Jumat, 29 Januari 2016

Tak Ada Khutbah Jumat Hari Ini.

Pagi-pagi aku sudah menjalani rutinitasku. Aku pergi ke kantor kurang lebih pukul 05:15. Udara lumayan dingin pagi ini, namun hal itu tak menyurutkan niatku untuk berangkat bekerja. Apalagi sorenya, kemungkinan sms dari 3355 akan mengabarkan bahwa gaji bulan ini sudah di transfer ke masing-masing rekening karyawan level staff.

Seperti biasanya, setelah memastikan karyawan sudah masuk serta sudah mulai bekerja, dan memberi pengarahan jika ada karyawan yang datang terlambat. Aku menuju ke office atas, menyalakan komputer, sambil menunggu komputer menyala, aku biasanya menyeduh kopi pagiku.

Kopi pagi ini, aku membuat kopi tanpa ampas yang aku tambahkan gula secukupnya serta creamer. Sambil menikmati kopi aku membuka situs-situs portal berita online untuk sejenak melihat apa yang sedang ramai di media sosial.

Selesai minum kopi, tetap seperti biasanya. Aku turun ke produksi untuk mengklarifikasi absensi. Aku kali ini memanggil dua karyawan yang beberapa hari yang lalu tidak masuk kerja tanpa keterangan. Aku memberi pengarahan dengan sedikit nada tinggi untuk membuat sebuah komitmen kepada karyawan agar memperbaiki masalah absensinya.

***
Tidak ada karyawan baru hari ini. Jadilah hari jumatku kali ini terasa lebih santai. Hampir setiap pagi biasanya selalu ada karyawan baru. Biasanya karyawan baru aku suruh datang untuk masuk jam 07:00 pagi, karena bisa dibilang adalah pertama masuk kerja, dan kemudian hari aku minta untuk masuk shift normal. Kemudian aku menyuruh untuk mengisi data karyawan, form aplikasi mandiri, form BPJS, baik BPJS kesehatan maupun ketenagakerjaan. Kemudian aku melakukan briefing sebagaimana memberi tahu hal-hal yang berkaitan dengan jam kerja, perjanjian kerja, serta tata tertib perusahaan.

Hari jumat, biasanya tidak ada rekruitmen, kalau pun ada tidak sebanyak hari-hari biasa. Namun untuk kali ini, ada tiga calon karyawan. Untuk posisi worker, untuk secuirity dan mechanic head. Kalau ada panggilan interview biasanya Bu Devi (partner kerjaku) sudah menaruh CV di atas mejaku dan tentu dia juga meninggalkan memo pada secarik kertas.

Dari ketiga, hanya satu yang bisa dikatakan lolos seleksi interview, yaitu untuk posisi mechanic head, posisi ini selevel dengan asisten manager. Jadi tinggal tes kesehatan, kemudian setelah itu tes interview ke user.  Jika user sudah mengatakan “Oke” aku tinggal melakukan psikotes. Kenapa psikotes-nya terakhir sebelum finalisasi? Karena aku tidak mau membuang-buang waktu melakukan psikotes yang memerlukan waktu lebih dari dua jam untuk psikotes kandidat yang belum tentu user mau.

Meski ada juga user yang “cerewet” ingin melihat dulu hasil psikotes-nya terlebih dahulu. Kalau sudah begitu, aku tidak bisa berkata “tidak!”. Dan tetap melakukan psikotes. Mungkin dalam hal ini user yang “cerewet” itu juga tidak mau membuang-buang waktu untuk melakukan interview kandidat yang hasil psikotes-nya belum tentu bagus.

Aku menjadwalkan psikotes akan dilakukan pada hari ini juga, karena kandidat berasal dari Jawa barat. Tidak mungkin jika aku menjadwalkan di kemudian hari. Sekitar pukul 10:30 siang, aku menjadwalkan psikotes-nya, karena aku harus istirahat makan siang terlebih dahulu. Ohiya karena aku masuk shift pagi, jadi istirahatku pukul 09:45.

Setelah makan siang, aku menuju ruang rekruitmen untuk melakukan psikotes. Dan sebelum melakukan psikotes aku menanyakan apakah dia muslim atau bukan. “Mohon maaf, Anda muslim?” tanyaku sebelum melakukan psikotes.
“Iya, saya muslim, Pak”Jawabnya yang tetap sopan meski aku jauh lebih muda darinya. Kemudian aku membuat kesepakatan, karena hari ini adalah hari jumat, maka psikotes akan dibagi menjadi dua tahap, beberapa sub tes akan dilakukan sebelum jumatan, dan beberapa sub tes lagi akan dilanjutkan setelah jumatan.

Sekitar pukul 11:30 aku mengakhiri psikotes meski belum selesai. Sesuai kesepakatan akan kami lanjutankan setelah sholat jumat. Kemudian aku mempersilakan untuk makan siang terlebih dahulu, bersama dengan karyawan day shift yang sedang istirahat makan siang. Untuk hari jumat, jadwal istirahat karyawan day shift maju, jadi pukul 11:30 karena digunakan juga untuk persiapan sholat jumat, namun untuk jadwal pulang masih tetap sama, meski jadwal istirahat maju setengah jam.

***
Sebuah kejadian terjadi ketika hendak sholat jumat. Aku kala itu menuju ke office untuk mengambil kunci motor yang kebetulan berada di dalam tas. Aku hendak mengambil kunci motor karena baru ingin ke masjid dengan motor. Biasanya aku lebih sering berjalan kaki ke masjid ketika hendak sholat jumat.

Sesampai di dalam office, aku yang merasa haus mengambil gelas yang tersimpan di dalam laci, kemudian membuka kran pada dispenser. Terdengar suara dari HT, bahwa terjadi kecelakaan kerja pada karyawan bagian cutting. Kemudian korban langsung di bawa ke poliklinik untuk mendapatkan pertolongan pertama. Aku segera menyusul ke poliklinik untuk memastikan seberapa parah lukanya.

Waktu aku mulai masuk ke poliklinik, nampak sudah ramai di sana, terlihat bercak-bercak darah di lantai poliklinik. Korban masih dalam keadaan sadar, dan darah masih mengalir terus dari luka yang berada pada jari tengah tangan kirinya. Aku yang mulai sedikit panik mulai membagi tugas, ada yang membuat surat ke trauma center, dan ada juga yang menghubungi pihak keluarga agar segera menyusul ke RSUD Boyolali, yaitu RS Pandan Arang.

Apesnya mobil operasional perusahaan sedang berada di luar semua. Kemudian ada yang langsung kontak ke manager-ku untuk meminjam mobilnya, kebetulan beliau membawa mobil pribadi. Untung ada mobil yang dari semarang baru datang dan bisa dipinjam, sekaligus dengan diriver-nya. Jadi tidak jadi meminjam mobil pribadi manager-ku. Kemudian aku yang seharusnya membuat trauma center, semakin panik ketika waktu aku tanya, apakah membawa kartu BPJS ketenagakerjaan atau tidak, namun jawabnya “Aku belum dapat kartu BPJS Ketenagakerjaan, Pak”
“Matih!” pikirku. Kemudian yang ada dikepalaku adalah bagaimana agar segera mendapat tindakan dari dokter, mengingat luka dari pisau cutting, masih mengeluarkan darah terus. Kemudian aku ke teman-temannya meminta nomor telpon keluarganya, kebetulan ada kerabatnya yang juga bekerja di perusahaan tempatku bekerja. Namun ketika aku suruh menghubungi pihak keluarga malah jawabnya “aku tidak tega, Pak, jika harus menhubungi keluarganya”

Aku segera mengambil keputusan, segera bawa ke rumah sakit dan tetap berusaha menghubungi keluarganya ketika dalam perjalanan ke rumah sakit. “Yang penting segera mendapat tindakan” pikirku kala itu yang sedikit panik. Sebelum ke membawa ke rumah sakit, aku menyerahkan kunci ruang rekruitmen kepada Bu Devi, partner kerjaku sekalian meminta tolong untuk melanjutkan psikotes yang akan dilanjtukan sehabis sholat jumat.

Sebelum berangkat, rekan kerjaku baru datang dari dinas luar, dan sepertinya sudah tahu permasalahan kami, yaitu masalah kartu BPJS. beliau adalah bagian legal, dan yang biasa mengurusi ketika masalah BPJS, Kemudian rekan kerjaku tersebut, membuatkanku trauma center, yang kebetulan form-nya dari tadi aku bawa kemana-mana, namun karena sedikit panik aku lupa mengisinya. Kemudian menyuruhku untuk segera ke rumah sakit dan akan membantu mengurusi masalah kartu dengan menghubungi pihak BPJS.

Di perjalanan pihak keluarga korban berhasil aku hubungi, aku memberi kabar agar segera menyusul ke rumah sakit, tentu dengan cara yang lebih santai agar pihak keluarga tidak ikut panik. Dan selang beberapa saat, rekan kerjaku telpon bahwa sudah ada jawaban dari BPJS ketenagakerjaan, bahwa kartu milik korban masih di kantor BPJS Ketengakerjaan Klaten. Kemudian beliau mengirim fotonya kartu BPJS-nya kepada suster klinik yang ikut merujuk ke rumah sakit melalu pesan BBM.

Aku agak lega, namun bukan berarti semua masalah selesai. Hari ini adalah hari jumat. Aku masih berkewajiban sholat jumat. Ketika mobil kami sudah masuk menuju IGD, aku lihat jam di handphone ternyata sudah jam 12:10. Aku kemudian memastikan karyawan yang mengalami kecelakaan kerja tersebut sudah mendapat tindakan dari dokter, mengingat aku pernah mendapat kabar ada pasien peserta BPJS yang tidak segera mendapat tindakan.

