Selasa, 12 Januari 2016

Menikah(?)

Aku juga tidak tahu, di tengah kesibukanku hidup dalam rutinitas, Tuhan justru menyelipkan seseorang yang mampu membuatku merasa mak deg ketika tiba-tiba hadir di hadapanku. Sebut saja gadis berkerudung merah. Gadis yang sudah kukenal dalam waktu yang relatif singkat itu, nampaknya sudah tak mau lagi mencicipi manis semu duniawi. Bisa dibilang perkenalan yang lumayan singkat itu mampu membuat aku dan dia sudah tak ragu lagi untuk menjalin sebuah ikatan.

Aku yang kala itu hanya sekedar mengantarnya pulang ke rumah. Tiba-tiba sudah ada laki-laki yang usianya nampak seusia dengan Bapak Jokowi, Presiden RI itu, menyuruhku untuk mampir sebentar untuk sekedar ngopi-ngopi.

kami berdua mengobrol lumayan lama, sebenarnya aku bingung mau membicarakan hal apa, tapi untungnya si bapak yang justru lebih banyak bertanya kepadaku. Bertanya dengan santai dan terkadang diselingi guyonan. Setelah beberapa saat aku baru sadar bahwa beliau sedang bertanya segala sesuatu tentangku.

Ditengah-tengah obrolan terdengar suara adzan magrib, pikirku itu bisa jadi alasan untuk segera berpamitan. Namun ternyata ia lebih cerdas dari yang kupikirkan, ia malah menahanku dan menyuruhku sholat magrib berjamaah terlebih dahulu sebelum pulang. ”Magrib itu waktunya pendek, sholat magrib dulu saja, nak” Dan menjadi semakin apes ketika ia justru menyuruhku sebagai Imam sholat magrib berjamaah ”Sampeyan yang jadi imam ya, nak, suaraku sudah nggak begitu jelas soalnya” Aku hanya bisa menuruti kemauannya meski aku hanya bermodal qulhu dan surat pendek lainnya.

Selesai sholat magrib berjamaah. Ketika aku hendak pamit pulang, beliau malah bertanya tentang keseriusanku dengan anaknya. “Sampeyan tenanan kalian genduk?” aku yang masih keliatan bingung dan kikuk itu malah ceroboh dalam memberikan jawaban. “Kulo saestu, Pak Dhe” kemudian beliau menyuruhku untuk mendatangkan orangtuaku atau waliku sebagai tanda bahwa aku serius dengan gadisnya.

Bisa dibilang ini adalah sesuatu yang terlihat sangat mendadak. Aku menjadi semakin bingung. Bukan karena aku tidak siap. Bukan! Aku sudah siap! tapi aku bingung harus bagaimana mengatakan hal ini kepada orangtuaku, yang posisinya saat itu masih berada di pulau seberang sana. Akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan om-ku, orang yang begitu peduli dengan masa depanku itu, pasti mau membantuku. Namun aku takut dia akan berpikir macam-macam ketika semua ini serba mendadak. Karena aku belum pernah membawa dan mengenalkan kepada siapapun, termasuk om-ku.

Ketakutanku pun terjadi juga, ketika aku meminta bantuan om-ku, dia malah menuduhku bahwa aku sudah menjalin hubungan kelewat batas. Aku dituduh menghamili anak orang. Ditengah kemarahannya, aku terus berusaha dan menjelaskan semuanya, termasuk menelpon gadis itu yang sengaja aku loudspeaker dengan volume terbesar agar turut serta menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Om-ku pun mulai sadar bahwa aku dalam posisi yang benar, dan justru ia semakin mendukung langkahku, serta membantu menjelaskan dengan anggota keluargaku yang lain, termasuk kepada orangtuaku, serta kerabat-kerabat lain.
***
Segeralah pertemuan antara dua keluarga itu dimulai. Aku yang kala itu hanya diantar oleh om-ku, sebagai waliku, berniat untuk melamar gadis itu. Nampak wajah bapak dari gadis itu begitu antusias ketika aku membuktikan keseriusanku. Ia menjadi lebih percaya lagi untuk menyerahkan putrinya kepadaku.

