Rabu, 14 Oktober 2015

Saya Lelaki Normal Kok, Serius!

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang nggleyeh di depan tv. Saya dikagetkan oleh berita running text, bahwa ada pernikahan sejenis yang dibalut dengan acara syukuran yang terjadi di Boyolali. Sontak saya sedikit tidak yakin. “Mosok iyo boyolali, enek homo cah” kemudian sehari kemudian saya berselancar di dunia maya, untuk lebih tabayun lagi mengenai kebenaran berita tersebut. Ternyata benar adanya. Saya iseng-iseng tanya dengan salah satu karyawan di tempat saya bekerja, yang kebetulan tetangga desanya.  Dan komen darinya adalah, “bener itu, pak.” “Jebul nek didandani yo ayu lho Pak”. Atau dalam bahasa Indonesia artinya, ternyata kalau di make up, cantik juga. Saya mencoba untuk berprasangka baik saja, meski dari lubuk hati paling dalam, sulit untuk memungkiri bahwa hal itu adalah semacam deklarasi akan adanya pasangan sejenis yang saling memadu kasih. Saya mencoba mempercayai klarifikasi yang dilakukan oleh pihak terkait bahwa acara tersebut adalah acara syukuran atas bisnis warung makan yang mereka rintis berdua beberapa tahun yang lalu. Dan sudah lah, siapa saya ini yang dengan semena-mena mau mengomentari hidup orang lain, hehehe J

Berita mengenai perkawinan sejenis, antara jeruk makan jeruk ini sempat heboh juga di media sosial, tidak sedikit media online yang memberitakan kasus tersebut. Mengenai hal ini, saya juga punya pengalaman yang sedikit mengarah pada eksistensi saya sebagai lelaki. Saya pernah ditanya oleh seseorang, yang tidak saya sebutkan namanya, karena saat ini masih berteman dengan beliau. Beliau adalah rekan kerja saya, namun beda departemen, meski berbeda departemen kami sering sharing untuk masalah-masalah karyawan yang sulit diatur dan sering menyalahi aturan, Beliau lebih tua dari saya, dan saya sangat yakin bahwa beliau adalah orang yang baik. Dan sempat juga ingin mengenalkan teman wanitanya kepada saya. Namun saya menolaknya dengan halus, karena saya tahu akan kemana arahnya setelah perkenalan itu. Bener, Perjodohan! Saya menolaknya bukan karena saya sudah pasangan, bukan! Saya masih jomblo, serius! Eh bukan jomblo ding, tapi single, hehehe J

Dan tiba lah pada suatu ketika dengan sedikit ragu ia memberanikan diri untuk bertanya kepada saya. Beliau bertanya kepada saya “Pak, maaf lho, sampeyan normal kan? Kok belum punya rencana mau nikah gitu? Setidaknya pacaran gitu, secara kan sudah bekerja juga” Mendengarkan pertanyaan tersebut saya tidak langsung marah. Saya mencoba tenang, karena saya yakin bahwa ia bertanya hal tersebut hanya ingin tahu kenapa saya menolak untuk dikenalkan dengan teman wanitanya. Sekali lagi, karena saya sangat yakin bahwa beliau adalah orang yang baik. Saya kemudian menjelaskan kepadanya, setidaknya dia akan puas dengan jawaban saya.

Saya menjawab mengenai sikap saya, yang untuk saat ini belum mau untuk berhubungan intens dengan lawan jenis, atau dengan kata lain pacaran. Tentu saya juga punya alasan mengenai hal ini. Ada beberapa alasan yang saya jelaskan kepada beliau. Saya harap kala itu beliau puas dengan jawaban saya. Saya menjawab dengan nada santai dan sedikit terbawa kecil “ Iya normal lah, saya juga doyan nonton bokep juga mangsane, hahahaha, enggak-enggak maksud saya, saya juga pernah pacaran, meski pada akhirnya hanya berujung penyesalan, hasisss. Hehehehe” Namun ada beberapa point yang saya coba jelaskan pada beliau.

