Senin, 12 Desember 2016

Meracik Teh Sendiri


Setelah kemarin saya seperti tidak benar-benar menikmati libur. Pagi ini, meski semalam saya baru benar-benar tertidur pulas sekitar jam 2 pagi. Namun entah kenapa saya masih teges untuk bangun pagi, dan tidak klipuk lagi sehabis sholat shubuh.

Bahkan, setelah beberes rumah, saya seperti sedang memecahkan rekor pribadi. Yaitu dengan melakukan ritual mandi pagi, meski hari ini adalah hari libur. Bagi saya, ini adalah sebuah pencapaian. 

Karena bagi saya, pencapaian tidak harus dengan bisa menulis status fesbuk sambil berenang atau salto.

Pagi yang dingin dengan langit yang sedikit mendung ini. Membuat saya ingin membuat teh panas untuk menghangatkan badan yang mulai kedinginan. Dan teh pagi ini saya meraciknya sendiri.

Sebagai orang yang sederhana lagi pas-pasan. Saya bukanlah sejenis manusia yang hobi membeli kemewahan dengan nongkrong di kafe. Kemudian, menikmati secangkir kopi yang harganya tidak masuk kriteria murah bagi kantong saya, yaitu 50rb untuk secangkir kopi. 

Saya hanyalah buruh di balik meja, jadi sudah cukup bagi saya nongkrong di tempat-tempat wedangan. Bagi saya, 50rb itu bisa buat beli kopi kapal api beserta gula, dan itu cukup buat ngopi selama satu bulan.

Meski kini kasta wedangan sedikit terangkat dengan hadirnya kafe-kafe dengan konsep wedangan modern. Namun, ada hal yang berbeda dari tempat-tempat wedangan konvensional. Yang hadir di wedangan konvensional adalah, mereka hadir tanpa sekat. Situasi keakraban bisa terjadi, hanya karena berbagi korek api, kemudian ududan atau rokokan.

Sebagai cah wedangan yang kaffah, saya bahkan sudah memiliki tempat wedangan favorit. Meski tangan dingin Mas hik (sebutan bagi si penjual di angkringan langganan saya) dalam membuat indomie tidak senikmat mamang-mamang burjo, namun dalam hal meracik teh, ia sudah di atas rata-rata. 

Cita rasa teh lah yang membedakan antara tempat wedangan satu dengan tempat wedangan yang lain. Dalam hal ini, tempat wedangan yang asli dari mBayat dan Cawas (keduanya merupakan nama daerah di Klaten, yang konon sebagai tempat asal muasal angkringan) belum ada yang mengalahkan.

Hampir di tempat-tempat wedangan di daerah Cawas, menyajikan teh dengan menggunakan poci yang terbuat dari tanah liat, dengan gula batu sebagai pemanis. Sebagai salah satu pionir wedangan, tempat-tempat wedangan di Cawas seperti tahu betul bagaimana menyajikan teh yang nikmat.

Saya bahkan pernah melakukan research sederhana (halah, nggaya tenan nganggo istilah research, hehehe). Yaitu dengan melakukan perjalanan untuk menikmati teh di setiap tempat-tempat wedangan. Dan hasilnya, setiap tempat wedangan memiliki cita rasa yang khas pada teh yang disajikan. 

Dan tau kah Anda, bahwa dalam menemukan resep teh yang pas, seorang penjual juga melakukan research, yaitu dengan melakukan berbagai percobaan. Seperti halnya seorang barista, di tempat wedangan juga dilakukan percobaan-percobaan dengan mencampur beberapa varian teh dari berbagai merk, hingga menemukan cita rasa yang sesuai. Setelah sesuai menurut penjual, baru ia meminta pelanggan untuk menjajalnya, serta meminta masukan dari pelanggannya.

Menurut Mas hik, setiap varian atau merk teh, memiliki ciri khas masing-masing, ada yang warnanya pekat, tapi rasanya kurang. Ada yang warnanya bening, tapi rasanya kuat. Ada juga yang rasanya ada sepet-sepetnya. Dan ada juga yang menghasilkan aroma yang wangi. Maka dari itu, untuk mendapatkan rasa yang sesuai, maka perlu di-blend dan menghasilkan cita rasa baru yang nikmat.

Dalam sebuah kesempatan, sebagai langganan saya pernah diminta untuk menikmati teh hasil racikan terbaru. "Gimana, Pak bro, masuk nggak rasane?" Begitu kata Mas hik, ketika meminta pendapat mengenai hasil racikan barunya.

Ketika di rumah, saya yang menganut paham, simpel. Biasanya hanya menyediakan teh celup gopek atau tong tji, yang akan saya buat ketika perut saya sudah mulai kembung ketika terlalu banyak ngopi.

Namun, untuk pagi ini. Adalah teh yang saya racik sendiri. Saya mencampur beberapa varian teh, seperti teh gopek, gardu, dan pecut. Dan semua teh tersebut saya campur dengan perbandingan 1:1:1. Atau masing-masing teh saya jimpit kira-kira dengan takaran sama, kemudian saya taruh ke dalam gelas yang sudah saya beri sedikit gula. Kemudian saya seduh dengan air panas yang baru saja mendidih. Hasilnya, saya gagal menciptakan cita rasa ala tempat wedangan. 

Meski tidak senikmat di tempat wedangan langganan saya. Tapi setidaknya rasa random yang dihasilkan teh buatan saya pagi ini. Mampu menyadarkan saya, bahkan membuat teh ternyata juga butuh sentuhan dari tangan seorang feminis. 

Eh tapi kalau kamu ndak bisa bikin teh juga ndak apa-apa. Karena yang saya cari itu pendamping hidup, bukan partner bakul wedang.
Read more ...

Kamis, 08 Desember 2016

Belum Rejeki Saya Untuk Bekerja di Sana

Ruang tunggu BPJS Ketenagakerjaan Klaten

Kalau jodoh pasti bertemu. Kalau bukan jodoh, ya setidaknya masih bisa bertamu. Hal itulah yang kira-kira saya rasakan. Namun, yang saya maksud "bertemu" dan "bertamu" di sini bukan soal seseorang yang saya cintai kemudian luput. Bukan! Namun soal rejeki.

Kemarin siang, bersama rekan kerja saya. Untuk kesekian kalinya saya harus mengunjungi BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Agenda saya ke kantor BPJS Ketenagakerjaan dalam rangka melengkapi kekurangan berkas klaim kecelakaan kerja.

Perlu kalian ketahui, bahwa saya dulu pernah melamar, bahkan sempat mengikuti tahap seleksi atau rekruitmen karyawan untuk bagian SDM di kantor BPJS Ketenagakerjaan. Dan sepertinya memang bukan rejeki saya di sana. Karena dua kali mengikuti tahap seleksi dan dua kali pula saya harus menerima kenyataan, bahwa saya gagal dalam seleksi tahap 2, yaitu tes online.

Ada sesuatu yang lucu ketika saya mengikuti tahap seleksi, tes online. Tes pertama bisa saya kerjakan tanpa gangguan apapun, meski pada akhirnya saya gagal. Di tes online kali kedua. Ketika saya akan meksanakan tes online. Saya kesulitan untuk login. Dan di saat saya sudah sedikit frustrasi, saya baru menyadari bahwa saya melakukan kesalahan dalam memasukan nomer tes. 

Setelah saya sudah mempersiapkan diri untuk mengerjakan. Ada orang gila, yaitu orang yang benar-benar gila dalam arti yang sesungguhnya. Atau bahasa psikologinya, orang dengan gangguan kejiwaan. 

Orang gila tersebut langsung nyelonong masuk rumah. Dan saya kesulitan untuk mengusirnya. Saya pun segera mengusir dengan mengatakan bahwa saya akan pergi. Entah kenapa ia langsung keluar rumah. Dan dengan sigap pintu rumah langsung saya kunci, kemudian sedikit kemrungsung saya mengerjakan tes online tersebut.

Meski pada akhirnya saya tetap gagal untuk kedua kalinya. Saya hanya bisa berpikir positif saja, bahwa itu bukan rejeki saya. Mungkin saya masih diminta untuk terus belajar dan bekerja di tempat kerja saya saat ini.

Meskipun saya gagal dalam seleksi karyawan BPJS Ketenagakerjaan, bukan berarti juga saya harus menolak, jika harus berurusan dengan BPJS Ketenagakerjan. Karena BPJS Ketenagakerjaan itu penjamin sosial, bukan mantan atau seseorang yang telah melukai hati kita karena telah menolak kita. Bukan!

Semenjak saya dilimpahi tugas untuk mengurusi klaim jika terjadi kecelakaan kerja. Saya jadi sering berurusan dengan BPJS Ketenagakerjaan. Terkadang saya juga diminta oleh atasan saya untuk mengikuti segala kegiatan yang diadakan oleh BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, ketika saya ikut nimbrung dalam acara talk show sinergi antar instansi dalam rangka peningkatan pelayanan BPJS Ketegakerjaan. Meski saya di sana cuma ikut nimbrung dan nunut ngopi.

Terakhir, saya juga diminta untuk mewakili perusahaan dalam acara gathering yang diadakan di Kaliurang, dan juga diprakarsai oleh BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Dan pernah juga saya tulis dalam blog pribadi saya; blogriki.com, dengan judul "Acara "hore" Bareng BPJS TK Klaten"
***

Sesampai di Kantor BPJS Klaten, saya langsung disambut seorang secuirity, kemudian saya menyampaikan maksud kedatangan saya, bahwa saya ingin bertemu dengan pegawai BPJS Ketenagakerjaan yang sebelumnya telah janjian dengan saya untuk bertemu.

Sambil menunggu saya melihat ruangan sekitar sambil celingak-celinguk, saya mbatin, "Belum rejeki saya bekerja di tempat ini"
Read more ...

Senin, 05 Desember 2016

Potong Rambut di Arfa Barbershop

sesaat setelah potong rambut di arfa barbershop
Bukan Sebuah Testimoni. . .


