Rabu, 06 Mei 2015

Bekerja untuk apa, dan untuk siapa?

Sudah  lumayan lama aku tak lagi update postingan di blog pribadiku ini. Entah apa yang sedang terjadi dengan diriku hingga membiarkan blog ini seperti layaknya rumah lama yang sudah enggan aku singgahi, karena lebih memilih kesibukan yang bersifat rutinitas. Iya, bekerja sudah menjadi rutinitas dalam kehidupanku beberapa bulan ini. Sudah hampir sepertiga waktuku kuhabiskan untuk melakukan rutinitas pekerjaan. Sepertiga lagi sudah aku gunakan untuk mengistirahatkan badan ini yang setiap harinya juga menuntut untuk di-istirahatkan, sedang sepertiga sisanya? Sudah aku gunakan untuk kegiatan harianku.

Rasa bosan karena rutinitas terkadang juga menghampiriku. Dan di saat seperti itulah aku seperti kendaraan bermotor yang kehabisan bahan bakar, tak ada semangat lagi dalam hidup ini, kecuali hanya mengikuti roda-roda rutinitas. Apakah aku ingin menghentikan roda rutinitas ini? Tentu tidak! Karena rutinitas bukan lah satu-satunya faktor yang membuatku merasakan kebosanan dan kejenuhan. Aku hanya ingin  keluar sebentar dari roda-roda rutinitas ini, untuk melihat indahnya alam Indonesia, melakukan perjalanan jauh dan bertemu dengan orang-orang baru. Itu mungkin sudah cukup bagiku untuk saat ini.

Terkadang aku juga menyibukan diri ini dengan kegiatan yang aku rasa mampu mengusir sejenak rasa bosan itu. Menonton film-film yang tersimpan dalam laptop, atau hanya sekedar keluar malam untuk menikmati suasana malam dan kopi beserta gorengan di angkringan pinggir jalan. Sendiri? Iya, tentu aku lebih memilih sendiri, karena dalam kesendirian aku bisa menemukan jalan hidupku sendiri tanpa ada orang lain yang mengintervensi kehidupanku. Mungkin sebagian orang akan mengatakan bahwa diriku egois. Namun perlu diketahui setiap orang punya cara sendiri dalam menikmati hidup, bukankah ada juga orang yang suka dengan kesunyian malam dari pada keramaian dunia dengan segala kepentingannya.

Dari kesendirian dan kesunyian itu juga aku seperti berkomunikasi dengan diriku sendiri, aku mulai memahami diriku sendiri tentang apa yang sedang aku alami, dan dari situlah aku merasakan bahwa ada yang salah dengan diriku, ada beberapa pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari hati kecil ini. Dan semua-semua petanyaan-pertanyaan itu sebenarnya hanya dua pertanyaan sederhana, “Untuk apa aku bekerja? Dan untuk siapa aku bekerja?” aku harus bisa mencari jawaban atas pertanyaan dalam hati kecil untuk mengusir segala gundahku.

Untuk apa aku bekerja? Apakah hanya sekedar mengumpulkan rupiah demi rupiah yang yag semakin dikumpulkan tidak akan pernah merasa cukup, hingga lupa untuk menikmati hasil yang sudah kita peroleh setiap bulannya. Bekerja bukan hanya soal bagaimana mencari uang, meski pada awalnya tujuan orang mencari pekerjaan adalah mencari uang, agar bisa (dibilang) mandiri yang mampu mncukupi kebutuhan sendiri. Namun pada prosesnya masalah uang akan menjadi nomor sekian, karena masih ada saja orang yang keluar dari pekerjaan bukan karena gaji yang ia terima kurang. Namun karena banyak hal, bisa karena tidak nyaman dengan lingkungan pekerjaan, factor jauh dengan keluarga, atau lebih memilih untuk memerdekan diri keluar dari zona nyaman dan berwirausaha. Tidak bisa dipungkiri pula ada sebagian orang yang pindah dari perusahaannya yang lama kemudian ke perusahaan yang baru karena mendapat tawaran gaji yang lebih tinggi dari perusahaan yang lama.

Kembali lagi ke pertanyaan awal tadi, sebenarnya untuk siapa aku ini harus bekerja? Untuk orang lain kah? Atau untuk diri sendiri? Itulah sebenarnya pertanyaan yang terus mengusik pikiranku. Jika dipahami lebih dalam lagi bekerja adalah kewajiban untuk dirku sendiri juga untuk orang lain tentunya, karena disatu sisi kita masih memimiliki ego kita juga sebagai makhluk social. Dan selain itu bekerja juga harus untuk Tuhan, karena bekerja juga bisa menjadi salah bentuk manifestasi beribadah dalam bentuk kewajiban untuk mencari nafkah. Masih ingat dengan salah satu cerita, bahwa ada seorang yang dalam hidup terus menerus beribadah hingga ia lalai bekerja, kemudia Nabi Saw menegurnya? Itu menunjukan bahwa dalam hidup bukan semata-mata hanya untuk beribadah namun juga  perlu yang namanya keseimbangan, yaitu hidup di dunia yang menyadari akan kehidupan setelah mati serta tidak lupa dengan kenyataa yang sekarang sedang dihadapi (dunia). Bekerja adalah ibadah karena itu adalah salah satu cara kita menjemput rejeki yang dberikan Tuhan kepada kita. Jadi bekerja bukan hanya semata-mata bernilai duniawi akan tetapi bisa juga bernilai ibadah.

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah bekerja untuk apa? Untuk mengumpulkan harta yang semakin lama dikumpulkan tidak pernah akan merasa cukup kah? Atau bekerja hanya sekedar mencari gengsi dengan berpakaian rapi, wangi, kemudian berangkat pagi pulang sore?  Tentu tidak demikian bukan? Bekerja seharusnya harus terus mengharap ridho dari Allah agar senantiasa rejeki yang kita dapatkan adalah rejeki yang berkah bagi kita. Bekerja dengan sepenuh hati melakukan apa yang menjadi kewajiban kita sebelum kita meuntut apa yang menjadi hak kita sebagai seorang karyawan. Ketika kita bekerja dengan hati, dengan mengharap ridho dari Allah tidak akan yang namanya bekerja hanya untuk mencari muka, dengan bekerja agar mendapatkan penilaian yang baik di mata Boss, dan berakhir dengan saling sikut antar karyawan.

Kedua pertanyaan tersebutlah yang membuatku harus seakan-akan memulai dari awal lagi, yaitu dengan memperbarui niatku dalam bekerja, bekerja bukan hanya semata-mata mencari uang akan tetapi lebih dari itu, bekerja untuk mencari ridho Allah, bekerja adalah sarana beribadah serta dalam rangka menjemput rejeki yang diberikan Allah kepada kita semua.


Semoga bermanfaat.