Sabtu, 31 Oktober 2015

Sebuah Nasehat

Sesaat sepulang dari kantor, aku segera mengirim pesan singkat bahwa sore ini aku akan pulang terlambat. Ada sesuatu yang membuatku untuk tidak segera pulang. Tak seperti biasanya, kali ini aku enggan untuk segera pulang. Biasanya aku tak sabar untuk segera sampai rumah dan melepas segala lelah. 

Aku hanya ingin menyendiri sebentar, ada suatu hal yang membuat hati kecil merasa tak nyaman. Aku putuskan untuk mampir di sebuah masjid yang baru saja di resmikan. Masjid belum 100% jadi, karena masih ada beberapa bagain bangunan yang belum di rapikan. Langit-langit yang masih berwarna semen, dinding-dinding yang masih di cat dengan warna dasar. Namun masjid sudah sering digunakan untuk kegiatan pengajian rutin setiap malam jumat, serta minggu pagi.

Aku masuk ke dalam masjid. Kondisi masjid masih sepi, padahal sangat dekat dengan jalan raya, dan ketika waktu sholat ashar hanya di isi oleh beberapa orang saja.

Setelah selesai sholat, aku tak segera bergegas untuk pulang. Hinggga satu persatu dari mereka mulai meninggalkan masjid, aku tetap di dalam masjid. Sembari membuka laptop dan mencoba menuliskan apa yang aku rasakan sebagai media untuk menyalurkan segala emosi. Aku tak terbiasa meluapkan emosi dalam diri. Aku lebih suka memendamnya dan menyalurkan melalui berbagai media lainnya. Hal ini semacam katarsis, terkadang aku suka menulis, suka melakukan kegiatan-kegiatan seperti olahraga untuk melepaskan emosi-emosi dalam diri.

Aku masih terduduk di teras masjid, dan masih (sok) sibuk dengan laptopku. Tiba-tiba terdengar ada suara ringtone sms dari handphoneku. “Kamu sekarang dimana?” bunyi pesan singkat yang segera aku balas tentang dimana posisiku sekarang, aku tak mau ada yang khawatir dengan kondisiku, setidaknya aku masih dalam kondisi waras.
***
Tiba-tiba ada seseorang lelaki paruh baya yang sedang memarkirkan motornya di dekat teras masjid. Lelaki itu berjalan mendekatiku dan mengucap salam kepadaku. Aku kemudian menyalaminya, dan ia pun membalasnya.

“Sedang apa amu disini le? Kenapa kamu tidak segera pulang?”

“aku masih pengen di sini dulu” jawabku dengan nada lirih

“Beginilah kehidupan berumah tangga le, suatu saat kamu juga akan mengalami hal ini, tak usah kau pikirkan”

Aku hanya menunduk tanpa berani untuk menyela sedikit pun pembicaraannya

“Dan ya beginilah kehidupan le, kamu harus banyak belajar tentang hidup ini, karena kehidupan tidak menawarakan kemudahan-kemudhan, termasuk dalam kehidupan berumah tangga. Akan ada saatnya kamu akan mengalami hal seperti ini. Kehidupan berumah tangga itu unik, karena wanita sendiri itu juga unik, wanita meski salah, mereka memiliki gengsi yang tinggi, terkadang ia sadar bahwa ia bersalah namun ia seakan enggan untuk mengakuinya. Memperdebatkan siapa yang bersalah adalah hal yang membuang-buang waktu tanpa ada solusi”

Aku masih terdiam dan hanya menjadi pendengar setia, sesekali aku mengangguk pertanda bahwa apa yang ia ucapkan adalah benar adanya.

Dalam kehidupan berumah tangga pun jangan pernah berpikir bahwa kehidupan akan berjalan mulus-mulus saja, kamu akan menjumpai badai yang luar biasa besarnya, di lima hingga sepuluh tahun usia pernikahan. Cobaan itu bisa berasal dari kondisi ekonomi, dari orang luar maupun dari faktor-faktor lainnya”

“Kamu adalah lelaki, kamu harus selalu kuat, atau setidakya kamu harus terlihat kuat, meski hatimu sebenarnya teronta-ronta, karena kamu adalah calon pemimpin rumah tangga. Dan kamu harus siap dengan semua yang akan kamu hadapi”

“Dan yang perlu kamu ketahui le, cobaan bukan hanya berasal dari kondisi ekonomi keluarga, godaan dari orang ketiga, karena bisa juga bahwa ujian itu malah datang dari Istrimu, atau anak-anakmu. Dan di saat seperti itulah kamu harus tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu bukan hanya harus bersabar, tapi kamu juga harus bisa membimbing anak istrimu. Jadi terus lah perbaiki dirimu dari sekarang, karena suatu saat kamu berkewajiban untuk membimbing istri dan ana-anakmu”

“Rapikan semuanya, dan segeralah pulang, kasian orang-orang yang di rumah jika mengkhawatirkan mu”

Aku pun segera mematikan laptopku dan merapikannya ke dalam tas. Aku tidak segera pulang kala itu.


Aku cari angin dulu” jawabku sebelum ia benar-benar meninggalkanku.
Read more ...

Selasa, 27 Oktober 2015

Rossi Vs Marc



Race Moto Gp minggu ini adalah  race ke 17, digelar di sirkuit Sepang Malaysia. Sirkuit Sepang yang mengingatkan kepada kita semua bahwa itu adalah sirkui terakhir bagi Simoncelli. Saya pun dari sehabis dhuhur sudah khusyuk di depan teleivisi. Maklum lah, ini hari minggu. Bermalas-malasan seakan hal wajib dalam hidup saya. 