Setelah karyawan-ku sudah mendapat tindakan, aku kemudian meminta kepada suster poliklinik yang turut merujuk ke rumah sakit agar tetap di IGD, karena akan aku tinggal sebentar untuk sholat jumat, dan dia hanya mengiyakan saja, mengingat korban kecelakaan kerja sudah mendapatkan tindakan.

Aku keluar IGD, dan bertanya kepada beberapa orang letak masjid terdekat, namun kebanyakan mereka tidak tahu, karena mereka juga di sana sedang menunggu pasien. Aku bertanya kepada penjual angkringan, dan penjual angkringan tersebut menyarankan untuk sholat di masjid rumah sakit. Kemudian beliau menunjukan arah menuju masjid rumah sakit yang terletak di dalam rumah sakit.

Aku segera ke masjid, dan waktu aku sampai di masjid. Ternyata sudah mulai sholat, dan imam sudah membaca surat yang lumayan panjang setelah surat alfateha. Aku lihat, masjid sudah penuh sesak, bahkan membludak hingga jalan-jalan di lorong rumah sakit, turut di gunakan untuk sholat jumat. Maklum bukan hanya pegawai rumah sakit saja yang sholat jumat di masjid rumah sakit itu, namun juga mereka yang sedang menunggu pasien.

Aku kesulitan menuju ke tempat wudhu. Dan aku beranikan diri untuk memohon ijin meminjam toilet di ruang rawat inap untuk wudhu dan segera ikut sholat jumat. Dan selesai wudhu aku turut bergabung sholat jumat, tanpa sajadah, aku hanya mengusap lantai tempatku sujud dengan tangan yang masih basah sehabis wudhu tadi. Kemudian aku sholat jumat dengan ketinggalan satu rekaat.

Aku menyelesaikan sholat jumatku yang tertinggal satu rekaat tadi. Kemudian tanpa dzikir panjang aku berdoa dan memutuskan untuk kembali ke IGD. Perjalanan ke IGD aku bertemu dokter yang biasa visit di poliklinik perusahaan. Aku menyapanya dan memberi tahu telah terjadi kecelakaan kerja di tempatku kerja.

***
Aku kembali lagi ke IGD. Kebetulan pihak keluarga sudah di sana. Aku bertanya kepada suster poliklinik yang turut merujuk ke rumah sakit, dia ia menjawab bahwa telah selesai dilakukan tindakan. Dan kini tinggal menunggu obat.

Masalah itu datang lagi ketika, ada masalah di saat pembayaran. Ada syarat yang kurang ketika kami akan mengeklaim dengan BPJS ketenagakerjaan. Dengan sigap rekan kerjaku, yaitu rekan kerja bagian legal tadi yang juga merupakan seorang pengacara segera menyusul kami ke rumah sakit. Dan selesai! Masalah kami selesai, dan dari pihak korban tidak dikenakan biaya apapun.

Kami segera mengantar korban kecelakaan kerja ke rumahnya. Menjelaskan kepada pihak keluarga, dan rekan kerja-ku juga yang menjelaskan dengan bahasa yang sangat halus berbeda ketika berada di rumah sakit tadi.

Ketika perjalanan pulang menuju ke tempat kerjaku. Masih ada rasa yang sedikit mengganjal. Bukan masalah kejadian kecelakaan kerja tadi. Bukan! Karena atas bantuan rekan kerjaku, semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Namun lebih kepada pertanyaan, tentang bagaimana dengan sholat jumatku tadi? Sah kah? Hal itu yang terus terngiang-ngiang di pikiranku.

Aku seperti menyakinkan diriku sendiri. Di saat seperti itu, aku hanya bisa berusaha menjalankan kewajibanku, yaitu sholat jumat. Meski harus tertinggal satu rekaat. Dan tentu tanpa khutbah jumat. Jadi sholat jumat hari ini, adalah shalat jumat tanpa khutbah jumat, bagiku.


Dan (bagiku) tak ada khutbah jumat hari ini
Read more ...

Sabtu, 23 Januari 2016

Kopi “Aroma” Soreku

foto oleh Riki S
Meski hari masih sore, rasa bosan di kantor menggiringku ke rasa kantuk. Hari sabtu kantor sangat sepi, berbeda dengan hari-hari biasa. Karena hanya karyawan bagian tertentu saja yang overtime. Di office atas, hanya ada aku, seorang admin, dan manager-ku yang nampak serius menatap layar laptopnya, di meja kerjanya yang terletak di pojok ruang.

Waktu kulihat jam di pojok layar laptopku, ternyata sudah pukul 16.00. Kemudian Pak Manager mengajakku sholat ashar berjamah. Aku pun mengiyakan ajakkan beliau, kebetulan aku juga belum sholat ashar.

Kami berdua sholat di ruang meeting atas, namun kami biasanya menyebutnya ruang rekreasi, karena desain ruangan yang lebih mirip dengan ruang tamu, dengan sofa serta ac yang sangat dingin dibanding dengan ruangan lainnya. Ruangan ini biasanya digunakan ketika GM kami berkunjung ke Factory Solo, tempatku bekerja. Karena, beliau lebih sering di factory regional Indonesia yang berada di Semarang.

Selesai sholat, aku yang sudah mulai mengantuk pun, mengajak Pak manager untuk ngopi dulu. Di samping ruangan rekreasi ada lemari kecil untuk menyimpan gelas, cangkir, kemudian gula, teh serta kopi, serta di samping lemari kecil itu ada kulkas dan dispenser yang bisa memanaskan air hingga superhot untuk menyeduh kopi.

“Barusan sudah ngopi aku, Kik, ngopi terus malah kembung perutku” sepertinya Pak manager baru saja ngopi. Dan aku pun menuju ke lemari kecil untuk membuat kopi soreku.

“Di laci ada kopi, lho kik, kemaren dapat oleh-oleh” Pak manager menawariku dengan kopi oleh-oleh itu. Aku tidak bertanya lebih lanjut oleh-oleh dari siapa. Waktu aku buka ternyata kopi aroma bandung. Aku membaca kemasan kopi tersebut, “Koffi Fabriek Aroma Bandung, Robusta dengan gilingan kasar”

Aku sendiri mengetahui kopi aroma dari salah satu artikel di minumkopi.com yang berjudul "Aroma Dari Percakapan". Selebihnya aku mencari tahu di internet tentang kopi aroma.

Kopi aroma adalah kopi yang dibuat dengan mempertahankan cara-cara tradisional. Disangrai atau bahasa kerennya di roasting dengan alat yang bisa dibilang masih tradisional. Betapa tidak tradisional, mengingat proses roasting masih menggukan api dari kayu bakar, jauh dari kata modern.

Meski kopi aroma dibuat oleh pabrik kopi yang jauh dari kata modern. Namun justru ke-tradisional-an itulah letak keunikan kopi tersebut, dan menjadi daya tarik tersendiri.

***
Aku menaruh beberapa sendok teh kopi aroma ke dalam sebuah cangkir, kemudian menambahkan sedikit gula serta menyeduhnya dengan air panas dari dispenser. Mengaduknya secara perlahan, dan sebelum aku meminumnya, kuhirup dulu kepulan asap dari kopi yang baru saja aku buat. Seperti halnya yang dilakukan oleh salah tokoh dalam cerpen yang berjudul “Kamu dan Kopi". Tokoh dalam cerpen tersebut memiliki ritual khusus sebelum meminum kopi, ia akan memejamkan mata dan menghirup kepulan asap dari cangkir kopinya, seperti halnya berdoa sebelum makan.

Aroma yang berbeda dari kopi biasanya, ketika aku menghirup kepulan asapnya. Butiran-butiran kopi yang masih kasar perlahan mulai mengendap. Dan sembari menunggu menghangat, aku tiup kecil di pinggir cangkir sebelum aku menyruput-nya. Waktu ku-sruput, masih ada butiran kopi nampak kasar yang belum mengendap, anehnya butiran itu tidak begitu pahit dan ketika sampai pada lidah mulai melebur menjadi tidak kasar lagi.

Aku berharap kopi aroma sore ini, bisa membuatku tetap bersemangat di kantor hingga nanti malam, menikmati malam minggu di kantor, meski rasa bosan begitu menghunjam.


Selamat berakhir pekan, tetap ngopi, tetap semangat, dan tetap bekerja. Ingat, besok hari minggu. Libur!
Read more ...

Jumat, 22 Januari 2016

Khutbah Jumat

Aku memasuki masjid ketika khotib hendak berdiri menuju ke atas mimbar. Waktu kulihat, ternyata yang mendapat giliran khutbah jumat adalah dari khotib tamu, atau khotib dari luar. Aku masih ingat dengan pesan Bapak Syakirun, Iman masjid Baitul Muslimin jumat lalu. Aku segera sholat tahiyatul masjid agar aku bisa mendengarkan khutbah jumat, mengingat hal itu adalah hal wajib. Dan pesan dari Pak Syakirun jumat lalu adalah, “Jangan sampai hal yang sunah menghalangi hal yang wajib”

Setidaknya dalam sebulan, dua kali aku sholat jumat di masjid ini, yaitu masjid Baitul Muslimin. Selebihnya aku sholat jumat di dekat tempat kerjaku. Hal itu karena aku bekerja secara shift, dua minggu masuk pagi, dan dua minggu masuk siang.

Ada yang membuat masjid ini terasa berbeda. Bukan karena di dalam masjid lebih adem. Bukan! Dalam setiap kajian rutinnya, setiap malam selasa, atau malam jumat, tema kajiannya tidak jauh dari kehidupan sehari-hari, berisi tentang fikih sederhana dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mudah dicerna olehku dan jamaah lainnya yang kebanyakan sudah berusia lanjut.