Lamaranku diterima dengan syarat segera melaksanakan akad nikah. Om-ku nampak berusaha untuk meminta jeda beberapa hari agar bisa melakukan pembicaraan lagi dikemudian hari. Bapak itu justru menceramahi aku dan om-ku dengan segala dalil-dalil yang membuat kami agak keder. “Menikah itu yang penting apa? Pertama Ijab qobul sesuai dengan aturan agama, disaksikan saksi,  kemudian mengumumkan pernikahan itu, selesai! lagian anakku juga tidak meminta mahar yang tidak begitu sulit dipenuhi”

Dan om-ku hanya meng-iyakan saja. Dan kemudian semakin menjadi-jadi, om-ku sepertinya tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika si bapak berkata “Baik, satu bulan lagi kita adakan pernikahan ini” Om-ku kelihatan nampak santai, sedang aku sudah keluar keringat dingin. Kemudian kami pamit dan bersedia untuk melaksanakan pernikahan satu bulan lagi. Aku masih seperti antara percaya dan tidak.

Dalam perjalanan justru gantian om-ku yang mulai menceramahiku dengan segala pengalamannya. kalau kamu sudah yakinya jalani sajaBapak calon mertuamu itu ada benarnya juga, daripada runtang-runtung goncengan trus mending langsung nikah wae malah nggak dadi pikirannanti semua aku yang urus

Satu bulan persiapan pernikahan? Edan! Aku sengaja tidak mengundang teman-temanku, baik teman sekolah, kuliah ataupun teman kerja. Sengaja aku tidak ambil cuti nikah, nanti malah heboh di kantor aku difitnah digrebek warga untuk segera dinikahkan. Aku hanya mengundang keluarga dekat saja.

Segala persiapan semua aku serahkan kepada om-ku dan bulekku. Termasuk untuk keperluan akad nikah, terutama seserahan, mas kawin dan semuanya. Mereka berdua sudah berpengalaman dalam hal ini. Rencananya mas kawinnya aku tambahi lagi berupa cincin emas, karena dari pihak wanita hanya menginginkan mahar seperangkat alat sholat dan uang tunai satu juta. Sebagai laki-laki harus memberikan mahar lebih, pikirku.  Kami berencana untuk mengadakan resepsi tapi itu masih beberapa bulan lagi, yang penting akad nikah harus terlaksana terlebih dahulu. Atau mungkin malah tidak mengadakan resepsi sama sekali.

Persiapan demi persiapan semua berjalan lancar. Namun ada hal lain yang membuat rasa ragu itu muncul. Pertengkaran-pertengkaran kecil, mulai dari pemilihan baju ketika akad nikah, kemudian pemilihan masjid sebagai tempat akad nikah, seperti sesuatu yang remeh dan tidak begitu penting untuk diperdebatkan.

Ada hal lain yang membuatku rasa ragu kian menjadi-jadi. Ketika aku pergi ke Jogja seorang diri dan tidak berpamitan dengannya, itu menjadi semacam sebuah kesalahan fatal. Aku benar-benar pusing dengan sikap wanita. Sebenarnya maunya apa? Pikirku yang terbiasa hidup bebas tanpa monitoring dari seseorang seperti saat itu.

Belum menikah saja sudah dibuat pusing apalagi sudah jadi suami istri? Sebuah pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di pikiran, yang membuatku terjatuh dalam lubang keraguan. Aku benar-benar ragu, dan aku tidak tahu harus bagaimana untuk mengembalikan keyakinanku ketika aku memutuskan untuk melamarnya.

Perlahan tapi pasti, aku yang terus belajar memahami makhluk bernama wanita itu, kini sudah terbiasa dengan sikapnya. Sikap wanita yang awalnya aku anggap aneh itu, seakan menjadi kelucuan tersendiri bagiku. Meski tekadang hal itu bisa menjadi sesuatu yang sangat menyebalkan.

