Sabtu, 20 Juni 2015

Catatan Ramadhan

Buka Bersama di Tempat Kerja

Suasana Buka puasa di tempatku bekerja

Waktu sudah menunjukan pukul 13.00 waktunya bergegas untuk menyiapkan diri bersiap untuk bekerja. Ramadhan pertama hingga hari ini, sudah masuk hari ke-3 Ramadhan aku mendapatkan giliran untuk back up shift dua atau shift siang. Seperti biasa aku harus mandi untuk membersihkan keringat yang masih membenempel di badanku. Aku mengguyur badan ini dan merasakan kesegaran ketika air mulai menyentuh semua kulit pada tubuhku. Udara sebenarnya tidak begitu panas saat ini, namun siraman demi siraman membuat badan terasa segar kembali seakan lupa bahwa aku sedang berpuasa.

Segera aku berpakaian dengan pakaian kerjaku. Tapi jangan pernah membayangkan bahwa sebagai orang yang bekerja di suatu perusahaan aku selalu berpakaian rapi dengan kemeja lengan panjang, celana bahan, rambut kelimis ditambah dengan sepatu mengkilat. Jangan pernah bepikir seperti itu! Meskipun kerja sebagai staff office, staff HRD lebih tepatnya. Aku lebih suka berpakaian santai dengan kemeja lengan pendek, ditambah dengan celana jeans serta sepatu kets. Masih mending aku menggunakan kemeja, terkadang aku lebih nyaman dengan kaos polo shirt bahkan dengan kaos polos tanpa kerah, seperti ketika ada lembur di hari sabtu.

Cuaca kota Boyolali yang tidak begitu panas membuat perjalananku menuju perusahaan tempatku bekerja dengan penuh semangat. Memang seharusnya seperti itu, bahwa puasa bukanlah halangan bagi kita untuk menjalankan aktifitas.

Puasa tidak boleh mengeluh dengan kondisi cuaca yang panas. Ketika aku mulai mengeluh terkadang aku melihat karyawan-karyawan yang tetap bekerja seperti biasa, padahal kondisi suhu di tempat kerja lumayan panas, ditambah lagi kondisi udara yang tidak bersih. Namun mereka tetap menjalankan ibadah puasa dengan nyaman tanpa mengeluh. Sedangkan aku? Apakah aku harus mengeluh padahal dari segi pekerjaan mereka (karyawan pekerja pelaksana) masih bisa tersenyum dan bersenda guarai meski bekerja berat. Dan di saat seperti itulah kenapa aku harus merasa bersyukur dapat menjalankan ibadah puasa degan pekerjaan yang tidak begitu berat.
***
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.30, itu artinya sudah masuk jam istirahat. Jam kerja selama ramadhan mengalami perubahan, yaitu menyesuaikan dengan Jam buka puasa. Karena jam buka puasa sekitar pukul 17.30 lebih, maka jam istirahat diajukan mendekati jam buka puasa.  Tepat pukul 17.30 suara peluit tanda istirahat, semua karyawan menuju ke kantin untuk segera menyiapkan hidangan berbuka puasa. Dari pihak perusahaan memberi nasi bungkus seperti di hari kerja biasa untuk workers dan nasi box untuk level staff serta tambahan takjil ketika buka puasa. Sedangkan untuk yang shift pagi makan siang diganti dengan uang yang dibayarkan ketika gajian.
Suasana Buka Puasa di Kantin Tempatku Bekerja


Kantin menjadi penuh sesak dengan karyawan yang menunggu berbuka, aku melihat ada karyawan yang nonmuslim tidak segera makan dan minum meski ia sendiri tidak berpuasa. Ketika ku Tanya mengapa tidak segera makan dan minum? “ tidak, Pak, Aku makan bareng teman-teman saja, mereka semua masi menunggu jam buka puasa”

