Rabu, 06 Januari 2016

Malaikat-Malaikat di Sekitarku

Sejak badai itu menimpa keluarga kecil kami, sontak kapal ini sudah tak ber-nahkoda lagi. Selalu goyah ketika diterjang ombak. Disaat kapal mulai goyah, dan seperti hendak karam itulah, ia segera mengambil alih kendali. Iya, Ibu yang seharusnya fokus untuk mendidik dengan sentuhan kasih sayang, serta memberikan rasa aman kepada buah hatinya, namun saat itu seperti tidak ada pilihan lain. Aku lupa berapa usiaku kala itu, namun seingatku, kala itu aku belum bersekolah. Ibu memilih untuk hidup merantau untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami. Dan disaat itulah aku seperti tak ber-orangtua.

Beruntung aku masih memiliki kakek dan nenekku yang mau menampungku. Bisa dibilang, kedua kakek dan nenekku lah yang berperan sebagai orangtuaku, mereka yang merawatku hingga aku tumbuh besar hingga sekarang. Aku tidak tahu apa jadinya hidupku tanpa mereka berdua.

Mereka berdua (kakek dan nenekku) adalah malaikatku, sabarnya seperti tak terbatas. Terutama kakekku! Sedangkan nenekku yang terkenal galaknya pun, seperti tidak bisa menunjukkan ke-galak-kannya ketika berhadapan dengan cucu-cucunya, termasuk aku.

Aku teringat kala hidup bersama dengan kakek-nenekku. Rumah mereka kala itu masih beralaskan tanah, dengan anyaman bambu sebagai dindingnya. Menderita kah? Tentu saja tidak. Aku seperti tidak merasa menderita meski secara kasat mata (jika dilihat dengan kaca mata masa kini) hidup kami begitu menderita. Berlahan tapi pasti rumah penuh kenangan itu, dibongkar dan secara bertahap terus dirapikan hingga seperti saat ini. Aku tidak mengatakan bahwa rumah itu sekarang menjadi bagus nan mewah, namun bisa dibilang masih sederhana, tidak terlalu bagus, juga tidak terlalu jelek. Seperti falsafah orang jawa, “sik penting podo kancane” artinya sama dengan yang lain atau tidak boleh mengungguli orang lain, meski sebenarnya mampu.

Ketika kecil hidupku normal-normal saja, seperti kebanyakan anak-anak kecil lainnya, meskipun sebenarnya kami berbeda latarbelakang. Mereka berasal dari keluarga yang (nampak) bahagia karena keutuhan sebuah rumah tangga. Sedangkan aku dengan keluarga yang seperti kapal yang sudah tak ber-nahkoda. Iri? Aku masih manusia biasa, terkadang sifat iri itu muncul, ketika aku melihat Pak Dhe-ku dan Om-ku sedang memanjakan anak-anaknya. “Andai dulu aku seperti mereka” mungkin begitu lah batinku ketika melihat sebuah keluarga yang (nampak) untuh dan bahagia.

Ketika kecil aku pernah sakit, dan kakekku yang begitu menyayangiku itu, langsung membawaku ke dokter di puskesmas yang terletak di balai desa. Jarak antara rumah kami dan puskesmas di balai desa kurang lebih 2 Km. Hingga saat ini, aku masih ingat, ketika kakekku menggendongku dengan berjalan kaki untuk mengantarkku berobat ke Puskesmas. Selama di perjalanan pun kakek malah sering bercerita serta nembang dengan lagu-lagu jawa.

Kakekku tidak bisa naik sepeda, jadilah ia lebih suka kemana-mana dengan jalan kaki, entah pergi ke sawah, ke tempat kerabat-kerabatnya atau sekedar liat-liat di pasar. Aku selalu ingat dengan masa-masa itu.

Saat ini kakekku masih diberi kesehatan, meski dulu sempat harus bolak-balik opname di rumah sakit dan harus transfusi darah. Pernah juga sakit infeksi di salah satu matanya, dan dokter menyarankan agar segera mengambilkan tindakan dengan mengangkat bola matanya, dan kini kakekku hidup dengan satu penglihatan.

Semenjak itu, kakek sudah jarang sakit, jika sakit pun hanya sekedar masuk angin dan cukup berobat di bidan dekat rumah kami. Terkadang aku juga sering disuruh untuk mengantar ke rumah kerabat, atau pergi untuk lihat-lihat sawah. Iya, semenjak dulu sering opname, sawahnya sudah digarap oleh orang lain dengan sistem bagi hasil, jadilah kakekku hanya di rumah saja, dan ikut merasakan panen ketika musim panen.

