Selasa, 11 Agustus 2015

Ruang Penghabisan

Sejarah itu dimulai dari tempat ini, tempat yang berukuran kira-kira 4x6 meter ini, biasanya sangat adem, maklum AC-nya masih baru. Namun suasana menjadi panas ketika satu persatu teman-teman saya mulai meninggalkan ruangan sembari memberi semangat dan doa. Menjadi lebih tegang lagi ketika satu persatu dari pembimbing dan diikuti penguji mulai memaskui ruangan ini.

Satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal  7 Agustus 2014, merupakan salah satu sejarah dalam hidup saya. Karena saya telah berhasil melalui masa-masa dimana saya harus bersusah payah melawan diri saya sendiri untuk segera menyelesaikan tugas suci di dunia perkuliahan. Tugas suci itu bernama skripsi.  Saya ingat betul betapa saya harus bersusah payah melawan “monster” dalam diri saya yang bernama “rasa malas”. Mungkin bukan hanya saya yang mengalami hal itu. Tapi di luar sana, masih ada juga yang pernah mengalami apa yang pernah saya alami. Saya mungkin lebih beruntung, karena saya masih bisa berjuang hingga gelar Sarjana tersemat tepat di belakang nama saya. Dan tidak dipungkiri pula, masih ada juga teman-teman seperjuangan yang hingga detik ini masih berjuang untuk menyelesaikan tugas suci itu. Tetap berjuang kawan, doa saya selalu menyertai kalian, ingat orangtua kalian masih menginginkan anak-anaknya kembali mengenakan baju toga.

Mengerjakan skripsi ternyata memerlukan energi ekstra. Karena dalam prosesnya kamu akan mengalami apa yang namanya, capek ngejar-ngejar dosen, bosen menunggu dosen dan yang terakhir yang memerlukan energi lebih esktra lagi adalah, kita harus siap dengan yang namanya di-PHP sama dosen. Di-PHP dosen, itu sudah hukum alam, kalau enggak ngalami hal itu, pasti pas lulusnya enggak bakal ada gregetnya, hehehe J  dan perlu diingat, sering di tanya “kapan lulus?” juga butuh energi ekstra juga lho :-p

Pengalaman saya mengerjakan skripsi adalah ketika saya memutuskan untuk berhenti sejenak, saya merasa kesulitan untuk memulai lagi. Saya ulangi sekali lagi! Ketika saya memutuskan untuk berhenti mengerjakan, saya kesulitan untuk memulai lagi. Bagi adek-adek yang masih mengerjakan skripsi, tolong diingat pesan kakak yang ini ya, beuhhh :-p Jangan pernah sekali-sekali memutuskan berhenti mengerjakan skripsi, karena perlu diingat, menunda mengerjakan skripsi itu sama dengan menunda nikah!

Cobaan ternyata belum berakhir, ketika semua dosen pembimbing sudah acc. Jadwal sidang terancam tertunda karena ada salah satu penguji yang harus dinas ke luar kota, membuat saya menjadi tambah stress. Meski harus melalui negosiasi yang sedikit rumit, karena harus behadapan dengan yang namanya birokrasi. Semua bisa berjalan sesuai rencana dan tidak sperti yang saya bayangkan, karena saya merasa diberi kemudahan-kemudahan. Mungkin ini yang dinamakan “Di balik kesusahan, pasti ada kemudahan.”

Sujud syukur ketika saya bisa mengakhiri apa yang sudah saya mulai. Meski pada kenyataannya saya harus mengakui bahwa saya telat satu tahun. Namun tidak ada gunanya untuk menyesali apa yang sudah terjadi. Itu murni salah saya, bagi kalian yang masih baru atau akan mengerjakan skripsi, tetap konsisten dalam mengerjakan, jangan mengulangi kesalahan kakakmu ini, *mendadak jadi sok bijak