Adzan magrib sudah berkumandang, karyawan-karywan berdoa sebelum berbuka puasa. Dan aku juga menjadi bagian dari mereka. Aku berbuka dengan semua karyawan yang bekerja di perusahaan tempatku bekerja, baik dari level pelaksana seperti operator, maupun level staff dari leader sampai supervisor. Kecuali manager, Para petinggi perusahaan berbuka puasa di tempat yang berbeda, yang jauh lebih nyaman, ber ac dan tidak penuh sesak dengan kumpulan banyak orang. yaitu di meeting room, tentu dengan menu buka yang berbeda dengan kami para karyawan. Tapi itu bukanlah masalah bagi kami semua, karena setiap jabatan memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda, semakin tinggi jabatan yang di sandang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikulnya.

Ada pemandangan yang awalnya membuatku merasa tidak enak ketika menu untuk level staff dan untuk worker di bedakan, tentu dengan nominal yang lebih tinggi untuk level staff. Dan awalnya aku merasa risi ketika makan bersama dengan mereka, yang kebanyakan adalah workers atau karyawan pelaksana. Namun kami tetap bisa bersama, ternyata mereka (workers/karyawan pelaksana) sudah memahaminya. Sungguh rasa narimo yang ditunjukan oleh mereka menjadi cerminan orang jawa yang sebenarnya. Tidak ada yang protes mengenai perbedaan perlakuan itu, mereka menerima saja, karena fasilitas makan siang untuk yang shift pagi, dan makan malam untuk yang shift siang, merupakan bentuk pemberian, jadi yang namanya diberi yang sebaiknya di terima. Kalo menunya tidak sesuai ya beli, gitu menurut mereka.

Suasana kebersamaan saat berbuka puasa, tidak memandang dengan apa mereka berbuka, dengan siapa mereka berbuka, karena kami adalah satu, satu keluarga dalam lingkungan pekerjaan. Suasana kekeluargaan sangat kurasakan ketika aku mulai bergabung dengan perusahaan ini, perusahaan tempat dimana aku bekerja saat ini. Dan suasana ini begitu sangat terasa ketika saat buka bersama dengan mereka.


Terima kasih dengan keluarga baruku, terima kasih telah menerimaku, dan membuatku betah dan nyaman dengan suasana pekejaan di sini.
Read more ...

Catatan Ramdhan

Suasana Ramadhan di Tempat Kerja

Hari ini adalah hari kedua bagi kita semua menjalani ibadah puasa. Suasana ramadhan juga merambah di tempat saya mencari rejeki. Berbeda dengan hari pertama puasa, kali ini karyawan-karyawan nampak sudah bisa menyesuaikan diri dengan kondisi badannya, sehingga pada hari kedua ini tidak ada karyawan yang mengeluhkan kondisi badannya saat bekerja karena sedang berpuasa. Saya menengok sejenak fasilitas klinik yang berada di tempat kerja saya, tak ada seorang pun yang sedang memulihkan kondisi badannya, berbeda saat pertama kali puasa, ada beberapa karyawan yang mengeluh pusing dan merasa tidak kuat lagi. Dari pihak klinik menyuruh untuk beristirahat sejenak selagi menunggu kondisi menjadi fit lagi hingga berbuka. Ada juga karyawan yang tertidur saat jam kerja, di depan layar komputernya ia tertidur. Ia mengungkapkan bahwa badannya sangat lemas, karena tidak sahur, namun bagi saya sanksi harus tetap saya terapkan, bukannya saya tidak mau memahami orang yang sedang berpuasa, Bukan! Karena bukan hanya dirinya yang sedang berpuasa, banyak diantara karyawan yang juga berpuasa namun tetap menjalankan kewajibannya dalam bekerja. Sanksi berupa Warning Letter  atau surat peringan satu (SP I) saya keluarkan. Sekali lagi bukan berarti saya tidak mau memahami orang yang berpuasa tapi karena saya juga harus menjaga antara karyawan satu dengan karyawan yang lain, karena meski ia sedang berpuasa dan kondisi badannya sangat lemas, dari pihak perusahaan sudah menyediakan fasilitas klinik, dan karyawan harus menggunakan fasilitas tersebut jika kondisi badannya memang sedang tidak fit.

