Senin, 14 Desember 2015

Hidup Dalam Rutinitas

Tidak terasa sudah satu tahun aku hidup dalam rutinitas. Dan tidak sadar pula kalau cuti tahunanku sudah lahir, serta sudah dipotong dengan cuti lebaran kemaren.  Beruntung aku bisa sedikit keluar dari rutinitas, karena aku bekerja dengan sistem shift. Awalnya terdengar wagu, seorang staff HRD namun bekerja secara shift. Mungkin hal ini hanya terjadi di tempatku bekerja. Dua minggu aku masuk pagi dan dua minggu aku masuk siang, agar aku dan partner kerja, sekaligus supervisorku bisa bertemu dengan dua shift, baik shift A maupun shift B. Karena di tempatku bekerja, hanya ada dua shift.

Aku hidup dalam rutinitasku, ketika aku masuk shift pagi. Habis subuh, kira-kira sekitar pukul 04.30 pagi aku harus menyalakan air dan segera mandi, pukul 05.00 aku harus segera berangkat ke kantor. Target sampai kantor maksimal pukul 05.30, namun biasanya sebelum itu, aku sudah sampai di kantor, meski bisa dibilang aku berkendara dengan lumayan santai, yaitu dengan kecepatan rata-rata 50km/jam.

Sampai di kantor, dengan memasang muka kecut tanpa senyum berdiri di depan gerbang untuk memastikan karyawan segera masuk dan mulai bekerja. Sampai sekitar pukul 05.45, aku menunggu beberapa menit, hanya untuk memastikan tidak ada yang terlambat. Jika ada yang terlambat segera aku beri sedikit sarapan pagi untuk mereka, tentu dengan nada santai untuk menyinggung keterlambatan mereka sambil membubuhkan tanda tangan pada surat terlambat.

Habis itu pergi ke office, menyalakan komputer, sambil menunggu, aku membuat secangkir kopi. Aku terbiasa ngopi meski perutku masih dalam keadaan kosong belum kemasukan nasi sama sekali. Pagi dan sore hari adalah waktu kesukaanku untuk menyruput minuman hitam pekat itu. Sambil menunggu kopi menghangat, aku membaca berita-berita di media online, seperti kompas.com, cnn Indonesia, membaca artikel di mojok.co atau di minumkopi.com. Ohiya, karena berangkat terlalu pagi, biasanya ritual buang hajat, baru aku tunaikan ketika sudah di kantor, dan itu menjadi bagian dari rutinitasku.

Kemudian aku turun ke produksi, mengecek absensi secara langsung dari user untuk tiap-tiap bagian, sembari mendengarkan keluhan tentang kinerja serta absensi karyawan, serta melakukan pembinaan jika diperlukan. Dan terkadang aku juga mulai bosan dengan keluhan yang itu-itu saja.

Setelah itu, sekitar pukul 07.00 melakukan briefing dengan karyawan baru (jika ada karyawan baru yang pertama kali mulai bekerja), biasanya menjelaskan tentang masalah jam kerja, fasilitas-fasilitas perusahaan, BPJS, sistem penggajian, dan semua hal yang ada dalam perjanjian kerja. Baru kemudian aku mengantarkan berkas kepada admin untuk segera di input. Serta mengantarkan karyawan baru tersebut untuk diserahkan kepada user.

Kemudian aku menuju ruang rekruitmen. Dan di ruang rekruitmen itulah aku merasa senang dengan pekerjaanku, karena aku bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda, serta dari latar belakang yang berbeda pula, baik dari tempat tinggal, pendidikan serta pengalaman. Di ruang rekruitmen itu pula aku terkadang belajar dari orang-orang yang aku interview. Dari hasil interview, aku memberikan penilaian untuk bisa lanjut atau tidak, jika lanjut akan segera aku tes-kan kesehatan terlebih dahulu sebelum aku tes-kan ke user. Dan jika diperlukan, baru aku melakukan psikotest (biasanya untuk level staff), jika hasil psikotesnya bagus  baru dipanggil lagi untuk finalisasi, biasanya berkaitan tentang gaji dan kapan bisa mulai bekerja.

Karena aku masuk shift pagi, jadi aku pulangnya lebih awal, dari pada yang dayshift, yaitu yang masuk jam 08.00. Biasanya aku maksimal pulang jam 15.00, aku tidak langsung pulang, melainkan mampir dulu di warung depan, memesan es jeruk atau es teh tawar, sambil mengobrol dengan rekan kerja yang juga masuk shift pagi.

