Sabtu, 31 Oktober 2015

Sebuah Nasehat

Sesaat sepulang dari kantor, aku segera mengirim pesan singkat bahwa sore ini aku akan pulang terlambat. Ada sesuatu yang membuatku untuk tidak segera pulang. Tak seperti biasanya, kali ini aku enggan untuk segera pulang. Biasanya aku tak sabar untuk segera sampai rumah dan melepas segala lelah. 

Aku hanya ingin menyendiri sebentar, ada suatu hal yang membuat hati kecil merasa tak nyaman. Aku putuskan untuk mampir di sebuah masjid yang baru saja di resmikan. Masjid belum 100% jadi, karena masih ada beberapa bagain bangunan yang belum di rapikan. Langit-langit yang masih berwarna semen, dinding-dinding yang masih di cat dengan warna dasar. Namun masjid sudah sering digunakan untuk kegiatan pengajian rutin setiap malam jumat, serta minggu pagi.

Aku masuk ke dalam masjid. Kondisi masjid masih sepi, padahal sangat dekat dengan jalan raya, dan ketika waktu sholat ashar hanya di isi oleh beberapa orang saja.

Setelah selesai sholat, aku tak segera bergegas untuk pulang. Hinggga satu persatu dari mereka mulai meninggalkan masjid, aku tetap di dalam masjid. Sembari membuka laptop dan mencoba menuliskan apa yang aku rasakan sebagai media untuk menyalurkan segala emosi. Aku tak terbiasa meluapkan emosi dalam diri. Aku lebih suka memendamnya dan menyalurkan melalui berbagai media lainnya. Hal ini semacam katarsis, terkadang aku suka menulis, suka melakukan kegiatan-kegiatan seperti olahraga untuk melepaskan emosi-emosi dalam diri.

Aku masih terduduk di teras masjid, dan masih (sok) sibuk dengan laptopku. Tiba-tiba terdengar ada suara ringtone sms dari handphoneku. “Kamu sekarang dimana?” bunyi pesan singkat yang segera aku balas tentang dimana posisiku sekarang, aku tak mau ada yang khawatir dengan kondisiku, setidaknya aku masih dalam kondisi waras.
***
Tiba-tiba ada seseorang lelaki paruh baya yang sedang memarkirkan motornya di dekat teras masjid. Lelaki itu berjalan mendekatiku dan mengucap salam kepadaku. Aku kemudian menyalaminya, dan ia pun membalasnya.

“Sedang apa amu disini le? Kenapa kamu tidak segera pulang?”

“aku masih pengen di sini dulu” jawabku dengan nada lirih

“Beginilah kehidupan berumah tangga le, suatu saat kamu juga akan mengalami hal ini, tak usah kau pikirkan”

Aku hanya menunduk tanpa berani untuk menyela sedikit pun pembicaraannya

“Dan ya beginilah kehidupan le, kamu harus banyak belajar tentang hidup ini, karena kehidupan tidak menawarakan kemudahan-kemudhan, termasuk dalam kehidupan berumah tangga. Akan ada saatnya kamu akan mengalami hal seperti ini. Kehidupan berumah tangga itu unik, karena wanita sendiri itu juga unik, wanita meski salah, mereka memiliki gengsi yang tinggi, terkadang ia sadar bahwa ia bersalah namun ia seakan enggan untuk mengakuinya. Memperdebatkan siapa yang bersalah adalah hal yang membuang-buang waktu tanpa ada solusi”

Aku masih terdiam dan hanya menjadi pendengar setia, sesekali aku mengangguk pertanda bahwa apa yang ia ucapkan adalah benar adanya.

Dalam kehidupan berumah tangga pun jangan pernah berpikir bahwa kehidupan akan berjalan mulus-mulus saja, kamu akan menjumpai badai yang luar biasa besarnya, di lima hingga sepuluh tahun usia pernikahan. Cobaan itu bisa berasal dari kondisi ekonomi, dari orang luar maupun dari faktor-faktor lainnya”

“Kamu adalah lelaki, kamu harus selalu kuat, atau setidakya kamu harus terlihat kuat, meski hatimu sebenarnya teronta-ronta, karena kamu adalah calon pemimpin rumah tangga. Dan kamu harus siap dengan semua yang akan kamu hadapi”

“Dan yang perlu kamu ketahui le, cobaan bukan hanya berasal dari kondisi ekonomi keluarga, godaan dari orang ketiga, karena bisa juga bahwa ujian itu malah datang dari Istrimu, atau anak-anakmu. Dan di saat seperti itulah kamu harus tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu bukan hanya harus bersabar, tapi kamu juga harus bisa membimbing anak istrimu. Jadi terus lah perbaiki dirimu dari sekarang, karena suatu saat kamu berkewajiban untuk membimbing istri dan ana-anakmu”

“Rapikan semuanya, dan segeralah pulang, kasian orang-orang yang di rumah jika mengkhawatirkan mu”

Aku pun segera mematikan laptopku dan merapikannya ke dalam tas. Aku tidak segera pulang kala itu.


Aku cari angin dulu” jawabku sebelum ia benar-benar meninggalkanku.