Khutbah jumat kali ini, menyampaikan tentang pentingnya bersyukur terhadap apa yang kita peroleh. Kemudian membahas hal-hal yang nampak remeh, seperti nyamuk. Khotib bercerita, betapa besarnya manfaat nyamuk bagi kita semua, meski ada beberapa dari kita sangat terusik dengan keberadaan nyamuk. Adanya nyamuk juga memberikan manfaat yang besar. Karena dengan adanya nyamuk, membuat manusia membuat semacam obat nyamuk, atau obat untuk mengusir nyamuk, seperti yang bisa kita temukan di warung-warung kelontong. Sebut saja obat nyamuk bakar, bukan hanya nyamuk saja yang terusik, namun manusia pun bisa sesenggukan ketika menghirup asapnya. Seiring berjalannya waktu, manusia terus berinovasi dengan membuat obat nyamuk elektrik yang tidak begitu banyak mengeluarkan asap, yang justru membuat pengap, ditambah wangi yang dihasilkan obat nyamuk saat ini seperti halnya pengharum ruangan.

“Allah menciptakan nyamuk, itupun memberikan manfaat bagi manusia. Karena dengan adanya nyamuk, manusia membuat sebuah industri obat nyamuk, berapa kepala keluarga yang tercukupi kehidupan keluargannya, karena bekerja di sebuah industri obat nyamuk” Begitulah kira-kira kata khotib dalam khutbah jumat kali ini.

Diantara kita, mungkin tidak jeli dalam melihat manfaat dari nyamuk. Karena tidak dipungkiri pula, nyamuk adalah semacam makhluk yang bisa dikatakan merugikan. Keberadaan nyamuk adalah sebuah ancaman. Adanya penyakit malaria, demam berdarah, kemudian cikukunya disebabkan oleh nyamuk. Namun bisa dibayangkan jika nyamuk tiba-tiba dihilangkan di muka bumi ini oleh Sang Pencipta, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib ribuan buruh yang bekerja di industri obat nyamuk.

***
Khotib kali ini juga turut prihatin dengan isu-isu kekinian tentang keadaan umat islam saat ini. Bagaimana pun, islam adalah agama yang rahmatan lil alamim, namun pada kenyataannya, sesama muslim yang seharusnya saudara, namun justru ada perpecahan di dalam umat islam itu sendiri. Tidak ada toleransi diantara umat islam itu sendiri.  

Aku jadi teringat dengan status facebook dosen muda kita, Abdul Hakim, ia menuliskan keresahannya sebagai respon ketika melihat kejadian pembakaran rumah warga eks Gafatar. Pembakaran rumah warga eks gafatar yang disebabkan karena dianggap meresahkan, dan takut mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan keyakinan kita sebagai orang yang (mengaku) beriman. Dalam status tersebut beliau juga menuliskan, bahwa di sebuah bangsa yang memegang teguh nilai ke-Esa-an Tuhan sebagai salah satu prinsip bernegara. Banyak orang yang dihukum bukan karena mencuri, korupsi, atau memukuli orang, melainkan karena berkeyakinan. Iman yang seharusnya membuat kita jauh lebih tenang daripada yang tidak berkeyakinan, namun iman yang seperti apa yang membuat mereka merasa resah ketika melihat keyakinan yang berbeda.

Khutbah jumat berlangsung kurang lebih 15 menit itu pun diakhiri dengan khutbah kedua yang berisi kesimpulan dari khutbah jumat kali ini. Tentang pentingnya bersyukur, serta pentingnya menjaga kesatuan antar umat muslim itu sendiri, maupun antar umat beragama.

Dan saya pun menyimak khutbah jumat kali penuh dengan kesadaran. Maklum biasanya saya sering ongap-angop.

Salam.


Read more ...

Jumat, 15 Januari 2016

Pesan Sebelum Khutbah Jumat

Suara adzan sholat jumat begitu jelas terdengar olehku. Betapa tidak, jarak masjid dan tempat singgahku hanya beberapa meter saja, mungkin hanya lima kali hembusan nafas sudah sampai. Aku yang sudah mandi karena sehabis potong rambut, kemudian berwudhu dan segera bergegas menuju masjid.

Aku memasuki masjid, di saat muadzin masih mengumandangkan adzan. Aku berdiri sambil mendengarkan adzan, karena itu bagian dari sunah. Setelah selesai adzan, barulah aku sholat tahiyatul masjid, yang juga merupakan sunah.

Di saat aku mengerjakan sholat sunah itu lah, aku sudah tak khusyuk lagi, ketika khotib memberikan semacam pesan kepada jamaah semuanya, sebelum ia memulai khutbah jumat. Ia memberi nasehat secara umum, namun aku merasa bahwa nasehat itu juga mengarah kepadaku.

“Ketika adzan sholat jumat, meski mendengarkan adzan adalah sunah alangkah baiknya untuk segera sholat tahiyatul masjid, karena itu juga sunah. Kenapa demikian? Agar kamlian semua bisa segera mendengarkan khutbah sebelum sholat jumat. Mendengarkan khutbah jumat adalah wajib. Jangan sampai hal sunah menghalangi kita melakukan hal yang wajib” Begitu kira-kira pesan yang ia sampaikan sebelum ia memulai khutbah jumat. Dan aku sadar ternyata selama ini aku telah melakukan pemahaman yang salah.

Bukan kali ini saja aku juga merasa diingatkan atau dinasehati. Ketika itu sehabis sholat terawih biasanya ada kultum, dan pas kultum itulah, aku merasa diingatkan. Sang khotib berpesan, “ketika akan bertemu manusia saja, kita mempersiapkan diri dengan kemeja rapi, namun ketika hendak bertemu dengan Allah malah justru dengan pakaian yang seadanya” Bahkan hal sama pernah disampaikan temanku secara langsung kepadaku, maupun melalui pesan Wassap.

Namun untuk yang masalah baju ini, aku sedikit gimana gitu. Aku bukan anti kritik, namun aku yang lebih suka berpakaian kaos daripada kemeja dengan style rapi. Aku lebih nyaman dengan kaos yang menurutku lebih simpel. Hanya saja karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskanku berpakaian rapi (menurut sebagian besar orang), aku harus membeli beberapa kemeja, namun dalam batinku selalu teriak, karena aku lebih nyaman dengan kaos. Tidak heran jika hari-hari tertentu, misalnya ketika hari sabtu masuk lembur, aku lebih suka memakai kaos saat bekerja. Atau terkadang di hari kerja biasa aku justru memakai polo shirt, atau kaos berkerah, dan menurutku itu adalah hal yang simpel.

Tuntunannya adalah pakaian terbaik, namun apakah ia peduli bahwa pakaian terbaikku justru sebuah kaos? Apakah mereka peduli bahwa ada kaos yang kubeli lebih mahal dari kemeja yang kupunya? Pasti tidak peduli karena dalam hal ini kami berbeda pendapat.

Ketika berbelanja, aku lebih sering berbelanja kaos dari pada kemerja, yang sekali lagi kaos lebih simpel, sedangkan kemeja menurutku malah ribet. Jadilah di lemariku lebih banyak koleksi kaos, daripada kemeja.


Sebuah nasehat yang menurutku adalah hal yang sah-sah saja. Dan dalam hal ini saya harus mengucapkan terima kasih terutama kepada Bapak Syakirun selaku imam masjid Baitul Muslimin, atas wejangan dan nasehatnya sebelum beliau memulai khutbah jumat.
Read more ...

Selasa, 12 Januari 2016

Menikah(?)

Aku juga tidak tahu, di tengah kesibukanku hidup dalam rutinitas, Tuhan justru menyelipkan seseorang yang mampu membuatku merasa mak deg ketika tiba-tiba hadir di hadapanku. Sebut saja gadis berkerudung merah. Gadis yang sudah kukenal dalam waktu yang relatif singkat itu, nampaknya sudah tak mau lagi mencicipi manis semu duniawi. Bisa dibilang perkenalan yang lumayan singkat itu mampu membuat aku dan dia sudah tak ragu lagi untuk menjalin sebuah ikatan.

Aku yang kala itu hanya sekedar mengantarnya pulang ke rumah. Tiba-tiba sudah ada laki-laki yang usianya nampak seusia dengan Bapak Jokowi, Presiden RI itu, menyuruhku untuk mampir sebentar untuk sekedar ngopi-ngopi.

kami berdua mengobrol lumayan lama, sebenarnya aku bingung mau membicarakan hal apa, tapi untungnya si bapak yang justru lebih banyak bertanya kepadaku. Bertanya dengan santai dan terkadang diselingi guyonan. Setelah beberapa saat aku baru sadar bahwa beliau sedang bertanya segala sesuatu tentangku.

Ditengah-tengah obrolan terdengar suara adzan magrib, pikirku itu bisa jadi alasan untuk segera berpamitan. Namun ternyata ia lebih cerdas dari yang kupikirkan, ia malah menahanku dan menyuruhku sholat magrib berjamaah terlebih dahulu sebelum pulang. ”Magrib itu waktunya pendek, sholat magrib dulu saja, nak” Dan menjadi semakin apes ketika ia justru menyuruhku sebagai Imam sholat magrib berjamaah ”Sampeyan yang jadi imam ya, nak, suaraku sudah nggak begitu jelas soalnya” Aku hanya bisa menuruti kemauannya meski aku hanya bermodal qulhu dan surat pendek lainnya.

Selesai sholat magrib berjamaah. Ketika aku hendak pamit pulang, beliau malah bertanya tentang keseriusanku dengan anaknya. “Sampeyan tenanan kalian genduk?” aku yang masih keliatan bingung dan kikuk itu malah ceroboh dalam memberikan jawaban. “Kulo saestu, Pak Dhe” kemudian beliau menyuruhku untuk mendatangkan orangtuaku atau waliku sebagai tanda bahwa aku serius dengan gadisnya.

