebelum aku tes-kan ke user. Dan jika diperlukan, baru aku melakukan psikotest (biasanya untuk level staff), jika hasil psikotesnya bagus  baru dipanggil lagi untuk finalisasi, biasanya berkaitan tentang gaji dan kapan bisa mulai bekerja.

Karena aku masuk shift pagi, jadi aku pulangnya lebih awal, dari pada yang dayshift, yaitu yang masuk jam 08.00. Biasanya aku maksimal pulang jam 15.00, aku tidak langsung pulang, melainkan mampir dulu di warung depan, memesan es jeruk atau es teh tawar, sambil mengobrol dengan rekan kerja yang juga masuk shift pagi.

Sekitar pukul 16.00 aku pulang, sholat ashar kemudian istirahat sebentar selama kurang lebih satu jam, kemudian bangun untuk menyalakan hitter di dispenser, sambil menunggu panas aku tinggal mandi dulu, baru setelah selesai mandi aku membuat secangkir kopi soreku dengan ditemani cemilan seperti biscuit, atau apa saja sebagai teman ngopi. Sambil menunggu magrib, aku membuka laptop, memainkan music, baca-baca ebook, atau buku kalau mood sedang lagi baik. Dan buku fiksi, yang biasanya aku suka.

Adzan magrib aku segera bergegas, jika ada kajian (biasanya, ketika senin malam dan kamis malam) aku tetap di masjid ikut kajian sambil menunggu sholat isya, namun jika tidak ada aku kembali lagi meneruskan baca-baca e-book atau buku. Atau buka facebook atau media sosial lainya untuk melihat apa yang sedang ramai di media sosial.

Kemudian cari makan, aku lebih memilih angkringan karena di angkringan selain tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, di sana biasanya banyak orang yang berkumpul meski hanya memesan segelas kopi dan rokok, kemudian aku bisa saling mengobrol dan berbagi. Baru setelah itu sekitar pukul 21.00 pulang untuk tidur. Namun sialnya tetap saja baru sekitar pukul 23.00-an aku baru bisa tidur. Itu pun karena mataku sudah mulai pedas karena lelah membaca buku, atau ebook di layar laptopku.

Ketika masuk shift siang, aku memiliki banyak waktu luang di pagi harinya. Aku bangun seperti biasa, namun habis shubuh aku rebahkan kembali tubuhku yang masih capek ini. Biasanya baru mandi pagi sekitar pukul 07.00 pagi.  Sebelum mandi aku menyalakan hitter di dispenser, kemudian aku tinggal mandi, selesai mandi biasanya air sudah panas, membuat kopi yang sengaja aku buat terasa manis. Sambil menunggu kopi menghangat aku membuka laptop, memainkan music, membaca-baca berita di media sosial, membaca buku dan sesekali menyruput kopi. Atau terkadang waktu luang pagi aku gunakan untuk mencuci atau menyeterika.

Menjelang pukul 11.00 siang, aku berusaha untuk memejamkan mata sebentar saja, sampai terdengar adzan dhuhur, kemudian sholat dhuhur di masjid, setelah sholat, aku kemudian ngemil atau makan siang, tapi kalau sedang malas makan siang aku memilih merebahkan kembali tubuhku diatas kasur sambil menunggu kurang lebih pukul 13.00. Kemudian aku mandi dan bersiap-siap untuk bekerja. Hal aneh ketika setelah mandi biasanya adalah, yang awalnya sedang males makan, rasa malas itu berganti dengan rasa lapar yang luar biasa, biasanya aku memilih makan di warung depan tempatku bekerja, sekalian mengobrol dengan rekan kerja yang sama-sama masuk siang. Baru sekitar pukul 14.00 aku masuk kantor, mengobrol dengan partner sekaligus supervisorku tentang bagaimana rekruitmen hari itu, masalah headcount yang belum terpenuhi dan permasalahan apa yang terjadi di produksi.

Hampir sama dengan ketika aku masuk pagi, aku berdiri di dekat mesin absen karyawan, memastikan karyawan segera masuk dengan tertib, karena untuk shift siang itu proses over shift, yaitu pergantian dari shift pagi ke shift siang sehingga sedikit gaduh. Dan aku harus memastikan itu berjalan lancar. Kemudian setelah tidak ada karyawan yag terlambat aku masuk ke produksi sebentar, melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan ketika masuk pagi.

Kemudian setelah office sudah mulai sepi, karena yang dayshift sudah mulai pulang aku ke atas untuk membuat kopi soreku. Menikmati kopi sore sambil menungu adzan magrib kemudian sholat magrib dan istirahat untuk makan malam.

Ketika kantor sudah sepi dan hanya ada saya dan admin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, biasanya aku memonopoli internet kantor untuk berselanjar di dunia maya. Iya, aku lebih sering youtube-an di kantor untuk membunuh waktu. Selain aku membaca artikel-artikel yang sedang ramai di media sosial.

Yang begitulah rutinitas yang selama ini aku jalani. Aku juga sadar bahwa rutinitas itu suatu saat akan membunuhku dengan kenyamanan-kenyamanan semu. Aku memang jarang duduk di office dan stay di mejaku, karena aku mudah bosan ketika berada di dalam ruangan dingin ber-ac itu. Hampir sebagian besar waktu kerjaku habis di produksi, poliklinik, serta di ruang rekruitmen.

Dan sebagai HRD yang terjun langsung ke lapangan aku jadi lebih tahu tentang permasalahan apa yang sedang terjadi di produksi, aku jadi tidak mudah percaya dengan user yang selalu meminta segera dalam mememenuhi SDM, karena aku tahu persis kondisi di lapangan.

Aku senang ketika terjun langsung ke produksi, melihat wajah-wajah karyawan, terutama level pelaksana, bukan karena karyawannya cantik-cantik, bukan! karyawan di tempatku bekerja di dominasi oleh Ibu-ibu muda. Meski ada beberapa yang sudah seusia dengan Ibuku, serta ada juga yang masih muda, baru lulus SMA. Wajah-wajah tanpa topeng yang bekerja penuh dengan keikhlasan. Aku terkadang mengobrol dengan mereka untuk mengetahui sediki latar belakang mereka.  

