Rabu, 30 Desember 2015

CINTA TAK PERNAH TEPAT WAKTU

CINTA TAK PERNAH TEPAT WAKTU. Aku jadi teringat ketika akan membeli buku itu, karena ketika sedang mencari buku tersebut di togamas Solo, buku tersebut hanya tinggal satu, dan sempat mutung ketika aku cari namun tidak ketemu. Dan atas bantuan salah satu pegawai di sana, akhirnya buku yang tinggal satu itu ketemu juga, dan saya pun langsung membelinya.

Awalnya aku mengira novel itu adalah novel debutan dari sang penulis, yaitu Puthut EA. Namun ternyata novel ini semacam lanjutan dari novel terdahulu, yang berjudul “Berani Beli Cinta dalam Karung?” dan di akhir novel yang baru saja aku baca (Cinta tak pernah tepat waktu) juga diceritakan bagaimana novel “Berani Beli Cinta dalam Karung?” tesebut dapat di selesaikan hanya dalam waktu 3 minggu saja oleh sang penulis, siapa lagi kalau bukan Puthut EA.

Cinta tak pernah tepat waktu, tentu novel ini berkisah tentang si “aku” yang dalam perjalanan cintanya belum bisa move on dari mantan pacarnya yang sudah menikah. Dan karena belum move on itu pula ia tidak berani berhubungan dengan wanita lain. Dalam novel tersebut juga diceritakan, bagaimana si Aku dalam novel tersebut bisa menjalin hubungan, sedang ia belum sembuh dari lukanya karena di tinggalkan. Ibarat pemain sepak bola, sembuhkan dulu cideranya, baru bermain lagi, karena memaksakan untuk tetap bermain dalam keadaan cidera hanya akan menambah semakin parah cidera tersebut.

Cerita menjadi menarik, karena dibumbui cerita tentang kehidupan aktifis, serta beberapa kisah tentang aktifis-aktifis lainnya. Dan hal ini justru menurut saya menjadi semakin menarik, karena mencoba untuk melihat kehidupan lain, di luar kisah cinta itu sendiri.

Ditambah lagi, dalam cerita tersebut juga menceritakan kehidupan seorang penulis. Ada istilah-istilah yang baru aku ketahui dalam kehidupan penulis, ada istilah detectif partikelir, pembunuh bayaran, dewa laut, dan lain-lain. Juga menceritakan tentang bagaimana seorang penulis bekerja dengan satu satu misalnya, artinya satu bulan bekerja, satu bulan libur, dan ada pantangan yang harus dihindari, yaitu seperti bekerja ngedur tanpa jeda, karena hal ini akan membuat seseorang menjadi serakah.


Dan novel ini di akhiri dengan cerita yang sedikit dramatis, ketika lukanya sudah sembuh dan siap untuk menjalin hubungan dengan wanita, ia jatuh cinta kepada seorang pemilik kedai kopi, dan ketika ia akan menyatakan cintanya namun ia urungkan niat tersebut, karena atas informasi temannya yang telah melakukan penyelidikan wanita tersebut sudah mempunya suami dan anak. Dan lebih dramatis lagi ketika ia bertemu dalam sebuah kereta, dalam hening mereka yang awalnya enggan untuk bertegur sapa kemudian saling mengobrol dan yang membuat mak deg adalah ketika ia tahu bahwa dulu ia pernah berbohong bahwa ia sudah punya suami dan anak, karena wanita tersebut sering merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dirinya. Dan dicobalah menanyakan dengan kata “seandainya”. “Seandainya dulu aku langsung mengutarakan cinta kepadamu, apakah kamu mau menerimaku?” Dan semakin mak jleb ketika wanita itu menjawab “iya”. Namun si wanita ternyata baru saja menikah. Dan sepertinya memang begitu, cinta tak pernah tepat waktu.