Senin, 02 Maret 2015

Gadis Berkerudung Merah (2)

Sumber gambar : mulfasli.deviart.com
Gadis berkerudung Merah.
Sudah lama aku tak mendengar kabarnya, ingin rasanya aku bertemu meski hanya sekedar melihatnya dari jauh, dan aku rasa itu sudah cukup bagiku. Tak perlu aku bertemu dan mengajaknya bersenda gurau, untuk membicarakan hal-hal yang tidak ada ujungnya, karena itu hanya sebatas alasan untuk menahannya agar tetap bisa bersama.  Karena aku tahu, hal itu hanya akan membuatnya merasa tidak nyaman. Munafik! Mungkin hal itu yang ada di kepala kalian. Harus aku akui sebenarnya aku juga sangat menanti momen itu, momen dimana kami duduk berdua dan berbicara empat mata. Tapi, bukan hal-hal yang tidak ada ujungnya yang ingin aku bicarakan, aku hanya akan membicarakan hal-hal yang mengarah pada suatu titik di depan kami. Masa depan! Iya, masa depan yang harus aku bicarakan kepadanya, bukan hanya untuk dibicarakan, tapi diperjuangkan lebih tepatnya. Aku ingin duduk berdua dengannya dan aku meminta ijin kepadanya untuk segera bertemu dengan orangtuanya. Tapi! Aku tidak yakin dengan hal itu.

Aku tidak yakin apa yang ia rasakan apakah sama dengan apa yang aku rasakan. Rasanya aku sendiri yang merasakan hal ini, sedangkan ia? Rasanya tidak ada tanda-tanda yang aku baca bahwa ia juga merasakan apa yang aku rasakan. Namun hal itu bukanlah halangan bagiku. Karena cinta adalah masalah hati, dan hati tahu kemana ia akan tertuju. Aku hanya mengikuti apa kata hatiku, selama itu akan membawa kebaikan kepadaku, aku akan turuti kata hatiku, dan mencintainya adalah kebaikan bagiku.

Mungkin hal ini sedikit membingungkan, bahkan kalian juga tidak akan mengerti mengapa mencintainya adalah kebaikan bagiku, sedangkan aku sendiri ragu dengan perasaannya terhadapku. Sekali lagi karena aku yakin dengan apa kata hatiku.

Apa yang bisa aku lakukan saat ini? Lagi-lagi aku harus menunggu, hingga aku tak tahu kapan aku harus mengakhiri hal ini. Bodoh sekali aku ini, melakukan sesuatu yang tidak tahu kapan berakhirnya. Menunggu bukan hal yang salah ketika kita tidak hanya berpangku tangan. Menunggumu dengan terus belajar dan memperbaiki diri adalah hal yang bukan yang sia-sia, meski pada akhirnya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.

Aku masih harus belajar banyak untuk memahami makhluk bernama wanita. Menurutku ia sangat berbeda. Gadis berkerudung merah yang tidak seperti gadis manja seumurannya, selalu berpikir dan bersikap dewasa.

Gadis berkerudung merah, aku menunggu bukan karena aku ragu, aku diam bukan karena aku hanya ingin memendam, memendam suatu perasaan yang seharusnya diungkapkan. Aku tidak takut jika menunggu dalam ketidakpastian akan membawaku ke dalam  ketakutan. Ketakutan akan kehilangannya, dan hanya akan meninggalkan penyesalan.

Karena hidup, tidak akan selalu sejalan dengan apa yang kita harapkan, aku hanya akan menjalani hidup seperti apa kata hati. Mendengarkan bisikan hati dan melakukannya, dan satu yang harus perlu di garis bawahi, kenapa aku selalu menuruti apa kata hati, karena sesuai apa yang pernah aku tuliskan yang berjudul “Fatwa Hati” dalam tulisan itu juga aku kutipkan dari hadis Nabi Saw. Bahwa kebaikan adalah sesuatu yang yang membuatmu nyaman, sedangkan keburukan adalah sesuatu yang membuat hatimu ragu dan cemas.

Salam