Apakah aku bosan atau suntuk dengan rutinitasku? Jelas aku bosan dengan rutinitas ini. Namun aku selalu berusaha agar aku tidak “gila” karena hidup dalam rutinitas ini. Membuat komitmen-komitmen kecil yang harus aku penuhi, keputusan-keputusan kecil dalam hidupku, kemudian terkadang aku suka berkendara dengan sepeda motorku tanpa aku tahu tujuannya. Iys berkendara motor tanpa tujuan, adalah hal yang biasa aku lakukan agar aku tidak terjebak dalam rutinitas.

Ketika aku sedang ingin keluar. Aku selalu berharap tidak ada yang bertanya kepadaku “Mau, kemana, Mas?” biasanya hanya aku jawab dengan singkat “Ingin keluar sebentar” dan berharap tidak ada pertanyaan lanjutan yang lebih spesifik lagi tentang kemana aku akan pergi. Karena aku sendiri juga tidak tahu kemana aku akan pergi. Mungkin orang lain akan menganggapku “gila”, karena pergi tanpa tujuan dan hanya buang-buang bensin. Padahal aku sedang berusaha agar aku tidak gila.
“Mungkin orang lain akan menganggapku “gila”, karena pergi tanpa tujuan dan hanya buang-buang bensin. Padahal aku sedang berusaha agar aku tidak gila”
Biasanya aku berhenti di sebuah angkringan pinggir jalan yang sebelumya belum pernah aku kesana, kemudian memesan teh panas, mengambil beberapa gorengan, serta mendengarkan obrolan-obrolan di angkringa tersebut. Iya, aku hanya sebagai pendengar setia.

Atau aku akan kembali lagi ke angkringan, tempat biasa aku mampir, bertemu dengan pasangan yang usianya sudah tidak lagi muda, yang merupakan langganan di angkringan tersebut. Biasanya mereka datang ke angkringan tersebut agak malam, menunggu anakknya tertidur pulas terlebih dahulu. Kemudian ada anak muda yang usianya masih di bawahku. Ia pernah gagal tiga kali kala mencoba masuk AKMIL, namun kini ia sudah sadar bahwa bukan di sana rejekinya, tapi di burung. Ia adalah pecinta burung, terutama labet, dan sekarang mencoba berternak murai. Ia sangat antusias ketika berbicara soal burung serta perlombaan burung. Dan terakhir aku mendengar burungnya laku 40 juta. Ia tahu bagaimana cara berternak burung agar dilirik banyak orang. Membeli burung yang bagus kemudian diikutkan lomba-lomba hingga burung itu menjadi juara, kemudian burung itu dijadikan master, jadilah ia memiliki trah yang memiliki nilai jual.


Hingga dalam sunyinya malam aku merenung, “Aku harus mencari kebahagian di tempat lain, ketika aku belum bisa menemukan kebahagiaan dalam pekerjaanku” Dan mungkin menulis adalah salah satu yang bisa aku lakukan agar aku tetap hidup normal.
Read more ...

Sabtu, 12 Desember 2015

Bingkisan Dari Komunitas Anak Bawang

Beberapa hari kemaren, aku dapat info dari salah satu temanku, bahwa tulisanku yang berjudul “Saya dan Dolanan Masa Kecil” menjadi salah satu dari tiga cerita terpilih dalam sebuah sayembara menulis tentang “Cerita Dolananku” yang diadakan oleh salah satu komunitas di solo, yaitu Komunitas Anak Bawang. Komunitas Anak Bawang adalah sebuah komunitas yang berusaha untuk membangkitkan kembali kenangan-kenangan masa kecil, dengan memperkenalkan (kembali) permainan-permainan tradisional, seperti delikan (atau petak umpet), betengan, gobag sodor, lompat tali,egrang, dan permainan-permainan tradisional lainnya yang kini sudah mulai dilupakan.

Tulisan yang berjudul “Saya dan Dolanan Masa Kecil Saya” adalah tulisan yang lahir atas kegelisahanku yang tak kunjung mendapatkan inspirasi ketika, sepinya tulisan di lobimesen.com serta tidak ada tulisan untuk sekedar mengisi di blog pribadiku blogriki.com
Tulisan itu aku tulis sekitar pukul 01.00 pagi, ditemani dengan secangkir minuman hitam pekat yang sengaja hanya aku beri sedikit gula, biar tetap melek. Dan tulisan tersebut adalah tulisan spontanku, ketika aku mencoba kembali ke masa kecilku, yaitu masa dimana aku belum penuh dosa, dan masih belajar ngelap ingus sendiri.

Dan secara tidak sadar, tulisan yang terus mengalir hingga kurang lebih 4 halaman itu jadi, langsung aku mematikan laptopku dan segera membaca salah satu buku novel fiksi hingga aku tertidur. Dan barulah paginya, aku mulai merapikan tulisanku, dari dosa-dosa typo, serta dosa-dosa bid’ah karena jauh dari ajaran kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Tentu tetap ditemani dengan minuman hitam pekat yang kali ini sengaja aku buat manis, dengan alasan sangat mendasar, yaitu ngirit! Maklum karena cukup dengan secangkir kopi itu, aku bisa membuat tubuhku mampu beraktifitas hingga siang hari, jadilah prosesi makan siang adalah ritual sakral karena merupakan rapelan sarapan pagi dan dan makan siang. Maklum kala itu tanggal tua. HeheheJ

Dan siang ini, sebelum sholat jumat, terdengar suara HT memanggil-mangil “Pak Riki office monitor” segera aku mengambil HT untuk segera membalas panggilan tersebut “Masuk, Pak”.
“Mohon maaf Pak, ada titipan , sekarang posisi masih di pos depan”        
“Siap, Pak, 86”           
segera aku keluar dan menuju pos depan. Ternyata ada paketan untukku dan waktu aku lihat pengirimnya ternyata dari komunitas Anak Bawang, aku menitipkan paketan tersebut di pos, karena aku sadar itu adalah kiriman yang sifatnya pribadi jadi aku memutuskan untuk menitipkan paketan tersebut di pos, dan baru aku ambil ketika pulang kerja.

Ketika pulang kerja, secuirity pos langsung mengingatkanku agar aku tidak lupa membawa pulang paketanku dari anak bawang tersebut. Dan sesampai di rumah, aku yang mulai penasaran itu, mulai membukanya, dan ternyata isinya adalah sebuah papan yang digunakan untuk bermain “Dam”, gasing yang ketika dimainkan bisa berbunyi, kemudian dua buah pin, serta satu buah gelas mug dengan logo anak bawang serta tag line-nya “aku bermain, maka aku senang”


Terima kasih kepada Komunitas anak bawang atas bingkisannya, semoga tetap semangat dalam melestarikan permainan tradisional J
Read more ...