Melalui grup wasap yang saya ikuti, yaitu grup "Hip Hop '09" yang berisi begundal-begundal psikologi UNS angkatan 2009. Saya bertanya kepada mereka, untuk memberikan informasi tentang tukang cukur rambut atau barbershop yang ada paket potong rambut sekaligus keramas. Saya sedang membutuhkan fasilitas tersebut, karena saya baru saja selesai jagong di tempat teman kuliah. Selain itu, saya juga sedang tidak ingin merepotkan orang lain, dengan potong rambut di tempat pangkas rambut madura atau lainnya, itu artinya saya harus numpang mandi, setidaknya keramas di kos teman kuliah saya yang masih di solo.

Sebenarnya ada pilihan lain, yaitu di salon. Tapi saya bukanlah laki-laki metroseksual yang hobi pergi ke salon. Jadi, salon sudah saya black list.

Ditya, teman kuliah yang sering saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya, yang merupakan CEO sebuah online shop @gildansoc, yang menjual produk impor berupa kaos polos, baik berkerah maupun tanpa kerah. Ia memberikan beberapa alternatif barbershop, salah satu diantaranya di dekat pasar nongko, Solo.

Ketika saya akan pergi ke sana. Saya baru menyadari bahwa di deket kampus psikologi Mesen (Psikologi UNS) juga ada barbershopBarbershop tersebut bernama "Arfa Barbershop" letaknya sebelah barat hotel Asia. Tak jauh dari panggung motor.

Kemudian saya memutuskan untuk potong rambut di sana saja. Karena saya lihat, tidak ada yang ngantri. Dan itu artinya, saya bisa segera di-treatment. Dan karena hal itulah kenapa saya memutuskan untuk potong rambut di sana. Selain itu, juga cepat, karena langsung dilayani, dan bisa langsung dikeramasi tentunya.

Baru datang, tanpa mengambil nomor antrian terlebih dahulu, saya langsung dipersilakan duduk di kursi treatment. Si mas-mas potong rambut langsung bertanya kepada saya, "Mau potong rambut model apa?" Saya yang buta terhadap model-model rambut kekinian hanya menjawab sekenanya saja "Di rapiin aja, Mas"

Ketika sedang mencukur rambut saya, ia nampak mencoba mencairkan suasana dengan mengajak saya ngobrol. Tak lama kemudian, kami justru terlibat salam sebuah obrolan, di saat si mas-mas potong rambut sedang fokus mencukur rambut saya. 

Ia ternyata asli dari Wonogiri. Setelah beberapa bulan bekerja di cabang Jogja, ia meminta untuk dipindahkan di cabang solo. Dalam hati, saya kenapa enggak milih jualan bakso atau mie ayam saja? Kan mie ayam-bakso wonogiri sudah terkenal seantero negeri.

Sebelum rambut saya dikeramasi, ia memastikan bahwa rambut saya sudah dipotong sesuai dengan keinginan saya sebagai pelanggan. Mungkin ini bagian dari SOP. Jadi, ya harus ya harus begitu.

Saya kemudian diminta untuk menuju ruang tempat keramas yang lokasinya tak jauh dari tempat cukur rambut. Dan mungkin ini kali pertama saya dikeramasin orang lain, setelah orangtua saya yang mengeramasi saya waktu masih bocah.

Dan di ruang keramas itulah, si mas-mas potong rambut seperti ngajak ribut. Karena kepala saya diunyel-unyel. Iya, saya tahu itu adalah bagian dari SOP. Tapi mbok ya yang ngeramasi jangan cowok, gitu bisa? Siapa tahu jodoh. *iki uopo meneh:-D

Selesai dikeramas, masih ada satu treatment lagi, yaitu pijat. Dan ini yang membuat saya kecewa dengan pelayanan di sana. Pijatnya cuma bentar banget, jadi jelas kurang lama, mengingat kondisi badan saya sedikit gregesi ini. Tanda-tanda badan saya sedang butuh asupan soto segeer mbok giyem dan jeruk panasnya.

Dan untuk segala treatmen yang dilakukan di arfa barbershop, dari cukur rambut, bonus air mineral, keramas, pijat, meski cuma sebentar, dan ruangan yang nyaman dan ber-ac. Saya kira, 20rb adalah mahar yang wajar atas semua itu.
Read more ...

Sabtu, 03 Desember 2016

Menjadi Silent Reader

Saya seperti seseorang yang terlambat menghidupkan televisi untuk menonton pertandingan sepakbola. Dan ketika televisi saya nyalakan, bukannya pertandingan sepakbola yang saya dapatkan. Justru situasi di stadion yang menunjukan antar supporter sudah saling gaduh. Bahkan pertandingan harus terpaksa dihentikan karena situasi tidak memungkinkan. Keputusan tersebut diambil oleh pihak penyelenggara meski pertandingan belum ada yang menjadi pemenang.

Saya mulai menonton dari layar kaca di saat kedua supporter sudah saling ejek, bahkan saling serang. Hal itu dipicu oleh tindakan salah satu pemain yang menurut tim lawan melakukan diving, namun sebaliknya, bagi pemain tersebut, ia merasa benar-benar dilanggar. Wasit sebagai pengadil di lapangan belum menetukan keputusannya. Namun, semua sudah saling merasa bahwa pemainnya adalah pihak yang dirugikan. Yang satu dituduh melakukan diving, namun yang dituduh diving merasa benar-benar dilanggar. 

Saya mendapatkan beberapa situasi sekaligus. Yaitu, kedua supporter saling klaim bahwa pemain tim kebanggaannya tidak bersalah. Penghakiman pun dimulai. Ada yang menyalahkan pemain kesebelasan yang sedang bertanding dengan tim kebanggaanya. Ada juga yang menyalahkan sikap wasit sebagai pengadil di lapangan, karena dianggap berpihak pada salah satu tim kesebelasan.

Saya yang baru melihat kejadian tersebut, sudah hampir langsung ikut menghakimi, seperti yang dilakukan supporter tim kebanggaan saya. Namun hal itu saya urungkan. Saya lebih baik mematikan televisi dan menunggu ada yang upload di youtube, serta melihat terlebih dahulu, apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kata Pramoedya Ananta Toer, kita harus adil sejak dalam pikiran. Bukan tahu-tahu langsung ikut menghakimi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Saya belum sempat melihat di youtube mengenai kejadian di lapangan yang memicu debat berkepanjangan tersebut. Sedangkan pemberitaan media  sosial sudah terlalu subyektif untuk dijadikan rujukan.

Situasi sudah terlambat. Penghakiman demi penghakiman pun sudah bertebaran di media sosial. Situasi menjadi semakin gaduh.

Situasi juga sudah sangat terlambat ketika saya melihat dan memahami video tentang pelanggaran tersebut. Namun, situasi diluar sudah terlampau sulit dikendalikan. Orang yang sudah dikatakan sebagai ahli dalam sepak bola, seperti mereka para pengamat sepakbola tidak mampu mencairkan suasana. Ketika mereka berpendapat hal itu adalah tindakan diving, pengamat tersebut langsung dihakimi dengan menyebut telah menerima bayaran dari salah satu klub. Begitu juga sebaliknya, ketika ada yang menganggap bahwa kejadian itu murni pelanggaran, juga langsung di cap pendukung klub yang satunya.

Di saat seperti itu, saya memutuskan untuk menjadi penonton dan menjadi silent reader untuk melihat bagaimana kedua antar suporter saling serang dalam beropini. Lebih kejam lagi, ada yang menyerang dengan cara-cara kotor, seperti dengan melakukan fitnah.

Kemudian, bagaimana cara menetralisir hal itu? Ndak usah bingung, sruput dulu kopinya. Kita tidak bisa membendung arus informasi di media sosial. Cukup kita posting sebagaimana biasanya. Sharing informasi yang benar-benar informasi, jangan cuma asal like, share atau ketik amin untuk masuk surga, emang surgane mbahmu? Yang paling penting budayakan membaca sebelum share dan komentar. 

Menjadi silent reader itu ternyata kudu sabar. Saya memiliki kebiasaan hingga membaca apa yang didiskusikan di kolom komentar. Dan membaca komentar yang ada di bawah artikel atau link, ternyata ada hal lucu sekaligus bikin gontok. Masih ada saja orang yang seperti sedang memproklamirkan kemalasannya dalam membaca. Karena kata "kebodohan" mungkin terlalu tidak sopan. Komentar yang cinderung dipengaruhi oleh komentar sebelumnya, padahal komentar sebelumnya sudah jelas komentar dari orang yang tidak membaca hingga selesai. Bahkan hanya membaca judul saja, sudah langsung merasa tahu kemudian berkomentar yang jauh dari konteks berita. Bahkan langsung menghakimi.

Mungkin ada juga yang menganggap bahwa menjadi silent reader adalah salah satu bentuk orang yang tidak memiliki sikap. Bagi saya tidak apa-apa, karena memilih untuk diam dan menjadi silent reader bagi saya adalah suatu sikap. Menjadi silent reader itu bukan perkara mudah, ia seperti orang yang berpuasa berkomentar, padahal hampir setiap hari ia melihat gawai untuk bermain media sosial. 

Dan mohon maaf, jika ada teman saya di fesbuk yang saya blok, mungkin kalian lebih baik berteman dengan saya di dunia nyata saja, bukan di ruang maya.  Karena saya sedang berusaha agar "puasa" saya tidak batal. 
Read more ...

Kamis, 01 Desember 2016

Setelah Dua Tahun Bekerja

Sebuah catatan pendek setelah dua tahun bekerja

Tepatnya dua tahun yang lalu, yaitu tanggal 1 Desember 2014. Pagi-pagi saya sudah berdandan rapi, dengan memakai pakaian batik yang dipadukan dengan celana jeans warna biru, dan sepatu hitam mengkilat. Saya kala itu cuek saja memakai batik meski hari itu adalah masih hari senin. Jujur, selama masa skripsi hingga lulus kuliah, saya lebih banyak mengkoleksi kaos tanpa kerah daripada kemeja atau pakaian formal lainnya.