Sebenarnya saya tidak mempunyai pembalap favorit, saya hanya suka dengan manuver-monuver pembalap Moto Gp yang aduhai itu. Saling salip-menyalip, tikung-menikung untuk bisa finish di posisi terdepan dan menyabet gelar juara Moto Gp. Seperti halnya dalam kehidupan asmara seseorang, yang terkadang harus diwarnai drama saling tikung untuk bisa merebut hatinya. Cie yang hobi nikung, hahaha J

Tak lengkap rasanya jika menonton Moto Gp tanpa ada kopi beserta cemilannya. Saya pun segera membuat kopi hitam serta menyiapkan beberapa cemilan sebagai teman menonton Race Moto Gp sepang.

Race sepang menjadi race penting bagi setiap pembalap, terlebih bagi Rossi yang sementara menjadi pemuncak klasemen, dan hanya selisih beberapa point dari Lorenzo di posisi dua. Namun suasana panas sudah terlihat sejak sebelum balapan dimulai. Rossi mengeluarkan statemen yang menimbulkan beberapa tafsir oleh beberapa media. Ada yang yang menyebutka bahwa satatemen Rossi adalah salah satu strategi Rossi agar membuat lawan sedikit down, ada juga yang menganggap bahwa Rossi sedang dikeroyok dua pembalap spanyol. Rossi yang merupakan salah satu kandidat juara dunia Moto Gp 2015, menyebut adanya KGB. KGB yang saya maksud tentu bukan Komunis Gaya Baru, melainkan Koalisi Gaya Baru. Kata koalisi yang lebih merujuk pada bahasa politis, kini hadir dalam gelaran Moto Gp. Karena adanya koalisi antara rider spanyol antara Marc dan Lorenzo. Tentu itu adalah hal yang masuk akal, karena lorenzo yang juga merupakan kandidat juara, karena penentu juara akan ditentukan di race terakhir di Gp Valencia, Spanyol. Sedangkan Marc yang sudah dipastikan tidak berpeluang juara selalu memberikan perlawanan terhadap Rossi, seperti yang di lakukan ketika race sebelumnya, di sirkuit Philip Island Australia. Marc yang selalu memberikan perlawanan terhadap Rossi, dianggap Rossi sebagai penghalang untuk mengejar Lorenzo. Dan point antara Lorenzo dengan Rossi tidak akan terpaut jauh.

***
Nampaknya race segera akan dimulai, saya pun sudah mulai khusuk kembali, remote pun saya lempar jauh dari saya, agar saya tidak kemecer untuk mengganti acara lain. Dari awal Lorenzo sudah tacap gas memimpin race, di susul pedrosa, Marc serta pembalap Ducati serta Rossi. Dan Pelan tapi pasti Rossi bisa menyalip pembalap Ducati, kemudian tepat di depan Rossi ada Marc. Saya pun sampai tidak mengedipkan mata, karena pertarungan sengit pun sebentar lagi akan dimulai. Arah kamera pun sudah focus antara Marc dan Rossi.

Saling salip di tikungan, baik Rossi maupun Marc melihatkan gaya salip-menyalip serta tikung-menikung yang aduhai itu. Dalam hati saya, pertarungan itu belum kelar jika belum ada yang jatuh. Dan benar ketika lap ke 7, Rossi menyalip dari dalam, Marc yang sedikit di dorong melebar, kemudian seperti mendapat senggolan dari Rossi, kemudian jatuh. Pikir saya Marc akan melanjutkan balapan, namun ternyata tidak. Marc langsung menuju ke tim-nya. Dan saat para pemburu berita menggeruduknya nampaknya ia tidak mau berkomentar dan langsung masuk ndekem. Mungkin di dalam Marc rodo gelo,

Kemudian adegan jatuhnya Marc diputar berulang-ulang untuk lebih meyakinkan apa yang sebenarnya terjadi. Dalam rekaman ulang itu nampak, kaki Rossi sengaja dupak Marc. Saya pun menganggap bahwa hal itu murni disengaja oleh Rossi. Karena sebelum kaki Rosi ­ndupak Marc, Rossi sengaja melebar agar membuat Marc keluar lintasan, kemudian mungkin Rossi juga berpikiran jika Marc dipaksa keluar, Rossi sangat sadar bahwa “Marc ki cah bayi, iso luweh nekat”. Dan yang terjadi malah semua njungkel, Rossi juga akan rugi jika kehilangan point. Dan terlihat Rossi sempat melihat Marc ketika ditikungan sesaat adegan Ndupak terjadi, Mungkin Rosi Mbatin juga “Kie cah bayi jur gawe emosi wae” kemudian “kaki Rossi sedikit nylentik ­ke arah Marc. Dan gabrus, Marc njungkel. Sempat Marc mulai menyalakan motor lagi. Pikir saya mau meneruskan balapan, namun malah menuju ke kandang lagi.

Adegan ndupak, dan jungkel pun mulai rame di linimasa. Saya pun heran dengan mereka-mereka yang memiliki waktu selo itu. Baru beberapa saat setelah adegan Ndupak Njungkel tiba-tiba sudah ada meme antara Rossi dan Marc. Bener-bener selo tenan bocah kae. Mungkin pembuat meme sudah memprediksi tanpa Marc dan Rossi race Moto Gp sudah tak akan kemripik dan gurih lagi untuk dinikmati. Hingga ia memutuskan untuk membuat meme daripada melanjutkan menonton race yang sudah semakin lama sedikit membosankan itu.