Bisa dibilang ini adalah sesuatu yang terlihat sangat mendadak. Aku menjadi semakin bingung. Bukan karena aku tidak siap. Bukan! Aku sudah siap! tapi aku bingung harus bagaimana mengatakan hal ini kepada orangtuaku, yang posisinya saat itu masih berada di pulau seberang sana. Akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan om-ku, orang yang begitu peduli dengan masa depanku itu, pasti mau membantuku. Namun aku takut dia akan berpikir macam-macam ketika semua ini serba mendadak. Karena aku belum pernah membawa dan mengenalkan kepada siapapun, termasuk om-ku.

Ketakutanku pun terjadi juga, ketika aku meminta bantuan om-ku, dia malah menuduhku bahwa aku sudah menjalin hubungan kelewat batas. Aku dituduh menghamili anak orang. Ditengah kemarahannya, aku terus berusaha dan menjelaskan semuanya, termasuk menelpon gadis itu yang sengaja aku loudspeaker dengan volume terbesar agar turut serta menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Om-ku pun mulai sadar bahwa aku dalam posisi yang benar, dan justru ia semakin mendukung langkahku, serta membantu menjelaskan dengan anggota keluargaku yang lain, termasuk kepada orangtuaku, serta kerabat-kerabat lain.
***
Segeralah pertemuan antara dua keluarga itu dimulai. Aku yang kala itu hanya diantar oleh om-ku, sebagai waliku, berniat untuk melamar gadis itu. Nampak wajah bapak dari gadis itu begitu antusias ketika aku membuktikan keseriusanku. Ia menjadi lebih percaya lagi untuk menyerahkan putrinya kepadaku.

Lamaranku diterima dengan syarat segera melaksanakan akad nikah. Om-ku nampak berusaha untuk meminta jeda beberapa hari agar bisa melakukan pembicaraan lagi dikemudian hari. Bapak itu justru menceramahi aku dan om-ku dengan segala dalil-dalil yang membuat kami agak keder. “Menikah itu yang penting apa? Pertama Ijab qobul sesuai dengan aturan agama, disaksikan saksi,  kemudian mengumumkan pernikahan itu, selesai! lagian anakku juga tidak meminta mahar yang tidak begitu sulit dipenuhi”

Dan om-ku hanya meng-iyakan saja. Dan kemudian semakin menjadi-jadi, om-ku sepertinya tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika si bapak berkata “Baik, satu bulan lagi kita adakan pernikahan ini” Om-ku kelihatan nampak santai, sedang aku sudah keluar keringat dingin. Kemudian kami pamit dan bersedia untuk melaksanakan pernikahan satu bulan lagi. Aku masih seperti antara percaya dan tidak.

Dalam perjalanan justru gantian om-ku yang mulai menceramahiku dengan segala pengalamannya. kalau kamu sudah yakinya jalani sajaBapak calon mertuamu itu ada benarnya juga, daripada runtang-runtung goncengan trus mending langsung nikah wae malah nggak dadi pikirannanti semua aku yang urus

Satu bulan persiapan pernikahan? Edan! Aku sengaja tidak mengundang teman-temanku, baik teman sekolah, kuliah ataupun teman kerja. Sengaja aku tidak ambil cuti nikah, nanti malah heboh di kantor aku difitnah digrebek warga untuk segera dinikahkan. Aku hanya mengundang keluarga dekat saja.

Segala persiapan semua aku serahkan kepada om-ku dan bulekku. Termasuk untuk keperluan akad nikah, terutama seserahan, mas kawin dan semuanya. Mereka berdua sudah berpengalaman dalam hal ini. Rencananya mas kawinnya aku tambahi lagi berupa cincin emas, karena dari pihak wanita hanya menginginkan mahar seperangkat alat sholat dan uang tunai satu juta. Sebagai laki-laki harus memberikan mahar lebih, pikirku.  Kami berencana untuk mengadakan resepsi tapi itu masih beberapa bulan lagi, yang penting akad nikah harus terlaksana terlebih dahulu. Atau mungkin malah tidak mengadakan resepsi sama sekali.

Persiapan demi persiapan semua berjalan lancar. Namun ada hal lain yang membuat rasa ragu itu muncul. Pertengkaran-pertengkaran kecil, mulai dari pemilihan baju ketika akad nikah, kemudian pemilihan masjid sebagai tempat akad nikah, seperti sesuatu yang remeh dan tidak begitu penting untuk diperdebatkan.

Ada hal lain yang membuatku rasa ragu kian menjadi-jadi. Ketika aku pergi ke Jogja seorang diri dan tidak berpamitan dengannya, itu menjadi semacam sebuah kesalahan fatal. Aku benar-benar pusing dengan sikap wanita. Sebenarnya maunya apa? Pikirku yang terbiasa hidup bebas tanpa monitoring dari seseorang seperti saat itu.

Belum menikah saja sudah dibuat pusing apalagi sudah jadi suami istri? Sebuah pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di pikiran, yang membuatku terjatuh dalam lubang keraguan. Aku benar-benar ragu, dan aku tidak tahu harus bagaimana untuk mengembalikan keyakinanku ketika aku memutuskan untuk melamarnya.

Perlahan tapi pasti, aku yang terus belajar memahami makhluk bernama wanita itu, kini sudah terbiasa dengan sikapnya. Sikap wanita yang awalnya aku anggap aneh itu, seakan menjadi kelucuan tersendiri bagiku. Meski tekadang hal itu bisa menjadi sesuatu yang sangat menyebalkan.

***
“Sah!” akhirnya kami sah menjadi suami istri. Kini aku sudah berstatus baru, bukan single ataupun jomblo lagi. Malam mingguku kini tak merana lagi dalam kesendirian. Dan dari kami sepakat untuk mengadakan perayaan kecil dengan mengundang makan-makan warga sekitar tempat tinggalnya. Ditempat tinggalku, aku hanya sekedar membagikan bancaan atau di tempatku dikenal dengan istilah berkat. Aku memesan nasi kotak dengan lauk ayam bakar utuh beserta lalapan untuk dibagikan kepada para tetangga, sebagai langkah dalam mengumumkan pernikahanku. Acara resepsi pun seperti batal dilaksanakan, jadilah sebuah perayaan yang begitu sederhana.

Hari-hariku sebagai seorang suami kini menjadi hal yang terkadang membuatku tertawa sendiri. Dan bahagia tentunya. Aku yang ketika pulang kerja malam biasanya tak ada yang menyambut, kini ada seorang yang menyambutku dan menyuguhkan teh panas, serta ada yang bersedia memanaskan air untukku mandi.

Ketika bangun pagi pun ada yang membangunkanku untuk sholat shubuh serta membuatkan secangkir kopi. Tentu juga ada yang membuatkan sarapan pagi untukku. Jadilah aku tidak lagi sebagai anak kos yang selalu merapel sarapan pagi dan makan siang.

Ada seseorang yang selalu mengingatkanku untuk sholat ketika jam-jam sholat. Mengingatkanku untuk makan siang ketika aku masih sibuk bekerja. Dan ketika hendak pulang kerja ada sms masuk untuk menanyakan makan malam apa yang sedang kuinginkan. Dalam hati kenapa aku tidak menikah dari dulu aja kalau hidup jadi seindah ini.

Aku seperti masih ingin hidup dalam kebebasan. Namun perasaan ingin menjadi bapak itu pun muncul. Aku jadi ingat ketika malam pertama, kami berdua malah asyik mengobrol berdua di dalam kamar. Dia yang sudah mulai ngantuk pun malah sudah tertidur duluan. Mungkin dia baru kecapekan, pikirku kala itu. Aku yang belum bisa tidur pun, malah menuju sebuah meja kecil di sudut kamar itu. Aku membuka laptop dan menulis perjalanan cintaku hingga menuju pelaminan yang begitu singkat itu. Perjalanan singkat yang merupakan akhir dalam sebuah penantian pencarian.

Dan ketika aku sudah lelah. Mataku sudah terasa perih. Aku mematikan laptopku dan menuju ke ranjang tempat istriku tertidur. Dia nampak tertidur pulas. Dan cantik! Wanita dihadapanku begitu cantik meski dalam keadaan tertidur pulas sekalipun. Aku yang mulai merasakan hasrat itu, begitu bergairah dan ingin sekali bercumbu dengannya. Aku ingin membangunkankannya untuk bercumbu, dan tentunya bercinta.

Tiba-tiba suara alarm handphoneku berbunyi. Waktu kulihat ternyata pukul 04.30 aku harus segera bangun dari tempat tidurku karena hari ini aku harus masuk pagi. Segera aku menuju kamar mandi dengan langkah sempoyongan. Kemudian mulai menyalakan air dengan suara yang begitu gembrujuk, melepas celanaku dan melakukan aktifitas rutinku, apalagi kalau bukan buang hajat. Dan ketika aku khusyuk melaksanakan hajatku, disela-sela bunyi air yang begitu gembrujuk itu aku mengumpat “Kampret! Hanya di sms ibu menanyakan mantu aja sampai kebawa mimpi”


Note :
Tulisan ini pernah dipublikasikan di lobimesen.com dengan judul yang sama, Menikah(?). Dan ini adalah tulisan aslinya, sebelum saya revisi untuk keperluan postingan di lobimesen.com tersebut
Read more ...