Hari itu adalah hari pertama kali saya mulai bekerja. Berangkat pagi-pagi dengan motor yang telah setia menemani perjalanan saya dari SMA, sambil menerka-nerka tentang apa saja yang akan saya kerjakan di hari pertama bekerja. Jujur, saya belum memiliki gambaran tentang dunia kerja, khususnya sebagai staff HR. Pengalaman magang satu bulan ketika masih kuliah, masih jauh dari kata cukup dalam menyambut dunia kerja. Karena kami anak magang hanya dijadikan hiasan meja tanpa dilibatkan dalam kegiatan atau project apapun. 

Ketika pertama kali masuk kerja. Saya sengaja datang agak pagi. Bahkan saya datang ketika karyawan non shift belum pada datang. Saya disambut oleh seorang perempuan yang usianya tak jauh berbeda dengan usia saya. Di sela-sela kesibukannya di meja resepsionis. Ia mempersilakan saya dan meminta saya untuk mengisi data karyawan baru. Dan orang itu adalah salah satu staff administrasi yang sudah sangat tahu betul mengenai seluk-beluk data di HR File. 

Saya menjadi seperti harus belajar lagi. Karena ada banyak hal yang saya dapatkan, dan hal tersebut tidak pernah saya dapatkan selama di bangku kuliah.

Perlahan tapi pasti saya mulai belajar banyak hal. Didampingi dan di-mentori oleh orang-orang yang dengan penuh kesabaran membimbing saya. Membuat saya dengan mudah menyesuaikan diri dengan dunia baru saya, yaitu dunia kerja. Orang-orang tersebut sudah saya anggap sebagai guru saya. Saya banyak belajar darinya, seperti Manager saya, Supervisor sekaligus partner kerja saya, serta rekan kerja yang lain. Sengaja  saya tidak menyebutkan namanya satu persatu. Namun demikian, percayalah, bahwa nama-nama kalian sudah menyita sebagian memori dalam otak saya. 

Dan buat rekan kerja saya yang hari ini ulang tahun, saya tidak akan bertanya hari ini ulang tahun yang ke berapa kok. Saya hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, semoga menjadi pribadi yang lebih baik, dan selalu diberi kesehatan untuknya dan keluarganya. Dan menjadi ibu yang baik bagi kedua putrinya. Amin~

***
Dulu, saya pernah membayangkan, bahwa orang yang bekerja kantoran dan hanya berada di depan komputer itu keren. Namun, ketika awal-awal saya menjalani hari-hari sebagai orang kantoran. Saya sempat berpikir, betapa membosankannya menjadi orang kantoran. Duduk selama 40 jam dalam seminggu dengan hanya melototi layar komputer untuk mengerjakan pekerjaan yang sifatnya rutinitas.

Beruntung pekerjaan saya bisa dikatakan tidak melulu di depan layar komputer. Dan kebanyakan melakukan aktifitas di luar kantor.  Seperti melakukan interview awal. Dan melaksanakan psikotes. Serta terkadang saya harus akting marah-marah ketika ada karyawan yang ndablek dan sering melakukan tindakan indisipliner. Meski terkadang, karena terlalu menjiwai, saya jadi marah-marah beneran. Hehehe

Ketika sedang melakukan interview, saya justru bisa bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang berbagai latar belakang. Dan bukan tidak mungkin saya justru belajar dari pengalaman-pengalaman mereka yang saya interview. Meski pertemuan dalam sesi wawancara yang hanya sekitar 5 - 10 menit saja.

Selain itu, saya juga terlibat dalam sebuah pekerjaan yang begitu menguras emosi. Ketika harus mengakhiri hubungan kerja misalnya. Awal-awal ada semacam perasaan bersalah dalam diri saya. Namun, semakin ke sini saya menjadi semakin paham. Bahwa apa yang saya lakukan adalah bagian dari pekerjaan. Dan di situlah saya menjadi paham apa itu "profesional".

Sebenarnya ada banyak hal yang sudah saya lalui selama 2 tahun bekerja ini. Namun, nanti saya malah dikira mau bikin novel. Tapi kalau mau bikin novel, saya sudah menemukan judul yang sangat bagus; "Catatan Hati Seorang HRD". Saya yakin bakal ada yang meliriknya, kemudian dibikin filmnya, habis itu ada sinetronnya. Hahahaha, semakin ngawur. . .

Daripada ini nanti semakin ngawur, saya sudahi saja tulisan ini. Dan bukan novel yang telah saya buat, namun sebuah blog. Blog atau situsweb sederhana itu bernama hrfile.net "Catatan seorang HRD" blog tersebut bukanlah sebuah portal yang akan dijadikan rujukan banyak orang.

Saya membuatnya tanpa ekspektasi tinggi. Sebuah blog yang hanya berisi catatan ringan saya selama berkarir sebagai HR. Blog tersebut berisi sisi lain kehidupan seorang HRD. Tidak mewakili siapa-siapa, atau institusi apapun. Semua konten yang ada di blog tersebut, tak lebih hanya endapan-endapan tentang apa saja yang penting bagi saya, kemudian saya tuangkan dalam tulisan. Jika hal tersebut belum bisa bermanfaat bagi orang lain, setidaknya hal itu bermanfaat bagi diri saya sendiri.

Sepertinya saya akan sangat berdosa jika tidak mengucapkan terima kasih kepada kawan sekaligus sahabat saya Johan Hariyanto. Dia lah yang mentraktir saya domain hrfile.net, kala itu sedang ada promo dari salah satu penyedia domain. Dan atas tangan dingin Johan pula lah tampilan hrfile.net menjadi lebih kece.

Monggo kalau mau mampir ke blog saya, kalau mau menghujat silakan di kolom komentar saja, hehehe

Read more ...

Maiyahan lagi (2)

Suasana maiyahan di IAIN Surakarta

Setelah malam minggu kemarin membatalkan pertemuan kami, untuk bisa ikut belajar "menjadi manusia" bersama Cak Nun di alun-alun Boyolali. Malam tadi, Ditya juga melakukan hal sama. Entah kenapa, tiba-tiba Ditya membatalkan lagi pertemuan kami malam tadi di IAIN Surakarta untuk mendengarkan kajian dari Cak Nun.

Sebagai CEO sebuah online shop @gildansoc bisa jadi ia sedang banyak order hingga kesulitan untuk membagi waktunya. Bagi Ditya costumer adalah raja, ia bukan hanya berhak, tapi wajib untuk diperlakukan secara baik. Seperti tetap bersikap ramah dan fast respon ketika membalas chat dari calon costumer-nya. Walaupun pada akhirnya, cuma nanya doang, tapi waktu ditanya "jadi order atau enggak?" jawabnya "Okey nanti kalo butuh aku kontak lagi", atau malah langsung menghilang dari chat tanpa jejak.

Ditya paham betul bahwa hal tersebut adalah bagian dari lika-liku sebagai pelaku bisnis online

Meski Ditya tidak jadi datang bersama ke IAIN Surakarta. Beberapa hari yang lalu, saya justru baru sadar. Bahwa salah satu rekan kerja saya, ada juga yang merupakan bagian dari jamaah maiyah, sapaan untuk jamaah yang diampu oleh Cak Nun. Dia asli dari Magelang, dan dulu kuliah di Jogja. Dan ia bercerita bahwa semasa kuliah, hampir setiap bulan, yaitu setiap tanggal 17 ia berkunjung ke rumah maiyah di Kasihan mBantul untuk mengikuti kajian Macopat Syafaat. Sebuah kajian yang bukan hanya melulu membahas tentang isu-isu agama, namun segala aspek kehidupan sosial, seperti politik dan isu-isu sosial yang sedang berkembang di masyarakat. Bahkan, acara tersebut bisa sampai shubuh, karena banyaknya hal yang harus dibahas.

Dalam batin saya ketika mengetahui bahwa ia aktif dalam kegiatan maiyah, "Ternyata, rekan kerja saya ada yang "gentho" juga ya . . . "

Kami berdua duduk sedikit menjauh dari panggung utama. Situasi malam tadi, hampir sama ketika ngaji ngangsu tepo sliro di alun-alun Boyolali. Kondisi malam tadi gerimis tipis. Meski gerimis, tak ada satu pun jamaah yang meninggalkan tempat duduknya. 

Malam tadi bukan hanya dihadiri oleh mahasiswa IAIN Surakarta saja, namun banyak juga dari kalangan masyarakat sekitar. 

Acara diawali dengan performance dari mahasiswa IAIN Surakarta. Seperti penampilan dari ukhti-ukhti yang menampilkan tari saman, serta qiroah.

Cak Nun agak terlambat naik ke panggung utama. Kiak Kanjeng pun memulai lebih dahulu dengan membawakan lagu-lagu serta sholawat yang dibawakan versi Kiai Kanjeng.

Tak lama kemudian, Cak Nun datang bersama Kiai Muzamil, dan kemudian kajian pun dimulai sebagaima kajian dari Cak Nun, sebelum-sebelumnya yang diselingi dengan penampilan dari Kiai Kanjeng bersama para vokalis bersuara merdu itu.

Dan yang dibahas malam tadi, seputar isu global yang terjadi di Indoensia. Dan tentu tentang kondisi saat ini yang dikuasi oleh kaum kapitalis. Dan tentunya juga membahas tentang isu-isu yang masih hangat di media sosial saat ini. Silakan coba cek di website, mungkin reportase semalam sudah diposting di website caknun.com

Karena paginya saya harus dinas pagi, sekitar pukul 12 malam, saya pamit pulang duluan, padahal sesi diskusi sedang asyik-asyiknya untuk disimak. Namun, apa daya ini, saya juga harus realistis bahwa keesok harinya saya juga masih ada tanggung jawab yang harus saya jalani.
Read more ...

Kebo Nyusu Gudel

"m0 nabung aH. . . . bwt Rncana lbran ke jogja. . . . . . JOGJA"

"gara2 td mboloz keSGM ma liat pameran kmputer . . . . mggu ne hrz irit duech. ."

"ne kuliah hr ne oq sepi bgtz. . . . . . yg laen pda kmana?"

Di atas adalah cuplikan status fesbuk seorang mahasiswa semester satu yang dibuat sekitar tujuh tahun yang lalu. Apa yang Anda pikirkan ketika membaca cuplikan status fesbuk tersebut? Alay? Kalau jawaban kalian alay. Dengan penuh kesadaran, saya akan melakukan pengakuan dosa, bahwa saya dulu pernah alay. Karena status fesbuk di atas adalah status fesbuk saya ketika saya masih newbie dalam bermain fesbuk.

