Sabtu, 09 Januari 2016

Film "Cahaya Hati"

Kalau sejarah berdirinya Muhammadiyah dapat aku ketahui dengan film yang berjudul “Sang Pencerah” sebuah film karya sutradara Hanung Bramantyo, yang bercerita bagaimana KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah. NU sang “rival” abadinya juga mempunyai film berjudul “Sang Kiai” yang menceritakan sang pendiri NU, Hedratus Syekh Hasyim Asyari.

Dan kali ini aku baru saja melihat trailer film yang berjudul “Cahaya Hati” sebuah film yang bercerita tentang kejadian nyata yang terjadi di Blora, ketika seorang warga Majelis Tafsir Al quran (MTA) di tentang warga karena (dianggap) tidak umum.

Aku sendiri kenal MTA dari radio, dan aku menjadi begitu hafal dengan suara Ustad Ahmad Sukino. Siapa yang tak kenal dengan Kiai radio itu.

Film “Cahaya Hati” karya sutradara muda yang bernama Ari Prayudhanto. Film itu menceritakan bagaimana MTA berjuang dan bisa berkembang hingga saat ini. Ia mulai tertarik dengan MTA ketika mendengar bentrokan warga yang terjadi di daerahnya, Blora. Kemudian ia malah ingin lebih tahu mengapa MTA begitu ditentang, dan apa yang salah? ia merasa harus memberitahukan khalayak ketika mengetahui bahwa MTA tidak seperti yang dipikirkan kebanyakan orang.

Kemudian sang sutradara yang juga merupakan murid dari sutradara Hanung Bramantyo itu mengadakan riset hampir 3 bulan untuk lebih menyakinkan terlebih dahulu sebelumnya mengeksekusinya menjadi sebuah film.

Tujuan yang Mulia dari sang sutradara yang mencoba menjelaskan kepada masyarakat luas, tentang siapa MTA itu sebenarnya, ditengah opini masyarakat yang buruk tentang MTA.

Dan sepertinya kita harus menunggu sebuah film yang menceritakan bagaimana berdirinya FPI dan sepak terjangnya. Semoga film itu bisa lulus sensor.