Selasa, 04 Agustus 2015

Benalu

Benalu
Apa yang aku takutkan kini tejadi juga. Ketakutan yang selama ini hanya tersimpan dalam pikiranku kini menghampiriku juga. Aku tak perlu mengucapkan selamat datang kepada apa yang selama ini aku takutkan. Namun sangat disayangkan aku tak bisa berbuat apa-apa ketika semua yang aku takutkan kini benar-benar harus kuhadapi. Bagiku permasalahan saat ini sangat pelik untuk aku hadapai seorang diri. Aku bahkan bukan hanya berhadapan dengan orang terdekatku, namun aku juga harus menghadapi apa yang ada dalam diriku. Aku tak mau ego yang ada dalam diriku justru menuntunku pada jurang penyesalan.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Selama ini aku hanya memikirkan tentang ketakutan yang akan terjadi pada diriku. Dan tidak mencoba berpikir bagaimana, atau apa yang harus aku lakukan utuk menghadapi ketakutan-ketakutanku itu.

Mungkin awalnya aku ingin menjadi benalu yang mencoba untuk bermanfaat. Setidaknya tidak hanya menjadi parasit yang menempel pada sebuah pohon. Pelan-pelan aku mulai bisa menjalankan peranku sebagai benalu yang terus mencoba untuk bermanfaat bagi sang pohon.

Menjadi benalu yang mencoba untuk bermanfaat ternyata bukanlah hal yang mudah. Sebaik apapun, benalu tetaplah benalu. Benalu hanya menempel pada sebauh batang pohon yang tidak bisa menyerap makanan kecuali dari batang pohon yang ditempelinya. Namun aku tetap terus mencoba menjadi benalu yang bermanfaat.

Kejadian yang terjadi pada malam itu membuatku tak berdaya, aku mulai merasa bahwa aku adalah benalu, benalu yang seperti halnya sebuah parasit. Aku hanya bisa duduk terdiam di pojok kamarku. Sambil mencoba untuk terus menahan air mata yang terus mencoba untuk keluar menetes dari mataku. “Pengecut! Lelaki macam apa aku ini” dalam hati aku berkata dengan diriku sendiri, seolah mencoba membuatku diriku agar lebih tegar dan tidak mengeluar tangisan seperti anak kecil. Ketika kucoba untuk menahan air mataku, justru isak tangis yang kurasakan. Aku tak sanggup lagi menahan air mataku lagi. Pikirkanku justru berpikir tentang banyak hal. Aku berpikir tentang diriku ini, orangtuaku, dan kakek-nenekku yang dengan sabar merawatku hingga aku tumbuh dewasa seperti saat ini. Aku tak mau mereka tau apa yang aku rasakan pada malam itu. Malam ketika aku begitu susah memejamkan mata ini untuk segera terlelap tidur. Karena masih begitu sesak di dalam otakku mengingat kejadian demi kejadian.

Aku terus berusahan untuk mengontrol emosi dalam diriku. Aku tak ingin ego menguasai diriku. Aku terus mencoba tetap berpikir rasional ditengah situasi yang tak menentu. Situasi yang tak biasa aku hadapi. Aku tak ingin mengambil keputusan yang justru membuat situasi malah menjadi semakin rumit. “Tunggu situasi menjadi lebih tenang, baru cari solusi untuk mengambil keputusan yang terbaik” dalam hati aku berkata untuk bisa tetap tenang dalam menghadapi situasi malam itu.

Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Mungkin ini juga adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Menjadi benalu yang mencoba terus bermanfaat bagi sang pohon, hingga buah pun menjadi iri padaku.


Boyolali, 4 Agustus 2015