Hal ini bisa juga membuktikan tentang teori perkembangan versi Raditya Dika. Dalam video stand up komedi yang di-upload ke akun youtube miliknya, ia menyampaikan bahwa perkembangan manusia ada beberapa fase, yaitu; bayi, anak, remaja, alay, dewasa, dan tua.

Barusan, di dinding fesbuk milik saya, ada teman fesbuk yang membagikan status seseorang yang merupakan salah satu admin grup fesbuk pembongkar berita hoax. Tulisannya bagus dan mudah dipahami. Dan setelah saya kepo ke akun tersebut, ternyata pemilik akun fesbuk tersebut adalah remaja putri yang masih kelas 3 SMA. 

Setelah membaca beberapa tulisannya yang ia posting di fesbuk. Saya sempat meragukan bahwa pemilik akun tersebut masih berusia belia. Mengingat bobot tulisannya levelnya sudah penulis buku-buku best seller. Dan saya merasa salut dan perlu belajar banyak hal darinya, terutama dalam menyikapi media sosial.

Bisa dibilang ia adalah aktifis media sosial. Ia tahu betul bagaimana memanfaat media sosial bukan hanya dengan baik, tapi juga bijak. Di saat banyak berita hoax yang tersebar di media sosial, ia menjadi salah satu bagian dari pembongkar berita hoax.

Di saat saya masih berusia seperti dirinya. Saya mungkin masih asyik bermain Play Station. Tentang bahan bacaan, saya masih menganggap bahwa tidak ada buku yang lebih penting daripada buku-buku mata pelajaran. Saya seperti mengurung sendiri pemikiran saya dengan membatasi bahan bacaan.

Dibandingkan dengan dirinya, ilmu kepenulisan saya masih seperti remukan roti. Tulisannya bagus dalam mengangkat isu-isu kekinian yang sedang ramai di media sosial. Sedangkan tulisan saya, masuk kategori jelek saja, belum. Dan saya tidak sedang merendah, karena hal itu memang begitu adanya.

Kalau kalian penasaran dengan akun fesbuk yang saya maksud, silakan di-kepo sendiri. Nama akun fesbuk-nya adalah Afi Nihaya Faradisa. Seorang remaja yang baru mau beranjak dewasa. Dari tulisan-tulisannya, ia bukan pelajar seperti pelajar SMA pada umumnya. Terutama dalam menggunakan menuangkan gagasannya melalui tulisan yang ia posting di media sosial.

Darinya saya malah belajar banyak hal. Media sosial bisa digunakan sebagai wadah untuk kreatifitasnya, yaitu dalam hal menulis.

Dalam peribahasa jawa, saya seperti "Kebo nyusu gudel", jika diartikan dalam bahasa Indonesia, adalah orang tua yang belajar dari orang yang jauh lebih muda. Dalam hal belajar tidak ada aturannya bahwa yang muda harus belajar pada orang yang lebih tua. 

Di era informasi seperti saat ini, anak muda bisa dibilang lebih cepat dalam menguasai teknologi, dan kecepatan mendapatkan akses informasi. Jadi, tidak ada salahnya jika orangtua mau belajar pada orang yang lebih muda.

Dan jangan merasa malu untuk belajar, meski pada seseorang yang lebih muda dari kita.
Read more ...

Minggu, 27 November 2016

Maiyahan Lagi

suasana maiyahan di alun-alun Boyolali

Gerimis tipis menyelimuti alun-alun Boyolali. Meski hujan tak kunjung reda, tak ada satu orang pun yang beranjak dari tempat duduknya. 

Bahkan, ada orangtua yang turut membawa anaknya yang masih kecil, tidak segera beranjak meski kondisi masih gerimis tipis. Saya yang sebenarnya membawa jas hujan plastik. Namun, sengaja tidak saya keluarkan karena ingin ikut merasakan gerimis tipis yang semakin malam, semakin dingin itu.

Saya duduk membaur dengan anggota Polri yang turut serta dalam Boyolali mengaji ngangsu tepo sliro bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Sebenarnya saya berencana untuk menghadiri pengajian tersebut dengan teman kuliah, yang kini menjadi CEO sebuah online shop @gildansoc. Namun, tiba-tiba ia mengabari bahwa ia tidak bisa hadir karena di daerah tempat tinggalnya hujan deras.

Malam itu adalah kali ketiga saya ngalap berkah dengan menghadiri pengajian dari seseorang yang begitu dikagumi banyak orang karena pemikiran-pemikirannya

Sambil duduk menunggu Cak Nun dan Kiai Kanjeng naik ke atas panggung. Saya ngobrol-ngobrol dengan seorang bapak yang turut serta membawa anaknya ikut serta mendengarkan ilmu-ilmu dari Cak Nun. Seorang warga Musuk, Boyolali yang dengan ramah menceritakan tentang kehidupannya di desa. Hidup dari hasil pertanian dan peternakan untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari.

Cak Nun dan Kiai Kanjeng mulai naik ke panggung beserta Wakil Bupati dan jajarannya. Turut hadir juga berbagai tokoh agama dari Islam, Kristen dan Katolik. Hal itu seakan menunjukan bahwa, masih ada toleransi antar umat beragama di Boyolali. Karena perbedaan itu, bisa disatukan dalam satu tiang bernama NKRI.

Acara di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan lagu Syukur. Dan semua jamaah pun diminta untuk berdiri. Karena ingin khusyuk ngangsu ilmu, saya masukan handphone ke dalam plastik dan saya simpan dalam tas kecil yang biasa saya bawa ketika bepergian.

Saya tidak akan menceritakan dengan detail tentang apa saja yang di sampaikan dalam Boyolali mengaji malam itu. Karena hasil reportase lengkapnya sudah di posting di website caknun.com. Silakan dibaca dan diresapi sendiri.

Ada banyak alasan kenapa saya merasa harus menghadiri pengajian tersebut. Padahal, sebelumnya saya berencana menghadiri gathering komunitas anak bawang Solo, serta peluncuran buku permainan tradisional-nya Mba Diah. Saya sudah meminta Mba Diah untuk menuliskan keseruan malam itu, agar bisa dipajang di lobimesen.com.  Semoga minggu ini tulisane jadi dan bisa dinikmati. Karena saya harus pamit dan memilih menghadiri kajian di alun-alun Boyolali.

Ada kegelisahan yang saya alami. Dan mengikuti kajian dari Cak Nun setidaknya mampu mengurai sedikit kegelisahan yang saya alami. Karena saya mampu membuka kembali pikiran saya yang sudah diracuni dengan kebencian-kebencian akan sesuatu. 

Kita sekarang mudah menemukan kebencian. Karena kebencian itu hadir dimana-mana, apalagi di media sosial. Ketika ada yang berbeda pendapat atau tidak satu pemahaman, dengan mudah cangkem ini jeplak "sesat", "kafir" dan segala pisuhan yang menurut saya tidak ber-etika. Apalagi segala kebencian dan pisuhan itu ditujukan kepada seorang sesepuh yang secara keilmuan lebih tinggi dari kita. Menyedihkan!

Puncak dari malam itu. Sebelum lagu berjudul "kemesraan" yang dinyanyikan secara bersama-sama untuk mengakhiri acara malam itu. Dan sebelumnya, setiap pemuka agama diberi kesempatan untuk berdoa untuk keutuhan Indonesia. Baik dari pemuka agama Islam, Kristen, serta Katholik. 
Read more ...

Minggu, 20 November 2016

COD-an

Barang COD-an Online Shop Ditya

[27/10 07.12] Ditya Psi:"Preorder kaos polos 50k saja (exc ongkir) banyak warna"

[27/10 07.15] Johan Psi: "Dalile opo?"

[27/10 07.55] Ditya Psi: "Melu Rassul wae jo"
[27/10 07.55] Ditya Psi: "Bakulan barang halal"
[27/10 07.55] Ditya Psi: "Aku ki gur cah elon2"

[27/10 07.57] Arez Pyton: "Kui nggo samben cocok iku"

[27/10 07.57] Johan Psi: "Cah like and share ora?"

[27/10 07.58] Ditya Psi: "Nek like and share dagangan ku mbok tukoni, tak like and share 😁"
[27/10 07.58] Ditya Psi: "Ayo dipayoni"
[27/10 07.58] Ditya Psi: "Gen koyo antek yahudi Mark Zukerberg"
[27/10 07.59] Ditya Psi: "Mumpung lagi trend style minimalis"
[27/10 07.59] Ditya Psi: "Milyader hobi kaosan polos"

[27/10 07.59] Johan Psi: "Kaosku yo polosan kabeh saiki"

Di atas adalah potongan transkip percakapan dalam sebuah grup wasap yang saya ikuti. Grup wasap tersebut berisi begundal-begundal anak psikologi UNS angkatan 2009. Dan percayalah, tak ada yang penting dalam percakapan grup wasap tersebut. Seingat saya, hanya sekali saja kami diskusi serius di dalam grup tersebut. Yaitu ketika diskusi untuk membahas kado buat pernikahan Johan, satu tahun yang lalu. Dan kini, Johan sudah menjadi seorang ayah.

Hasil diskusi tersebut, kami semua sepakat untuk memberi kado Johan dengan sejumlah sempak, yang menurut Ditya tak lekang oleh waktu. Kami beri beberapa sempak yang cukup untuk selama seminggu. Kopi kapal api kesukaan Johan. Dan dua judul buku yang yang saya tahu betul Johan sangat mengagumi pemikiran-pemikiran penulisnya.

Eh, tunggu dulu, Anda anggap hal tersebut tidak penting? Mungkin dalam hal ini frekuensi otak kalian tidak sama dengan kami. Mungkin kalian sudah terbawa dengan media sosial yang semakin "brisik" ini. Karena apa yang kalian anggap tidak penting justru sangat penting bagi kami. Bagi kami, media sosial sudah darurat hiburan, sejak copras-capres dan hajatan 5 tahunan Jakarta, membuat mereka yang tidak ber-KTP Jakarta juga ikut nimbrung.

