Sabtu, 14 November 2015

WORKAHOLIC

WORKAHOLIC. Adalah mereka yang hobi bekerja, atau lebih ekstrim lagi adalah mereka yang “gila” kerja. Adalah mereka yang hampir sebagian waktunya habis untuk bekerja. Dan orang yang selalu total menyelesaikan tanggung jawab yang ia terima.

Saya punya pengalaman tersendiri dengan orang-orang yang bisa dikatakan sebagai workaholic. Seseorang yang usianya tidak lagi muda, dengan rambutnya yang sudah mulai memutih. 

Awalnya, yang saya tahu beliau adalah seorang pekerja di belakang meja. Beliau lebih sering saya lihat di ruangannya dan nampak sibuk di depan layar laptopnya.

Namun, setelah beliau dipercaya untuk memegang posisi yang sentral di perusahaan. Ia mulai terlihat sebagai orang berdedikasi penuh terhadap tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Sejak memegang posisi sentral dalam sebuah perusahaan tersebut, nampaknya beliau sudah tahu apa yang ia harus lakukan. Beliau langsung terjun ke lapangan untuk menganalisa serta memberikan solusi atas segala permasalahan perusahaan.

Harus saya akui, beliau adalah orang yang cerdas. Beliau yang sebelumnya lebih suka di belakang meja itu, seperti sudah tahu permasalahan apa yang sedang dihadapi perusahaan. Jadi selama kurang lebih satu bulan, beliau sangat total untuk menyelesaikan segala permasalahan. Saya melihat sendiri, ketika saya baru datang, sekitar pukul 05.30 pagi, saya lihat, mobil beliau sudah terparkir rapi di tempat parkir. Tidak hanya itu, ketika saya masuk shift dua (siang), saya melihat bahwa ketika semua karyawan sudah mulai sepi, beliau masih memimpin meeting untuk memonitoring kinerja anak buahnya, serta memastikan bahwa segala permalasahan sudah terselesaikan.

Bisa dilihat, beliau bekerja dari mulai jam 05.30 sampai 23.00. Jadi berapa jam beliau bekerja? Lebih dari 17 jam. Itu artinya hampir 2/3 waktunya ia habiskan dengan bekerja. Meski bekerja dengan jam kerja ekstrem seperti itu, namun beliau seperti tidak menunjukan raut wajah kelelahan, atau capek karena kurang tidur. Beliau seakan menikmati pekerjaannya.  Beliau meng-cover dua shift, karena perusahaan kami terdiri dari dua shift. Beliau bisa dikatakan bekerja dari mulai gerbang dibuka, hingga gerbang ditutup kembali. Hanya untuk memastikan bahwa segala perencanaannya dapat terlaksana sebagaimana mestinya.

Semangat kerja beliau, sepertinya membawa aura positif dalam perusahaan. Semua orang pun respect terhadap kinerjanya. Beliau adalah orang yang tahu segala permasalahan anak buahnya, serta memberi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh anak buahnya. Bukan seperti orang-orang dengan model kepemimpinan macam kompeni, yang tahunya hanya marah-marah dan menekan anak buahnya tanpa memberikan solusi.

Kini kerja keras beliau selama sebulan mampu menunjukkan hasil positif. Naiknya efisiensi, dibarengi dengan turunnya budget produksi adalah bukti dari kerja keras beliau.

Beliau yang bisa dibilang penggede perusahaan itu, adalah orang yang low profile, orang yang tetap sederhana, serta orang yang suka memberi contoh dengan tindakan, bukan hanya omongan, memberikan solusi bukan hanya bisa emosi.


Selamat berakhir pekan, 
Read more ...