Dari ramadhan pertama saya bertugas back-up untuk yang shift ke-2 atau shift siang. Iya, meskipun saya termasuk pada kategori level staff, sebagai salah satu staff HRD saya harus memastikan bahwa semua kegiatan yang berada di dalam perusahaan harus berjalan sebagaimana mestinya, dan pada saat seperti inilah (baca; pada saat shift 2) saya hanya sebatas monitoring, baik monitoring absensi, overtime, serta harus sigap dalam menangani ketika ada karyawan yang mengalami kecelakaan kerja, terutama melengkapi segala administrasi yang diperlukan untuk segera di bawa ke trauma center di rumah sakit terdekat.

Sebelum mulai bekerja saya sulit menerima bahwa saya harus mengalami shifting atau bekerja secara shift. Secara sebagai HRD masak iya masuk shift, ada rasa gengsi saat itu, namun dalam perjalanannya saya malah menikmatinya, karena saya malah banyak memiliki waktu longgar, serta di samping itu dengan bergantian shift malah bisa merefresh kembali otak saya, sehingga tidak mengalami jenuh atau bosan dalam bekerja. Dan ada juga karyawan yang merasa iri dengan saya dan ingin bekerja secara shift juga, hahahaa J.

Ada yang kurang pada ramadhan pertama ketika saya bekerja pada shift 2, yaitu saya melewatkan sholat teraweh dan witir secara berjamaah, karena kondisi memang tidak memungkinkan saya untuk mengadakan sholat teraweh dan witir berjamaah di mushola tempat saya bekerja. Namun demikian saya ikut merasakan suasana ramdhan di tempat kerja saya ini. Ketika menjelang sholat mushola menjadi penuh sesak, bahkan harus mengantri untuk sholat secara bergantian, terutama sholat magrib.  Karena jam istirahat yang mendekati berbuka yaitu pukul 17.30, dan setelah berbuka hampir semua karyawan menuju mushola untuk sholat magrib secara berjamaah mengingat waktu sholat magrib yang pendek, keburu sholat isya. Ada juga beberapa karyawan yang berbuka dengan seadanya, meski hanya sekedar air putih, kemudian menjalankan sholat magrib terlebih dahulu baru setelah sholat magrib menuju kantin untuk berbuka puasa dengan karyawan-karyawan yang lainnya, seperti yang saya lakukan kali ini karena ramdhan pertama saya lebih memilih sholat magrib di office karena mushola sudah terlalu ramai.

Pemandangan tak biasa ketika ramdhan yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Ketika setelah berbuka. Karena mushola yang sudah penuh sesak dengan karyawan yang ingin sholat magrib berjamaah hingga ada salah satu karyawan, yaitu seorang lelaki bernama Pak Santo, beliau adalah supervisor warehouse, beliau berinisiatif mengambil karpet lama yang berada di mushola kemudian menggelarnya di area kosong di luar gedung deket produksi untuk sholat magrib berjamaah, sehingga bisa digunakan untuk sholat berjamaah dan tidak mengantri lagi di mushola yang dari ukuran memang sangat kecil untuk menampung karyawan kala itu.

Untuk sholat isya masih bisa dikondisikan, tidak seperti saat sholat magrib, karena karyawan secara bergantian sholat di mushola, baik secara berjamaah maupun sholat sendirian. Kemudian bagaimana sholat teraweh dan witir mereka? Saya yakin bahwa diantara mereka tetap menjalankan sholat teraweh dan witir, hanya saja tidak dilakukan secara berjamaah. Seperti yang saya lakukan untuk sholat teraweh, saya tekadang empat rekaat saya kerjakan sehabis sholat isya, kemudian setelah sampai rumah sebelum saya tidur saya sholat teraweh lagi dan ditutup dengan sholat witir, atau sebelum sahur sholat teraweh dulu dan di tutup dengan sholat witir.