Pertama, mengapa saya tidak pacaran? Satu, karena saya belum siap nikah, hehehehe terserah jika ada beberapa orang yang bilang saya penakut, karena emang begini adanya. Saya masih (merasa) muda, masih pengen seneng-seneng dengan apa yang saya punya. Karena target saya adalah selama kurang lebih dua tahun ini, saya akan menikmati hasil kerja saya terlebih dahulu. Kecuali Tuhan memberi hidayah serta jodoh kepada saya, hingga saya dapat menjalankan apa yang disunahkan Rosul, yaitu menikah.

Kedua, saya mencoba untuk tidak pacaran bukan berarti saya tidak suka perempuan. Karena sebagai manusia saya juga punya rasa tertarik dengan lawan jenis. Namun saya mencoba untuk mengendalikan diri saya, dan saya percaya akan ada saatnya saya akan mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada perempuan yang kepadanya saya merasakan yang namanya cinta untuk segera menemui kedua orangtuannya dan meminangnya. Bukankah dalam islam sudah memberikan solusi kepada mereka yang sudah balig dan secara ekonomi sudah siap menikah, namun secara mental belum siap dengan berpuasa? Ingat ya, dengan berpuasa, bukan dengan sabun.

Ketiga, saya masih punya tanggungan, yaitu kreditan motor yang belum lunas. Meski dari pihak leasing sudah memberi kebebasan kepada saya mengenai kelonggaran pembayaran tanpa tanggal jatuh tempo, dan dalam kondisi tertentu saya berhak untuk tidak membayar sesuai kesepakatan, bukan kesepakatan hitam diatas putih tapi atas dasar saling percaya, dengan alasan yang bisa dibenarkan. Ya iyalah leasing-nya orangtua sendiri, hahahahaha harus saya akui bahwa ketika saya mempunyai rencana mandiri untuk ambil kredit motor tanpa permisi saya menjual salah satu motor saya, kemudian mengajukan kredit. Namun apa daya, ketika orangtua malah langsung meng-take over sebelum pengajuan kredit di acc oleh pihak leasing dari adira. Iya orangtua saya malah membayarnya secara cash. Mungkin orangtua saya masih kasihan dan belum percaya bawah anak bungsunya sudah (hampir) dewasa. Dan sesuai komitmen bahwa setiap bulan saya tetap men-transfer sejumlah uang sebagai angsuran untuk motor yang malah di bayar cash tersebut. Sebagai laki-laki saya harus menjalankan komitmen saya tersebut. Yang namanya utang kepada siapa pun termasuk orangtua sendiri harus dibayar. Ohiya saya masih punya utang dengan teman saya waktu membeli domain lobimesen.com sorry ya bro, hehehe J

Keempat sampai detik ini, sepertinya orangtua saya masih belum percaya bahwa anaknya sudah beranjak dewasa. Baginya saya seperti anak yang masih kuliah, jadi tidak heran ketika saya libur dan pulang ke rumah, masih ditanya uang jajannya masih kan? Saya sudah kerja Buk, *sambil makan beling sepertinya orangtua saya belum percaya, atau belum mau anak kesayangannya di ambil wanita lain, meski itu adalah calon menantunya sendiri, jiahhh. Orangtua sendiri aja belum percaya apalagi calon mertua coba? hehehe

Kelima, dan ini sebagai yang terakhir. Sebenarnya dalam hati saya sudah mempuyai nama yang selalu kusebut dalam doaku, dan hingga saat ini saya masih membiarkan rasa ini terus bergejolak. Saya ragu meski juga terkesan malu. Namun ini adalah cara saya mencintai seseorang, ketika saya sudah merasa siap saya akan segera mendatangi orangtuanya saja, dalam penantian ini saya hanya bisa terus memperbaiki diri. Dan jika suatu hari saya tidak diketemukan dengan dia, atau dengan kata lain dia bukan jodoh saya, mungkin Tuhan punya rencana lain, saya nderek Gusti Allah saja.


Begitulah kira-kira point-point yang saya jelaskan kepada beliau, saya kira saat itu beliau puas dengan jawaban saya. Dan pertemuan saya kala itu saya tutup dengan, memohon doa agar saya tetap melakukan apa yang menurut saya baik, dan semoga juga bukan hanya baik bagi saya, tapi orang-orang disekitar saya. Dan inget ya, saya normal kok! hahahaha