Kamis, 22 Oktober 2015

Menjadi Sheila

Ketika saya sedang menulis postingan ini. Sembari menulis, saya juga sedang mendengarkan lagu-lagu Sheila on 7. Dan saya baru seneng-senengnya mendengarkan lagu-lagu Sheila on 7 dari album ter-anyar-nya, yaitu “Musim yang baik”. Saya tidak memproklamirkan bahwa diri saya adalah seorang Sheila gank, sebutan bagi para pecinta atau fans Sheila on 7. Bukan! Saya hanya suka dengan lagu-lagu Sheila on 7. Udah titik, sampai di situ saja.

Dulu ketika lagu suka-sukanya nonton acara musik Mtv ampuh, yang kala itu tayang di ANTV, sebuah acara musik yang sedang digandrungi banyak orang, termasuk saya.  Saya sering menunggu siapa yang bakal jadi jawara atau chart nomor satu ampuh. Saya masih ingat betul ketika lagu Sheila on 7 yang berjudul “Sahabat Sejati” sempat beberapa pekan nangkring di posisi pertama. Kemudian sosok vokalisnya sempat menjadi trendseter oleh anak-anak ABG, terutama gaya rambut belah tengahnya. Saya mungkin orang yang terlalu memaksa, karena jenis rambut saya yang ikal dan cinderung kaku, jadi sudah paten pake gaya rambut belah sampingnya, ketika saya coba memaksakan pakai gaya rambut gaya belah tengah ala-ala Duta Sheila on 7 malah menjadi aneh, dan lebih mendekati kearah “culun” meski hingga saat ini saya masih menampilkan keculunan saya, hehehe

Seperti halnya dengan hubungan percintaan, bahwa yang namanya pasang surut itu pasti ada. Saya merasa bosan dan lebih suka mendengarkan lagu-lagu dari Peterpan (sekarang bernama Noah), lagu yang berjudul “Ada apa denganmu” sebegitu fenomenalnya hingga untuk kali pertama saya membeli kaset original yang waktu itu berharga Rp 20.000, kalau tidak salah. Entah setan apa yang merasuki diri saya hingga rela mengorbankan uang jajan dan main PS untuk membeli kaset original. Dan sejak itu saya tahu bedanya kaset original dan bajakan adalah, kalo kaset original di salamnya ada cover album yang sedikit tebal karena di situ juga terdapat lirik-lirik lagu dalam album tersebut, serta ucapan terima kasih. Sedangkan kaset bajakan, cuma cover aja, masalah kualitas, kayaknya sama saja, setau saya waktu itu kaset bajakan bisa membuat tape recorder saya cepat rusak, hehehehe J

Jika ketika masih SD, saya suka dengan lagu-lagu Sheila on 7, kemudian ketika SMP saya suka dengan lagu-lagu Peterpan (yang sekarang Noah), lain halnya ketika SMA. Ketika SMA, saya seperti ABG lainnya yang masih labil. Kelabilan saya juga berpengaruh terhadap selera musik saya. Ketika SMA saya suka dengan lagu-lagu dari ungu. Saya seakan menjadi seorang cliquers. Jika waktu SMP saya rela untuk membeli kaset originalnya, namun ketika SMA saya tidak membeli album ungu dari kaset atau CD maupun DVD-nya. Saya bahkan lebih hina lagi, saya tak lebih dari seorang pembajak, karena saya hanya meng-copy lagu-lagu dari ungu kemudian saya simpan di Mp3 handphone.

Seiring berjalannya waktu, ketika masuk masa-masa kuliah saya tidak mengkotak-kotakkan diri dalam hal selera musik. Mana yang enak didengar ya saya dengarkan. Biasanya lagu yang saya dengarkan adalah lagu yang sesuai dengan suasana hati saya. ketika saya sedang bahagia, lagu-lagu dengan bit atau irama yang cepet menjadi lagu yang sering saya dengarkan. Ketika lagi sedih atau galau, lagu-lagu yang melo yang sering saya dengarkan, seakan membuat saya seperti sedang merayakan kesedihan atau kegalauan saya sendiri.
***
Meski suka mendengarkan musik, hampir seumur hidup saya, saya tidak pernah melihat langsung sebuah konser musik, dengan sound kenceng yang membuat telinga penging, panggung yang besar, serta berjubel lautan manusia yang penuh sesak saling berdesakan. Hingga pada suatu ketika, di saat sahabat saya mengajak untuk melihat konser Sheila on 7, saya pun mengiyakan saja. Kala itu saya cuma ikut nimbrung dengan Sheila gank solo, atau lebih dikenal dengan Sheila Gank Pandawa Lima Solo atau SGPL, yang kebetulan sahabat saya juga aktif menjadi member SGPL. Saya cuma nimbrung saja. Ketika mereka beramai-ramai menuju depan panggung, saya ikut saja. Saya pun menikmati suasana konser. Penonton begitu riuh dan ramai-ramai seakan menjadi backing vocal ketika sang vokalis Duta mengarahan mic ke arah penonton.