Okey, jangan melebar membahas situasi media sosial yang semakin "brisik" ini. 

Dalam sebuah grup wasap tersebut. Setelah sekian lama tak berjumpa, Ditya sedang merintis usaha online shop. Di saat orang-orang sedang memikirkan desain untuk kaos yang akan dijualnya. Ditya seperti tidak ambil pusing. Berbekal dari pengalaman diri sendiri yang menganut paham "sik penting simpel". Kaos polos aja ada peminatnya, ngapain repot-repot pusing mikir desain? Dan sepertinya Ditya ingin menarik hati mereka yang satu ideologi dengan dirinya. Jadilah ia berjualan kaos polos impor.

Saya yang sudah hampir satu tahun ini berpuasa untuk tidak melakukan belanja baju baru. Bahkan lebaran kemarin pun saya juga tidak membeli pakaian baru. Namun, entah kenapa saya kok ya tertarik untuk order di tempat Ditya. 

Padahal, saya sempat berpikir keras ketika mulai merapikan baju-baju yang berada di sebuah lemari kecil yang terletak di sudut kamar. "Kenapa saya membeli baju sebanyak ini?" Padahal saya hanya butuh baju sekitar 4 stel yang bisa dipakai dan dicuci bergantian. "Kenapa harus ada baju untuk kerja, untuk harian. Dan lebih ekstrim lagi, untuk tidur pun harus pakai baju khusus?" Tapi lupakan saja kegelisahan saya ini, ini weekend, sudah males mikir.

Kebetulan saya juga bukanlah pemuja fesyen. Itu artinya saya tidak peduli dengan sebuah brand. Apa yang menurut saya bagus, nyaman dipakai, dan tentu bandrol harganya juga terjangkau. Udah, itu sudah cukup untuk menjadi sebuah standar dalam membeli sesuatu.

Bagi saya, diri kita dilihat bukan dari merk dan banderol harga baju kita. Namun lebih ke tutur kata dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.

Dan karena alasan: simpel, bagus, nyaman dipakai, serta harga terjangkau untuk ukuran buruh di balik meja seperti saya ini. Saya pun order satu potong kaos berkerah.

Sekalian ingin bersilaturahmi dengan Ditya, Saya lebih memilih COD daripada harus melalui jasa transfer.

Melakukan COD di manahan. Dan setelah saya amati dengan seksama Ditya yang memilih tempat di sebelah taman baru manahan. Tempat remang-remang, yang waktu saya amati sekitar. Ternyata tepat di sebelah kami melakukan COD-an, ada sepasang sejoli sedang asyik pacaran.

Jadilah prosesi COD-an yang dilakukan secara sakral, disaksikan oleh dua sejoli yang sedang asyik berpacaran. "Saya terima barang berupa kaos polo shirt, seharga 75rb, dibayar tunai dengan uang 100rb, dan kembaliannya 25rb. Sah?" Kemudian, dua sejoli yang sedang berpacaran pun sebagai saksi akan berkata "Sah!"

Tentu tidak begitu juga, itu hanya sekedar imajinasi liar saya saja. 

Meski Ditya sudah akrab dengan saya, ia melakukan sesuai SOP. Ya mirip kaya transaksi narkoba gitulah. "Barangnya mana?" Kemudian saya cek. "Halah, dianggap langsung cocok wae lah, kesuwen" kata saya kepada Ditya. Saya langsung menyerahkan uangnya. "Sik, foto dulu, harus sesuai SOP"

Bagi kalian yang sedang ingin berpenampilan simpel. Hubungi kawan saya saja. Jangan sungkan untuk tanya-tanya dulu. Saya jamin fast respon, orangnya juga ramah, sekarang orangnya masih studi S2. Tapi sudah punya calon lho. 

Tapi kalo mau kepincut silakan, sama daganganya tapi. Di jamin kualitas bagus, harga terjangkau. 
Read more ...

Rabu, 16 November 2016

Selamat Johan

Foto yang dikirim Johan via wasap
Jauh, sebelum media sosial ramai tentang adanya pernyataan yang sedikit nggapleki. Yaitu tentang adanya sebuah opini di media yang menyatakan bahwa kejadian bom molotov di depan gereja yang menyebabkan meninggalnya gadis mungil yang tak berdosa, itu hanya dianggap sebagai pengalihan asu, eh maksud saya isu. 

Dan beberapa jam sebelum media arus utama ramai memberitakan tentang status Ahok yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka, atas kasus dugaan penistaan agama. Melalui grup wasap yang saya ikuti. Ada berita dari seorang kawan yang beberapa hari yang lalu mentraktir saya sebuah nama domain untuk blog baru saya. 

Selain itu, kawan saya tersebut juga beberapa hari ini sedikit saya repotkan untuk membantu saya berada di balik meja hrfile.net. Setidaknya berkat tangan dinginnya, tampilan blog baru saya menjadi sedikit lebih kece. Saya percaya dengannya, karena tampilan blog bersama lobimesen.com juga dari hasil tangan dinginnya. 

Dan melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada yang bersangkutan.

Dalam sebuah grup wasap, kawan saya tersebut mengirimkan sebuah pesan suara. Pesan suara yang ketika saya dengarkan baik-baik. Adalah suara tangisan bayi yang seperti baru saja dilahirkan ke dunia. Kawan saya tersebut seperti sedang berbagi kebahagian dengan kelahiran anak pertamanya. Bayi perempuan yang baru saja dilahirkan dengan penuh perjuangan. Lahir secara normal dengan berat 4,3 dari rahim seorang istri yang begitu ia cintai.

Pesan wasap darinya seolah menandai, bahwa statusnya sekarang sudah naik lagi. Yang sebelumnya berstatus suami siaga; siap antar jaga. Kini sudah naik satu level lagi, yaitu menjadi seorang ayah. Kini tambah berat tanggung jawab yang diembannya. Ia sekarang sudah menjadi imam bagi istri dan anaknya. Padahal menjadi imam untuk dirinya sendiri saja sudah berat. Namun, yang namanya manusia, ia akan terus berproses.

Dan sepertinya saya tidak perlu berbasa-basi lagi. Saya hanya ingin mengucapkan selamat buat kawan sekaligus sahabat saya: Johan, atas kelahiran anak pertamanya. Sudah terlalu banyak doa yang dipanjatkan untuk keluarga sampeyan. Saya cukup mengamini segala doa itu saja. 

Doa saya singkat saja bro. Semoga bisa menjadi imam yang baik bagi anak dan istri panjenengan. Serta semoga dedek bayi menjadi anak yang sholehah. Dan yang paling penting, semoga tidak se-liberal bapaknya. 
Read more ...

Mendidik dengan Kambing

Belajar Mencintai Kambing. Adalah buku kumpulan cerpen pertama karya Mahfud Ikhwan. Iya, Mahfud Ikhwan penulis novel "Kambing dan Hujan" yang berhasil memenangkan sayembara menulis novel yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta, pada tahun 2014 lalu. Kebetulan saya juga sudah melahap habis novel tersebut. Dan isinya benar-benar menarik.

Buku kumpulan cerpen "Belajar Mencintai Kambing" ini saya dapatkan, ketika salah satu tulisan saya, yaitu tentang salah satu ikon kuliner Boyolali; Soto Segeer Mbok Giyem, dimuat di situsweb minumkopi.com. 

Sebenarnya, ada beberapa pilihan terbitan buku mojok yang bisa saya dapatkan. Namun, saya lebih tertarik dengan buku kumpulan cerpen pertama dari Mahfud Ikhwan itu. 

Buku kumpulan cerpen tersebut saya terima satu minggu setelah tulisan saya dimuat, tentu beserta uang ngopi sebagai honor atas dimuatnya tulisan saya tersebut. Kebetulan buku tersebut dikirim ke alamat kantor saya. Setelah menerima buku tersebut, tidak sabar saya untuk segera membacanya.

Ada beberapa cerpen dalam buku tersebut. Dan semuanya terbagi menjadi 3 bab, atau bagian. Yaitu bagian pertama yang ia beri nama dengan "Belajar". Bagian kedua dan ketiga, ia beri nama: "Mencintai" dan "Kambing"

Dari semua cerpen yang ada dalam buku tersebut. Cerpen yang berjudul sama dengan judul buku kumpulan cerpen tersebut yang paling saya sukai, yaitu "Belajar Mencintai Kambing"

Cerpen yang berjudul "Belajar Mencintai Kambing" bercerita tentang seorang anak kecil yang merengek kepada ayahnya agar dibelikan sepeda. Namun, bukan sepeda yang diberikan oleh ayahnya. Tapi seekor kambing. Sebagaimana seorang anak kecil yang tidak dituruti keinginannya, ia merengek dan merasa bapaknya tidak menyayanginya. Bahkan sempat mempertanyakan apakah dia anak kandungnya atau bukan.

Meski awalnya si anak sangat membenci kambing tersebut. Karena dengan adanya kambing tersebut, itu artinya waktu bermainnya akan sedikit tersita karena harus mengurusi kambing pemberiaan ayahnya. Perlahan tapi pasti, si anak mulai belajar mencintai kambing. Dan belajar bertanggung jawab terhadap kambing miliknya. Karena alasan tanggung jawab itulah kenapa sang ayah membelikan kambing. Karena ia sedang mendidik anaknya agar lebih bertanggung jawab.

Pada akhirnya, si anak bisa menikmati perannya sebagai pengembala kambing. Mengembala kambing tak ubah seperti halnya dengan bermain. Ia hanya mencari tanah lapang yang penuh dengan rumput. Menali kuat-kuat kambing dengan tali panjang. Sambil menunggu kambingnya kenyang ia bisa bermain apapun di sekitar tanah lapang tersebut. Kemudian, sebelum pulang ia menyabit beberapa rumput sebagai makanan cadangan kambing di kandang. 