Sekitar pukul 16.00 aku pulang, sholat ashar kemudian istirahat sebentar selama kurang lebih satu jam, kemudian bangun untuk menyalakan hitter di dispenser, sambil menunggu panas aku tinggal mandi dulu, baru setelah selesai mandi aku membuat secangkir kopi soreku dengan ditemani cemilan seperti biscuit, atau apa saja sebagai teman ngopi. Sambil menunggu magrib, aku membuka laptop, memainkan music, baca-baca ebook, atau buku kalau mood sedang lagi baik. Dan buku fiksi, yang biasanya aku suka.

Adzan magrib aku segera bergegas, jika ada kajian (biasanya, ketika senin malam dan kamis malam) aku tetap di masjid ikut kajian sambil menunggu sholat isya, namun jika tidak ada aku kembali lagi meneruskan baca-baca e-book atau buku. Atau buka facebook atau media sosial lainya untuk melihat apa yang sedang ramai di media sosial.

Kemudian cari makan, aku lebih memilih angkringan karena di angkringan selain tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, di sana biasanya banyak orang yang berkumpul meski hanya memesan segelas kopi dan rokok, kemudian aku bisa saling mengobrol dan berbagi. Baru setelah itu sekitar pukul 21.00 pulang untuk tidur. Namun sialnya tetap saja baru sekitar pukul 23.00-an aku baru bisa tidur. Itu pun karena mataku sudah mulai pedas karena lelah membaca buku, atau ebook di layar laptopku.

Ketika masuk shift siang, aku memiliki banyak waktu luang di pagi harinya. Aku bangun seperti biasa, namun habis shubuh aku rebahkan kembali tubuhku yang masih capek ini. Biasanya baru mandi pagi sekitar pukul 07.00 pagi.  Sebelum mandi aku menyalakan hitter di dispenser, kemudian aku tinggal mandi, selesai mandi biasanya air sudah panas, membuat kopi yang sengaja aku buat terasa manis. Sambil menunggu kopi menghangat aku membuka laptop, memainkan music, membaca-baca berita di media sosial, membaca buku dan sesekali menyruput kopi. Atau terkadang waktu luang pagi aku gunakan untuk mencuci atau menyeterika.

Menjelang pukul 11.00 siang, aku berusaha untuk memejamkan mata sebentar saja, sampai terdengar adzan dhuhur, kemudian sholat dhuhur di masjid, setelah sholat, aku kemudian ngemil atau makan siang, tapi kalau sedang malas makan siang aku memilih merebahkan kembali tubuhku diatas kasur sambil menunggu kurang lebih pukul 13.00. Kemudian aku mandi dan bersiap-siap untuk bekerja. Hal aneh ketika setelah mandi biasanya adalah, yang awalnya sedang males makan, rasa malas itu berganti dengan rasa lapar yang luar biasa, biasanya aku memilih makan di warung depan tempatku bekerja, sekalian mengobrol dengan rekan kerja yang sama-sama masuk siang. Baru sekitar pukul 14.00 aku masuk kantor, mengobrol dengan partner sekaligus supervisorku tentang bagaimana rekruitmen hari itu, masalah headcount yang belum terpenuhi dan permasalahan apa yang terjadi di produksi.

Hampir sama dengan ketika aku masuk pagi, aku berdiri di dekat mesin absen karyawan, memastikan karyawan segera masuk dengan tertib, karena untuk shift siang itu proses over shift, yaitu pergantian dari shift pagi ke shift siang sehingga sedikit gaduh. Dan aku harus memastikan itu berjalan lancar. Kemudian setelah tidak ada karyawan yag terlambat aku masuk ke produksi sebentar, melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan ketika masuk pagi.

Kemudian setelah office sudah mulai sepi, karena yang dayshift sudah mulai pulang aku ke atas untuk membuat kopi soreku. Menikmati kopi sore sambil menungu adzan magrib kemudian sholat magrib dan istirahat untuk makan malam.

Ketika kantor sudah sepi dan hanya ada saya dan admin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, biasanya aku memonopoli internet kantor untuk berselanjar di dunia maya. Iya, aku lebih sering youtube-an di kantor untuk membunuh waktu. Selain aku membaca artikel-artikel yang sedang ramai di media sosial.