Saya pun tidak habis pikir, bahwa pembelap sekelas Rossi akan melaukan hal itu. Meski saya lihat ada dua respon yang berbeda saat adegan ndupak njungkel itu. Ada yang bersorak gembira menyaksikan ketika Marc njungkel ketika didupak oleh Rossi. Tentu respon ini adalah respon penggemar Rossi. Bahkan dalam linimasa pun ada yang lebih sadis lagi “Beruntungnya Marc Cuma didupak kaya gitu, harus didupak Ndase ben ra kemlinthi, cah bayi jur gawe emosi wae” ungkapan-ungkapan yang seakan membenarkan tindakan Rossi. Lainnya halnya dengan pendukung Marc yang seakan-akan mengutuk tindakan Rossi terhadap idolanya, yaitu Marc.

Hingga race berakhir pun, ketika Pedrosa, finish di posisi pertama, di susul Lorenzo dan Rossi di posisi kedua dan ketiga. Belum ada keputusan dari Race Direction. Nampaknya penonton di suruh bersabar menunggu hasil investigasi. Rossi pun sudah nampak sedikit tak tenang, seakan sudah menunggu sanksi apa yang akan diberikan kepadanya.
***
Sesaat kemudian, saya melihat dari status BBM teman, bahwa keputusan Race Direction sudah di umumkan, dan saya pun cek di official twitter Moto GP. Ternyata Rossi harus menerima sanksi bahwa harus terkena penalty 3 point, serta harus menerima start di posisi buncit ketika race terakhir di Gp Valencia. Dari tim Yamaha pun seakan menerima hasil keputusan dari Race Direction. Race yang berat bagi Rossi untuk memperoleh gelar juara Dunia Moto Gp. Setidaknya Rossi harus menggeber Yamaha YZR M1 nya untuk menyalip semua pembalap, atau fans Rossi harus banyak berdoa, agar Lorenzo ngalamun dan njungkel.

Saya jadi teringat dalam sebuah tulisan mojok.co yang berjudul “Manunggaling Vallentino Rossi dengan YZR M1” bahwa ketika balapan Rossi seakan sudah menyatu dengan motornya, sehingga menampilkan manuver-manuver ketika menyalip di tikungan. Namun Rossi tetaplah manusia biasa. Adegan ndupak kemaren adalah sisi manusiawi dari Rossi, ketika sabar sudah mulai tipis, hal-hal semacam itu bisa saja dilakukan oleh pembalap professional sekelas Rossi sekalipun.

Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh teman saya sendiri. Ketika itu saya sedang bermain futsal dan ketika itu tim kami dalam posisi kalah. Kami kesulitan untuk menyamakan kedudukan, ditambah lagi kiper lawan yang sedikit kemlinthi dan kemampleng. Saya tidak terpancing sedikit pun oleh ucapan-ucapan kiper itu, karena saya sering bermain sebagi pemain belakang. Situasi semakin buruk ketika kami kecolongan lagi satu goal. Situasi semakin berat! Dan kejadian yang menurut saya adalah hal yang manusiawi itu muncul, ketika saya mengoper ketika posisi kiper sudah tertipu dan terjatuh, sehingga teman saya tinggal mencukil bola sedikit saja sudah pasti 100% goal, namun apa yang dilakukan teman saya? dia dengan tendangan kencangnya malah mengarahkan bola tepat kearah kiper dan bola terpental jauh. Saya sedikit kecewa kala itu, namun teman saya seakan puas dengan yang telah dilakukanya. Saya dekati dia dan dia hanya bisa mengucap “maaf”. Dia pun malah berucap “ Gone dewe kemungkinan besar kalah, daripada kalah tur do gelo, nek ngene kie kan, aku gk gelo. SIk penting kiper e ben nggak nggambleh wae” saya pun hanya bisa, senyum kecut, ketika melihat kiper yang yang kemlinthi itu, Cuma mak cep nggak ngomong apa-apa lagi” seperti Marc yang langsung menuju ruangannya, dan tidak berkomentar apa-apa.


Dan pelajaran penting bagi kita semua, agar kita semua tidak kemlinthi. Salam   


Sumber gambar :www.indoberita.com
Read more ...

Kamis, 22 Oktober 2015

PUISI

Hujan di Musim Kemarau

Banyak orang yang mengeluh dengan cuaca terik
Tak sedikit pula yang mengeluh dengan debu-debu jalanan
Disaat seperti itulah banyak orang yang begitu merindukan hujan

Bukankah, . . .
Ketika kau sudah siap untuk bekerja
Ketika kau sudah siap untuk bertamasya
Hujan seakan menjadi sesuatu yang tak kau harapkan?

Kini hujan begitu kau nanti
Seperti aku menantimu dalam kesunyian

Kini hujan begitu kau rindukan

Seperti rinduku yang tak tersampaikan
Read more ...

Menjadi Sheila

Ketika saya sedang menulis postingan ini. Sembari menulis, saya juga sedang mendengarkan lagu-lagu Sheila on 7. Dan saya baru seneng-senengnya mendengarkan lagu-lagu Sheila on 7 dari album ter-anyar-nya, yaitu “Musim yang baik”. Saya tidak memproklamirkan bahwa diri saya adalah seorang Sheila gank, sebutan bagi para pecinta atau fans Sheila on 7. Bukan! Saya hanya suka dengan lagu-lagu Sheila on 7. Udah titik, sampai di situ saja.