Meski sekarang sudah tua, aku sekalipun tidak melarang kakekku untuk melakukan hal-hal yang menurut orang lain akan menggiring rasa iba. Kakekku masih suka menggarap kebun halamannya, entah itu menanam pisang, kacang, serta ubi. Ia juga sering membuat kayu bakar yang digunakan untuk memasak nenekku. Mereka masih menggunakan kayu bakar hingga sekarang, meski anakknya sudah membelikan kompor gas, namun nenekku lebih suka dengan kayu bakar. Dan karena itu pula, aku merasa harus mencicipi masakan nenekku ketika di rumah, karena aku tahu proses sebelum semua makanan itu berada di balik tudung saji.

Nenekku juga tidak kalah sayangnya dengan aku dan cucu-cucunya. Dia seperti mempunyai sebuah kurikulum sendiri dalam hal mendidik anak. Aku yang dididik dari kecil pun awal-awalnya merasa seperti dikurung dalam kerangkeng besi. Aku sering dilarang keluar rumah pada malam hari, disaat teman-temanku sedang mencari jangkrik di sawah pada malam hari. Dan hanya boleh keluar malam ketika mala minggu atau pas libur sekolah. Apalagi dalam hal keuangan, nenekku yang kala itu memegang kendali penuh terhadap pengeluaranku sangat susah ketika diminta uang jajan. Namun jika urusan biaya sekolah, ia tidak pernah telat, padahal sebelumnya ia berkata tidak mempunyai uang.

Namun segala hal yang aku anggap teralis besi itu, berangsur-angsur mulai hilang. Aku masih ingat ketika aku sudah masuk sekolah SMA, nenekku yang begitu keras itu, seperti sudah memberikan kepercayan penuh kepadaku terhadap hal-hal yang kulakukan. Aku dipercaya memegang sendiri uang kiriman dari Ibuku. Keluar malam pun tidak jadi soal asal aku bertanggung jawab terhadap sekolahku. Aku bisa dengan mudah meminta uang jika aku benar-benar sedang tak punya uang. Karena kepercayaan yang diberikan kepadaku itulah yang membuatku tak pernah nggabrul dan membelokan uang sekolah, kemudian bolos hanya untuk sekedar main PS. Aku seperti dididik agar aku menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap diriku sendiri. Hidup di lingkungan yang kebanyakan adalah perokok dan sering mabuk-mabukan, namun dengan sendirinya aku tak pernah melakukan hal itu, meski dulu rumahku sering dijadikan tempat nongkrong. Sering kali tempat sampahku penuh dengan puntung rokok, sedangkan botol-botol sudah mereka buang. 

Kakek dan nenekku adalah malaikatku. Ia adalah penolongku disaat perahu kami hampir karam. Dan tentu juga Ibuku, ia yang kini lebih memilih hidup merantau untuk memastikan perahu kami tidak karam, dan agar kami terus menjaga asa.

Ibuku bukanlah orang yang pandai. Namun ia hidup dengan kesederhanaan dan kepolosan. Ia pandai mencari uang, namun ia tak pandai dalam membelanjakan uang. Karena ia lebih mempercayakan uangnya kepada anaknya. Entah itu aku sendiri atau kakakku. Aku dan kakakku lahir dari kurikulum nenekku dalam hal mendidik anak. Aku dan kakakku tidak begitu silau atau kemecer ketika memegang uang banyak (menurutku dan kakakku yang saat itu belum bekerja). Terkadang aku juga bingung sendiri, kenapa uang yang aku simpan itu tidak aku gunakan untuk membeli handphone terbaru saja, dan bisa aku pamerkan kepada teman-temanku. Sekali lagi, sikap tanggung jawab dan menjaga kepercayaan itu begitu terpatri dalam diriku.

Ibuku lebih suka hidup di perantauan, yaitu di Kerinci, Jambi. Pernah aku memiliki rencana untuk menyuruh Ibu meninggalkan jambi dan hidup bersama kakek dan nenekku serta Bulek, di rumah Sukoharjo. Namun ibuku yang terbiasa bekerja itu pun seperti tidak bisa hanya duduk diam di rumah tanpa penghasilan. Inilah kenapa ia merasa tertekan ketika berlama-lama di rumah. Aku menjadi orang yang sangat bersalah ketika aku begitu memaksanya untuk di rumah saja. Ibuku menjadi seperti terpenjara dalam kenyamanan semu. Secara kasat mata ia terlihat nyaman, namun batinnya begitu tersiksa, Ia seperti terpenjara, tidak bebas. Dan disaat hatinya berontak ingin merantau lagi, lingkungan sekitar malah membuatnya ragu akan kemauannya. Ibuku adalah orang sulit dalam pengambilan keputusan, mungkin itu adalah produk gagal ketika masih dalam tahap trial and error dalam penyusunan kurikulum dalam mendidik anak versi nenekku. Dan ibuku menjadi korbannya.

