Rabu, 04 November 2015

Suatu Malam di Angkringan

Saya sangat tahu betul suara adzan yang dilatunkan oleh oleh seorang Bapak-bapak yang usianya sudah tidak lagi muda, namun juga belum terlalu tua. Saya lupa namanya, tapi sebut saja namanya Pak udin, tentu bukan nama sebenarnya. Saya sering melihatnya ketika sholat berjamaah di masjid  dekat tempat singgah saya saat ini. Beliau bukanlah seorang yang bersuara merdu, suara adzan yang terkadang terdengar (maaf) kuang jelas, namun warga sekitar tidak pernah menyoalkan karena justru Pak udin lah yang sering adzan.

Orangnya tinggi dengan kulit berwarna hitam, nampak Pak udin adalah seorang lelaki pekerja keras. Saya ingat ketika pertama kali ikut sholat berjamaah, beliau langsung menyalami dengan mengajak berjabat tangan. Kala itu memang agak aneh dengan kondisi tangan kanannya. Ketika saya berjabat tangan dengannya, tangannya begitu kaku, dan seperti tidak bisa saling berjabat tangan erat dengan saya. Saya pun hanya menganggap hal itu adalah hal yang biasa saja. Mungkin tangannya memang seperi itu. Pikirku kala itu.

Hingga sutau hari ketika saya sedang nongkrong di  angkringan, kebetulan beliau juga sedang di angkringan juga. Saya pun sedikit mencari tahu tentang dirinya. Ternyata beliau dulu pernah bekerja sebagai kenek Bus, dan sekarang ia bekerja sebagai orang yang disuruh-suruh oleh warga untuk bersih-bersih, dan oleh warga ditunjuk untuk menjaga kebersihan masjid. Jadi mungkin karena itu juga saya sering melihat sholat berjamaah.

Suatu hari saya nongkrong di angkringan, dan kebetulan beliau ada disitu juga. Beliau memesan mie goreng. Saya pun hanya sekedar wedangan dan mengobrol santai dengan mereka. Dan ketika beliau sedang makan, saya melihat bahwa beliau makan dengan menggunakan tangan kiri. Kemudian datanglah seorang Ustad muda, yang nampaknya ia baru saja pulang dari masjid. Sang ustad muda, menegurnya “lho kok makan pake tangan kiri to Pak dhe? Mbok usaha pake tangan kanan. Kan hadisnya sudah jelas. Bahwa Nabi saw menyuruh kita untuk makan dengan tangan kanan” Si Ustad muda nampakya sedang bersemangat dalam berdakwah, saya pun hanya menyimak saja.

Situasi kala itu sedikit berbeda, sebelum si Ustad muda menjelaskan panjang lebar hadis-hadisnya, nampak si penjual angkringan berusaha menetralkan suasana. Saya tahu betul apa yang dilakukan oleh penjual angkringan, tentu agar Pak Udin tidak tersinggung dengan tegurannya, karena ini sudah kedua kalinya si Ustad muda tersebut menegur Pak Udin. Dan Pak Udin sepertinya sudah mulai risih dengan teguran tersebut. Saya kala itu hanya diam saja, maklum lah saya belum begitu kenal dengan orang-orang yang di sana.

Dan ketika Pak udin sudah selesai makan dan berpamitan. Si penjual angkringan, mencoba menasehati kepada Ustad Muda tersebut “Mas, aku ngerti maksud sampeyan. Dan aku yo ngerti sik mbok karepke kie bener. Tapi koe ngerti ora, nek Pak Udin kui wes usaha ngasi puluhan tahun?” Ustad muda itu hanya menjawab “Sak jane aku meh jelaske panjang lebar, tapi kok malah ngunu”

Penjual angkringan itu kemudian meneruskan penjelasannya “Pak Udin kui lho Mas, pas jamane iseh dadi kenek bus, dadi kenek kambi lungguh mergo tangane wes nggak iso di nggo gujengan, dan aku pernah iroh dewe pas meh mangan nek kene, ngasi tangane dewe di keplek-ke neng gerobakku, mergo jengkel mbi tangane dewe, arep nyekel sendok wae kangelan mergo jiglok wae”  Saya hanya menyimak dengan seksama, ketika penjual angkringan menjelaskan kepada Ustad muda itu. “Nek usaha kie wes dilakoni, lha nek ora iso-iso tenan?” “Kowe kie jane bener, aku paham, tapi mung kurang pas wae mbi kondisine Pak Udin” lanjut si penjual angkringan yang merasa kasihan dengan kepada Udin.

Setelah si Ustad pergi, si penjual angkringan pun sedikit menjelaskan kepada saya mengenai si Udin. Udin yang bisa dikatakan aktif sholat berjamaah di masjid. Namun ia mendapatkan cobaan, tangan kanannya sudah lama mati rasa, kemudian anaknya menikah dengan orang nonmuslim dan mengorbankan imannya. Semoga nikmat iman selalu menyertai Pak Udin. Amin

Harus saya akui bahwa saya adalah orang yang bodoh dalam hal agama. Tentang ilmu agama, tentu Ustad muda tersebut jauh lebih pandai daripada saya yang masih terbata-bata dalam membaca Al quran. Namun apakah yang dilakukan oleh Ustad Muda itu benar? Iya memang benar si Ustad muda itu menyampaikan kebenaran, karena yang ia coba sampaikan adalah hadis shahih. Namun dalam konteks ini, saya sangat menyayangkan hal tersebut. Mungkin dia lupa, bahwa Nabi saw menyampaikan kebenaran dengan kasih sayang serta tidak pernah menyakiti hati orang lain, termasuk orang kafir sekalipun.