Dulu ketika lagu suka-sukanya nonton acara musik Mtv ampuh, yang kala itu tayang di ANTV, sebuah acara musik yang sedang digandrungi banyak orang, termasuk saya.  Saya sering menunggu siapa yang bakal jadi jawara atau chart nomor satu ampuh. Saya masih ingat betul ketika lagu Sheila on 7 yang berjudul “Sahabat Sejati” sempat beberapa pekan nangkring di posisi pertama. Kemudian sosok vokalisnya sempat menjadi trendseter oleh anak-anak ABG, terutama gaya rambut belah tengahnya. Saya mungkin orang yang terlalu memaksa, karena jenis rambut saya yang ikal dan cinderung kaku, jadi sudah paten pake gaya rambut belah sampingnya, ketika saya coba memaksakan pakai gaya rambut gaya belah tengah ala-ala Duta Sheila on 7 malah menjadi aneh, dan lebih mendekati kearah “culun” meski hingga saat ini saya masih menampilkan keculunan saya, hehehe

Seperti halnya dengan hubungan percintaan, bahwa yang namanya pasang surut itu pasti ada. Saya merasa bosan dan lebih suka mendengarkan lagu-lagu dari Peterpan (sekarang bernama Noah), lagu yang berjudul “Ada apa denganmu” sebegitu fenomenalnya hingga untuk kali pertama saya membeli kaset original yang waktu itu berharga Rp 20.000, kalau tidak salah. Entah setan apa yang merasuki diri saya hingga rela mengorbankan uang jajan dan main PS untuk membeli kaset original. Dan sejak itu saya tahu bedanya kaset original dan bajakan adalah, kalo kaset original di salamnya ada cover album yang sedikit tebal karena di situ juga terdapat lirik-lirik lagu dalam album tersebut, serta ucapan terima kasih. Sedangkan kaset bajakan, cuma cover aja, masalah kualitas, kayaknya sama saja, setau saya waktu itu kaset bajakan bisa membuat tape recorder saya cepat rusak, hehehehe J

Jika ketika masih SD, saya suka dengan lagu-lagu Sheila on 7, kemudian ketika SMP saya suka dengan lagu-lagu Peterpan (yang sekarang Noah), lain halnya ketika SMA. Ketika SMA, saya seperti ABG lainnya yang masih labil. Kelabilan saya juga berpengaruh terhadap selera musik saya. Ketika SMA saya suka dengan lagu-lagu dari ungu. Saya seakan menjadi seorang cliquers. Jika waktu SMP saya rela untuk membeli kaset originalnya, namun ketika SMA saya tidak membeli album ungu dari kaset atau CD maupun DVD-nya. Saya bahkan lebih hina lagi, saya tak lebih dari seorang pembajak, karena saya hanya meng-copy lagu-lagu dari ungu kemudian saya simpan di Mp3 handphone.

Seiring berjalannya waktu, ketika masuk masa-masa kuliah saya tidak mengkotak-kotakkan diri dalam hal selera musik. Mana yang enak didengar ya saya dengarkan. Biasanya lagu yang saya dengarkan adalah lagu yang sesuai dengan suasana hati saya. ketika saya sedang bahagia, lagu-lagu dengan bit atau irama yang cepet menjadi lagu yang sering saya dengarkan. Ketika lagi sedih atau galau, lagu-lagu yang melo yang sering saya dengarkan, seakan membuat saya seperti sedang merayakan kesedihan atau kegalauan saya sendiri.
***
Meski suka mendengarkan musik, hampir seumur hidup saya, saya tidak pernah melihat langsung sebuah konser musik, dengan sound kenceng yang membuat telinga penging, panggung yang besar, serta berjubel lautan manusia yang penuh sesak saling berdesakan. Hingga pada suatu ketika, di saat sahabat saya mengajak untuk melihat konser Sheila on 7, saya pun mengiyakan saja. Kala itu saya cuma ikut nimbrung dengan Sheila gank solo, atau lebih dikenal dengan Sheila Gank Pandawa Lima Solo atau SGPL, yang kebetulan sahabat saya juga aktif menjadi member SGPL. Saya cuma nimbrung saja. Ketika mereka beramai-ramai menuju depan panggung, saya ikut saja. Saya pun menikmati suasana konser. Penonton begitu riuh dan ramai-ramai seakan menjadi backing vocal ketika sang vokalis Duta mengarahan mic ke arah penonton.

Bukan hanya itu, bahkan setelah konser pun saya juga ikut nimbrung dengan mereka para fans militan, ketika para Sheila gank menuju ke sebuah hotel tempat di mana para personel Sheila on 7 menginap. Kami menunggu beberapa saat, hingga para personel pun keluar dari hotel dan menyapa kami. Dan itu lah pertama kali saya melihat seorang artis yang bisa disebut sebagai public figure yang diidolakan oleh fans begitu ramah menyambut para fans-nya. Tentu tidak akan lengkap jika tidak ada sesi foto. Dan saya pun juga ikut nimbrung biar bisa foto bareng dengan salah satu personel Sheila on 7.

Selain di ajak menonton konser, saya juga pernah di ajak sabahat saya yang seorang sehila gank  militan itu main ke jogja, tepatnya di basecamp Sheila on 7. Tapi sayangnya kami tidak bertemu dengan personelnya, hanya ada beberapa crew dari Sheila on 7 yang menemui kami. Tidak puas, saking militannya, kami menuju sebuah kedai pizza. Dan kedai itu milik sang vokalis Sheila on 7, yaitu Duta. Berharap sang pemilik kedai ada di situ, namun hanya kenyang yang kami dapatkan, hehehehe karena kami hanya makan dan sekedar nongkrong untuk beberapa saat, sebelum kami pulang ke solo. Kala itu kami juga terikat waktu, maklum paginya saya harus “tugas negara”, karena saya sudah di booking untuk membantu pelaksanaan psikotes.