Kamis, 12 November 2015

Happy Anniversary My Factory



“Karena kami semua tahu mempersiapkan semua ini bukanlah hal yang mudah, disamping tuntutan pekerjaan, panitia juga dituntut untuk membuat event ini, saya sangat menghargai kerja keras panitia dengan total berpakaian sesuai tema hari ini, cowboy dan cowgirl party”

Beberapa hari yang lalu, dengan persiapan yang sangat minim, bisa dibilang hanya kurang lebih dua minggu kami dikasih waktu untuk menyusun serangkaian acara dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke 3, bergabungnya perusahaan tempat saya bekerja dengan perusahaan asing yang berpusat di Hongkong. Sebenarnya acara ini sudah lama menjadi wacana, namun menunggu kepastian  approval dari penggede manajemen, seperti halnya menunggu hujan di musim kemarau. Keliatannya mendung, namun belum berarti hujan akan turun.

Setelah mendapat kabar bahwa proposal perayaan ulang tahun yang ke 3 sudah di approve oleh penggede manajemen. Segeralah dibuat panitia kecil terlebih dahulu untuk menentukan kapan mulai rapat perdana. Dan dalam waktu dua minggu kami harus mempersiapkan segalanya.

Awalnya saya sengaja tidak ikut dalam rapat perdana, karena saya sebenarnya tidak ingin kecipratan side jobs untuk mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk memperlancar acara tersebut. Dari mulai pembentukan panitia, penentuan konsep atau tema acara, serta tempat yang akan digunakan.

Tempat pun sudah ditentukan, yaitu menyewa gedung yang letaknya tidak jauh dengan lokasi factory. Meski sempat dipertanyakan mengapa harus menyewa gedung dan tidak memanfaatkan area di sekitar factory saja. Tentu dari pihak panitia sudah memperhitungkan hal itu, mengingat saat ini factory sedang melakukan pembangunan gedung baru, sehingga ruang yang ada tidak memadai untuk digunakan event ulang tahun.

Tema pun dipilih, setelah beberapa kali rapat. Tema yang dipilih adalah western, cowboy and cowgirl party, jadi peserta disuruh untuk berpakaian ala-ala cowboy dan cowgirl. Saya pun sempet mbatin dalam hati, paling karyawan cuek sama tema, dan berpakaian seadanya. Kemudian untuk bintang tamu utamanya adalah parodi musik dari solo, Pecah Ndahe, kemudian ditambah dengan OM dangdut, untuk menuruti “nafsu” berjoget para karyawan. Dari karyawan pun juga dipersilahkan jika ada yang mau tampil, ada yang menampilkan dance, dan ada juga yang menyanyi.

Saya masuk dalam tim acara. Sebelumnya ada 3 orang, kemudian yang dua orang dipromosikan sebagai MC, tinggal lah saya sendiri yang meng-handle acara pas hari H. Semua tim bekerja dengan keras untuk memastikan bahwa acara bakal sukses nantinya.

Sebagai tim acara, saya bertanggung jawab terhadap jalannya acara seperti apa. Sebenarya kami dari tim acara sudah menyusun rundown-nya, namun masih ada beberapa yang belum fix, seperti perform dari all manager, karena belum sempat saya konfirmasi.

Sebelum mendekati hari H, kami semua mengadakan Tehnical Meeting atau TM. Tujuan dari TM tentu untuk memastikan semua sudah fix, mulai dari konsumsi, doorprize, souvenir, dan hal-hal kecil lainnya semua harus fix. Permasalahan pun timbul ketika dari pihak sound system mengkonfirmasi baru akan datang sabtu paginya. Inilah awal dari segala keruwetan itu, dari pihak sound system ngotot mau datang sabtu pagi pas hari H, karena kami hanya sewa satu hari. Kami dari pihak panitia pun geram, soalnya jumat malam dari pihak Pecah Ndahe juga akan melakukan cek sound, gimana mau cek sound kalau sound system-nya aja belum ada? Menurut saya dari pihak sound system terlalu amatir untuk dipercaya dalam men-support acara kami. Dan untuk mengganti sound system yang lebih professional pun waktunya sudah terlalu mepet. Namun demikian, setelah dari pihak purchasing selaku yang menangani kontrak dengan pihak sound system, bernegosiasi. Akhirnya pihak sound system mau memasang sound hari jumat malamnya. Akhirnya masalah pun sudah selesai.