Di saat ia sudah bisa mencintai kambing, musibah menimpa ayahnya. Dan kambing pun dijual oleh ayahnya. Si anak benar-benar merasa kehilangan. Dan disaat seperti itulah ia sadar akan perkataan ayahnya, "Bahwa manusia bisa menjadi lebih jahat dari kambing" 

Untuk lebih jelasnya, saya persilakan untuk membaca sendiri cerpennya. Hehehe
***

Membaca cerpen "Belajar Mencintai Kambing" saya jadi teringat dengan sesuatu yang dilakukan oleh Om saya kepada diri saya. Tentang bagaimana beliau mendidik saya, agar lebih bertanggung jawab.

Jika dalam cerpen tersebut, si anak dididik untuk bertanggung jawab dengan cara membelikannya seekor kambing. Maka yang dilakukan oleh Om saya adalah mengambilkan sebuah motor baru, kemudian membayar angsurannya setiap bulan.

Hal itu dilakukan oleh Om saya, karena ketika sudah mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Ada perubahan besar pada diri saya. Terutama dalam hal membelanjakan uang. Saya seperti sedang melakukan balas dendam. Dulu semasa kuliah saya berhasil mengekang segala keinginan saya. Namun, hal itu tidak berlaku ketika saya sudah memiliki penghasilan sendiri.

Melihat gelagat saya yang seperti itu. Saya kemudian diajak berbicara empat mata oleh Om saya. Pembicaran satu arah dimana Om saya lebih mendominasi tersebut, tidak lain sedang menasehati saya. "Saya tidak minta uang kamu, itu uang kamu, tapi kamu harus bertanggung jawab terhadap pengeluaranmu" katanya dengan nada lirih.

Dari hasil pembicaraan tersebut, akhirnya kami sepakat bahwa saya harus mengambil motor baru. Awalnya saya tidak merasa pengen untuk membeli motor. Karena bagi saya, motor suzuki shogun 125 yang menemani saya dari SMA hingga lulus kuliah masih sangat layak. Namun, setelah bingung mau membeli motor apa. Tidak tahu kenapa, pilihan saya jatuh pada motor matic scoopy. 

Awalnya saya mau membeli motor tersebut dengan cara kredit. Namun, entah karena takut hukum riba, atau selisih harga cash dan kredit terlalu tinggi. Akhirnya motor dibeli secara cash. Dan saya akan menyicilnya setiap bulan, sehabis gajian. Tentu kredit ini tanpa ada tanggal jatuh tempo. Bahkan kalau tidak dicicil pun bukan sebuah masalah.

Tapi, dari motor itulah saya menjadi lebih bertanggung jawab. Meski awal-awalnya berat bagi saya. Mengingat saya belum bisa menyesuaikan dengan pengeluaran saya setiap bulannya. Pelan-pelan saya bisa mengatur keuangan saya. Karena memiliki tanggungan angsuran, saya yang sebelumnya hampir setiap bulan menyempatkan diri untuk nge-mall dan berbelanja baju. Kini mulai menggunakan skala prioritas, dan membedakan mana kebutuhan dan mana hanya sekedar pengen.

Bisa disimpulkan, bahwa memberikan tanggungan angsuran adalah salah satu cara untuk mendidik saya lebih bertanggung jawab dengan keuangan saya sendiri. Yaitu tentang bagaimana mengatur pengeluaran.
Kemudian mengontrol diri saya agar membeli sesuatu berdasarkan kebutuhan, bukan hanya sekedar keinginan, atau bahasa jawanya "penginan"



Di kamar sunyi, 16 November 2016
Read more ...

Selasa, 15 November 2016

Gething Bakal Nyanding

"Jika mencintaimu harus dimulai dengan membencimu, maka aku rela jika harus membencimu"
Riki S

Kalau kata orang jawa, gething bakal nyanding. Atau dalam bahasa Indonesia, mungkin artinya kira-kira begini; ketika kamu membenci seseorang, akan ada saatnya kebencian itu malah berubah menjadi cinta.

Kalau ditinjau dari hukum kekekalan energi. Energi yang dikeluarkan untuk membenci seseorang, sama dengan energi yang dikeluarkan untuk mencintai seseorang. Keduanya sama-sama melelahkan. Namun, saya lebih memilih untuk mencintai.

Kenapa bisa begitu? Bisa saja! Karena ketika kita membenci seseorang, secara tidak sadar kita telah mencurahkan energi kita untuk mencari segala keburukan yang ada pada diri orang yang kita benci. Sedangkan, ketika kita mencintai seseorang, itu berarti kita telah mencurahkan energi kita untuk mencari kebaikan-kebaikan, serta kesamaan yang ada pada diri orang yang kita cintai. Untuk meleburkan perbedaan.

Namun, yang terjadi bisa saja sebaliknya. Seperti yang saya sebutkan di awal, bahwa; gething bakal nyanding. Benci secara perlahan berubah menjadi cinta. Ada sebuah proses di sana. Sebelum cinta itu bersemi. Harus melalui sebuah proses bernama; benci. 

Atau sebaliknya, yang awalnya cinta pun, bisa berubah menjadi benci. Di sinilah ego berperan. Ketika kita mencintai seseorang, dan kecewa dengan orang tersebut. Apa yang awalnya kita sebut dengan cinta berubah menjadi benci. Hal itu seakan membuat  mereka lupa. Bahwa dulu , mereka pernah bahagia bersama.

Sambil menuliskan catatan ini, terdengar sama-samar sebuah lagu yang diputar di handphone milik rekan kerja saya. sebuah lagu yang berjudul, benci untuk untuk mencinta dari naif. 

Mari kita dengarkan lagu tersebut, sambil sruput dulu kopinya. Cekidot


Catatan ringan di sela-sela pekerjaan
Read more ...

Senin, 14 November 2016

Simbah, Adalah Alasan Kenapa Saya Harus Pulang

Setidaknya, hampir setiap akhir pekan saya pulang, meski hanya sekedar untuk menengok Simbah. Di beberapa kesempatan, saya juga menyempatkan diri untuk menginap di rumah Simbah.

Mengunjungi tempat Simbah, adalah salah satu cara saya untuk me-refresh otak, yaitu dengan cara keluar dari rutinitas yang bernama; pekerjaan. Saya suka dengan suasana rumah Simbah. Terutama dalam hal kesederhanaannya. Ketika sedang di rumah Simbah, momen yang paling saya sukai adalah ketika usai bangun pagi. Saya selalu bangun pagi meski hari libur,  kemudian sedikit melakukan aktivitas di pagi hari. Membuat kopi. Menyalakan televisi meski pada kenyataannya tidak saya tonton. Setidaknya hadirnya net.tv membuat saya memiliki alasan kenapa saya sesekali harus menonton televisi. Kemudian sarapan pagi.

Sarapan pagi di tempat Simbah, sederhana tetapi membuat saya merasa bahagia. Dan justru kesederhanaan itulah yang sangat saya sukai. Menu yang disajikan pun benar-benar sederhana. Seperti tempo hari, menu sarapan kami, meski hanya nasi putih, yang berasnya merupakan hasil panen dari sawah sendiri, dan masih dalam keadaan panas, kemudian tempe goreng tanpa tepung, daun singkong dan pepaya, ikan bandeng, serta sambal. Dan semua itu, luar biasa lezatnya bagi saya. Bahkan saya pun sampai nambah.

Meski sekilas nampak tak se lezat ketika makan di warung makan padang. Namun, percayalah, ada sesuatu yang berbeda yang saya rasakan. Terlebih Simbah saya masih mempertahankan cara menanak nasi tempo dulu, meski kini sudah ada magicom. 

Simbah masih memasak menggunakan kayu bakar meski di rumah juga sudah ada kompor gas. Jadi, kompor gas hanya saya gunakan untuk masak air ketika akan menyeduh kopi, atau memasak indomie saat tengah malam.

Kayu bakar didapatkan dari pohon besar yang terletak tak jauh dari rumah. Beberapa bulan sekali, ranting-ranting pohon itu ditebang untuk dijadikan kayu bakar. Meski jauh dari kata kemajuan, namun saya menyukai hal itu.

Masyarakat desa adalah masyarakat yang mandiri. Mereka bisa hidup dari apa yang bisa dihasilkan dari lingkungan sekitar. Di halaman rumah Simbah saya misalnya, ditanami berbagai tanaman. Seperti pohon pisang, yang terkadang karena tidak habis untuk dimakan sendiri, maka harus dijual. Ada pohon pepaya, selain buahnya, daunnya terkadang dijadikan sayur. Pohon singkong, sambil menunggu umbinya besar, daunya bisa digunakan untuk pelengkap makan siang kami, untuk mendampingi sambal. Dan masih banyak lagi tanaman lainnya.

Selain itu, Simbah juga berternak ayam. Namun demikian, sangat jarang Simbah menyembelih ayam-ayamnya untuk dijadikan lauk. Paling hanya telurnya saja yang terkadang diambil sebagian untuk lauk, dan sebagian lagi untuk ditetaskan.

Selalu ada alasan kenapa saya harus pulang. Karena dari kehidupan Simbah lah saya selalu belajar. Bahwa hidup secukupnya itu menyenangkan. Dan seperti kata Jon Jandai dalam sebuah video di youtube, bahwa hidup itu mudah, itu benar adanya. Simbah saya contohnya. 

Namun demikian, simbah seperti tidak percaya bahwa anak cucunya akan bahagia dengan cara hidupnya. Dan ia lebih mempercayakan sekolah untuk masa depan anak-cucunya. Karena itu Simbah sangat peduli dengan pendidikan anak-cucunya. Termasuk dengan pendidikan saya. 

Namun, dari sekolah dan pergaulan lah yang membuat pandangan hidup kita berubah. Hidup bukan lagi tentang kebutuhan. Namun hidup adalah tentang sebarapa banyak materi yang kita dapatkan. Dan di saat seperti itulah hidup akan terasa sulit.

Satu hal yang selalu saya ingat dari simbah saya, beliau pernah berucap "Tugasku hanya membesarkan anak-anakku, setelah itu biarkan mereka bertanggung jawab sendiri dengan kehidupannya". Sepertinya hal itu benar-benar ia tunaikan. Meski kini anak-anaknya bisa dikatakan mapan dan sudah hidup mandiri, Simbah tidak pernah sekalipun bercerita tentang apa yang sudah dicapai oleh anak-anaknya. Simbah tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya. Dan Simbah lebih memilih diam ketika ia tidak sependapat dengan anak-anaknya. Dan simbah selalu risau ketika mendengar anaknya sedang tertimpa kesulitan.