Sejak pertemuan langsung dengan para pesonel Sheila on 7, hingga main ke basecamp Sheila on 7, mampir ke kedai pizza milik Duta Sheila on 7, meski belum ketemu dan hanya kenyang yang kami dapatkan. Hal itulah yang seakan membuat saya mulai mencoba lagi mengingat-ngingat waktu saya pertama kali mendengarkan lagu-lagu Sheila on 7. Ketika lagu “Sahabat Sejati” yang begitu saya nantikan karena beberapa pekan menjuarai di chart Mtv Ampuh. Ketika film “Tak Biasa” yang dibintangin oleh Duta Sheila on 7, yang merupakan vokalis Sheila on 7 hingga beberapa kali saya tonton tapi tak kunjung bosan. Saya mulai browsing serta melihat di youtube tentang perjalanan Sheila on 7 yang masih eksis ditengah fanatisme terhadap boyband dan girl band, bahkan vokal group seperti JKT 48.

Kemaren malam, sebuah konser yang bertajuk “Konser Spesial Sheila On 7 Trans Tv” berjalan dengan sukses. Konser yang menarik perhatian begitu banyak orang, bagaikan hujan di musim kemarau, yang kedatangannya begitu di nantikan. Linimasa begitu ramai membicarakan tentang Sheila on 7, konser yang mungkin telah dinanti-nantikan. Saya sendiri pun mencoba seperti fans-fans militan lainnya. Saya yang kebetulan masih bekerja, saya nekat untuk melihat secara streaming dengan komputer kantor lengkap beserta koneksi internet dengan kecepatan dewa-nya. Saya seakan tidak peduli jika suatu hari bakal dipermasalahan mengenai hal ini, mungkin dari pihak IT sudah mulai gerah dengan kelakuan saya. hehehe yang terpenting kerjaan sudah kelar kan. Hehehe J


Selamat buat buat Sheila on 7 atas kesuksesan konser kemaren malam, yang setidaknya mampu mengobati kerinduan para fans. Sekali lagi saya hanya suka mendengarkan lagu-lagu Sheila on 7, udah gitu aja J
Read more ...

Rabu, 14 Oktober 2015

Saya Lelaki Normal Kok, Serius!

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang nggleyeh di depan tv. Saya dikagetkan oleh berita running text, bahwa ada pernikahan sejenis yang dibalut dengan acara syukuran yang terjadi di Boyolali. Sontak saya sedikit tidak yakin. “Mosok iyo boyolali, enek homo cah” kemudian sehari kemudian saya berselancar di dunia maya, untuk lebih tabayun lagi mengenai kebenaran berita tersebut. Ternyata benar adanya. Saya iseng-iseng tanya dengan salah satu karyawan di tempat saya bekerja, yang kebetulan tetangga desanya.  Dan komen darinya adalah, “bener itu, pak.” “Jebul nek didandani yo ayu lho Pak”. Atau dalam bahasa Indonesia artinya, ternyata kalau di make up, cantik juga. Saya mencoba untuk berprasangka baik saja, meski dari lubuk hati paling dalam, sulit untuk memungkiri bahwa hal itu adalah semacam deklarasi akan adanya pasangan sejenis yang saling memadu kasih. Saya mencoba mempercayai klarifikasi yang dilakukan oleh pihak terkait bahwa acara tersebut adalah acara syukuran atas bisnis warung makan yang mereka rintis berdua beberapa tahun yang lalu. Dan sudah lah, siapa saya ini yang dengan semena-mena mau mengomentari hidup orang lain, hehehe J

Berita mengenai perkawinan sejenis, antara jeruk makan jeruk ini sempat heboh juga di media sosial, tidak sedikit media online yang memberitakan kasus tersebut. Mengenai hal ini, saya juga punya pengalaman yang sedikit mengarah pada eksistensi saya sebagai lelaki. Saya pernah ditanya oleh seseorang, yang tidak saya sebutkan namanya, karena saat ini masih berteman dengan beliau. Beliau adalah rekan kerja saya, namun beda departemen, meski berbeda departemen kami sering sharing untuk masalah-masalah karyawan yang sulit diatur dan sering menyalahi aturan, Beliau lebih tua dari saya, dan saya sangat yakin bahwa beliau adalah orang yang baik. Dan sempat juga ingin mengenalkan teman wanitanya kepada saya. Namun saya menolaknya dengan halus, karena saya tahu akan kemana arahnya setelah perkenalan itu. Bener, Perjodohan! Saya menolaknya bukan karena saya sudah pasangan, bukan! Saya masih jomblo, serius! Eh bukan jomblo ding, tapi single, hehehe J

Dan tiba lah pada suatu ketika dengan sedikit ragu ia memberanikan diri untuk bertanya kepada saya. Beliau bertanya kepada saya “Pak, maaf lho, sampeyan normal kan? Kok belum punya rencana mau nikah gitu? Setidaknya pacaran gitu, secara kan sudah bekerja juga” Mendengarkan pertanyaan tersebut saya tidak langsung marah. Saya mencoba tenang, karena saya yakin bahwa ia bertanya hal tersebut hanya ingin tahu kenapa saya menolak untuk dikenalkan dengan teman wanitanya. Sekali lagi, karena saya sangat yakin bahwa beliau adalah orang yang baik. Saya kemudian menjelaskan kepadanya, setidaknya dia akan puas dengan jawaban saya.