Dari jumat sore saya sudah di gedung yang akan digunakan. Memastikan jumlah kursi sudah mencukupi atau belum, lay out panggung, serta dekorasi panggung. Sampai malam saya masih di gedung yang kami gunakan. Saya menunggu dari Pecah Ndahe yang akan melakukan cek sound. Dan ketika cek sound, masalah pun muncul lagi, dari pihak Pecah Ndahe seakan tidak begitu puas dengan sound system-nya. Namun pecah Ndahe masih berusaha untuk menentukan setelan sound yang terbaik. Mungkin karena dari pihak Pecah Ndahe sering komplain dengan suara sound, dan pihak sound seakan tidak bisa sabar meladeni kemauan Pecah Ndahe. Pihak sound system pun seperti nyolot dengan suara yang tidak mengenakan. Sontak saya langsung berdiri dan memastikan tidak ada perselisihan, karena salah satu personel Pecah Ndahe sudah menunjukan sikap yang seperti tidak terima.

Meski sedikit ada perselisihan antara salah satu personel pecah ndahe yang sedikit tersulut emosi karena tindakan dari pihak sound system yang sedikit tidak mengenakan, cek sound pun bisa berjalan dengan baik. Ketika sudah selesai cek sound, saya dan rekan kerja saya pun berusaha untuk mengajak semua personel Pecah Ndahe untuk mengobrol agar bisa meredakan suasana, serta minta agar bisa perform maksimal untuk menghibur semua karyawan dan tamu undangan.
***
Pagi-pagi benar saya sudah sampai di lokasi. Suasana gedung masih sepi, hanya ketua panitia yang sudah berada di sana. Saya pun sedikit menjelaskan tentang sekilas gambaran acaranya kepada ketua panitia. Jam 07.30 saya berencana memainkan musik-musik country cowboy agar sesuai dengan tema. Kemudian mengarahkan karyawan untuk duduk ditempat yang telah disediakan, kemudian memulai acara demi acara sesuai dengan rundown yang telah kami buat.

Namun kenyataannya, acara molor hampir setengah jam, ditambah lagi pemain yang mengisi dangdut baru datang paginya, jadi ketika beberapa karyawan sudah duduk, pemain musik dangdut masih sibuk cek sound, saya hanya geleng-geleng, dalam hati saya nggrundel “ini acara udah kaya acara nikahan aja, padahal kan temanya western, cowboy and cowgirl party

Hampir jam 08.00 tapi karyawan masih sibuk berfoto-foto, saya pun melihat antusiasme karyawan. Saya yang awalnya sangat sanksi apakah mereka yang datang akan berpakaian ala-ala cowboy dan cowgirl. Pikir saya mereka akan tidak peduli dengan tema, dan berpakaian semaunya. Namun ketika satu persatu karyawan masuk ke dalam gedung, saya sedikit terkejut dengan antusiasme karyawan dengan party yang kami buat. Ada yang rela mengorbankan sedikit gajinya untuk membeli kostum kemeja kotak-kotak dan topi ala cowboy dan cowgirl. Ada yang menyewa kostum bahkan hingga ke jogja. Saya sedikit malu dengan mereka. Karena awalnya saya hanya menganggap mereka hanya orang kampung yang biasanya cuek dengan penampilan, namun ternyata malah sangat antusias melebihi antusias para panitia. Ketika ditanya, mengapa mereka sangat antusias, jawab mereka simpel, “Karena kami semua tahu mempersiapkan semua ini bukanlah hal yang mudah, disamping tuntutan pekerjaan panitia juga dituntut untuk membuat event ini, saya sangat menghargai kerja keras panitia dengan total berpakaian sesuai tema hari ini, cowboy dan cowgirl party”

Baru setelah beberapa saat acara dibuka oleh MC, terdengar suara gemuruh di pojok kanan kursi undangan, salah melihat ternyata ada beberapa panggung yang tidak kuat dan ambrol, panitia pun segera memastikan semua dalam keadaan baik-baik saja. Dan mengarahkan karyawan untuk duduk di tempat duduk yang masih selo.