***
“Sah!” akhirnya kami sah menjadi suami istri. Kini aku sudah berstatus baru, bukan single ataupun jomblo lagi. Malam mingguku kini tak merana lagi dalam kesendirian. Dan dari kami sepakat untuk mengadakan perayaan kecil dengan mengundang makan-makan warga sekitar tempat tinggalnya. Ditempat tinggalku, aku hanya sekedar membagikan bancaan atau di tempatku dikenal dengan istilah berkat. Aku memesan nasi kotak dengan lauk ayam bakar utuh beserta lalapan untuk dibagikan kepada para tetangga, sebagai langkah dalam mengumumkan pernikahanku. Acara resepsi pun seperti batal dilaksanakan, jadilah sebuah perayaan yang begitu sederhana.

Hari-hariku sebagai seorang suami kini menjadi hal yang terkadang membuatku tertawa sendiri. Dan bahagia tentunya. Aku yang ketika pulang kerja malam biasanya tak ada yang menyambut, kini ada seorang yang menyambutku dan menyuguhkan teh panas, serta ada yang bersedia memanaskan air untukku mandi.

Ketika bangun pagi pun ada yang membangunkanku untuk sholat shubuh serta membuatkan secangkir kopi. Tentu juga ada yang membuatkan sarapan pagi untukku. Jadilah aku tidak lagi sebagai anak kos yang selalu merapel sarapan pagi dan makan siang.

Ada seseorang yang selalu mengingatkanku untuk sholat ketika jam-jam sholat. Mengingatkanku untuk makan siang ketika aku masih sibuk bekerja. Dan ketika hendak pulang kerja ada sms masuk untuk menanyakan makan malam apa yang sedang kuinginkan. Dalam hati kenapa aku tidak menikah dari dulu aja kalau hidup jadi seindah ini.

Aku seperti masih ingin hidup dalam kebebasan. Namun perasaan ingin menjadi bapak itu pun muncul. Aku jadi ingat ketika malam pertama, kami berdua malah asyik mengobrol berdua di dalam kamar. Dia yang sudah mulai ngantuk pun malah sudah tertidur duluan. Mungkin dia baru kecapekan, pikirku kala itu. Aku yang belum bisa tidur pun, malah menuju sebuah meja kecil di sudut kamar itu. Aku membuka laptop dan menulis perjalanan cintaku hingga menuju pelaminan yang begitu singkat itu. Perjalanan singkat yang merupakan akhir dalam sebuah penantian pencarian.

Dan ketika aku sudah lelah. Mataku sudah terasa perih. Aku mematikan laptopku dan menuju ke ranjang tempat istriku tertidur. Dia nampak tertidur pulas. Dan cantik! Wanita dihadapanku begitu cantik meski dalam keadaan tertidur pulas sekalipun. Aku yang mulai merasakan hasrat itu, begitu bergairah dan ingin sekali bercumbu dengannya. Aku ingin membangunkankannya untuk bercumbu, dan tentunya bercinta.

Tiba-tiba suara alarm handphoneku berbunyi. Waktu kulihat ternyata pukul 04.30 aku harus segera bangun dari tempat tidurku karena hari ini aku harus masuk pagi. Segera aku menuju kamar mandi dengan langkah sempoyongan. Kemudian mulai menyalakan air dengan suara yang begitu gembrujuk, melepas celanaku dan melakukan aktifitas rutinku, apalagi kalau bukan buang hajat. Dan ketika aku khusyuk melaksanakan hajatku, disela-sela bunyi air yang begitu gembrujuk itu aku mengumpat “Kampret! Hanya di sms ibu menanyakan mantu aja sampai kebawa mimpi”


Note :
Tulisan ini pernah dipublikasikan di lobimesen.com dengan judul yang sama, Menikah(?). Dan ini adalah tulisan aslinya, sebelum saya revisi untuk keperluan postingan di lobimesen.com tersebut