Sabtu, 23 Januari 2016

Kopi “Aroma” Soreku

foto oleh Riki S
Meski hari masih sore, rasa bosan di kantor menggiringku ke rasa kantuk. Hari sabtu kantor sangat sepi, berbeda dengan hari-hari biasa. Karena hanya karyawan bagian tertentu saja yang overtime. Di office atas, hanya ada aku, seorang admin, dan manager-ku yang nampak serius menatap layar laptopnya, di meja kerjanya yang terletak di pojok ruang.

Waktu kulihat jam di pojok layar laptopku, ternyata sudah pukul 16.00. Kemudian Pak Manager mengajakku sholat ashar berjamah. Aku pun mengiyakan ajakkan beliau, kebetulan aku juga belum sholat ashar.

Kami berdua sholat di ruang meeting atas, namun kami biasanya menyebutnya ruang rekreasi, karena desain ruangan yang lebih mirip dengan ruang tamu, dengan sofa serta ac yang sangat dingin dibanding dengan ruangan lainnya. Ruangan ini biasanya digunakan ketika GM kami berkunjung ke Factory Solo, tempatku bekerja. Karena, beliau lebih sering di factory regional Indonesia yang berada di Semarang.

Selesai sholat, aku yang sudah mulai mengantuk pun, mengajak Pak manager untuk ngopi dulu. Di samping ruangan rekreasi ada lemari kecil untuk menyimpan gelas, cangkir, kemudian gula, teh serta kopi, serta di samping lemari kecil itu ada kulkas dan dispenser yang bisa memanaskan air hingga superhot untuk menyeduh kopi.

“Barusan sudah ngopi aku, Kik, ngopi terus malah kembung perutku” sepertinya Pak manager baru saja ngopi. Dan aku pun menuju ke lemari kecil untuk membuat kopi soreku.

“Di laci ada kopi, lho kik, kemaren dapat oleh-oleh” Pak manager menawariku dengan kopi oleh-oleh itu. Aku tidak bertanya lebih lanjut oleh-oleh dari siapa. Waktu aku buka ternyata kopi aroma bandung. Aku membaca kemasan kopi tersebut, “Koffi Fabriek Aroma Bandung, Robusta dengan gilingan kasar”

Aku sendiri mengetahui kopi aroma dari salah satu artikel di minumkopi.com yang berjudul "Aroma Dari Percakapan". Selebihnya aku mencari tahu di internet tentang kopi aroma.

Kopi aroma adalah kopi yang dibuat dengan mempertahankan cara-cara tradisional. Disangrai atau bahasa kerennya di roasting dengan alat yang bisa dibilang masih tradisional. Betapa tidak tradisional, mengingat proses roasting masih menggukan api dari kayu bakar, jauh dari kata modern.

Meski kopi aroma dibuat oleh pabrik kopi yang jauh dari kata modern. Namun justru ke-tradisional-an itulah letak keunikan kopi tersebut, dan menjadi daya tarik tersendiri.

***
Aku menaruh beberapa sendok teh kopi aroma ke dalam sebuah cangkir, kemudian menambahkan sedikit gula serta menyeduhnya dengan air panas dari dispenser. Mengaduknya secara perlahan, dan sebelum aku meminumnya, kuhirup dulu kepulan asap dari kopi yang baru saja aku buat. Seperti halnya yang dilakukan oleh salah tokoh dalam cerpen yang berjudul “Kamu dan Kopi". Tokoh dalam cerpen tersebut memiliki ritual khusus sebelum meminum kopi, ia akan memejamkan mata dan menghirup kepulan asap dari cangkir kopinya, seperti halnya berdoa sebelum makan.

Aroma yang berbeda dari kopi biasanya, ketika aku menghirup kepulan asapnya. Butiran-butiran kopi yang masih kasar perlahan mulai mengendap. Dan sembari menunggu menghangat, aku tiup kecil di pinggir cangkir sebelum aku menyruput-nya. Waktu ku-sruput, masih ada butiran kopi nampak kasar yang belum mengendap, anehnya butiran itu tidak begitu pahit dan ketika sampai pada lidah mulai melebur menjadi tidak kasar lagi.

Aku berharap kopi aroma sore ini, bisa membuatku tetap bersemangat di kantor hingga nanti malam, menikmati malam minggu di kantor, meski rasa bosan begitu menghunjam.


Selamat berakhir pekan, tetap ngopi, tetap semangat, dan tetap bekerja. Ingat, besok hari minggu. Libur!