Meski acara sempat molor sampai setengah jam, namun saya sebagai penanggung jawab jalannya acara, selalu berkomunikasi dengan MC agar acara bisa berjalan dengan lancar. Saya sedikit sibuk, ketika yang lain sibuk berfoto, saya sibuk mengkonfirmasi talent dari karyawan yang akan tampil, saya harus mencari all manager untuk tampil, ternyata beliau-beliau sedang sibuk latihan di salah satu ruangan. Saya harus sedikit menahan nafas karena beberapa kali mengkonfirmasi dengan biduan-biduan yang mau tampil, rontok imanku, karena mereka semua berpakaian sexy bro, hehehehe

Hingga pada acara inti yaitu perform dari Pecah Ndahe, acara begitu ramai dan benar-benar pecah, karena bisa menghibur semua kalangan baik karyawan level pelaksana maupun manager sekalipun, sampai saya hanya merasa kasihan dengan salah satu ekspatriat yang tidak bisa berbahasa Indonesia, yang nampak bingung ketika semua orang pada tertawa melihat kocaknya pecah ndahe, tapi dia malah keliatan bingung.

Setelah Pecah Ndahe, makan siang sambil menikmati lantunan lagu dari salah satu karyawan, kemudian dilanjutkan pembagian doorprize. Setelah doorprize utama dibagikan kami dari pihak panitia memberikan kesempatan untuk OM dangdut memberikan hiburan lagu-lagu dangdut koplo khas dangdut Pantura. Karyawan pun tidak sungkan untuk bergoyang bahkan karyawan wanita pun juga tak sungkan untuk bergoyang.

Pengalaman bagi saya, dulu ketika masih menjadi mahasiswa dalam setiap event saya sering kebagian menjadi sie perkap, namun kepada kesempatan kali ini saya mendapat pengalaman baru sebagai sie acara. Tentu ini adalah pelajaran baru, bahwa apa yang kita rencanakan ternyata bisa saja berubah sewaktu-waktu, dan kita harus pintar menyiasatinya agar semua bisa berjalan dengan lancar.

Happy anniversary my factory, terima kasih telah memberi kesempatan kepada saya untuk terus belajar. salam
  

Boyolali, 11 November 2015
Read more ...

Rabu, 04 November 2015

Suatu Malam di Angkringan

Saya sangat tahu betul suara adzan yang dilatunkan oleh oleh seorang Bapak-bapak yang usianya sudah tidak lagi muda, namun juga belum terlalu tua. Saya lupa namanya, tapi sebut saja namanya Pak udin, tentu bukan nama sebenarnya. Saya sering melihatnya ketika sholat berjamaah di masjid  dekat tempat singgah saya saat ini. Beliau bukanlah seorang yang bersuara merdu, suara adzan yang terkadang terdengar (maaf) kuang jelas, namun warga sekitar tidak pernah menyoalkan karena justru Pak udin lah yang sering adzan.

Orangnya tinggi dengan kulit berwarna hitam, nampak Pak udin adalah seorang lelaki pekerja keras. Saya ingat ketika pertama kali ikut sholat berjamaah, beliau langsung menyalami dengan mengajak berjabat tangan. Kala itu memang agak aneh dengan kondisi tangan kanannya. Ketika saya berjabat tangan dengannya, tangannya begitu kaku, dan seperti tidak bisa saling berjabat tangan erat dengan saya. Saya pun hanya menganggap hal itu adalah hal yang biasa saja. Mungkin tangannya memang seperi itu. Pikirku kala itu.

Hingga sutau hari ketika saya sedang nongkrong di  angkringan, kebetulan beliau juga sedang di angkringan juga. Saya pun sedikit mencari tahu tentang dirinya. Ternyata beliau dulu pernah bekerja sebagai kenek Bus, dan sekarang ia bekerja sebagai orang yang disuruh-suruh oleh warga untuk bersih-bersih, dan oleh warga ditunjuk untuk menjaga kebersihan masjid. Jadi mungkin karena itu juga saya sering melihat sholat berjamaah.