Yang begitulah rutinitas yang selama ini aku jalani. Aku juga sadar bahwa rutinitas itu suatu saat akan membunuhku dengan kenyamanan-kenyamanan semu. Aku memang jarang duduk di office dan stay di mejaku, karena aku mudah bosan ketika berada di dalam ruangan dingin ber-ac itu. Hampir sebagian besar waktu kerjaku habis di produksi, poliklinik, serta di ruang rekruitmen.

Dan sebagai HRD yang terjun langsung ke lapangan aku jadi lebih tahu tentang permasalahan apa yang sedang terjadi di produksi, aku jadi tidak mudah percaya dengan user yang selalu meminta segera dalam mememenuhi SDM, karena aku tahu persis kondisi di lapangan.

Aku senang ketika terjun langsung ke produksi, melihat wajah-wajah karyawan, terutama level pelaksana, bukan karena karyawannya cantik-cantik, bukan! karyawan di tempatku bekerja di dominasi oleh Ibu-ibu muda. Meski ada beberapa yang sudah seusia dengan Ibuku, serta ada juga yang masih muda, baru lulus SMA. Wajah-wajah tanpa topeng yang bekerja penuh dengan keikhlasan. Aku terkadang mengobrol dengan mereka untuk mengetahui sediki latar belakang mereka.  

Apakah aku bosan atau suntuk dengan rutinitasku? Jelas aku bosan dengan rutinitas ini. Namun aku selalu berusaha agar aku tidak “gila” karena hidup dalam rutinitas ini. Membuat komitmen-komitmen kecil yang harus aku penuhi, keputusan-keputusan kecil dalam hidupku, kemudian terkadang aku suka berkendara dengan sepeda motorku tanpa aku tahu tujuannya. Iys berkendara motor tanpa tujuan, adalah hal yang biasa aku lakukan agar aku tidak terjebak dalam rutinitas.

Ketika aku sedang ingin keluar. Aku selalu berharap tidak ada yang bertanya kepadaku “Mau, kemana, Mas?” biasanya hanya aku jawab dengan singkat “Ingin keluar sebentar” dan berharap tidak ada pertanyaan lanjutan yang lebih spesifik lagi tentang kemana aku akan pergi. Karena aku sendiri juga tidak tahu kemana aku akan pergi. Mungkin orang lain akan menganggapku “gila”, karena pergi tanpa tujuan dan hanya buang-buang bensin. Padahal aku sedang berusaha agar aku tidak gila.
“Mungkin orang lain akan menganggapku “gila”, karena pergi tanpa tujuan dan hanya buang-buang bensin. Padahal aku sedang berusaha agar aku tidak gila”
Biasanya aku berhenti di sebuah angkringan pinggir jalan yang sebelumya belum pernah aku kesana, kemudian memesan teh panas, mengambil beberapa gorengan, serta mendengarkan obrolan-obrolan di angkringa tersebut. Iya, aku hanya sebagai pendengar setia.

Atau aku akan kembali lagi ke angkringan, tempat biasa aku mampir, bertemu dengan pasangan yang usianya sudah tidak lagi muda, yang merupakan langganan di angkringan tersebut. Biasanya mereka datang ke angkringan tersebut agak malam, menunggu anakknya tertidur pulas terlebih dahulu. Kemudian ada anak muda yang usianya masih di bawahku. Ia pernah gagal tiga kali kala mencoba masuk AKMIL, namun kini ia sudah sadar bahwa bukan di sana rejekinya, tapi di burung. Ia adalah pecinta burung, terutama labet, dan sekarang mencoba berternak murai. Ia sangat antusias ketika berbicara soal burung serta perlombaan burung. Dan terakhir aku mendengar burungnya laku 40 juta. Ia tahu bagaimana cara berternak burung agar dilirik banyak orang. Membeli burung yang bagus kemudian diikutkan lomba-lomba hingga burung itu menjadi juara, kemudian burung itu dijadikan master, jadilah ia memiliki trah yang memiliki nilai jual.


Hingga dalam sunyinya malam aku merenung, “Aku harus mencari kebahagian di tempat lain, ketika aku belum bisa menemukan kebahagiaan dalam pekerjaanku” Dan mungkin menulis adalah salah satu yang bisa aku lakukan agar aku tetap hidup normal.