Senin, 11 Januari 2016

Surat Terbuka Untuk Mojok.co

Sebelumnya perkenalkan terlebih dahulu, nama saya Riki, tak perlu lah saya menyebutkan diri saya adalah salah satu dari kaum jomblo seperti halnya Agus Mulyadi yang senantiasa merayakan ke-jombloan-nya. Tidak perlu! Saya seorang buruh dibalik meja yang sehari-hari menghabiskan waktu di kantor tempat saya bekerja. Saya bekerja sebagai seorang staff HRD yang sibuk mencari karyawan untuk memenuhi kebutuhan SDM, hingga lupa untuk mencari pendamping hidupnya sendiri. Terkadang dalam ke-selo-an saya, saya juga sering membaca tulisan-tulisan di mojok.co

Awalnya saya diperkenalkan oleh salah satu sahabat saya, bahwa ada blog yang menerbitkan tulisan-tulisan yang ciamik untuk dinikmati di waktu-waktu selo. Kemudian saya obrak-obrik isi blog mojok.co, ternyata benar. Tulisan-tulisan yang diterbitkan dalam mojok.co lain daripada yang lain, tulisan yang vulgar dan menampilkan sudut pandang penulis yang beraneka ragam. Saya mulai tertarik dengan tulisan-tulisan yang diterbitkan di mojok.co. Bahkan saya rela untuk mencuri-curi waktu dikantor hanya untuk menikmati tulisan-tulisan baru yang diterbitkan di mojok.co. Bodo amatlah jika bagian IT sering komen kalau saya sering meggunakan internet saat jam kerja. Saya jawab saja.”Saya manusia, juga punya bosan! Cari hiburan dikit boleh lah, hehehe” Dan karena itu juga saya sekarang lebih suka membaca tulisan-tulisan mojok.co melalui smartphone. Terkadang saya juga tidak mau melewatkan momen selo saya untuk membaca tulisan-tulisan mojok.co, entah itu mau tidur, sedang nyantai dirumah, sedang dalam perjalanan, bahkan ketika panggilan alam mengharuskan saya segera menuju ke WC pun saya sempatkan untuk membuka mojok.co via smartphone hehehehe J

Dari sekian banyak tulisan-tulisan yang beredar di mojok.co entah kenapa tulisan-tulisan dari Aktifis jomblo militan seperti Agus Mulyadi, serta tulisan-tulisan seorang traveller yang sedang menyamar sebagai supir truck di negeri kanguru, Ostrali, lah  yang saya sukai. Mungkin bahasa yang mereka tampilkan melalui tulisan-tulisan mereka yang mudah saya pahami dan dicerna otak saya, serta cerita-cerita tentang pengalaman pribadi mereka yang mereka tampilkan dengan sudut pandang mereka lah yang membuat saya rada kesengsem dengan (tulisan) mereka. Tapi sayangnya mereka berdua adalah laki-laki semua, tak mungkin juga saya mengirim sesuatu untuk mereka berdua seperti halnya fans-fans fanatik boyband korea. Coba kalian berdua adalah wanita Mas, pasti sudah saya kirimi sesuatu. Hehehehehe

Sebenarnya masih banyak juga penulis-penulis mojok yang tulisannya bagus-bagus, seperti Arman Dhani dengan gaya menulis satirnya, Rusdi Mathari, Puthut EA yang merupakan kepala suku mojok.co serta masih banyak penulis lainya dengan gaya yang sedikit nyleneh. Gaya penulisan yang sedikit nyleneh itulah yang membuat mojok.co lain daripada yang lain.

Tulisan-tulisan yang beredar di mojok.co seperti tidak ada sensor, seperti halnya kata asu yang didaerah saya adalah salah satu bentuk umpatan atau pisuhan begitu mudah untuk dijumpai tanpa ada sensor tuuuuut atau ditulis agak berbeda seperti as*su, eh tapi yang terakhir sedikit wagu ding. Tulisan yang terkadang tanpa segan langsung sebut nama, dan serta kritikan-kritikan dengan bahasa yang sangat khas penulis-penulis mojok.co. Sebut saja Jonru, Farhat Abbas, Fadlizon, Setya Novanto, Felix Siau, Menteri Susi, bahkan sampai Presiden Republik Indonesia, beliau yang terhormat Bapak Joko “Jokowi’ Widodo pun menjadi bahan ditulisan mojok.

Sebuah blog yang mampu menambah ilmu kepenulisan  saya yang masih belajar menulis meski hanya untuk dikonsumsi pribadi, posting blog serta terkadang di posting juga di facebook. Bahasa penulisan yang jauh dari kaidah-kaidah EYD yang selama ini saya pelajari selama masih duduk di bangku sekolah. Mojok.co mengajari saya agar lebih berani dalam menulis dan memposting setiap tulisan saya agar bisa dinikmati banyak orang, bukan hanya untuk konsumsi pribadi.

Terima kasih mojok.co telah memberikan pencerahan kepada saya agar terus belajar dalam hal menulis, meski hanya sekedar menulis di blog maupun hanya sekedar posting di facebook.


Salam 
Read more ...

Sabtu, 09 Januari 2016

Film "Cahaya Hati"

Kalau sejarah berdirinya Muhammadiyah dapat aku ketahui dengan film yang berjudul “Sang Pencerah” sebuah film karya sutradara Hanung Bramantyo, yang bercerita bagaimana KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah. NU sang “rival” abadinya juga mempunyai film berjudul “Sang Kiai” yang menceritakan sang pendiri NU, Hedratus Syekh Hasyim Asyari.

Dan kali ini aku baru saja melihat trailer film yang berjudul “Cahaya Hati” sebuah film yang bercerita tentang kejadian nyata yang terjadi di Blora, ketika seorang warga Majelis Tafsir Al quran (MTA) di tentang warga karena (dianggap) tidak umum.

Aku sendiri kenal MTA dari radio, dan aku menjadi begitu hafal dengan suara Ustad Ahmad Sukino. Siapa yang tak kenal dengan Kiai radio itu.

Film “Cahaya Hati” karya sutradara muda yang bernama Ari Prayudhanto. Film itu menceritakan bagaimana MTA berjuang dan bisa berkembang hingga saat ini. Ia mulai tertarik dengan MTA ketika mendengar bentrokan warga yang terjadi di daerahnya, Blora. Kemudian ia malah ingin lebih tahu mengapa MTA begitu ditentang, dan apa yang salah? ia merasa harus memberitahukan khalayak ketika mengetahui bahwa MTA tidak seperti yang dipikirkan kebanyakan orang.

Kemudian sang sutradara yang juga merupakan murid dari sutradara Hanung Bramantyo itu mengadakan riset hampir 3 bulan untuk lebih menyakinkan terlebih dahulu sebelumnya mengeksekusinya menjadi sebuah film.

Tujuan yang Mulia dari sang sutradara yang mencoba menjelaskan kepada masyarakat luas, tentang siapa MTA itu sebenarnya, ditengah opini masyarakat yang buruk tentang MTA.

Dan sepertinya kita harus menunggu sebuah film yang menceritakan bagaimana berdirinya FPI dan sepak terjangnya. Semoga film itu bisa lulus sensor.


Read more ...

Kamis, 07 Januari 2016

Paketan dari Pojok Cerpen

Sore tadi, aku dapat info dari secuirity Pos depan, bahwa ada paketan untukku. Waktu aku lihat, ternyata paket kiriman dari Bung Eka Pojok Cerpen, baru saja sampai.

Sabtu kemaren, yaitu tepatnya ketika orang-orang sibuk cekrak-cekrik berfoto selfi untuk mengganti profile BBM mereka, dengan foto-foto liburan. Aku malah sibuk dengan masuk kantor karena ada overtime. Iya, malam tahun baru disaat suara kembang api begitu jedug cetar, aku justru dikagetkan dengan bunyi ringtone sms dari handphoneku. Sms dari atasan memintaku agar hari sabtu aku harus masuk karena ada overtime.

***
Di kantor aku hampir mati karena bosan. Kala itu di kantor hanya ada tiga orang, aku, seorang admin, dan seorang staff bagian pay roll yang sepertinya sedang sibuk bekerja demi kemaslahatan orang banyak. Iya, itu semua demi semua karyawan bisa gajian on time.

Di tengah kebosanan itulah, aku mulai menggunakan fasilitas internet kantor dengan kecepatan dewa itu, untuk browsing serta melihat video-video di youtube atau sekedar mendengarkan lagu.

Kemudian aku melihat website puthutea.com untuk mencari buku-buku karya Puthut EA sebagai bahan bacaan di sela-sela waktu. Aku ingin membeli novel “Berani beli cinta dalam karung?” karena disana tertulis, “cinta tak pernah tepat waktu I”. Aku yang sudah melibas habis novel “Cinta tak pernah tepat waktu” karya Puthut EA itu, malah penasaran dengan Novel “berani beli cinta dalam karung?”, karena pikirku kedua novel itu semacam dua bagian yang tidak terpisahkan. Pikirku ”Cinta tak pernah tepat waktu” adalah lanjutan dari “Berani beli cinta dalam karung?” dan aku merasa harus memiliki dan membaca semuanya agar aku lebih lengkap membaca serta tenggelam bersama badai kenangan bersama tokoh si Aku dalam novel.

Dan ternyata ketika aku hendak memesan novel “Berani beli cinta dalam karung?” Bung Eka Pojok Cerpen melalui chat facebook memberitahuku bahwa Novel itu adalah cetakan pertama, dan cetakan kedua diberi judul “Cinta tak pernah tepat waktu” jadilah aku ingin membeli kumpulan cerpen saja.

Sudah lama aku ingin memiliki buku “Sarapan pagi penuh dusta” dan waktu aku menanyakan di Pojok Cerpen, ternyata masih tersedia. Aku mencari buku lain agar sekalian ongkos kirimnya. Dan “Sebuah usaha menulis surat cinta” sepertinya menarik. Namun sayangnya buku itu ternyata sudah ludes terjual. Kemudian aku memesan “Sarapan pagi penuh dusta” terlebih dahulu, sambil browsing mencari novel sebagai bahan bacaan disela-sela waktuku.

