Senin, 11 Januari 2016

Surat Terbuka Untuk Mojok.co

Sebelumnya perkenalkan terlebih dahulu, nama saya Riki, tak perlu lah saya menyebutkan diri saya adalah salah satu dari kaum jomblo seperti halnya Agus Mulyadi yang senantiasa merayakan ke-jombloan-nya. Tidak perlu! Saya seorang buruh dibalik meja yang sehari-hari menghabiskan waktu di kantor tempat saya bekerja. Saya bekerja sebagai seorang staff HRD yang sibuk mencari karyawan untuk memenuhi kebutuhan SDM, hingga lupa untuk mencari pendamping hidupnya sendiri. Terkadang dalam ke-selo-an saya, saya juga sering membaca tulisan-tulisan di mojok.co

Awalnya saya diperkenalkan oleh salah satu sahabat saya, bahwa ada blog yang menerbitkan tulisan-tulisan yang ciamik untuk dinikmati di waktu-waktu selo. Kemudian saya obrak-obrik isi blog mojok.co, ternyata benar. Tulisan-tulisan yang diterbitkan dalam mojok.co lain daripada yang lain, tulisan yang vulgar dan menampilkan sudut pandang penulis yang beraneka ragam. Saya mulai tertarik dengan tulisan-tulisan yang diterbitkan di mojok.co. Bahkan saya rela untuk mencuri-curi waktu dikantor hanya untuk menikmati tulisan-tulisan baru yang diterbitkan di mojok.co. Bodo amatlah jika bagian IT sering komen kalau saya sering meggunakan internet saat jam kerja. Saya jawab saja.”Saya manusia, juga punya bosan! Cari hiburan dikit boleh lah, hehehe” Dan karena itu juga saya sekarang lebih suka membaca tulisan-tulisan mojok.co melalui smartphone. Terkadang saya juga tidak mau melewatkan momen selo saya untuk membaca tulisan-tulisan mojok.co, entah itu mau tidur, sedang nyantai dirumah, sedang dalam perjalanan, bahkan ketika panggilan alam mengharuskan saya segera menuju ke WC pun saya sempatkan untuk membuka mojok.co via smartphone hehehehe J

Dari sekian banyak tulisan-tulisan yang beredar di mojok.co entah kenapa tulisan-tulisan dari Aktifis jomblo militan seperti Agus Mulyadi, serta tulisan-tulisan seorang traveller yang sedang menyamar sebagai supir truck di negeri kanguru, Ostrali, lah  yang saya sukai. Mungkin bahasa yang mereka tampilkan melalui tulisan-tulisan mereka yang mudah saya pahami dan dicerna otak saya, serta cerita-cerita tentang pengalaman pribadi mereka yang mereka tampilkan dengan sudut pandang mereka lah yang membuat saya rada kesengsem dengan (tulisan) mereka. Tapi sayangnya mereka berdua adalah laki-laki semua, tak mungkin juga saya mengirim sesuatu untuk mereka berdua seperti halnya fans-fans fanatik boyband korea. Coba kalian berdua adalah wanita Mas, pasti sudah saya kirimi sesuatu. Hehehehehe

Sebenarnya masih banyak juga penulis-penulis mojok yang tulisannya bagus-bagus, seperti Arman Dhani dengan gaya menulis satirnya, Rusdi Mathari, Puthut EA yang merupakan kepala suku mojok.co serta masih banyak penulis lainya dengan gaya yang sedikit nyleneh. Gaya penulisan yang sedikit nyleneh itulah yang membuat mojok.co lain daripada yang lain.

Tulisan-tulisan yang beredar di mojok.co seperti tidak ada sensor, seperti halnya kata asu yang didaerah saya adalah salah satu bentuk umpatan atau pisuhan begitu mudah untuk dijumpai tanpa ada sensor tuuuuut atau ditulis agak berbeda seperti as*su, eh tapi yang terakhir sedikit wagu ding. Tulisan yang terkadang tanpa segan langsung sebut nama, dan serta kritikan-kritikan dengan bahasa yang sangat khas penulis-penulis mojok.co. Sebut saja Jonru, Farhat Abbas, Fadlizon, Setya Novanto, Felix Siau, Menteri Susi, bahkan sampai Presiden Republik Indonesia, beliau yang terhormat Bapak Joko “Jokowi’ Widodo pun menjadi bahan ditulisan mojok.

Sebuah blog yang mampu menambah ilmu kepenulisan  saya yang masih belajar menulis meski hanya untuk dikonsumsi pribadi, posting blog serta terkadang di posting juga di facebook. Bahasa penulisan yang jauh dari kaidah-kaidah EYD yang selama ini saya pelajari selama masih duduk di bangku sekolah. Mojok.co mengajari saya agar lebih berani dalam menulis dan memposting setiap tulisan saya agar bisa dinikmati banyak orang, bukan hanya untuk konsumsi pribadi.

Terima kasih mojok.co telah memberikan pencerahan kepada saya agar terus belajar dalam hal menulis, meski hanya sekedar menulis di blog maupun hanya sekedar posting di facebook.


Salam