Dan Simbah. Iya, Simbah lah alasan kenapa saya harus selalu pulang di akhir pekan.


Di kamar sunyi, 14 November 2016
Read more ...

Minggu, 13 November 2016

Mental "Embuh"

Di grup wasap yang saya ikuti, ada seorang kawan yang melontarkan pertanyaan, "Memberi tips kepada tukang ojek itu baik nggak? Dan apa hal itu mampu membentuk mental yang tidak baik?"

Saya kala itu segera merespon pertanyaan kawan saya tersebut. "Kondisional. Ada saat dimana kita memberikan tips karena kita merasa perlu untuk memberikan bayaran yang lebih" begitu kira-kira balasan dari saya.

Kenapa kondisional? Saya berkaca pada pengalaman seorang teman. Waktu itu ia sedang ingin makan pizza. Berbekal salah satu fitur dari aplikasi gojek di handphone android miliknya, yaitu: go-food. Ia memesan di salah satu kedai pizza di Solo via gojek. Padahal rumah teman saya tersebut di daerah Klaten. Butuh sekitar 45 menit-an pesanan sampai di tempatnya. Padahal awalnya ia juga ragu, bakal ada driver gojek yang mau menerima order tersebut. Namun ternyata, ada driver gojek yang menerima order tersebut, dengan biaya jasa antar sekitar 30rb an. 

Di aplikasi gojek ada gps untuk memantau pesanan kita. Nah, pada waktu itu, terjadi hujan deras banget. Dari aplikasi gps, nampak driver gojek sempat berhenti di suatu tempat. Mungkin berteduh sebentar. Atau bisa jadi menepi sebentar untuk memakai jas hujan terlebih dahulu agar pizza pesanan teman saya diterima dalam kondisi baik.

Tak lama lama berselang, dan di luar masih dalam keadaan hujan deras. Ada telpon masuk di handphone teman saya. Ternyata telpon tersebut dari driver gojek yang sudah berada di depan rumahnya. 

Teman saya sengaja membayar semua, yaitu uang untuk bayar pizza pesanan, serta jasa pengiriman pizza tersebut dengan uang lebih. "Sisanya buat Bapak saja, soalnya uda sampai hujan-hujan"

Menurut cerita teman saya tersebut, sisa pembayarannya mungkin sekitar 10rb an. Dan ia ikhlas memberikan uang sisa itu. "Kalo dia sampai sakit, ke dokter aja 50rb, bro" kata teman saya saat menceritakan hal tersebut.

Dan karena cerita dari kawan saya tersebut. Saya menyimpulkan bahwa ada saatnya kita membayar uang lebih, atau uang tips atas kinerja seseorang.
***

Di lain kesempatan. Saya bertemu dengan seseorang yang sedikit gapleki. Cerita ini baru saja saya alami tempo hari. Saat di kantor tempat saya bekerja mengadakan training outbond di kawasan agrowisata di Salatiga. Karena peserta hampir 100 orang, kami menyewa dua bus. 

Saya yang bertugas mengkoordinir peserta outbond pun, juga dititipi uang untuk pelunasan sewa bus. Uang itu rencananya saya serahkan ketika bus sudah mengantarkan kami semua ke perusahaan tempat saya bekerja, karena di situ lah kami semua berkumpul sebelum berangkat. Jadi, pembayaran baru saya lakukan ketika bus sudah purna tugasnya.

Karena peserta ingin mampir dulu ke kawasan Kopeng untuk beli oleh-oleh. Rekan kerja saya selaku penanggung jawab kegiatan acara outbond tersebut melakukan nego dengan pihak bus. Akhirnya sepakat naik ke Kopeng dengan tambahan biaya sebesar 500rb.

Dan baru ketika sampai di Kopeng, dari pihak bus sudah meminta uang pelunasan bus. Saya pun segera melakukan pelunasan bus, serta biaya tambahannya sekalian. Ketika saya membayar uang sesuai kesepakatan dari pihak bus dengan penanggung jawab kegiatan outbond tersebut, yaitu rekan kerja saya. Ada sopir yang nyeletuk, "berarti kurang uang rokoknya" mendengar hal itu, saya langsung menatap tajam orang yang nyeletuk itu. Bukan! Saya bukan mau ngajak berantem. Cuma memastikan yang nyeletuk tadi manusia atau bukan, hehehe

Kemudian ada temannya yang langsung mendinginkan suasana. "Jangan gitu, begini Mas" ia mulai mengajak berbicara dengan saya. "Uang ini kan untuk keperluan sewa bus, barangkali ada, mungkin bisa ditanyakan lagi aja"

Saya tahu maksud beliau. Dan saya pun menanyakan ke rekan kerja saya, selaku penanggung jawab kegiatan outbond tersebut. Dan ia menyanggupi penambahan biaya tambahan tersebut. Ia memberikan uang 100rb sebagai uang rokok. "Udah mas kasih aja, daripada ribet" kata rekan kerja saya sambil memberikan uang.

Tidak sampai di situ, ada lagi suatu momen di mana saya bertemu dengan manusia gapleki lainnya. Masih di tempat yang sama. Ada petugas parkir yang menagih uang parkir kepada saya. Dua bus, 60rb rupiah. Sebelum membayar, saya meminta karcis retribusi terlebih dahulu. "Ndak ada Mas, jam segini sudah tutup soalnya" mendengar hal itu, saya sedikit menaikan tekanan suara saya "Yo, nggak bisa, kalo ada karcis retribusi saya langsung bayar, Pak. Soalnya nanti biar bisa saya klaim juga"

Anehnya, si petugas parkir tiba-tiba menuju ke suatu tempat dan membawa karcis retribusi parkir, yang sebelumnya berkata sudah tidak ada. Mendengar pembicaraan saya dan tukang parkir, driver kantor yang membawa Factory Manager saya pun ternyata juga membayar parkir tapi belum mendapatkan karcis retribusi buat tanda parkir. Si petugas parkir pun kembali ke tempatnya dan membawakan karcis retribusi parkirnya.

Pernah juga, saat saya berpergian ke tempat wisata di agrowisata Karanganyar. Kala itu kami datang menjelang sore hari, ketika sebagian orang sudah mulai keluar dari kawasan agrowisata. Dan ketika akan memasuki wahana jembatan gantung menuju sebuah rumah pohon. Ada yang menagih uang, katanya tempat retribusi tutup, jadi langsung bayar saja. Dan kala ditagih uang. Saya menjadi sosok manusia yang pelit. Saya tidak mau membayar jika tidak ada retribusinya. Si penjaga nampak sedikit kesal, namun entah kenapa saya tetap diijinkan masuk bersama keponakan saya.

Dari beberapa kejadian tersebut, saya seperti harus merevisi jawaban atas pertanyaan kawan saya yang ia lontarkan di grup wasap yang saya ikuti. Ketakutannya sepertinya terbukti, yaitu memberi tips hanya akan membentuk perilaku yang tidak baik. Dan membuat seseorang bermental "embuh". Bermental "embuh" yang saya maksud adalah, mental yang jelas tidak baik. Silakan terjemahkan sendiri mental embuh yang saya maksud. Karena saya tidak menemukan kata yang lebih halus dari mental pengemis.

Uang tips yang sejatinya, kalo dikasih ya di terima, kalo nggak dikasih yang tidak apa-apa. Atau bahasa jawanya "rapatheken". Bukan karena tidak dikasih uang tips, terus dengan tanpa malu ia justru malah meminta.

Atau malah melakukan pungutan halus dengan tetap menerima uang parkir atau masuk ke tempat wisata tanpa ada karcis retribusi. Karena saya yakin, tanpa ada bukti karcis retribusi bisa dipastikan itu hanya akan menjadi tai. Alias masuk ke kantong pribadi.

Mau jadi apa bangsa ini, dengan mental seperti itu, embuh lah. . . .
Read more ...

Jumat, 04 November 2016

Acara “Hore” Bareng BPJS TK

Berfoto selfie di Batu alien

Sore itu, saya sudah siap akan pulang dari kantor. Baru saja keluar dari gerbang, karena kebetulan motor saya parkirkan di luar. Secuirity yang sedang bertugas di pos jaga memanggil saya kembali. Katanya, saya dipanggl oleh manager saya. Pikir saya kala itu, akan ada meeting dadakan. Dan saya cuma bisa mbatin “Nasib!, baru mau pulang, malah diajak meeting”

Namun, ketika saya menghadap ke Pak Manager, beliau langsung bertanya kepada saya, “Jumat – sabtu kamu ada acara nggak, Kik?” Saya yang kala itu belum mempunyai agenda apapun, menjawabnya dengan jawaban yang agak diplomatis, “Sementara ini belum sih, Pak”
“Okey, ini hadiah buat kamu, karena saya Jumat – sabtu ada acara, jadi kamu yang mewakili”

Beliau memberikan sebuah undangan kepada saya. Waktu saya baca, ternyata undangan gathering dari BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Saya membayangkan bahwa acara tersebut akan berjalan formal, serius, dan pasti membosankan. Namun, setelah manager saya menjelaskan sedikit hal tentang acara tersebut. Bahwa acara tersebut akan diadakan di Hotel Griya Persada Resort, Kaliurang, serta akan di akhiri dengan kegiatan outbond. Saya pun menerima undangan tersebut. Itung-itung dapat liburan gratisan, pikir saya.

