Sabtu, 20 Juni 2015

Catatan Ramdhan

Suasana Ramadhan di Tempat Kerja

Hari ini adalah hari kedua bagi kita semua menjalani ibadah puasa. Suasana ramadhan juga merambah di tempat saya mencari rejeki. Berbeda dengan hari pertama puasa, kali ini karyawan-karyawan nampak sudah bisa menyesuaikan diri dengan kondisi badannya, sehingga pada hari kedua ini tidak ada karyawan yang mengeluhkan kondisi badannya saat bekerja karena sedang berpuasa. Saya menengok sejenak fasilitas klinik yang berada di tempat kerja saya, tak ada seorang pun yang sedang memulihkan kondisi badannya, berbeda saat pertama kali puasa, ada beberapa karyawan yang mengeluh pusing dan merasa tidak kuat lagi. Dari pihak klinik menyuruh untuk beristirahat sejenak selagi menunggu kondisi menjadi fit lagi hingga berbuka. Ada juga karyawan yang tertidur saat jam kerja, di depan layar komputernya ia tertidur. Ia mengungkapkan bahwa badannya sangat lemas, karena tidak sahur, namun bagi saya sanksi harus tetap saya terapkan, bukannya saya tidak mau memahami orang yang sedang berpuasa, Bukan! Karena bukan hanya dirinya yang sedang berpuasa, banyak diantara karyawan yang juga berpuasa namun tetap menjalankan kewajibannya dalam bekerja. Sanksi berupa Warning Letter  atau surat peringan satu (SP I) saya keluarkan. Sekali lagi bukan berarti saya tidak mau memahami orang yang berpuasa tapi karena saya juga harus menjaga antara karyawan satu dengan karyawan yang lain, karena meski ia sedang berpuasa dan kondisi badannya sangat lemas, dari pihak perusahaan sudah menyediakan fasilitas klinik, dan karyawan harus menggunakan fasilitas tersebut jika kondisi badannya memang sedang tidak fit.

Dari ramadhan pertama saya bertugas back-up untuk yang shift ke-2 atau shift siang. Iya, meskipun saya termasuk pada kategori level staff, sebagai salah satu staff HRD saya harus memastikan bahwa semua kegiatan yang berada di dalam perusahaan harus berjalan sebagaimana mestinya, dan pada saat seperti inilah (baca; pada saat shift 2) saya hanya sebatas monitoring, baik monitoring absensi, overtime, serta harus sigap dalam menangani ketika ada karyawan yang mengalami kecelakaan kerja, terutama melengkapi segala administrasi yang diperlukan untuk segera di bawa ke trauma center di rumah sakit terdekat.

Sebelum mulai bekerja saya sulit menerima bahwa saya harus mengalami shifting atau bekerja secara shift. Secara sebagai HRD masak iya masuk shift, ada rasa gengsi saat itu, namun dalam perjalanannya saya malah menikmatinya, karena saya malah banyak memiliki waktu longgar, serta di samping itu dengan bergantian shift malah bisa merefresh kembali otak saya, sehingga tidak mengalami jenuh atau bosan dalam bekerja. Dan ada juga karyawan yang merasa iri dengan saya dan ingin bekerja secara shift juga, hahahaa J.

Ada yang kurang pada ramadhan pertama ketika saya bekerja pada shift 2, yaitu saya melewatkan sholat teraweh dan witir secara berjamaah, karena kondisi memang tidak memungkinkan saya untuk mengadakan sholat teraweh dan witir berjamaah di mushola tempat saya bekerja. Namun demikian saya ikut merasakan suasana ramdhan di tempat kerja saya ini. Ketika menjelang sholat mushola menjadi penuh sesak, bahkan harus mengantri untuk sholat secara bergantian, terutama sholat magrib.  Karena jam istirahat yang mendekati berbuka yaitu pukul 17.30, dan setelah berbuka hampir semua karyawan menuju mushola untuk sholat magrib secara berjamaah mengingat waktu sholat magrib yang pendek, keburu sholat isya. Ada juga beberapa karyawan yang berbuka dengan seadanya, meski hanya sekedar air putih, kemudian menjalankan sholat magrib terlebih dahulu baru setelah sholat magrib menuju kantin untuk berbuka puasa dengan karyawan-karyawan yang lainnya, seperti yang saya lakukan kali ini karena ramdhan pertama saya lebih memilih sholat magrib di office karena mushola sudah terlalu ramai.

Pemandangan tak biasa ketika ramdhan yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Ketika setelah berbuka. Karena mushola yang sudah penuh sesak dengan karyawan yang ingin sholat magrib berjamaah hingga ada salah satu karyawan, yaitu seorang lelaki bernama Pak Santo, beliau adalah supervisor warehouse, beliau berinisiatif mengambil karpet lama yang berada di mushola kemudian menggelarnya di area kosong di luar gedung deket produksi untuk sholat magrib berjamaah, sehingga bisa digunakan untuk sholat berjamaah dan tidak mengantri lagi di mushola yang dari ukuran memang sangat kecil untuk menampung karyawan kala itu.

Untuk sholat isya masih bisa dikondisikan, tidak seperti saat sholat magrib, karena karyawan secara bergantian sholat di mushola, baik secara berjamaah maupun sholat sendirian. Kemudian bagaimana sholat teraweh dan witir mereka? Saya yakin bahwa diantara mereka tetap menjalankan sholat teraweh dan witir, hanya saja tidak dilakukan secara berjamaah. Seperti yang saya lakukan untuk sholat teraweh, saya tekadang empat rekaat saya kerjakan sehabis sholat isya, kemudian setelah sampai rumah sebelum saya tidur saya sholat teraweh lagi dan ditutup dengan sholat witir, atau sebelum sahur sholat teraweh dulu dan di tutup dengan sholat witir.

Suasana ramdhan bukan hanya kita rasakan di kampung-kampung, tapi dimana saja. Termasuk di tempat kerja kita. Mereka tetap menjalankan kewajibannya menjalankan ibadah puasa, di samping itu juga ia harus menjalankan kewajiban mereka dalam bekerja. Puasa di bulan ramadhan itu wajib, namun bekerja untuk menafkahi keluarga juga merupakan kewajiban. Sungguh mereka adalah orang-orang yang tetap menjalankan kewajiban di tengah kewajiban. Meski mereka diberi keringankan tidak berpuasa jika pekerjaannya dirasa sangat berat, namun tetap menjalankan kewajibannya baik berpuasa mapun bekerja.

Semoga mereka yang tetap berpuasa meski di tengah pekejaan yang menguras energy dan pikiran, terutama mereka yang bekerja sebagai pelaksana yang lebih menggunakan fisik mereka. Di tengah beban pekerjaan yang harus dikerjakan serta di tengah udara panas saat ini, semoga mereka selalu dilapangkan rejekinya dan diberi solusi atas segala permasalahannya. amin


Selamat menjalankan ibadah puasa, tetap berpuasa di tengah bekerja