Dibalik layar “Hujan, Kedai “Lambemoo” dan Kenangan”

Meski langit sudah mulai bergemuruh dan kilat-kilat saling menyambar di langit Kartasura, hal itu tidak mengurungkan niatku untuk main ke Solo. Sebenarnya satu hari sebelumnya aku sudah berencana ke solo, namun batal, karena aku ada urusan lain yang harus aku selesaikan.

Aku pergi ke solo dengan mengendarai motor matic-ku, motor matic yang aku beli dengan hasil keringat ketekku sendiri. Aku tidak peduli bahwa di solo sedang hujan dan pastinya akan mengotori motorku yang baru saja aku cuci. Karena ada beberapa alasan kenapa aku harus pergi ke solo. Salah satu alasannya adalah untuk keperluan penulisan di blog bersama yang masih berusaha eksis dengan tulisan-tulisan baru, minimal setiap minggunya. (Apalagi kalau bukan lobimesen.com) Selain itu aku juga berencana membuat tulisan semacam catatan pendek mengenai Hujan, kenangan di kotas, dan sedikit cerita yang aku tulis untuk mempromosikan kedai temanku (lebih tepatnya kakak tingkatku) yang baru saja buka dua hari yang lalu. Kemudian aku memposting tulisan tersebut dan membagikan tautannya ke akun facebook pribadiku. Aku hanya ingin berbagi dan kalau bisa bermanfaat untuk orang lain meski hanya sedikit sekali. Itu saja!

Pertama, aku akan ke kedai roti bakar dan juice, kedai yang baru dibuka dua hari yang lalu. Kedai itu bernama “Lambemoo”. Kedai yang mengusung tema modern vintage dengan menyajikan menu-menu sehat seperti roti bakar gandum dan terigu, serta beberapa minuman yang kaya akan serat seperti jus buah dan sup buah.

Aku memesan satu roti bakar coklat dan sup buah alpukat untuk minumnya. Sambil menunggu pesanan aku mengobrol langsung dengan owner kedai tersebut. Aku biasa memanggilnya Mas Paul, kebetulan menurut kabar angin gebetannya doi adalah temanku kuliah, yaitu Diandra, teman satu angkatanku. Kami mengobrol santai hingga pesananku datang, dan tetap melanjutkan obrolan sembari sang owner menanyakan apa yang kurang dari makanan dan minuman yang aku pesan, tentu hal ini sebagai masukan yang bisa membangun juga. Namun makanan dan minuman yang kupesan nyaris tanpa cacat, karena sudah sesuai dengan pesanan saya, terutama untuk sup buah alpukat yang sengaja aku meminta untuk menambahkan sedikit gula saja. Dan rasanya sudah pas di lidah saya.

Kedai mulai ramai, pegawai yang kebetulan adalah teman-temanku semasa kuliah terlihat sedang sibuk melayani pelanggan-pelanggan yang baru saja datang. Aku kemudian pamit, karena ada satu tempat lagi yang harus aku kunjungi.

Kemudian aku mampir di sebuah warung susu segar. Aku memesan susu segar panas yang ditambah sedikit coklat dan madu untuk sekedar menghangatkan tubuhku. Sembari menyeruput susu segar panasku, aku mulai teringat ketika kami berdua duduk bersama, kala itu kamu hanya memesan satu gelas susu segar, aku yang sudah lapar, mengambil nasi kucing dengan beberapa gorengan. Aku masih ingat dengan waktu yang kurang dari 15 menit itu, ketika kita berdua duduk berdua di warung susu segar, dan hanya sedkit yang kita obrolkan. 15 menit yang membuatku bahagia, sebelum akhirnya aku mengantarmu pulang. Mungkin kamu sudah lupa dengan kejadian ini.

Kemudian aku melanjutkan perjalanan pulang dengan berhujan-hujan, dan sesekali teringat dengan 15 menit di warung susu segar. Semoga kamu lupa dengan hal itu.

Dan barulah sampai di rumah aku berganti baju, membuat minuman hangat, kemudian menyalakan laptokku untuk menuliskan ini semua. Dan seperti biasa, setelah selesai menuliskan semua, baru paginya aku merapikan tulisanku dari dosa-dosa typo, serta dosa-dosa bid’ah karena tidak sesuai dengan ajaran Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI).

Barulah ketika tulisan itu sudah rapi aku publikasikan di lobimesen.com, dengan judul tulisan “Hujan, Kedai “Lambemoo” dan Kenangan” Bahagia bisa hidup seperti ini. Selain bekerja untuk mencari uang, aku juga punya waktu untuk melakukan hobiku agar tetap bahagia seperti ini.


Selamat berakhir pekan, salam J
Read more ...

Kamis, 10 Desember 2015

Andai Aku Jadi Ayah

Bisa dibilang aku tidak mempunyai begitu banyak dokumentasi atau foto-foto ketika masa kecilku. Dari aku masih bayi hingga saat ini, ketika aku mulai beranjak dewasa. Aku tidak tahu harus menjawab apa ketika anakku kelak mempertanyaan bagaimana dengan masa kecil sang ayah. Aku tidak tau apa yang harus aku jawab.

Yang aku tahu, aku hanya memiliki beberapa foto masa kecil saja. Yaitu ketika aku masih usia balita dengan kepala botakku, dan foto keluarga yang kami lakukan ketika hari raya lebaran. Foto bersama di rumah simbahku, yang aku masih ingat betul, kala itu rumah simbahku masih berdinding kayu serta masih beralasankan tanah. Aku menjadi sangat bersyukur ketika memandangi foto-foto itu.

Dan dari kurangnya dokumentasi atau foto-foto masa kecil itulah, aku mulai berandai-andai tentang apa saja yang akan aku lakukan kelak dengan anakku, untuk mendokumentasikan di setiap proses tumbuh kembangnya. Apalagi di jaman sekarang ini, kamera handphone saja sudah memiliki kualitas yang tidak kalah bagusnya dengan kamera digital.