Saya menjawab mengenai sikap saya, yang untuk saat ini belum mau untuk berhubungan intens dengan lawan jenis, atau dengan kata lain pacaran. Tentu saya juga punya alasan mengenai hal ini. Ada beberapa alasan yang saya jelaskan kepada beliau. Saya harap kala itu beliau puas dengan jawaban saya. Saya menjawab dengan nada santai dan sedikit terbawa kecil “ Iya normal lah, saya juga doyan nonton bokep juga mangsane, hahahaha, enggak-enggak maksud saya, saya juga pernah pacaran, meski pada akhirnya hanya berujung penyesalan, hasisss. Hehehehe” Namun ada beberapa point yang saya coba jelaskan pada beliau.

Pertama, mengapa saya tidak pacaran? Satu, karena saya belum siap nikah, hehehehe terserah jika ada beberapa orang yang bilang saya penakut, karena emang begini adanya. Saya masih (merasa) muda, masih pengen seneng-seneng dengan apa yang saya punya. Karena target saya adalah selama kurang lebih dua tahun ini, saya akan menikmati hasil kerja saya terlebih dahulu. Kecuali Tuhan memberi hidayah serta jodoh kepada saya, hingga saya dapat menjalankan apa yang disunahkan Rosul, yaitu menikah.

Kedua, saya mencoba untuk tidak pacaran bukan berarti saya tidak suka perempuan. Karena sebagai manusia saya juga punya rasa tertarik dengan lawan jenis. Namun saya mencoba untuk mengendalikan diri saya, dan saya percaya akan ada saatnya saya akan mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada perempuan yang kepadanya saya merasakan yang namanya cinta untuk segera menemui kedua orangtuannya dan meminangnya. Bukankah dalam islam sudah memberikan solusi kepada mereka yang sudah balig dan secara ekonomi sudah siap menikah, namun secara mental belum siap dengan berpuasa? Ingat ya, dengan berpuasa, bukan dengan sabun.

Ketiga, saya masih punya tanggungan, yaitu kreditan motor yang belum lunas. Meski dari pihak leasing sudah memberi kebebasan kepada saya mengenai kelonggaran pembayaran tanpa tanggal jatuh tempo, dan dalam kondisi tertentu saya berhak untuk tidak membayar sesuai kesepakatan, bukan kesepakatan hitam diatas putih tapi atas dasar saling percaya, dengan alasan yang bisa dibenarkan. Ya iyalah leasing-nya orangtua sendiri, hahahahaha harus saya akui bahwa ketika saya mempunyai rencana mandiri untuk ambil kredit motor tanpa permisi saya menjual salah satu motor saya, kemudian mengajukan kredit. Namun apa daya, ketika orangtua malah langsung meng-take over sebelum pengajuan kredit di acc oleh pihak leasing dari adira. Iya orangtua saya malah membayarnya secara cash. Mungkin orangtua saya masih kasihan dan belum percaya bawah anak bungsunya sudah (hampir) dewasa. Dan sesuai komitmen bahwa setiap bulan saya tetap men-transfer sejumlah uang sebagai angsuran untuk motor yang malah di bayar cash tersebut. Sebagai laki-laki saya harus menjalankan komitmen saya tersebut. Yang namanya utang kepada siapa pun termasuk orangtua sendiri harus dibayar. Ohiya saya masih punya utang dengan teman saya waktu membeli domain lobimesen.com sorry ya bro, hehehe J

Keempat sampai detik ini, sepertinya orangtua saya masih belum percaya bahwa anaknya sudah beranjak dewasa. Baginya saya seperti anak yang masih kuliah, jadi tidak heran ketika saya libur dan pulang ke rumah, masih ditanya uang jajannya masih kan? Saya sudah kerja Buk, *sambil makan beling sepertinya orangtua saya belum percaya, atau belum mau anak kesayangannya di ambil wanita lain, meski itu adalah calon menantunya sendiri, jiahhh. Orangtua sendiri aja belum percaya apalagi calon mertua coba? hehehe

Kelima, dan ini sebagai yang terakhir. Sebenarnya dalam hati saya sudah mempuyai nama yang selalu kusebut dalam doaku, dan hingga saat ini saya masih membiarkan rasa ini terus bergejolak. Saya ragu meski juga terkesan malu. Namun ini adalah cara saya mencintai seseorang, ketika saya sudah merasa siap saya akan segera mendatangi orangtuanya saja, dalam penantian ini saya hanya bisa terus memperbaiki diri. Dan jika suatu hari saya tidak diketemukan dengan dia, atau dengan kata lain dia bukan jodoh saya, mungkin Tuhan punya rencana lain, saya nderek Gusti Allah saja.


Begitulah kira-kira point-point yang saya jelaskan kepada beliau, saya kira saat itu beliau puas dengan jawaban saya. Dan pertemuan saya kala itu saya tutup dengan, memohon doa agar saya tetap melakukan apa yang menurut saya baik, dan semoga juga bukan hanya baik bagi saya, tapi orang-orang disekitar saya. Dan inget ya, saya normal kok! hahahaha 
Read more ...

Jumat, 02 Oktober 2015

Alhamdulillah, Dipertemukan dengan Orang Baik

Yuk mulai nulis lagi. Setelah aktivitas yang sedikit membosankan serta menyibukan. Sedikit melepas penat dengan melempar kata, melalui ketikan jemari di atas keyboard, meski mata ini terus melirik ke arah kasur. Beberapa hari yang lalu, adalah hari dimana saya merasa dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Entahlah kebaikan apa yang telah kuperbuat hingga Tuhan mengirimkan orang-orang yang baik, ditengah dolar yang terus merangkak naik hingga diatas 14 ribu, serta ditengah himpitan ekonomi tanggal tua yang melanda bagi kaum karyawan swasta seperti saya.