Aku teringat dengan novel “Kambing dan Hujan” karya Mahfud Ikhwan, yang merupakan pemenang sayembara menulis novel dewan kesenian Jakarta 2014. Buku itu juga direkomendasikan sahabatku agar buku itu menjadi buku wajib yang harus kubaca. “Membaca buku kambing dan hujan, aku jadi ingat seliramu bro” katanya yang membuatku merasa harus membaca buku itu. Ketika aku menanyakan buku itu di Pojok Cerpen, ternyata masih tersedia. Jadilah aku memesan dua buku; kumpulan cerpen “Sarapan pagi penuh dusta” dan Novel “kambing dan hujan”

Melalui pesan wassap, aku menyuruh Bung Eka Pojok Cerpen untuk menghitung total yang harus aku transfer serta ongkos kirim ke Boyolali. Dan aku berjanji akan mentransfernya setelah makan siang.
***
Sepulang kerja, aku langsung membuka buku itu, dan memastikan bahwa buku itu sesuai dengan yang aku pesan. Buku “Sarapan pagi penuh dusta” dengan tanda tangan penulisnya, Puthut EA dan Buku “Kambing dan Hujan” sesuai pesananku. Jadilah malam minggu besok tak merana dalam kesendirian. Entah buku “Sarapan pagi penuh dusta” itu akan menjadi hiburan bagi malam mingguku atau malah seakan merayakan kesendirianku.


Ohiya Bung Eka Pojok Cerpen, kirimannya sudah sampai, terima kasih bonus pembatas bukunya. 
Read more ...

Pujian

Seseorang mungkin saja begitu tahan ketika dihujat, begitu tenang ketika dikritik, serta begitu sabar ketika difitnah. Namun apakah mereka bisa tahan ketika dipuji?

Pujian seperti halnya sebuah penghapus yang secara perlahan mampu menghilangkan apapun yang coba kita gores dengan keikhlasan. Pujian mampu melambungkan seseorang menuju singgasana kesombongan, serta keangkuhan. Sesuatu yang sebenarnya kita lakukan atas dasar keihlasan itu, perlahan seperti sedang mengemis sebuah pengakuan atas tindakan.

Kali ini aku benar-benar dilambungkan oleh pujian. Aku seperti dihantarkan menuju singgasana kesombongan serta keangkuhan. Aku sebenarnya tidak pernah mengharapkan hal itu, namun karena pujian itu lah rasa angkuhku seperti bangun dari tidur panjangnya.

Awalnya aku adalah orang yang "cuek bebek", semua yang kulakukan tak pernah mengharapkan sesuatu, karena aku melakukan segala sesuatu atas dasar tugas dan tanggung jawab yang harus aku lakukan. Tentu dengan tetap berusaha menjalankan itu semua dengan keihklasan.

Namun, benar-benar rasa ikhlas itu seperti terkikis habis hanya karena sebuah pujian. Aku menjadi terlena pujian meski itu hanya kata-kata manis tentangku.


Dan saat-saat seperti inilah,  rasa-rasanya aku ingin ada seseorang yang secara tiba-tiba menamparku sambil berkata “Hei, bangun! Untuk apa kamu hidup mengharapkan pujian dari orang lain? Memang kamu hidup hanya untuk mengemis pujian?”
Read more ...

Rabu, 06 Januari 2016

Malaikat-Malaikat di Sekitarku

Sejak badai itu menimpa keluarga kecil kami, sontak kapal ini sudah tak ber-nahkoda lagi. Selalu goyah ketika diterjang ombak. Disaat kapal mulai goyah, dan seperti hendak karam itulah, ia segera mengambil alih kendali. Iya, Ibu yang seharusnya fokus untuk mendidik dengan sentuhan kasih sayang, serta memberikan rasa aman kepada buah hatinya, namun saat itu seperti tidak ada pilihan lain. Aku lupa berapa usiaku kala itu, namun seingatku, kala itu aku belum bersekolah. Ibu memilih untuk hidup merantau untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami. Dan disaat itulah aku seperti tak ber-orangtua.

Beruntung aku masih memiliki kakek dan nenekku yang mau menampungku. Bisa dibilang, kedua kakek dan nenekku lah yang berperan sebagai orangtuaku, mereka yang merawatku hingga aku tumbuh besar hingga sekarang. Aku tidak tahu apa jadinya hidupku tanpa mereka berdua.

Mereka berdua (kakek dan nenekku) adalah malaikatku, sabarnya seperti tak terbatas. Terutama kakekku! Sedangkan nenekku yang terkenal galaknya pun, seperti tidak bisa menunjukkan ke-galak-kannya ketika berhadapan dengan cucu-cucunya, termasuk aku.

Aku teringat kala hidup bersama dengan kakek-nenekku. Rumah mereka kala itu masih beralaskan tanah, dengan anyaman bambu sebagai dindingnya. Menderita kah? Tentu saja tidak. Aku seperti tidak merasa menderita meski secara kasat mata (jika dilihat dengan kaca mata masa kini) hidup kami begitu menderita. Berlahan tapi pasti rumah penuh kenangan itu, dibongkar dan secara bertahap terus dirapikan hingga seperti saat ini. Aku tidak mengatakan bahwa rumah itu sekarang menjadi bagus nan mewah, namun bisa dibilang masih sederhana, tidak terlalu bagus, juga tidak terlalu jelek. Seperti falsafah orang jawa, “sik penting podo kancane” artinya sama dengan yang lain atau tidak boleh mengungguli orang lain, meski sebenarnya mampu.

Ketika kecil hidupku normal-normal saja, seperti kebanyakan anak-anak kecil lainnya, meskipun sebenarnya kami berbeda latarbelakang. Mereka berasal dari keluarga yang (nampak) bahagia karena keutuhan sebuah rumah tangga. Sedangkan aku dengan keluarga yang seperti kapal yang sudah tak ber-nahkoda. Iri? Aku masih manusia biasa, terkadang sifat iri itu muncul, ketika aku melihat Pak Dhe-ku dan Om-ku sedang memanjakan anak-anaknya. “Andai dulu aku seperti mereka” mungkin begitu lah batinku ketika melihat sebuah keluarga yang (nampak) untuh dan bahagia.

Ketika kecil aku pernah sakit, dan kakekku yang begitu menyayangiku itu, langsung membawaku ke dokter di puskesmas yang terletak di balai desa. Jarak antara rumah kami dan puskesmas di balai desa kurang lebih 2 Km. Hingga saat ini, aku masih ingat, ketika kakekku menggendongku dengan berjalan kaki untuk mengantarkku berobat ke Puskesmas. Selama di perjalanan pun kakek malah sering bercerita serta nembang dengan lagu-lagu jawa.

Kakekku tidak bisa naik sepeda, jadilah ia lebih suka kemana-mana dengan jalan kaki, entah pergi ke sawah, ke tempat kerabat-kerabatnya atau sekedar liat-liat di pasar. Aku selalu ingat dengan masa-masa itu.

Saat ini kakekku masih diberi kesehatan, meski dulu sempat harus bolak-balik opname di rumah sakit dan harus transfusi darah. Pernah juga sakit infeksi di salah satu matanya, dan dokter menyarankan agar segera mengambilkan tindakan dengan mengangkat bola matanya, dan kini kakekku hidup dengan satu penglihatan.

Semenjak itu, kakek sudah jarang sakit, jika sakit pun hanya sekedar masuk angin dan cukup berobat di bidan dekat rumah kami. Terkadang aku juga sering disuruh untuk mengantar ke rumah kerabat, atau pergi untuk lihat-lihat sawah. Iya, semenjak dulu sering opname, sawahnya sudah digarap oleh orang lain dengan sistem bagi hasil, jadilah kakekku hanya di rumah saja, dan ikut merasakan panen ketika musim panen.

Meski sekarang sudah tua, aku sekalipun tidak melarang kakekku untuk melakukan hal-hal yang menurut orang lain akan menggiring rasa iba. Kakekku masih suka menggarap kebun halamannya, entah itu menanam pisang, kacang, serta ubi. Ia juga sering membuat kayu bakar yang digunakan untuk memasak nenekku. Mereka masih menggunakan kayu bakar hingga sekarang, meski anakknya sudah membelikan kompor gas, namun nenekku lebih suka dengan kayu bakar. Dan karena itu pula, aku merasa harus mencicipi masakan nenekku ketika di rumah, karena aku tahu proses sebelum semua makanan itu berada di balik tudung saji.

Nenekku juga tidak kalah sayangnya dengan aku dan cucu-cucunya. Dia seperti mempunyai sebuah kurikulum sendiri dalam hal mendidik anak. Aku yang dididik dari kecil pun awal-awalnya merasa seperti dikurung dalam kerangkeng besi. Aku sering dilarang keluar rumah pada malam hari, disaat teman-temanku sedang mencari jangkrik di sawah pada malam hari. Dan hanya boleh keluar malam ketika mala minggu atau pas libur sekolah. Apalagi dalam hal keuangan, nenekku yang kala itu memegang kendali penuh terhadap pengeluaranku sangat susah ketika diminta uang jajan. Namun jika urusan biaya sekolah, ia tidak pernah telat, padahal sebelumnya ia berkata tidak mempunyai uang.