Aku benar-benar ingin ikut andil dalam memberikan sentuhan kasih sayang terhadap anakku. Maka, aku tidak pernah bercita-cita untuk bekerja di luar kota, serta jauh dari keluargaku kelak. Aku ingin melihat secara langsung, serta terlibat dalam mengasuh, serta mendidik anakku kelak. Aku juga akan bergantian menjaga anakku ketika ia terbangun ditengah malam, karena saya tidak akan membiarkan Ia terjaga seorang diri. Dan membiarkan istriku terlelap dalam tidurnya karena aku tahu ia sudah sangat lelah.

Aku juga tidak akan membiarkan anakku tidak memiliki foto-foto masa kecilnya, karena aku akan mengabadikan setiap momen tumbuh kembang anakku, ketika ia mulai tengkurap, kemudian mulai belajar berdiri, belajar berbicara dengan menyebut kata “mama” atau “ayah”. Kemdian ia mulai berjalan, mulai pertama kali masuk sekolah, dan momen-momen lainnya yang tentu akan aku abadikan dengan kamare handphone-ku.

Bukan hanya sekedar gambar atau foto-foto di setiap momen perkembangan anakku, namun aku mencoba untuk menghidupkan gambar-gambar foto anakku dengan catatan-catatan ringan seperti halnya ketika aku menuliskan segala sesuatu di blog pribadiku.

Dari kumpulan foto-foto itu aku  akan kumpulkan menjadi semacam album foto. Dan album foto tersebut akan menjadi nampak berbeda dengan album-album foto pada umumnya karena akan menjadi lebih hidup dengan catatan-catatan yang aku buat untuk menjelaskan setiap momen pada gambar yang aku foto. Jadi semacam buku documenter gitu lah.

Tentu buku documenter tersebut akan menjadi suatu kisah tersendiri, bagiku, tentu serta bagi anakku kelak. Dan adanya buku tersebut mampu menunjukan bahwa anakku tumbuh dengan kasih sayang orangtuanya, terutama ayahnya. Karena aku tidak akan membiarkan anakku hidup tanpa kasih sayang seorang ayah.


Dan ngomong-ngomong, ini sudah berandai-andai kelak kalo punya anak, padahal sekarang jodoh aja belum terpantau Mblo, hehehe J
Read more ...

Selasa, 08 Desember 2015

Cerita Dolananku


Beberapa hari yang lalu, ada kabar baik yang menghampiriku. Yah, untuk pertama kalinya coretan saya menjadi salah satu cerita yang terpilih dalam sebuah kompetisi menulis yang di adakan sebuah komunitas. Nama komunitas tersebut adalah “Anak Bawang” sebuah komunitas yang ingin memperkenalkan kembali permainan-permainan tradisional yang kini sudah mulai dilupakan.  Jika ada yang penasaran silakan saja berkunjung ke fans page facebook komunitas anak bawang solo, atau di website-nya anakbawangsolo.org. Atau kalau ingin tahu lebih jauh, bisa bertemu langsung dengan mas-mas dan mbak-mbak anak bawang, atau bisa hubungi di contact person yang sudah tertera di website anak bawang.

“Aku bermain, maka aku senang” begitulah kira-kira tagline yang coba mereka usung. Mereka semua adalah orang-orang yang mencoba membangkitkan kenangan masa kecil kita. Masa dimana permainan-permainan yang murah meriah itu ternyata sangat berpengaruh baik terhadap tumbuh kembang kita. Jika kalian yang ingin bernostalgia dengan permainan masa kecil Anda, silakan datang saja ke CFD di Jl slamet riyadi solo setiap minggunya. Mereka selalu membuka stand dan setiap orang yang berkunjung ke sana bisa bermain permainan tradisional sepuasnya, mulai dari gasing, lompat tali, egrang, dan masih banyak lagi mainan-mainan yang kini sudah mulai dilupakan.

Kembali ke topik kita kali ini. Sebenarnya awal dari munculnya ide untuk menulis cerita tentang “Saya dan Dolanan Masa kecil saya” berawal dari kebingungan saya dalam memperoleh inspirasi menulis untuk mengisi blog pribadiku ini, serta sepinya postingan di lobimesen.com, yaitu blog yang coba kami gagas dan kami hidupi dengan tulisan-tulisan spontan kami baik saya sendiri, sahabat saya Johan yang mau menikah itu, dan tentunya si anak perantau yang baru mengirim satu tulisan tapi sampai sekarang belum mood mau memposting tulisan terbarunya.

Kala itu, sekitar pukul 01.00 pagi, saya belum mengantuk karena efek kopi yang saya minum ketika saya pulang dari kantor, kala itu saya masuk shift siang, jadi pulangnya agak malam sekitar pukul 23.00. Awalnya saya ingin menulis postingan untuk lobimesen.com, namun kata, demi kata yang coba saya susun seperti tidak bisa membuat sebuah irama yang mengalir begitu saja. Selalu saja mandek, dan tidak tahu lagi harus melanjutkannya. Hampir frustrasi memang, hingga akhirnya satu putuskan untuk meng-ctrl + A kemudian menekan tombol Delete. Hilang lah semua yang sudah saya tulis.

Kemudian saya teringat dengan postingan di fans page komunitas anak bawang solo,  yang sedang mengadakan lomba menulis cerita dolananku. Dan saya pun mulai menulis untuk menceritakan tentang permainan masa kecilku. Saya mencoba untuk mengingat-ingat kembali masa kecil saya, dan kemudian menuliskan tentang permainan-permainan tradisional apa saja yang pernah saya mainkan. Sehingga tulisan saya begitu mengalir. Dan, jadilah naskah tulisan saya berjudul “Saya dan Dolanan Masa Keci Saya” tulisan itu masih mentah dan belum saya edit, karena saya sudah mulai mengantuk. Baru paginya saya mulai mengedit dan merapikan tulisan saya tersebut. Baru kemudian saya mengirimnya via email

Dan ketika pengumuman, yaitu pada tanggal 5 Desember 2015 kemaren, cerita saya menjadi salah satu dari tiga cerita yang terpilih. Ada sedikit haru dan bahagia, mengingat saya sudah berulang kali mengirim tulisan di beberapa media online namun tidak pernah mendapat respon. Saya sadar betul bahwa saya masih tahap belajar dan tulisan saya masih selevel membuat status di facebook, hehehe

Saya tidak akan mengatakan bahwa coretan saya yang berjudul “Saya dan Dolanan Masa Kecil Saya” hanya sekedar tulisan iseng-iseng saja, karena saya selalu serius ketika menulis, kalau lagi pas serius!