Bukan hanya itu, bahkan setelah konser pun saya juga ikut nimbrung dengan mereka para fans militan, ketika para Sheila gank menuju ke sebuah hotel tempat di mana para personel Sheila on 7 menginap. Kami menunggu beberapa saat, hingga para personel pun keluar dari hotel dan menyapa kami. Dan itu lah pertama kali saya melihat seorang artis yang bisa disebut sebagai public figure yang diidolakan oleh fans begitu ramah menyambut para fans-nya. Tentu tidak akan lengkap jika tidak ada sesi foto. Dan saya pun juga ikut nimbrung biar bisa foto bareng dengan salah satu personel Sheila on 7.

Selain di ajak menonton konser, saya juga pernah di ajak sabahat saya yang seorang sehila gank  militan itu main ke jogja, tepatnya di basecamp Sheila on 7. Tapi sayangnya kami tidak bertemu dengan personelnya, hanya ada beberapa crew dari Sheila on 7 yang menemui kami. Tidak puas, saking militannya, kami menuju sebuah kedai pizza. Dan kedai itu milik sang vokalis Sheila on 7, yaitu Duta. Berharap sang pemilik kedai ada di situ, namun hanya kenyang yang kami dapatkan, hehehehe karena kami hanya makan dan sekedar nongkrong untuk beberapa saat, sebelum kami pulang ke solo. Kala itu kami juga terikat waktu, maklum paginya saya harus “tugas negara”, karena saya sudah di booking untuk membantu pelaksanaan psikotes.

Sejak pertemuan langsung dengan para pesonel Sheila on 7, hingga main ke basecamp Sheila on 7, mampir ke kedai pizza milik Duta Sheila on 7, meski belum ketemu dan hanya kenyang yang kami dapatkan. Hal itulah yang seakan membuat saya mulai mencoba lagi mengingat-ngingat waktu saya pertama kali mendengarkan lagu-lagu Sheila on 7. Ketika lagu “Sahabat Sejati” yang begitu saya nantikan karena beberapa pekan menjuarai di chart Mtv Ampuh. Ketika film “Tak Biasa” yang dibintangin oleh Duta Sheila on 7, yang merupakan vokalis Sheila on 7 hingga beberapa kali saya tonton tapi tak kunjung bosan. Saya mulai browsing serta melihat di youtube tentang perjalanan Sheila on 7 yang masih eksis ditengah fanatisme terhadap boyband dan girl band, bahkan vokal group seperti JKT 48.

Kemaren malam, sebuah konser yang bertajuk “Konser Spesial Sheila On 7 Trans Tv” berjalan dengan sukses. Konser yang menarik perhatian begitu banyak orang, bagaikan hujan di musim kemarau, yang kedatangannya begitu di nantikan. Linimasa begitu ramai membicarakan tentang Sheila on 7, konser yang mungkin telah dinanti-nantikan. Saya sendiri pun mencoba seperti fans-fans militan lainnya. Saya yang kebetulan masih bekerja, saya nekat untuk melihat secara streaming dengan komputer kantor lengkap beserta koneksi internet dengan kecepatan dewa-nya. Saya seakan tidak peduli jika suatu hari bakal dipermasalahan mengenai hal ini, mungkin dari pihak IT sudah mulai gerah dengan kelakuan saya. hehehe yang terpenting kerjaan sudah kelar kan. Hehehe J


Selamat buat buat Sheila on 7 atas kesuksesan konser kemaren malam, yang setidaknya mampu mengobati kerinduan para fans. Sekali lagi saya hanya suka mendengarkan lagu-lagu Sheila on 7, udah gitu aja J