Karena harus check in jumat sore. Saya yang sudah order mobil fasilitas dari perusahaan sehari sebelumnya. Kemudian, jumat pagi saya berangkat kerja langsung membawa baju ganti yang akan saya pakai dalam acara gathering BPJS Ketenagakerjaan tersebut. Kebetulan acara intinya adalah Gathering Night and Gala Dinner dengan tema coboy. Karena acara ulang tahun kantor tempat saya bekerja tahun lalu juga ber-tema-kan coboy, saya tidak kesulitan dalam memperoleh baju coboy. Cukup baju motif kotak-kotak, celana jeans biru, serta topi coboy.
selfie dengan costum coboy
Sekitar pukul 15.00 saya berangkat dari kantor menuju Kaliurang. Dan saya beruntung, karena driver yang membawa saya kala itu, adalah seorang driver yang sukses membuat saya tidak bisa tidur di mobil, karena saya selalu merafalkan doa-doa keselamatan. Mengingat gaya mengemudinya sedikit slengekan. Namun demikian, saya harus berterima kasih kepada driver saya kala itu, karena dia tidak mau ngalang lewat prambanan, dia memutuskan untuk melewati jalur alternatif yaitu lewat cangkringan (kalo tidak salah). Dan hanya sekitar dua jam perjalanan, dengan diiringi drama harus bertanya di setiap pertigaan ataupun perempatan yang membuat kami semua ragu. Mengingat saya tidak bisa memastikan melalui GPS di handphone saya, mengingat ketiadaan sinyal.

Kurang lebih pukul 5 sore, saya check in di hotel. Kemudian mandi, membuat kopi serta menonton tv sambil menunggu acara.

Tidak lama kemudian, teman satu kamar saya datang. Seorang senior HR di perusahaan tetangga. Satu kamar, harusnya diisi bertiga, namun untuk kamar kami, nampaknya hanya diisi dua orang saja. Karena yang satu berhalangan untuk hadir.

Meski bisa dibilang sudah tidak muda, kawan satu kamar saya, adalah orang yang memiliki selera humor yang tinggi. Betapa tidak, saya pun dibuat malu olehnya. Ketika makan malam, kami yang datang hanya memakai kaos dan sandal jepit, namun mencoba untuk tetap percaya diri, meski yang lainnya sudah berpakaian lengkap sesuai tema malam itu; yaitu coboy.

Sehabis makan, saya kemudian buru-buru untuk berganti dengan pakaian coboy. Kemudian, tak lengkap rasanya mendaku diri sebagai orang yang kekinian namun tidak menyempatkan untuk berfoto bersama, maupun selfie di foto board yang telah disediakan oleh panitia acara. Kami semua seakan lupa akan usia. Berfoto layaknya abege masa kini dengan segala kekonyolannya.

Sebelum duduk di meja yang telah disediakan, saya mlipir sebentar untuk mengambil secangkir kopi, untuk menjaga mata ini agar senantiasa terus terjaga. Ketika acara dimulai. Bayangan acara yang bakal berjalan, secara formal, dan membosankan sirna begitu saja. Karena malam itu adalah sekumpulan acara “hore” yang sifatnya sekedar untuk menjalin keakraban.

Acara gathering night and gala dinner malam itu juga diisi dengan bagi-bagi doorprize. Saya pun kecipratan doorprize karena telah dipermalukan dengan dikerjain mc acara untuk joget-joget yang nggak jelas. Meski saya sadar sedang dikerjai, saya menikmati malam itu. Hiburan musik acoustic, kemudian ada sesi motivasi dari dr Andre, serta dagelan dari duo apalah, yang kebetulan saya lupa namanya. Membuat kita semua seakan lupa dengan pekerjaan kita masing-maing.

Saya sangat menikmati acara malam itu, meski saya baru pertama kali mengikuti acara yang diadakan oleh BPJS Ketengakerjaan tersebut. Kebanyakan dari peserta sudah saling kenal, mengingat acara tersebut, bukan kali pertama diadakan.

Puas dengan acara hore malam itu, kami semua kembali ke kamar kita masing-masing. Mengingat sehabis shubuh kami semua akan mengikuti kegiatan 2. Dan target kami pagi itu adalah menikmati sunrise.

Apes memang, saya dan teman kamar saya tidak bisa langsung tidur. Kami terlibat dalam sebuah obrolan, dan mungkin baru sekitar pukul 01.00 kami tertidur. Beruntung saya sudah menyetel alarm handphone saya. Jadi sekitar pukul 04.00 saya sudah bangun dan sholat shubuh. Tanpa mandi terlebih dahulu, saya berganti dengan kaos yang disediakan oleh panitia, kemudian berkumpul di depan hotel.

Di depan hotel sudah terparkir deretan mobil-mobil jeep yang akan mengantar kami napak tilas menyusuri desa-desa yang terkena dampak langsung awan panas, atau sering disebut dengan wedus gembel.

Saya satu jeep dengan tiga karyawan dari BPJS Ketenagakerjaan. Satu laki-laki yang merupakan staff IT, dengan dua perempuan yang lagi-lagi saya lupa berkenalan dengan mereka. Beitulah saya, ketika sudah saling nyaman buat ngobrol, apalah arti sebuah nama.

Meski sudah berusia tidak lagi muda, namun driver kami cukup trengginas ketika mengendarai jeep di medan-medan yang terjal. Driver kami seakan sedang pamer ketangkasan, serta melakukan pembuktian bahwa ia lebih jago daripada Vin Diesel dalam film Fast and Furious.

Selain menjadi driver yang mengantar kami ke setiap titik tujuan kami, beliau juga menjadi tour guide dan menjelaskan tentang daerah-daerah yang kami lewati. Setidaknya ada tiga titik yang kami jadikan tujuan dalam acara lava tour pagi itu. Pertama, sesuai tujuan kami, yaitu melihat sunrise, yaitu di bekas banker, yang bernama Kali Adem. Tiba di sana, kami langsung mengambil spot-spot paling keren untuk berfoto dengan background gunung merapi.

Sehabis dari kali adem, kami semua menuju ke batu alien. Ada juga yang menyebutnya dengan batu alihan. Saya tidak tahu pasti. Baru sampai di batu tersebut, sang driver yang tadinya menjadi driver sekaligus tour guide, kini ia menjelma menjadi fotografer kami.

foto hasil jepretan driver kami

Dan titik terakhir, dalam perjalanan lava tour adalah di mini musium. Mini musiun tersebut, dulu adalah rumah milik seorang lurah. Museum tersebut berisi sisa-sisa peninggalan atau barang-barang yang tersisa pasca erupsi merapi. Banyak sekali barang-barang yang berada di musium tersebut, seperti sepeda motor yang seperti habis terbakar, sapi yang hanya tinggal tulang saja, serta perabotan rumah tangga yang sudah meleleh karena terkena wedus gembel.

Untuk mengakhiri perjalanan lava tour, kami semua diberi bonus dengan offroad di sungai, serta bermain basah-basahan. Saya ketagihan dengan manuver-manuver driver kami, dan meminta satu putaran lagi, meski kawan saya yang berada di belakang sudah ingin menyudahi saja offroad di sungai tersebut. Namun sang driver justru langsung tancap gas dan menuruti keinginan saya.

Ada kejadian yang sempat membuat perjalanan lava tour menjadi sedikit menegangkan. Salah satu jeep di rombongan kami tiba-tiba macet ketika offroad di sungai. Kemudian mobio jeep yang saya tumpangi berhasil mengevakuasi dengan menariknya. Namun, ketika mobil yang macet tersebut mulai menyala, mobil tersebut justru menabrak kami dari belakang. Kami belum memiliki firasat apa-apa kala itu.

Tepat di depan hotel, ketika jeep-jeep sudah mulai terparkir dan menurunkan kami semua. Terdengar suara “duerrrrrr!” ternyata mobil jeep yang sempat macet di sungat tersebut menghantam tembok, dan salah satu penumpang terpental. Setidaknya ada 3 penumpang dalam jeep tersebut, dan mereka bertiga segera kami tenangkan dengan diberi air minum, agar tidak shock. Dan ternyata jeep yang mereka tumpangi remnya blong. Bersyukur kejadian tersebut terjadi ketika kami sudah berada di depan hotel. Saya tidak tahu apa yang terjadi jika kejadian rem blong tersebut terjadi ketika sedang offroad di medan yang terjal penuh bebatuan.

Tanpa mandi terlebih dahulu, kami semua langsung menuju restoran di hotel tersebut untuk sarapan pagi. Saya dan kawan baru saya mengambil nasi goreng serta jus jambu untuk sarapan pagi itu. Baru sehabis sarapan masih ada satu acara hore lagi, yaitu; outbond.

Fasilitator outbond saat itu tidak asing bagi saya. Dan ternyata ia juga merupakan HRD di salah satu peruahaan yang pernah saya lamar. Namun, nampaknya saya gagal seleksi di perusahaan tersebut.

Kegiatan outbond ternyata tidak kalah hore-nya dari acara-acara sebelumnya. Kami semua menikmati setiap sesi outbond yang menekankan pentingnya kerja sama dalam sebuah tim. Setidaknya ada 3 jenis outbond yang kami lakukan siang itu. Dua game bertanding secara tim. Dan satu game yang harus kami pecahkan secara bersama-sama.

Selesai outbond, dilanjutkan dengan penutupan acara, oleh kepada BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Kemudian biar lebih afdol tentu dilanjutkan dengan sesi foto-foto. Baru kemudian kami menikmati coffe break. Serta kemudian kembali ke kamar-kamar untuk mandi dan bersiap check out.

Acara gathering tersebut, di akhiri dengan makan siang bersama. Karena saya tidak dijemput, saya pun memutuskan untuk nebeng dengan kawan baru saya yang ternyata juga bertempat tinggal di Boyolali juga.

Sebelum pulang, saya pun menepi sebentar untuk membeli oleh-oleh, apalagi kalau bukan bak pia. Dan sebagai ucapan terima kasih, tak lupa saya menitipkan oleh-oleh untuk keluarga kawan baru saya yang mobilnya bersedia saya tumpangi.
***
Sebenarnya saya juga menuliskan kegiatan tentang ini untuk keperluan postingan di lobimesen.com. Namun sengaja saya menulis lagi, semata-mata ingin mengabadikan kegiatan “hore” yang pernah saya ikuti.

Tidak lupa saya berterima kasih dengan Pak Bos atas liburan gratisannya. Sering-sering aja ngajak saya untuk acara-acara hore selanjutnya ya, Pak. hehehe



Berikut oleh-oleh dari kaliurang
Di bekas banjer Kali adem

foto di atas jeep

foto dengan dreecode coboy

Read more ...