Mungkin lain waktu saya akan mem-posting di blog pribadiku ini. Karena saya menghargai sebuah kompetisi menulis, bahwa naskah yang sudah saya kirim sudah menjadi milik panitia lomba menulis, yaitu komunitas anak bawang. Kabarnya tulisan saya akan di muat di website-nya, yaitu anakbawangsolo.org. mungkin tulisan saya baru saya akan posting ketika sudah di publish di website tersebut. Tentu dengan mencantumkan sumber tulisan tersebut meski itu adalah karya saya sendiri. Saya akan tetap menghargai panitia.


Dan sebagai penutup dari catatan ini, btw saya sudah kirim alamat saya, pakai alamat kantor pula, tapi kok bingkisannya belum sampai-sampai ya? hehehehe

Sumber gambar ; Fans page facebook komunitas anak bawang solo
Read more ...

Senin, 07 Desember 2015

Temanku (Nggapleki)

Kemaren saya putuskan untuk tidak pulang dulu. Karena tiba-tiba teman saya yang nggapleki itu mau maen. Kenapa nggapleki? Lha gimana nggak nggapleki kalau saya mau bayar hutang saja tinggal kasih nomer rekening tinggal saya transfer kan selesai urusannya. Lha ini malah berbelit-belit. Kalau biasanya orang yang berhutang susah untuk ditagih, kalau teman saya yang nggapleki ini, susah untuk dibayar. Opo nggak nggapleki kui jenenge?

Sebenarnya pagi dia sudah sms mau otewe, tapi aku balas agak siangan saja. Soalnya saya juga masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, maklum setrikaan sudah menggunung. Dan siangnya kami bisa ke pameran buku di Assalam Hypermart. Dia datang sekitar pukul 09.00 lebih lah serta tidak bingung dengan ancer-ancer yang saya berikan via sms.
Kami ngobrol ngalur ngidul membahas hal-hal yang nggak penting sebenarnya. Hingga adzan dhuhur terdengar, kami bergegas menuju masjid. Sehabis sholat dhuhur, nampak langit terlihat mendung. Sebelum ke pameran buku, saya pun mengajaknya untuk segera pergi makan siang ke sebuah warung kupat tahu langganan saya di daerah Kartasura. Sebenarnya itu bukan makan siang, tapi sarapan yang tertunda, Maklum paginya belum sarapan dan hanya secangkir kopi beserta beberapa potong biskuit.

Sampai di tempat pameran saya segera menuju tempat tumpukan buku-buku fiksi. Dan saya hanya membeli buku ringan untuk bahan bacaan saja. Maklum akhir-akhir ini saya sedang malas mikir baca buku-buku berat. Sedangkan teman saya (sekali lagi yang nggapleki itu) sedang khusyuk memilih-milih buku, nampak ia kesengsem dengan buku "Psikologi suami-istri" maklum mau nikah coy, selain itu ia juga.membeli satu buku lagi, tapi saya lupa judulnya, yang jelas buku tentang Agama. Sedangkan saya sudah mulai bosan karena buku fiksi yang saya cari tidak ada di sana.

Sebelum pulang saya pun mengajaknya ke toko buku "Kayake ini kita harus ke gramed atau togamas bro" Teman saya yang nggapleki itupun pun hanya mengiyakan saja.
Kami menuju ke togamas, berkeliling sebentar, dan mencari buku yang saya cari dengan komputer yang biasa digunakan untuk mencari buku. Buku yang saya cari pun cuma tinggal satu yang ada di toko dan yang lain masih dalam status "in order". Saya pun mencarinya karena masih ada satu buku yang ditoko. Namun ketika saya cari sesuai di raknya, tak ada. Saya pun menyuruh salah satu karyawan untuk mencarikannya. Dan ketemu! Namun cover bukunya tidak seperti yang saya maksud. Karena buku yang saya cari kalau tidak salah diterbitkan oleh tiga penerbit yang berbeda. Bagiku yang penting isinya. Ini novel perdana sang penulis soalnya, jadi akan terasa lebih geerr.

Ketika mau bayar di kasir, ternyata saya tidak bawa uang cash, saya membayar dengan kartu atm debit. Namun minimal pembelian harus 50rb. Saya pun menuju tumpukan buku novel fiksi. Saya mengambil salah satu buku novel yang sangat populer dengan prosa-prosanya dan novel tersebut sudah pernah difilmkan. Terdengar aneh memang, baru tertarik membaca bukunya padahal sudah menonton filmnya.

Dua buku sudah ditangan, saya pun menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Dan apesnya kartu debit atm saya tidak bisa digunakan. Saya pun melirik teman saya (yang lagi-lagi, nggapleki itu), dia pun tahu maksud saya, dan memberikan kartu atmnya untuk "mentraktir" buku saya. Bukannya membayar hutang tapi malah nambah hutang, heheJ

Kalau tadi menuruti nafsu belanja buku, kemudian bertemu dengan teman saya yang selo itu. Dia malah mengajak kami belanja di luwes, saya pun mampir ke atm dulu ambil uang untuk bayar hutang, agar bisa sekalian muter-muter di lantai dasar beli kopi dan lain-lain.

Dan semua itu ditutup dengan jajan di angkringan menikmati nasi bledek serta beberapa gorengan. Setelah kenyang kami segera pulang. Karena rutinitas sudah menunggu kami keesokan harinya.

Btw, tanggal satu masih lama nggak?
Read more ...

Sabtu, 14 November 2015

WORKAHOLIC

WORKAHOLIC. Adalah mereka yang hobi bekerja, atau lebih ekstrim lagi adalah mereka yang “gila” kerja. Adalah mereka yang hampir sebagian waktunya habis untuk bekerja. Dan orang yang selalu total menyelesaikan tanggung jawab yang ia terima.

Saya punya pengalaman tersendiri dengan orang-orang yang bisa dikatakan sebagai workaholic. Seseorang yang usianya tidak lagi muda, dengan rambutnya yang sudah mulai memutih. 

Awalnya, yang saya tahu beliau adalah seorang pekerja di belakang meja. Beliau lebih sering saya lihat di ruangannya dan nampak sibuk di depan layar laptopnya.