Namun segala hal yang aku anggap teralis besi itu, berangsur-angsur mulai hilang. Aku masih ingat ketika aku sudah masuk sekolah SMA, nenekku yang begitu keras itu, seperti sudah memberikan kepercayan penuh kepadaku terhadap hal-hal yang kulakukan. Aku dipercaya memegang sendiri uang kiriman dari Ibuku. Keluar malam pun tidak jadi soal asal aku bertanggung jawab terhadap sekolahku. Aku bisa dengan mudah meminta uang jika aku benar-benar sedang tak punya uang. Karena kepercayaan yang diberikan kepadaku itulah yang membuatku tak pernah nggabrul dan membelokan uang sekolah, kemudian bolos hanya untuk sekedar main PS. Aku seperti dididik agar aku menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap diriku sendiri. Hidup di lingkungan yang kebanyakan adalah perokok dan sering mabuk-mabukan, namun dengan sendirinya aku tak pernah melakukan hal itu, meski dulu rumahku sering dijadikan tempat nongkrong. Sering kali tempat sampahku penuh dengan puntung rokok, sedangkan botol-botol sudah mereka buang. 

Kakek dan nenekku adalah malaikatku. Ia adalah penolongku disaat perahu kami hampir karam. Dan tentu juga Ibuku, ia yang kini lebih memilih hidup merantau untuk memastikan perahu kami tidak karam, dan agar kami terus menjaga asa.

Ibuku bukanlah orang yang pandai. Namun ia hidup dengan kesederhanaan dan kepolosan. Ia pandai mencari uang, namun ia tak pandai dalam membelanjakan uang. Karena ia lebih mempercayakan uangnya kepada anaknya. Entah itu aku sendiri atau kakakku. Aku dan kakakku lahir dari kurikulum nenekku dalam hal mendidik anak. Aku dan kakakku tidak begitu silau atau kemecer ketika memegang uang banyak (menurutku dan kakakku yang saat itu belum bekerja). Terkadang aku juga bingung sendiri, kenapa uang yang aku simpan itu tidak aku gunakan untuk membeli handphone terbaru saja, dan bisa aku pamerkan kepada teman-temanku. Sekali lagi, sikap tanggung jawab dan menjaga kepercayaan itu begitu terpatri dalam diriku.

Ibuku lebih suka hidup di perantauan, yaitu di Kerinci, Jambi. Pernah aku memiliki rencana untuk menyuruh Ibu meninggalkan jambi dan hidup bersama kakek dan nenekku serta Bulek, di rumah Sukoharjo. Namun ibuku yang terbiasa bekerja itu pun seperti tidak bisa hanya duduk diam di rumah tanpa penghasilan. Inilah kenapa ia merasa tertekan ketika berlama-lama di rumah. Aku menjadi orang yang sangat bersalah ketika aku begitu memaksanya untuk di rumah saja. Ibuku menjadi seperti terpenjara dalam kenyamanan semu. Secara kasat mata ia terlihat nyaman, namun batinnya begitu tersiksa, Ia seperti terpenjara, tidak bebas. Dan disaat hatinya berontak ingin merantau lagi, lingkungan sekitar malah membuatnya ragu akan kemauannya. Ibuku adalah orang sulit dalam pengambilan keputusan, mungkin itu adalah produk gagal ketika masih dalam tahap trial and error dalam penyusunan kurikulum dalam mendidik anak versi nenekku. Dan ibuku menjadi korbannya.

Ibuku pernah merasa tertekan, dan di saat seperti itulah, sebagai anak aku harus segera mengambil keputusan. Aku memutuskan untuk menyakinkan bahwa Ibuku akan baik-baik saja untuk merantau lagi, aku harus menyakinkan pula nenekku agar rilo melepas anakknya (yaitu ibuku) merantau lagi. Kala itu aku dianggap anak tak tau diri oleh orang-orang disekitarku, karena menyuruh ibunya sendiri hidup merantau, padahal aku juga sudah bekerja. persetan dengan kata orang kala itu, aku tetap pada keyakinanku untuk menyelamatkan kejiwaan ibuku yang sudah mulai tertekan. Agar semua bisa menerima, aku dan kakakku mengambil keputusan. Ibuku tetap merantau dengan ditemani kakakku selama beberapa minggu.

Selang beberapa minggu aku menelpon ibuku. Dan aku merasa sangat bersyukur bahwa ibuku merasa bahagia ketika bisa bekerja lagi. Aku begitu senang ketika ia berbicara dengan riang gembira tanpa tekanan. Aku hanya bisa mengingatkan agar jangan lupa untuk beristirahat ketika tubuhnya sudah mulai lelah.

Aku suka dengan kesederhanaan ibuku. Ia mampu menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana, dan tak pernah sekali pun ia mengumbar dan membicarakan anaknya dihadapan teman-temannya. Ibuku juga tidak pernah mengeluh menjalani takdirnya. Baginya, bersyukur adalah cara terbaik menjalani takdir.

Selain kakek, nenek dan ibuku, Pak Dhe serta Om-ku adalah malaikat lainnya di sekitarku. Pak dhe dan Om-ku adalah dua pribadi yang berbeda. Bagiku Pak dhe adalah motivator tanpa bualan. Pak dhe adalah orang yang pendiam, dibalik sikap diamnya menyimpan banyak kesabaran. Jika beban hidupnya dipindahkan kepadaku, aku yakin pasti langsung njeglek. Ia adalah figure dari kesabaran yang tanpa batas, jika dikira sabar sudah mulai tipis, Pak dhe akan lebih banyak diam dan menghindar.

Pak dhe tetap lah manusia biasa, namun aku berusaha melihat dan mengambil pelajaran dari sisi positifnya saja. Sebelum menikah Pak dhe sudah mempunyai rumah, dan itu adalah salah satu yang ingin aku tiru. Pak dhe sering memberi contoh pada tindakan daripada hanya sekedar omongan. Dalam prinsipnya ia lebih memilih ditipu daripada menipu. Entah sudah berapa banyak orang yang berhutang namun tidak satu pun yang membayarnya, dan pak dhe tidak pernah menagihnya, ia lebih suka mengikhlaskannya.

Berbeda dengan Pak dhe, Om-ku adalah segala hal kebalikan dari Pak dhe, misalya ia lebih banyak memberi nasehat dengan omongan-omongan, tentu ini bukan hanya sekedar omongan tanpa tindakan, karena biasanya nasehat itu berdasarkan pengalaman hidupnya. Om-ku adalah orang yang sangat peduli dengan masa depanku. Tidak heran jika anaknya sendiri bisa merasa iri dengan sikap bapaknya terhadapku.

Selain itu, Om-ku adalah mentor dalam kehidupanku. Bisa dibilang diantara keponakan-keponakannya, aku mungkin yang paling disayang. Aku sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga kecilnya. Ketika masih kecil ia sering menasehatiku, memberi pandangan-pandangan tentang kehidupan, hingga aku sampai lulus kuliah. Kemudian semakin bertambah dewasa aku dan Om-ku sudah layaknya teman yang sedang mengobrol untuk sekedar bertukar pikiran. Karena tidak semua hal, kami memiliki padangan yang sama, dan dengan saling bertukar pikiran kami jadi saling terbuka tentang banyak hal.   


Aku sangat bersyukur, ketika sebuah perahu kehilangan nahkoda, Tuhan mengirimkan awak-awak kapal yang bisa mengatasi badai meski kapal itu sudah tak bernahkoda. Bersyukur masih ada malaikat-malaikat di sekitarku, kakek dan nenekku yang begitu sabar merawat dan mendidikku tentang sebuah kepercayaan, kemudian Pak dhe mengajariku tentang kesabaran dan sebuah sikap dalam diamnya, serta Om-ku yang begitu peduli dengan masa depanku. Aku tidak tahu harus membalas kalian semua, kecuali sebatas doa, agar kita semua diberi kesehatan dan senantiasa berada di bawah lindunganNya.
Read more ...

Sabtu, 02 Januari 2016

Wajah Baru Kota Boyolali

WAJAH BARU KOTA BOYOLALI. Aku kemaren mendapat kabar bahwa di Boyolali ada siaran langsung di Metro Tv sebagai bagian dari acara penyambutan tahun baru 2016. Namun aku baru saja menontonnya via youtube. Jadilah kota yang terkenal dengan susu-nya itu, sekarang bukan hanya soto seger mbok giyem saja yang perlu Anda ketahui. Namun juga dengan wajah barunya kota Boyolali saat ini.

Gedung-gedung pemerintahan yang sudah diboyong ke kompleks kabupaten baru. Kompleks kabupaten yang terpadu dengan kantor-kantor dinas lainnya. Dan hampir semua gedung di sana dibuat mirip dengan gedung-gedung yang berada di Jakarta, seperti gedung DPR, Kantor Bupati yang dibuat seperti gedung istana. Dan yang membuat saya senang adalah, nuansa pluralism juga terlihat dengan dibangunnya tempat-tempat ibadah, baik Masjid, Pura, Gereja Katolik dan Gereja Kristen, yang sengaja dibuat berjejeran. Selain itu, ada patung yang baru saja rampung pembangunan, patung sapi raksasa yang berada di dekat alun-alun itu, beberapa hari terakhir menjadi magnet bagi masyarakat untuk berfoto selfie.

Kompleks kabupaten yang terpadu dengan gedung-gedung pemerintahan lainnya, sekarang seperti menjadi magnet bagi masyarakat. Hampir setiap sore di kabupaten baru tersebut sudah ramai oleh masyarakat Boyolali. Dan jalan menuju ke kompleks kabupaten baru, mengingatkanku pada boulevard di UNS. Dan Boulevard itu diberi nama Boulevard Soekarno, karena di sana ada patung Soekarno yang menyambut kedatangan Anda ketika masuk ke area kompleks Kabupaten baru. Dan Boulevard itu dulu di resmikan langsung oleh Presiden RI saat ini, Bapak Jokowi.

Selain itu semua, Boyolai juga baru saja selesai “merias wajahnya” dengan rampungnya pembangunan simpang lima di Boyolali kota. Simpang lima dengan patung kuda yang juga menjadi magnet bagi masyarakat, apalagi kalau tidak cekrak-cekrik berfoto selfie.