Ceritanya hari minggu kemaren saya mendapat undangan kondangan dari salah satu teman semasa kuliah. Saya berencana datang untuk menghadiri acara resepsi teman saya tersebut. Paginya saya sengaja bangun pagi untuk beres-beres kamar, serta nyuci baju yang semakin hari semakin menggunung, belum lagi harus menyetrika pakaian bersih yang telah dicuci. Tanggal tua membuat saya harus ekstra mengkontrol pengeluaran saya. Maklum lah Banyak pengeluaran tak terduga di bulan ini.

Setelah semua beres, saya nyalakan kipas angin dan laptop untuk mendengarkan music sebagai hiburan untuk melepas lelah. Namun terlalu asyik dengan lantunan music, di tambah angin semilir yang terhembus dari kipas angin membuatku tak berdaya untuk terus terjaga. Saya malah tertidur, dan bangun-bangun sudah adzan dhuhur, mungkin saya terlalu lelah, karena semalam baru pulang dari kantor sekitar jam 11 malam. Ketika masih dalam keadaan setengah sadar saya segera menuju kamar mandi, kemudian ganti baju serta sholat dhuhur sebelum berangkat kondangan.

Saya janjian dengan teman-teman saya untuk berangkat bareng karena saya tidak tahu dimana lokasi resepsinya. Dengan sedikit terburu-buru saya mampir ke ATM dulu untuk mengambil uang. Dan disaat itulah, ditengah ketergesa-gesaan saya,muncul lah kecerobohan saya, dengan tanpa beban saya keluar dari ATM padahal uang di mesin ATM belum saya ambil. Disitulah Tuhan mengirimkan orang baik kepada saya, ada orang yang baik hatinya, meski doyan duit ia sepertinya tak mau megambil uang yang bukan haknya. Ia menegur serta mengingatkan saya bahwa uang saya belum di ambil. Saya kemudian teringat, ohiya. Dalam hati saya masih bingung kenapa saya sampai bisa lupa. Saya langsung megambil uang dari mesin ATM dan tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang mengingatkan saya tersebut. Dalam perjalanan menuju ke tempat teman saya untuk berkumpul dan berangkat bareng ke tempat kondangan saya sejenak bepikir, ternyata masih ada orang baik di sekitar kita, padahal orang yang mengingatkan saya tersebut, juga memiliki kesempatan untuk mengambil uang saya yang masih di mesin ATM, toh saya juga tidak menyadari sebelum ia mengingatkan. Saya bersyukur dan ternyata itu masih rejeki saya.

Kemudian saya sampai di kos teman saya untuk istirahat sebentar, kemudian berangka bersama untuk ke tempat kondangan. Perjalanan yang tidak asing, karena tempat kondangan pernikahan teman saya ternyata pernah saya lewati ketika saya belajar nyari uang dengan membantu penelitian dosen, untuk survey ke daerah-daerah. Sambil bernostalgia dengan suasana pedesaan yang jauh dari kegaduhan, pemandangan alam yang dikelilingi hutan dan pegunungan serta keramahan penduduknya. Saya menghadiri resepsi teman saya hingga acara selesai serta bercengkerama dengan teman-teman untuk saling berbagi pengalaman.
***
Dan entah kebaikan apalagi yang telah saya perbuat, hingga Tuhan kembali mengirim orang baik untuk menolong saya. ceritanya ketika saya sedang mau berangkat dari sukoharjo, saya iseng-iseng lewat klaten, yait jalanan jogja-solo. Cuaca terik serta kepulan asap knalpot membuat saya tidak sabar untuk segera sampai tujuan. Saya berkendara agak kencang dari biasanya, hingga setelah beberapa kilo perjalanan saya diklakson dari belakang padahal saya sudah menepi, namun terus mengklakso, saya pelankan laju kendaraan saya, serta menengok kebelakang. Ternyata orang terseut mengingatkan saya bahwa plat nomor saya hampir copot karena satu pengait sudah terlepas bautnya. Saya mengacungkan jempol kepada orang yang mengingatkan saya tersebut sebagai tanda terima kasih.

Kemudian saya berhenti tepat di depan bengkel sepeda motor, yang nampaknya tidak begitu ramai. Saya menghampiri Mas-mas yang sedang memperbaiki motor untuk segera memasang plat nomor motor saya yang sudah hampir terlepas. Dengan santai Masnya langsung memasang plat nomor saya, ketika hampir selesai saya Tanya “berapa Mas?” “sek mas” jawabnya. Baru ketika sudah selesai dan sudah terpasang rapi plat nomor saya. saya tanya lagi “berapa Mas?. Kemudian Mas-mas penjaga bengkel menjawab dengan bahasa jawa “Pun, mas di astho mawon” dalam bahasa Indonesia, sudah mas, dibawa saja. Alias gratis, hehehe. Sambil mengucapkan terima kasih serta dibumbui senyuman saya meninggalkan bengkel serta mengklakson sebelum saya mulai melanjutkan perjalanan lagi.

Lagi-lagi saya merasa ada orang lain yang berbuat baik kepada saya. Entah apa yang sudah saya lakukan terhadap orang lain. Kejadian di ATM, serta kebaikan yang dilakukan mas-mas pemilik bengkel adalah bukti bahwa masih ada orang baik di sekitar kita. Hari ini saya belajar dengan mereka. Bisa saja Orang yang mengingatkan ketika uang saya tertinggal di ATM, mengambil uang saya, namun ia tidak melakukan hal itu. Atau si penjaga bengkel tersebut memberikan tarif jauh diatas yang sebenarnya, misalnya harga baut, cuma seribu rupiah, namun ia menghajar saya dengan tarif sepuluh ribu rupiah, bisa saja kan? Namun mereka tidak melakukan hal itu. Mereka malah berbuat baik kepada saya. seakan member cambukan kepada saya agar saya terus berbuat baik meski tidak mengenalnya.