Namun, setelah beliau dipercaya untuk memegang posisi yang sentral di perusahaan. Ia mulai terlihat sebagai orang berdedikasi penuh terhadap tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Sejak memegang posisi sentral dalam sebuah perusahaan tersebut, nampaknya beliau sudah tahu apa yang ia harus lakukan. Beliau langsung terjun ke lapangan untuk menganalisa serta memberikan solusi atas segala permasalahan perusahaan.

Harus saya akui, beliau adalah orang yang cerdas. Beliau yang sebelumnya lebih suka di belakang meja itu, seperti sudah tahu permasalahan apa yang sedang dihadapi perusahaan. Jadi selama kurang lebih satu bulan, beliau sangat total untuk menyelesaikan segala permasalahan. Saya melihat sendiri, ketika saya baru datang, sekitar pukul 05.30 pagi, saya lihat, mobil beliau sudah terparkir rapi di tempat parkir. Tidak hanya itu, ketika saya masuk shift dua (siang), saya melihat bahwa ketika semua karyawan sudah mulai sepi, beliau masih memimpin meeting untuk memonitoring kinerja anak buahnya, serta memastikan bahwa segala permalasahan sudah terselesaikan.

Bisa dilihat, beliau bekerja dari mulai jam 05.30 sampai 23.00. Jadi berapa jam beliau bekerja? Lebih dari 17 jam. Itu artinya hampir 2/3 waktunya ia habiskan dengan bekerja. Meski bekerja dengan jam kerja ekstrem seperti itu, namun beliau seperti tidak menunjukan raut wajah kelelahan, atau capek karena kurang tidur. Beliau seakan menikmati pekerjaannya.  Beliau meng-cover dua shift, karena perusahaan kami terdiri dari dua shift. Beliau bisa dikatakan bekerja dari mulai gerbang dibuka, hingga gerbang ditutup kembali. Hanya untuk memastikan bahwa segala perencanaannya dapat terlaksana sebagaimana mestinya.

Semangat kerja beliau, sepertinya membawa aura positif dalam perusahaan. Semua orang pun respect terhadap kinerjanya. Beliau adalah orang yang tahu segala permasalahan anak buahnya, serta memberi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh anak buahnya. Bukan seperti orang-orang dengan model kepemimpinan macam kompeni, yang tahunya hanya marah-marah dan menekan anak buahnya tanpa memberikan solusi.

Kini kerja keras beliau selama sebulan mampu menunjukkan hasil positif. Naiknya efisiensi, dibarengi dengan turunnya budget produksi adalah bukti dari kerja keras beliau.

Beliau yang bisa dibilang penggede perusahaan itu, adalah orang yang low profile, orang yang tetap sederhana, serta orang yang suka memberi contoh dengan tindakan, bukan hanya omongan, memberikan solusi bukan hanya bisa emosi.


Selamat berakhir pekan, 
Read more ...

Kamis, 12 November 2015

Happy Anniversary My Factory



“Karena kami semua tahu mempersiapkan semua ini bukanlah hal yang mudah, disamping tuntutan pekerjaan, panitia juga dituntut untuk membuat event ini, saya sangat menghargai kerja keras panitia dengan total berpakaian sesuai tema hari ini, cowboy dan cowgirl party”

Beberapa hari yang lalu, dengan persiapan yang sangat minim, bisa dibilang hanya kurang lebih dua minggu kami dikasih waktu untuk menyusun serangkaian acara dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke 3, bergabungnya perusahaan tempat saya bekerja dengan perusahaan asing yang berpusat di Hongkong. Sebenarnya acara ini sudah lama menjadi wacana, namun menunggu kepastian  approval dari penggede manajemen, seperti halnya menunggu hujan di musim kemarau. Keliatannya mendung, namun belum berarti hujan akan turun.

Setelah mendapat kabar bahwa proposal perayaan ulang tahun yang ke 3 sudah di approve oleh penggede manajemen. Segeralah dibuat panitia kecil terlebih dahulu untuk menentukan kapan mulai rapat perdana. Dan dalam waktu dua minggu kami harus mempersiapkan segalanya.

Awalnya saya sengaja tidak ikut dalam rapat perdana, karena saya sebenarnya tidak ingin kecipratan side jobs untuk mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk memperlancar acara tersebut. Dari mulai pembentukan panitia, penentuan konsep atau tema acara, serta tempat yang akan digunakan.

Tempat pun sudah ditentukan, yaitu menyewa gedung yang letaknya tidak jauh dengan lokasi factory. Meski sempat dipertanyakan mengapa harus menyewa gedung dan tidak memanfaatkan area di sekitar factory saja. Tentu dari pihak panitia sudah memperhitungkan hal itu, mengingat saat ini factory sedang melakukan pembangunan gedung baru, sehingga ruang yang ada tidak memadai untuk digunakan event ulang tahun.

Tema pun dipilih, setelah beberapa kali rapat. Tema yang dipilih adalah western, cowboy and cowgirl party, jadi peserta disuruh untuk berpakaian ala-ala cowboy dan cowgirl. Saya pun sempet mbatin dalam hati, paling karyawan cuek sama tema, dan berpakaian seadanya. Kemudian untuk bintang tamu utamanya adalah parodi musik dari solo, Pecah Ndahe, kemudian ditambah dengan OM dangdut, untuk menuruti “nafsu” berjoget para karyawan. Dari karyawan pun juga dipersilahkan jika ada yang mau tampil, ada yang menampilkan dance, dan ada juga yang menyanyi.

Saya masuk dalam tim acara. Sebelumnya ada 3 orang, kemudian yang dua orang dipromosikan sebagai MC, tinggal lah saya sendiri yang meng-handle acara pas hari H. Semua tim bekerja dengan keras untuk memastikan bahwa acara bakal sukses nantinya.

Sebagai tim acara, saya bertanggung jawab terhadap jalannya acara seperti apa. Sebenarya kami dari tim acara sudah menyusun rundown-nya, namun masih ada beberapa yang belum fix, seperti perform dari all manager, karena belum sempat saya konfirmasi.

