Selasa, 01 September 2015

Ya, Saya Gagal!

Sumber Gambar; Google
Beberapa hari yang lalu saya mendapat sebuah e-mail dari salah satu panitia seleksi calon pegawai baru, di salah satu perusahaan BUMN. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa seperti halnya sebuah asuransi yang menjamin kesejahteraan sosial untuk para pegawai, baik PNS maupun swasta. Saya harus ikhlas ketika saya harus menerima kenyataan bahwa saya hanya bisa sampai pada tahap tes online. Meski harus saya akui bahwa saya sangat antusias ketika  sudah dinyatakan lolos tahap seleksi administrasi, dan berhak mengikuti tahap tes lanjutan, yaitu tes online.

Ada beberapa subtes dalam tes online tersebut, namun waktu yang diberikan sangatlah singkat, persubtes mungkin hanya 5-6 menit dengan jumlah soal untuk masing-masing sub tesnya sekitar 40-50 soal. Rasanya saya mau muntah dan membanting laptop saya ketika saya harus segera menyelasaikan soal-soal yang diberikan ditengah tekanan waktu yang berjalan begitu sangat cepat. Di tambah lagi dengan koneksi saya yang sempat terputus membuat saya sedikit ragu, apakah jawaban yang sudah terjawab sudah tersimpan di server panitia seleksi atau belum. Entah lah,

Kemudian apakah saya kecewa? Tentu saja tidak, selain karena saya sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta milik orang asing. Dan tentu, kecewa dengan kegagalan ini juga hanya akan membuat saya semakin terpuruk, dan tidak akan bisa merubah apa-apa. Selain itu, mendaftar di salah satu perusahaan BUMN adalah salah satu cara untuk menolak secara halus apa yang sudah ditawarkan kepada saya.

Mendaftarkan diri di perusahaan BUMN adalah salah satu cara penolakan secara halus? Iya, karena beberapa hari sebelum saya mendaftarkan diri secara online, ada wacana yang sempat membuat saya terus kepikiran dan membuat tidur pun jadi tak nyenyak. Ada sebuah saran atau penawaran ke saya, bahwa ada lowongan PNS di salah satu instansi atau lembaga pemerintahan, dan saya di tawari dengan jaminan bisa lolos seleksi. Tentu kalian tahu apa yang saya maksud. Karena tidak ada makan malam yang gratis di dunia ini, khususnya di Indonesia yang baru saja merayakan hari jadinya yang ke-70. Dan mendaftarkan diri di perusahaan BUMN adalah salah satu cara saya untuk menolak secara halus. Saya tidak ingin membuat seseorang yang peduli dengan masa depanku, seseorang yang yang begitu mengharapkan kesuksesanku di kemudian hari, menjadi kecewa. Aku tidak ingin hal itu terjadi.

Dalam sebuah obrolan malam, ketika itu saya baru saja pulang dari tempat kerja. kira-kira sekitar pukul setengah dua belas malam. Kebetulan masih ada kerjaan yang belum selesai, dan kehadiranku seperti sudah ditungu-tunggu untuk membantu dalam menyesaikan pekerjaannya itu. Sebenarnya saya sudah merasa lelah, namun tidak tega juga kalau pekerjaannya tidak selesai, karena paginya laporan harus sudah diserahkan dalam bentuk hard copy.

Ketika sela-sela membantu mengerjakan laporan itulah saya memberanikan diri untuk membuka pembicaraan masalah wacana atau penawaran kepada saya itu. Awalnya saya ragu, namun saya memberanikan diri. Saya menjelaskan bahwa saya tidak setuju, dan saya juga sudah melakukan banyak pertimbangan. Menurut saya hal itu banyak mudhorot-nya ketimbang kebaikannya. Mungkin secara subyektif itu sangat baik bagi saya, namun menurut saya justru itu adalah pembelajaran yang tidak baik bagi saya. saya lebih suka berjuang dari bawah, dan saya mencoba untuk berpikir jauh ke depan tentang segala hal yang mungkin akan terjadi. Saya tahu betul bahwa ini adalah tidak baik, tidak baik bagi saya, tidak baik pula bagi orang-orang terdekat saya. Saya hanya tidak ingin menjadi korban ambisi, dan orang-orang disekitar juga terkena dampaknya.

Kami membicarakan banyak hal pada malam itu, dan semua mendengarkan dan meng-iya-kan apa yang sampaikan. Setidaknya penolakan yang saya lakukan itu semua sangat mendasar. Artinya ada pertimbangan-pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Dan saya merasa sangat lega, ketika semua menjadi sangat terbuka dan mendengarkan apa yang saya sampaikan. Karena bagaimana pun juga saya lah yang akan menjalaninya.

Kemaren saya menyampaikan bahwa saya gagal. Tidak ada yang kecewa ketika saya menyampaikan kabar itu. “Belum rejekinya” Jawaban yang seolah memberikan isyarat agar saya tidak pernah berhenti untuk mencoba dan berusaha.

Iya, saya gagal, tapi justru kegagalan ini membuat saya terus belajar, bahwa kita tidak pernah tau sebelum kita mencobanya. Meski awalnya saya sangat percaya diri bisa lolos, dan kegagalan ini seperti menyadarkan saya, bahwa percaya diri saja tidak cukup. Namun juga perlu yang namanya usaha keras dan tentu dengan doa, karena kita hanya bisa berusaha untuk hasil sudah bukan urusan kita.

Dan kalau dipikir-pikir posisi saya adalah posisi yang sangat dilemma, di satu sisi saya sudah mempunyai pekerjaan, di sisi lain saya mencari pekerjaan dengan harapan memperoleh sesuatu yang lebih dari pekerjaan sekarang, entah itu berupa posisi atau jabatan, kesejahteraan (termasuk salary), serta kenyamanan tentunya.


Saya seperti halnya orang yang sudah punya pacar, nyaman dengan pacarnya, namun di dalam hati sedang merencanakan pengkhianatan, yaitu mencari pasangan yang lebih untuk dijadikan pasangan hidupnya. Dasar manusia apa saya ini, yang tidak pernah puas. Duh sepertinya saya harus banyak bersyukur, dan lebih banyak melihat ke teman-teman seperjuangan yang saat ini masih belum memiliki pekerjaan. Doa saya untuk kalian, semoga segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai apa yang diharapkan. Terima kasih sudah mengingatkan kepada kami yang tidak pernah puas ini.