Terima kasih Mas-mas yang mengingatkan saya ketika uang saya teringgal di mesin ATM, terima kasih MAS-mas penjaga bengkel atas kebaikannya. Mereka tidak mengenal saya, saya pun tidak mengenalnya,namun mereka berbuat baik kepada saya. Terima kasih atas kebaikan kalian, terima kasih atas pelajaran hidup yang kalian berikan kepada saya. Semoga mereka dan keluarganya selalu diberikan kesehatan, serta dilapangkan rizkinya. Amin 
Read more ...

Kamis, 01 Oktober 2015

Selamat Ulang Tahun Saya

Hari ini tepat tanggal 30 September. Hari dimana rakyat Indonesia beramai-ramai memasang bendera setengah tiang, sebagai wujud duka atas tragedi yang lebih dikenal dengan G 30S. Masih samar teringat dalam pelajaran sejarah ketika saya masih duduk di bangku sekolah mengenai tragedi G 30S, yiatu suatu gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh partai yang berlambang palu dan celurit, yang berusaha mengambil alih pemerintahan. Atau bisa dikatakan suatu pemberontakan terhadap NKRI. Namun demikian kebenaran sejarah yang saya yakini pada saat itu, ternyata masih simpang siur. Ada beberapa kalangan yang menilai tentang adanya kebohongan sejarah yang dilakukan pemerintahan orde baru. Hingga saat ini siapa dibalik tragedi G 30S masih terus menjadi bahan perdebatan.

Kondisi Presiden Soekarno yang pada saat itu sedang tidak dalam keadaan sehat, bahkan kondisi kesehatan yang semakin menurun, membuat lawan politik mulai mengincar kursi Presiden Indonesia. Dan puncaknya adalah penculikan serta pembunuhan terhadap 7 jenderal yang dibunuh secara mengenaskan serta dibuang di sumur lubang buaya, serta adanya ancaman terhadap kudeta pemerintahan pada saat itu, semua itu “diduga” didalangi oleh partai yang berlambang palu dan celurit tersebut. Begitulah kira-kira secuil sejarah yang saya yakini kebenarannya ketika saya menganggap apa yang saya pelajari ketika masih duduk di bangku sekolah adalah sebuah pengetahuan. Ditambah dengan adanya film tentang pengkhiantan G30S yang sering diputar ketika masa pemerintahan order baru seakan menggambarkan betapa sadisnya peristiwa itu. Seakan menjadi sebuah pembenaran tentang aksi penumpasan simpatisan partai yang berlambang palu dan celurit tersebut, ditangkap sebagai tahanan politik tanpa melalui proses peradilan, serta bahkan hingga ada yang dibunuh.

Baru setelah era reformasi ini, ditambah lagi dengan era media sosial seperti jaman sekarang, ketika setiap orang bebas untuk mengungkapkan pendapat. Barulah muncul tentang fakta-fakta yang terungkap tentang apa yang sebenanarya terjadi dibalik G 30S. Mulai keterlibatan badan inteligen dari Negara asing yang sudah lama mengincar Indonesia dengan segala kekayaan alamnya, bahkan saat ini orang asing tersebut benar-benar menguasai sebagian wilayah Indonesia, sebut saja Freeport. Dan perdebatan-perdebatan yang akhir-akhir ini adalah keterlibatan sang penguasa orde baru yang menjadi dalang dibalik G 30S. Tentu ini hanya asumsi saya semata serta tak perlu diyakini sebagai sebuah kebenaran sejarah.

Membaca secuil sejarah tentang G30S PKI, saya malah menjadi teringat dengan sebuah cerita dalam drama korea yang berjudul “City Hunter” (kalau tidak salah). Hehehe maklum di antara ke-selo-an saya, menonton film adalah hal yang menarik disambing mendengarkan musik atau sekedar ngeblog. Dalam drama korea tersebut bercerita tentang upaya balas dendam terhadap orang-orang yang terlibat dalam “operasi sapu bersih” dimana dalang dibalik operasi sapu bersih tersebut saat itu menjadi presiden, serta orang-orang yang terlibat menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan seperti menteri. Menjadi dramatis ketika orang yang melancarkan balas dendam adalah orang yang sebenarnya anak kandung dari presiden tersebut, embuhlah begitu kira-kira ceritanya, hehehehe silakan tonton sendiri filmnya.

Dan yang terakhir, dan ini adalah inti dari tulisan saya kali ini, tepat tanggal 30 September, ketika rakyat Indonesia mengibarkan bendera setengah tiang sebagai peringatan adanya peristiwa G 30S, meski hingga saat ini masih menjadi perdebatan mengenai kebenaran sejarah tersebut. Dan tepat pada tanggal yang sama pula, yaitu 30 September, tepatnya 25 tahun yang lalu, seorang Ibu dengan susah payah melahirkan seorang anak laki-laki, dengan penuh pengorbanan bahkan rela mempertaruhan nyawanya untuk melahirkan anaknya tersebut. Kini anak tersebut sudah mulai tumbuh menjadi anak yang dewasa, yang terus belajar untuk mandiri, serta mencoba untuk menemukan kebahagian dalam dirinya, sebelum mengajak orang lain untuk bahagia bersama. Dan laki-laki yang dilahirkan itu adalah saya


Selamat ulang tahun, saya!

sumber gambar : google
Read more ...