Sebelum mendekati hari H, kami semua mengadakan Tehnical Meeting atau TM. Tujuan dari TM tentu untuk memastikan semua sudah fix, mulai dari konsumsi, doorprize, souvenir, dan hal-hal kecil lainnya semua harus fix. Permasalahan pun timbul ketika dari pihak sound system mengkonfirmasi baru akan datang sabtu paginya. Inilah awal dari segala keruwetan itu, dari pihak sound system ngotot mau datang sabtu pagi pas hari H, karena kami hanya sewa satu hari. Kami dari pihak panitia pun geram, soalnya jumat malam dari pihak Pecah Ndahe juga akan melakukan cek sound, gimana mau cek sound kalau sound system-nya aja belum ada? Menurut saya dari pihak sound system terlalu amatir untuk dipercaya dalam men-support acara kami. Dan untuk mengganti sound system yang lebih professional pun waktunya sudah terlalu mepet. Namun demikian, setelah dari pihak purchasing selaku yang menangani kontrak dengan pihak sound system, bernegosiasi. Akhirnya pihak sound system mau memasang sound hari jumat malamnya. Akhirnya masalah pun sudah selesai.

Dari jumat sore saya sudah di gedung yang akan digunakan. Memastikan jumlah kursi sudah mencukupi atau belum, lay out panggung, serta dekorasi panggung. Sampai malam saya masih di gedung yang kami gunakan. Saya menunggu dari Pecah Ndahe yang akan melakukan cek sound. Dan ketika cek sound, masalah pun muncul lagi, dari pihak Pecah Ndahe seakan tidak begitu puas dengan sound system-nya. Namun pecah Ndahe masih berusaha untuk menentukan setelan sound yang terbaik. Mungkin karena dari pihak Pecah Ndahe sering komplain dengan suara sound, dan pihak sound seakan tidak bisa sabar meladeni kemauan Pecah Ndahe. Pihak sound system pun seperti nyolot dengan suara yang tidak mengenakan. Sontak saya langsung berdiri dan memastikan tidak ada perselisihan, karena salah satu personel Pecah Ndahe sudah menunjukan sikap yang seperti tidak terima.

Meski sedikit ada perselisihan antara salah satu personel pecah ndahe yang sedikit tersulut emosi karena tindakan dari pihak sound system yang sedikit tidak mengenakan, cek sound pun bisa berjalan dengan baik. Ketika sudah selesai cek sound, saya dan rekan kerja saya pun berusaha untuk mengajak semua personel Pecah Ndahe untuk mengobrol agar bisa meredakan suasana, serta minta agar bisa perform maksimal untuk menghibur semua karyawan dan tamu undangan.
***
Pagi-pagi benar saya sudah sampai di lokasi. Suasana gedung masih sepi, hanya ketua panitia yang sudah berada di sana. Saya pun sedikit menjelaskan tentang sekilas gambaran acaranya kepada ketua panitia. Jam 07.30 saya berencana memainkan musik-musik country cowboy agar sesuai dengan tema. Kemudian mengarahkan karyawan untuk duduk ditempat yang telah disediakan, kemudian memulai acara demi acara sesuai dengan rundown yang telah kami buat.

Namun kenyataannya, acara molor hampir setengah jam, ditambah lagi pemain yang mengisi dangdut baru datang paginya, jadi ketika beberapa karyawan sudah duduk, pemain musik dangdut masih sibuk cek sound, saya hanya geleng-geleng, dalam hati saya nggrundel “ini acara udah kaya acara nikahan aja, padahal kan temanya western, cowboy and cowgirl party

Hampir jam 08.00 tapi karyawan masih sibuk berfoto-foto, saya pun melihat antusiasme karyawan. Saya yang awalnya sangat sanksi apakah mereka yang datang akan berpakaian ala-ala cowboy dan cowgirl. Pikir saya mereka akan tidak peduli dengan tema, dan berpakaian semaunya. Namun ketika satu persatu karyawan masuk ke dalam gedung, saya sedikit terkejut dengan antusiasme karyawan dengan party yang kami buat. Ada yang rela mengorbankan sedikit gajinya untuk membeli kostum kemeja kotak-kotak dan topi ala cowboy dan cowgirl. Ada yang menyewa kostum bahkan hingga ke jogja. Saya sedikit malu dengan mereka. Karena awalnya saya hanya menganggap mereka hanya orang kampung yang biasanya cuek dengan penampilan, namun ternyata malah sangat antusias melebihi antusias para panitia. Ketika ditanya, mengapa mereka sangat antusias, jawab mereka simpel, “Karena kami semua tahu mempersiapkan semua ini bukanlah hal yang mudah, disamping tuntutan pekerjaan panitia juga dituntut untuk membuat event ini, saya sangat menghargai kerja keras panitia dengan total berpakaian sesuai tema hari ini, cowboy dan cowgirl party”

Baru setelah beberapa saat acara dibuka oleh MC, terdengar suara gemuruh di pojok kanan kursi undangan, salah melihat ternyata ada beberapa panggung yang tidak kuat dan ambrol, panitia pun segera memastikan semua dalam keadaan baik-baik saja. Dan mengarahkan karyawan untuk duduk di tempat duduk yang masih selo.

Meski acara sempat molor sampai setengah jam, namun saya sebagai penanggung jawab jalannya acara, selalu berkomunikasi dengan MC agar acara bisa berjalan dengan lancar. Saya sedikit sibuk, ketika yang lain sibuk berfoto, saya sibuk mengkonfirmasi talent dari karyawan yang akan tampil, saya harus mencari all manager untuk tampil, ternyata beliau-beliau sedang sibuk latihan di salah satu ruangan. Saya harus sedikit menahan nafas karena beberapa kali mengkonfirmasi dengan biduan-biduan yang mau tampil, rontok imanku, karena mereka semua berpakaian sexy bro, hehehehe

Hingga pada acara inti yaitu perform dari Pecah Ndahe, acara begitu ramai dan benar-benar pecah, karena bisa menghibur semua kalangan baik karyawan level pelaksana maupun manager sekalipun, sampai saya hanya merasa kasihan dengan salah satu ekspatriat yang tidak bisa berbahasa Indonesia, yang nampak bingung ketika semua orang pada tertawa melihat kocaknya pecah ndahe, tapi dia malah keliatan bingung.

Setelah Pecah Ndahe, makan siang sambil menikmati lantunan lagu dari salah satu karyawan, kemudian dilanjutkan pembagian doorprize. Setelah doorprize utama dibagikan kami dari pihak panitia memberikan kesempatan untuk OM dangdut memberikan hiburan lagu-lagu dangdut koplo khas dangdut Pantura. Karyawan pun tidak sungkan untuk bergoyang bahkan karyawan wanita pun juga tak sungkan untuk bergoyang.