Suatu hari saya nongkrong di angkringan, dan kebetulan beliau ada disitu juga. Beliau memesan mie goreng. Saya pun hanya sekedar wedangan dan mengobrol santai dengan mereka. Dan ketika beliau sedang makan, saya melihat bahwa beliau makan dengan menggunakan tangan kiri. Kemudian datanglah seorang Ustad muda, yang nampaknya ia baru saja pulang dari masjid. Sang ustad muda, menegurnya “lho kok makan pake tangan kiri to Pak dhe? Mbok usaha pake tangan kanan. Kan hadisnya sudah jelas. Bahwa Nabi saw menyuruh kita untuk makan dengan tangan kanan” Si Ustad muda nampakya sedang bersemangat dalam berdakwah, saya pun hanya menyimak saja.

Situasi kala itu sedikit berbeda, sebelum si Ustad muda menjelaskan panjang lebar hadis-hadisnya, nampak si penjual angkringan berusaha menetralkan suasana. Saya tahu betul apa yang dilakukan oleh penjual angkringan, tentu agar Pak Udin tidak tersinggung dengan tegurannya, karena ini sudah kedua kalinya si Ustad muda tersebut menegur Pak Udin. Dan Pak Udin sepertinya sudah mulai risih dengan teguran tersebut. Saya kala itu hanya diam saja, maklum lah saya belum begitu kenal dengan orang-orang yang di sana.

Dan ketika Pak udin sudah selesai makan dan berpamitan. Si penjual angkringan, mencoba menasehati kepada Ustad Muda tersebut “Mas, aku ngerti maksud sampeyan. Dan aku yo ngerti sik mbok karepke kie bener. Tapi koe ngerti ora, nek Pak Udin kui wes usaha ngasi puluhan tahun?” Ustad muda itu hanya menjawab “Sak jane aku meh jelaske panjang lebar, tapi kok malah ngunu”

Penjual angkringan itu kemudian meneruskan penjelasannya “Pak Udin kui lho Mas, pas jamane iseh dadi kenek bus, dadi kenek kambi lungguh mergo tangane wes nggak iso di nggo gujengan, dan aku pernah iroh dewe pas meh mangan nek kene, ngasi tangane dewe di keplek-ke neng gerobakku, mergo jengkel mbi tangane dewe, arep nyekel sendok wae kangelan mergo jiglok wae”  Saya hanya menyimak dengan seksama, ketika penjual angkringan menjelaskan kepada Ustad muda itu. “Nek usaha kie wes dilakoni, lha nek ora iso-iso tenan?” “Kowe kie jane bener, aku paham, tapi mung kurang pas wae mbi kondisine Pak Udin” lanjut si penjual angkringan yang merasa kasihan dengan kepada Udin.

Setelah si Ustad pergi, si penjual angkringan pun sedikit menjelaskan kepada saya mengenai si Udin. Udin yang bisa dikatakan aktif sholat berjamaah di masjid. Namun ia mendapatkan cobaan, tangan kanannya sudah lama mati rasa, kemudian anaknya menikah dengan orang nonmuslim dan mengorbankan imannya. Semoga nikmat iman selalu menyertai Pak Udin. Amin

Harus saya akui bahwa saya adalah orang yang bodoh dalam hal agama. Tentang ilmu agama, tentu Ustad muda tersebut jauh lebih pandai daripada saya yang masih terbata-bata dalam membaca Al quran. Namun apakah yang dilakukan oleh Ustad Muda itu benar? Iya memang benar si Ustad muda itu menyampaikan kebenaran, karena yang ia coba sampaikan adalah hadis shahih. Namun dalam konteks ini, saya sangat menyayangkan hal tersebut. Mungkin dia lupa, bahwa Nabi saw menyampaikan kebenaran dengan kasih sayang serta tidak pernah menyakiti hati orang lain, termasuk orang kafir sekalipun.


Read more ...