Suasana ramdhan bukan hanya kita rasakan di kampung-kampung, tapi dimana saja. Termasuk di tempat kerja kita. Mereka tetap menjalankan kewajibannya menjalankan ibadah puasa, di samping itu juga ia harus menjalankan kewajiban mereka dalam bekerja. Puasa di bulan ramadhan itu wajib, namun bekerja untuk menafkahi keluarga juga merupakan kewajiban. Sungguh mereka adalah orang-orang yang tetap menjalankan kewajiban di tengah kewajiban. Meski mereka diberi keringankan tidak berpuasa jika pekerjaannya dirasa sangat berat, namun tetap menjalankan kewajibannya baik berpuasa mapun bekerja.

Semoga mereka yang tetap berpuasa meski di tengah pekejaan yang menguras energy dan pikiran, terutama mereka yang bekerja sebagai pelaksana yang lebih menggunakan fisik mereka. Di tengah beban pekerjaan yang harus dikerjakan serta di tengah udara panas saat ini, semoga mereka selalu dilapangkan rejekinya dan diberi solusi atas segala permasalahannya. amin


Selamat menjalankan ibadah puasa, tetap berpuasa di tengah bekerja
Read more ...

Kamis, 18 Juni 2015

Marhaban Ya Ramadhan


Di saat aku tertidur pulas, tidak seperti biasanya. Kali ini aku tak di bangunkan lagi oleh suara alarm dalam handphone ku. Tapi suara gemuruh dari sekumpulan barang-barang bekas, kentongan dan beberapa alat lainnya yang saling bersautan membentuk  irama yang yang sedikit tak beraturan namun cukup harmonis.

Sahur. . . .sahur. . . sahur. . .sahur!  iya ada barisan pemuda yang sedang berkeliling kampung untuk membangukan penduduk untuk santap sahur. Aku mulai membuka mata dan melihat jam yang ada di layar handphone-ku. Ternyata masih jam 03.00 pagi, aku tak bergegas langsung bangun dari tempat tidur. Badan ini sepertinya masih ingin bergulat dengan selimut. tadi malam aku baru pulang sekitar Jam 12 malam. Mungkin karena itu tubuhku seakan masih menuntut untuk tidur sejenak.

Hingga aku mulai di bangunkan sekitar pukul 03.30, aku langsung bergegas bangun dan mencuci muka, minum air putih dan baru kemudian mulai santap sahur bersama keluarga kedua ku. Santap sahur dengan menu yang sederhana, namun pebuh kebersamaan, saling berbagi canda dan tawa.

Ini adalah puasa pertamaku di tempat kerja yang baru-baru ini aku jalani. Tentu akan menjadi hal yang berbeda dengan puasa-puasa seperti tahun-tahun kemaren ketika aku masih berstatus sebagai mahasiswa. Masih jelas dalam ingatan dulu ketika masih menjadi mahasiswa sekaligus anak kos, harus bengun lebih awal untuk membeli makanan buat sahur, karena kalo membeli makan mendekati imsya warung malah semakin ramai. Sedangkan pas buka puasa terkadang cukup dengan air putih terlebih dahulu untuk membatalkan puasa, kemudian setelah sholat magrib baru ke warung nasi.

Bersyukur dapat bertemu lagi dengan bulan ramadhan, semoga bisa menjalani ibadah puasa di tengah rutinitas menjalankan kewajiban dalam bekerja.


Marhaban ya ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa bagi kalian semua, semoga kita semua bisa mendapatkan apa yang menjadi tujuan berpuasa, yaitu menjadi manusia yang bertaqwa. 
Read more ...