Pengalaman bagi saya, dulu ketika masih menjadi mahasiswa dalam setiap event saya sering kebagian menjadi sie perkap, namun kepada kesempatan kali ini saya mendapat pengalaman baru sebagai sie acara. Tentu ini adalah pelajaran baru, bahwa apa yang kita rencanakan ternyata bisa saja berubah sewaktu-waktu, dan kita harus pintar menyiasatinya agar semua bisa berjalan dengan lancar.

Happy anniversary my factory, terima kasih telah memberi kesempatan kepada saya untuk terus belajar. salam
  

Boyolali, 11 November 2015
Read more ...

Rabu, 04 November 2015

Suatu Malam di Angkringan

Saya sangat tahu betul suara adzan yang dilatunkan oleh oleh seorang Bapak-bapak yang usianya sudah tidak lagi muda, namun juga belum terlalu tua. Saya lupa namanya, tapi sebut saja namanya Pak udin, tentu bukan nama sebenarnya. Saya sering melihatnya ketika sholat berjamaah di masjid  dekat tempat singgah saya saat ini. Beliau bukanlah seorang yang bersuara merdu, suara adzan yang terkadang terdengar (maaf) kuang jelas, namun warga sekitar tidak pernah menyoalkan karena justru Pak udin lah yang sering adzan.

Orangnya tinggi dengan kulit berwarna hitam, nampak Pak udin adalah seorang lelaki pekerja keras. Saya ingat ketika pertama kali ikut sholat berjamaah, beliau langsung menyalami dengan mengajak berjabat tangan. Kala itu memang agak aneh dengan kondisi tangan kanannya. Ketika saya berjabat tangan dengannya, tangannya begitu kaku, dan seperti tidak bisa saling berjabat tangan erat dengan saya. Saya pun hanya menganggap hal itu adalah hal yang biasa saja. Mungkin tangannya memang seperi itu. Pikirku kala itu.

Hingga sutau hari ketika saya sedang nongkrong di  angkringan, kebetulan beliau juga sedang di angkringan juga. Saya pun sedikit mencari tahu tentang dirinya. Ternyata beliau dulu pernah bekerja sebagai kenek Bus, dan sekarang ia bekerja sebagai orang yang disuruh-suruh oleh warga untuk bersih-bersih, dan oleh warga ditunjuk untuk menjaga kebersihan masjid. Jadi mungkin karena itu juga saya sering melihat sholat berjamaah.

Suatu hari saya nongkrong di angkringan, dan kebetulan beliau ada disitu juga. Beliau memesan mie goreng. Saya pun hanya sekedar wedangan dan mengobrol santai dengan mereka. Dan ketika beliau sedang makan, saya melihat bahwa beliau makan dengan menggunakan tangan kiri. Kemudian datanglah seorang Ustad muda, yang nampaknya ia baru saja pulang dari masjid. Sang ustad muda, menegurnya “lho kok makan pake tangan kiri to Pak dhe? Mbok usaha pake tangan kanan. Kan hadisnya sudah jelas. Bahwa Nabi saw menyuruh kita untuk makan dengan tangan kanan” Si Ustad muda nampakya sedang bersemangat dalam berdakwah, saya pun hanya menyimak saja.

Situasi kala itu sedikit berbeda, sebelum si Ustad muda menjelaskan panjang lebar hadis-hadisnya, nampak si penjual angkringan berusaha menetralkan suasana. Saya tahu betul apa yang dilakukan oleh penjual angkringan, tentu agar Pak Udin tidak tersinggung dengan tegurannya, karena ini sudah kedua kalinya si Ustad muda tersebut menegur Pak Udin. Dan Pak Udin sepertinya sudah mulai risih dengan teguran tersebut. Saya kala itu hanya diam saja, maklum lah saya belum begitu kenal dengan orang-orang yang di sana.

Dan ketika Pak udin sudah selesai makan dan berpamitan. Si penjual angkringan, mencoba menasehati kepada Ustad Muda tersebut “Mas, aku ngerti maksud sampeyan. Dan aku yo ngerti sik mbok karepke kie bener. Tapi koe ngerti ora, nek Pak Udin kui wes usaha ngasi puluhan tahun?” Ustad muda itu hanya menjawab “Sak jane aku meh jelaske panjang lebar, tapi kok malah ngunu”

Penjual angkringan itu kemudian meneruskan penjelasannya “Pak Udin kui lho Mas, pas jamane iseh dadi kenek bus, dadi kenek kambi lungguh mergo tangane wes nggak iso di nggo gujengan, dan aku pernah iroh dewe pas meh mangan nek kene, ngasi tangane dewe di keplek-ke neng gerobakku, mergo jengkel mbi tangane dewe, arep nyekel sendok wae kangelan mergo jiglok wae”  Saya hanya menyimak dengan seksama, ketika penjual angkringan menjelaskan kepada Ustad muda itu. “Nek usaha kie wes dilakoni, lha nek ora iso-iso tenan?” “Kowe kie jane bener, aku paham, tapi mung kurang pas wae mbi kondisine Pak Udin” lanjut si penjual angkringan yang merasa kasihan dengan kepada Udin.

Setelah si Ustad pergi, si penjual angkringan pun sedikit menjelaskan kepada saya mengenai si Udin. Udin yang bisa dikatakan aktif sholat berjamaah di masjid. Namun ia mendapatkan cobaan, tangan kanannya sudah lama mati rasa, kemudian anaknya menikah dengan orang nonmuslim dan mengorbankan imannya. Semoga nikmat iman selalu menyertai Pak Udin. Amin

Harus saya akui bahwa saya adalah orang yang bodoh dalam hal agama. Tentang ilmu agama, tentu Ustad muda tersebut jauh lebih pandai daripada saya yang masih terbata-bata dalam membaca Al quran. Namun apakah yang dilakukan oleh Ustad Muda itu benar? Iya memang benar si Ustad muda itu menyampaikan kebenaran, karena yang ia coba sampaikan adalah hadis shahih. Namun dalam konteks ini, saya sangat menyayangkan hal tersebut. Mungkin dia lupa, bahwa Nabi saw menyampaikan kebenaran dengan kasih sayang serta tidak pernah menyakiti hati orang lain, termasuk orang kafir sekalipun.


Read more ...