Dalam acara sentilan-sentilun yang dipandu oleh Butet dan Ki Baguse Narso itu, juga menyinggung tentang peluang kerja di Boyolali. Dibukanya peluang investasi di Boyolali, membuat banyak industri baru bermunculan, terutama industri garmen. Sebut saja Pan Brother, PSS, BSGI, Thun Hong, Cartini, Andalan dan yang baru-baru ini di resmikan oleh Menteri Perindustrian adalah ESGI yang berada di pinggir kota Boyolali, Sambi dan Klego. Sebenarnya masih banyak lagi, namun aku sedang sibuk untuk mengabsennya satu persatu.

Banyaknya peluang kerja, sampai-sampai menimbulkan permasalahan baru, ketika jumlah peluang kerja jauh lebih besar daripada jumlah pencari kerja. Dan lagi-lagi saya yang berkarir di dunia HRD begitu merasakan betapa saya harus bekerja jauh lebih keras untuk bersaing mendapat SDM dengan perusahaan-perusahaan tetangga.

 Di saat pengangguran menjadi pokok persoalan bagi daerah lain, di Boyolai kebutuhan SDM menjadi persoalan tersendiri bagi Dinas Ketenagakerjaan, padahal dari dinas ketenagakerjaan sudah mendirikan Balai Pelatihan Kerja.

Mumpung masih dalam suasana tahun baru. Semoga di tahun mendatang, ditengah sulitnya mencari SDM, tidak membuatku kesulitan dalam mencari jodoh. Amin J

 Berikut link video youtube sentilan sentilun spesial tahun baru 2016 yang live Boyolali:
 https://www.youtube.com/watch?v=Ho2EBm7ICWs
Read more ...

Jumat, 01 Januari 2016

(Merayakan) Malam Tahun Baru Dalam Kesunyian

Menjelang tahun baru 2016, teman-teman di kantor sudah ramai membicarakan tentang hendak kemana menghabiskan tahun 2015, dan menyambut tahun baru 2016. Tahun baru 2016 yang jatuh pada hari jumat, membuat wajah teman-teman kerjaku nampak sumringah untuk menyambut tahun baru, apalagi sudah ada kabar dari bagian finance bahwa gaji sudah ditransfer ke rekening masing-masing karyawan. Benar-benar long weekend menjadi tampak jauh lebih menyenangkan daripada long weekend minggu kemaren yang diisi dengan kegiatan lembur.

Ketika ada salah satu teman kerjaku yang bertanya kepadaku “Hendak kemana malam tahun baru nanti, Mas?” Aku yang sudah dari awal tidak ada rencana untuk merayakan tahun baru pun secara spontan menjawab dengan sekenanya. “Mungkin ke Jogja, atau ke Solo, apes-apesnya mungkin malah cuma di rumah. Tidur!" Padahal dalam hati aku sudah memutuskan untuk lebih baik aku di rumah saja istirahat.

Beberapa teman kerjaku, ada yang ingin menyambut tahun baru di alun-alun Boyolali, sebagian lagi ada yang ingin menikmati pesta kembang api di simpang lima Boyolali yang akan diresmikan bersamaan dengan perayaan malam tahun baru. Ada juga yang lebih memilih menyambut tahun baru di Solo, entah itu di area Manahan, atau car free night di jalan slamet riyadi. Dan aku, sekali lagi tetap pada pendirianku, di rumah saja. Tidur!

Sepulang kerja, seperti biasa aku mampir dulu dan mengobrol ngalur-ngidul dengan rekan-rekan kerjaku. kemudian setelah itu aku pulang, dan mampir dulu ke ATM untuk mentransfer sejumlah uang. Maklumlah aku baru saja gajian, sebaiknya aku selamatkan dulu sebagian gajiku, agar tidak khilaf dengan diskon akhir tahun.

kali ini aku pulang ke kos-an, karena aku sedang ingin menikmati kesunyian disaat kebanyakan orang keluar rumah untuk ikut serta dalam menyumbang kemacetan malam tahun baru, dengan bersesak-sesak diantara jutaan orang yang hanya untuk melihat letupan-letupan kembang api.

Sampai di kos-an aku merebahkan tubuhku di atas kasur, kemudian menyalakan pemanas dispenser, sambil menunggu air panas, kutinggal mandi terlebih dahulu untuk membersihkan tubuhku yang masih lengket oleh keringat. Setelah mandi, dan air di pemanas disepenser sepertinya sudah panas, aku pun membuat kopi hitam untuk kunikmati sambil menunggu adzan magrib.

Sedang khusyuk menikmati kopi, ada pesan masuk dari keluargaku yang di Boyolali, yang menanyakan posisiku karena hendak mengajakku malam tahun baruan bersama keluarga ke Solo, Sekali lagi aku jelaskan bahwa aku ingin istirahat saja, Atau dengan kata lain, tidur!

Terdengar suara adzan magrib, kemudian aku bergegas untuk berwudhu dan pergi ke masjid. Ternyata pengajian malam jumat yang biasanya di adakan setiap awal bulan, diajukan sehingga pangajian kali ini bertepatan dengan malam pergantian tahun. Setelah sholat magrib berjamaah aku tidak langsung pulang, sambil menunggu sholat isya aku masih tetap di dalam masjid untuk mendengarkan kajian. Aku suka dengan kajian-kajian rutin yang diadakan di masjid itu. Masjid yang lokasinya hanya di seberang jalan depan kos-an itu, biasanya membahas tentang ilmu fikih dalam kehidupan sehari-hari sehingga mudah di cerna oleh jamaah yang sebagian besar adalah orang tua.

Setelah kajian selesai, langsung dikemundangkan adzan sholat isya. Ketika adzan dikumandangkan, ada sebagian jamaah yang sudah batal wudhunya, mulai pergi ke tempat wudhu. Sebagian lagi masih duduk dan mendengarkan adzan. Setelah adzan isya, hanya selang beberapa detik saja, langsung dikumandangkan iqomat, aku pun segera berdiri untuk segera merapat pada barisan depan untuk sholat isya berjamaah.

Selesai sholat isya, aku langsung kembali lagi ke kos, dan masuk ke kamarku. Tiba-tiba ada ibu kos yang mengetuk pintu kamarku dan mengantarkan snack dan makan malam. Ternyata setelah pengajian dan sholat isya itu, ada orang dermawan yang memberi snack dan makan malam. Waktu aku buka, syukur Alhamdulillah, ada nasi dengan lauk gudek dengan suwiran ayam serta telur yang di masak coklat, jadi aku tak repot-repot untuk keluar mencari makan malam.
***
Di saat orang-orang berboyong-boyong menuju keramaian, aku justru hanya di dalam kamar saja. Aku sedang muak dengan keramaian, muak dengan macetnya jalanan dengan kendaraan-kendaraan yang knalpotnya sudah diganti dengan knalpot plong, sehingga suara motornya menjadi sangat bising. Aku sedang ingin sendiri menikmati kesunyian ini.

Aku jadi teringat dengan perayaan tahun baru kemaren. Aku yang kala itu masuk shift siang, jadi ketika pulang kerja, iseng-iseng aku ingin lewat kota Boyolali dengan lewat di Kabupaten baru Boyolali. Namun aku justru terjebak macet, motorku benar-benar hanya berjalan merayap, karena jalan menuju kabupaten baru Boyolali begitu penuh sesak dengan lautan manusia. Pihak polisi pun sampai kewalahan dalam merekayasa lalulintas. Dan di tengah-tengah kemacetan, untuk kali pertama aku ikut serta dalam perayaan pergantian tahun. Dan bisa dibilang itu hanya kebetulan saja, karena aku sebenarnya hanya ingin numpang lewat saja.

Di dalam kamar aku memainkan lagu-lagu sendu dalam play list Mp3-ku. Ditemani sisa kopi soreku yang sudah dingin, dengan cemilan seadanya. Aku membuka kembali ms word dan menyelesaikan tulisan-tulisan yang belum sempat aku selesaikan, agar aku bisa segera memposting ke blog pribadiku ini.

Kemudian aku istirahat karena mataku sudah mulai perih ketika terlalu lama menatap layar laptop, dengan merebahkan tubuhku yang juga  sudah mulai lelah ini di atas kasur. Ketika aku merebahkan tubuhku diatas kasur, aku menjadi teringat dengan resolusi-resolusi yang pernah aku tulis setahun yang lalu ketika menyambut tahun baru 2015. Aku memang sudah menjadi bagian dari orang-orang mainstream yang membuat semacam resolusi atau menulis hal-hal yang ingin dicapai satu tahun mendatang. Dan mungkin kalian lupa belum menuliskan salah satu hal yang ingin dicapai satu tahun mendatang, yaitu mencapai apa yang belum dicapai di tahun sebelumnya.
***
Ketika mataku sudah mulai terpejam, dan aku sudah merasa hampir lepas dari realitas, terdengar suara telpon dari handphone-ku yang membuatku sedikit terkaget. Waktu kulihat ternyata nomor telpon kantor, dan aku enggan untuk mengangkatnya, kemudian tidak lama setelah telepon itu, ada sms masuk di handphone-ku, ternyata dari Supervisor-ku, yang intinya menyuruhku agar hari sabtu aku masuk lembur. Dan lagi-lagi ketika libur long weekend hanya sekedar mitos, tetap dijalani saja lah sebagai wujud dari tanggung jawab.


Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur, persetan dengan adanya pesta kembang api dimana-mana untuk menyambut tahun baru 2016. Selamat tahun baru 2016 gaes, jangan lupa hari sabtu lembur, eh maksud saya jangan lupa bahagia J
Read more ...