Ibuku pernah merasa tertekan, dan di saat seperti itulah, sebagai anak aku harus segera mengambil keputusan. Aku memutuskan untuk menyakinkan bahwa Ibuku akan baik-baik saja untuk merantau lagi, aku harus menyakinkan pula nenekku agar rilo melepas anakknya (yaitu ibuku) merantau lagi. Kala itu aku dianggap anak tak tau diri oleh orang-orang disekitarku, karena menyuruh ibunya sendiri hidup merantau, padahal aku juga sudah bekerja. persetan dengan kata orang kala itu, aku tetap pada keyakinanku untuk menyelamatkan kejiwaan ibuku yang sudah mulai tertekan. Agar semua bisa menerima, aku dan kakakku mengambil keputusan. Ibuku tetap merantau dengan ditemani kakakku selama beberapa minggu.

Selang beberapa minggu aku menelpon ibuku. Dan aku merasa sangat bersyukur bahwa ibuku merasa bahagia ketika bisa bekerja lagi. Aku begitu senang ketika ia berbicara dengan riang gembira tanpa tekanan. Aku hanya bisa mengingatkan agar jangan lupa untuk beristirahat ketika tubuhnya sudah mulai lelah.

Aku suka dengan kesederhanaan ibuku. Ia mampu menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana, dan tak pernah sekali pun ia mengumbar dan membicarakan anaknya dihadapan teman-temannya. Ibuku juga tidak pernah mengeluh menjalani takdirnya. Baginya, bersyukur adalah cara terbaik menjalani takdir.

Selain kakek, nenek dan ibuku, Pak Dhe serta Om-ku adalah malaikat lainnya di sekitarku. Pak dhe dan Om-ku adalah dua pribadi yang berbeda. Bagiku Pak dhe adalah motivator tanpa bualan. Pak dhe adalah orang yang pendiam, dibalik sikap diamnya menyimpan banyak kesabaran. Jika beban hidupnya dipindahkan kepadaku, aku yakin pasti langsung njeglek. Ia adalah figure dari kesabaran yang tanpa batas, jika dikira sabar sudah mulai tipis, Pak dhe akan lebih banyak diam dan menghindar.

Pak dhe tetap lah manusia biasa, namun aku berusaha melihat dan mengambil pelajaran dari sisi positifnya saja. Sebelum menikah Pak dhe sudah mempunyai rumah, dan itu adalah salah satu yang ingin aku tiru. Pak dhe sering memberi contoh pada tindakan daripada hanya sekedar omongan. Dalam prinsipnya ia lebih memilih ditipu daripada menipu. Entah sudah berapa banyak orang yang berhutang namun tidak satu pun yang membayarnya, dan pak dhe tidak pernah menagihnya, ia lebih suka mengikhlaskannya.

Berbeda dengan Pak dhe, Om-ku adalah segala hal kebalikan dari Pak dhe, misalya ia lebih banyak memberi nasehat dengan omongan-omongan, tentu ini bukan hanya sekedar omongan tanpa tindakan, karena biasanya nasehat itu berdasarkan pengalaman hidupnya. Om-ku adalah orang yang sangat peduli dengan masa depanku. Tidak heran jika anaknya sendiri bisa merasa iri dengan sikap bapaknya terhadapku.

Selain itu, Om-ku adalah mentor dalam kehidupanku. Bisa dibilang diantara keponakan-keponakannya, aku mungkin yang paling disayang. Aku sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga kecilnya. Ketika masih kecil ia sering menasehatiku, memberi pandangan-pandangan tentang kehidupan, hingga aku sampai lulus kuliah. Kemudian semakin bertambah dewasa aku dan Om-ku sudah layaknya teman yang sedang mengobrol untuk sekedar bertukar pikiran. Karena tidak semua hal, kami memiliki padangan yang sama, dan dengan saling bertukar pikiran kami jadi saling terbuka tentang banyak hal.   


Aku sangat bersyukur, ketika sebuah perahu kehilangan nahkoda, Tuhan mengirimkan awak-awak kapal yang bisa mengatasi badai meski kapal itu sudah tak bernahkoda. Bersyukur masih ada malaikat-malaikat di sekitarku, kakek dan nenekku yang begitu sabar merawat dan mendidikku tentang sebuah kepercayaan, kemudian Pak dhe mengajariku tentang kesabaran dan sebuah sikap dalam diamnya, serta Om-ku yang begitu peduli dengan masa depanku. Aku tidak tahu harus membalas kalian semua, kecuali sebatas doa, agar kita semua diberi kesehatan dan senantiasa berada di bawah lindunganNya.