Jumat, 29 Januari 2016

Tak Ada Khutbah Jumat Hari Ini.

Pagi-pagi aku sudah menjalani rutinitasku. Aku pergi ke kantor kurang lebih pukul 05:15. Udara lumayan dingin pagi ini, namun hal itu tak menyurutkan niatku untuk berangkat bekerja. Apalagi sorenya, kemungkinan sms dari 3355 akan mengabarkan bahwa gaji bulan ini sudah di transfer ke masing-masing rekening karyawan level staff.

Seperti biasanya, setelah memastikan karyawan sudah masuk serta sudah mulai bekerja, dan memberi pengarahan jika ada karyawan yang datang terlambat. Aku menuju ke office atas, menyalakan komputer, sambil menunggu komputer menyala, aku biasanya menyeduh kopi pagiku.

Kopi pagi ini, aku membuat kopi tanpa ampas yang aku tambahkan gula secukupnya serta creamer. Sambil menikmati kopi aku membuka situs-situs portal berita online untuk sejenak melihat apa yang sedang ramai di media sosial.

Selesai minum kopi, tetap seperti biasanya. Aku turun ke produksi untuk mengklarifikasi absensi. Aku kali ini memanggil dua karyawan yang beberapa hari yang lalu tidak masuk kerja tanpa keterangan. Aku memberi pengarahan dengan sedikit nada tinggi untuk membuat sebuah komitmen kepada karyawan agar memperbaiki masalah absensinya.

***
Tidak ada karyawan baru hari ini. Jadilah hari jumatku kali ini terasa lebih santai. Hampir setiap pagi biasanya selalu ada karyawan baru. Biasanya karyawan baru aku suruh datang untuk masuk jam 07:00 pagi, karena bisa dibilang adalah pertama masuk kerja, dan kemudian hari aku minta untuk masuk shift normal. Kemudian aku menyuruh untuk mengisi data karyawan, form aplikasi mandiri, form BPJS, baik BPJS kesehatan maupun ketenagakerjaan. Kemudian aku melakukan briefing sebagaimana memberi tahu hal-hal yang berkaitan dengan jam kerja, perjanjian kerja, serta tata tertib perusahaan.

Hari jumat, biasanya tidak ada rekruitmen, kalau pun ada tidak sebanyak hari-hari biasa. Namun untuk kali ini, ada tiga calon karyawan. Untuk posisi worker, untuk secuirity dan mechanic head. Kalau ada panggilan interview biasanya Bu Devi (partner kerjaku) sudah menaruh CV di atas mejaku dan tentu dia juga meninggalkan memo pada secarik kertas.

Dari ketiga, hanya satu yang bisa dikatakan lolos seleksi interview, yaitu untuk posisi mechanic head, posisi ini selevel dengan asisten manager. Jadi tinggal tes kesehatan, kemudian setelah itu tes interview ke user.  Jika user sudah mengatakan “Oke” aku tinggal melakukan psikotes. Kenapa psikotes-nya terakhir sebelum finalisasi? Karena aku tidak mau membuang-buang waktu melakukan psikotes yang memerlukan waktu lebih dari dua jam untuk psikotes kandidat yang belum tentu user mau.

Meski ada juga user yang “cerewet” ingin melihat dulu hasil psikotes-nya terlebih dahulu. Kalau sudah begitu, aku tidak bisa berkata “tidak!”. Dan tetap melakukan psikotes. Mungkin dalam hal ini user yang “cerewet” itu juga tidak mau membuang-buang waktu untuk melakukan interview kandidat yang hasil psikotes-nya belum tentu bagus.

Aku menjadwalkan psikotes akan dilakukan pada hari ini juga, karena kandidat berasal dari Jawa barat. Tidak mungkin jika aku menjadwalkan di kemudian hari. Sekitar pukul 10:30 siang, aku menjadwalkan psikotes-nya, karena aku harus istirahat makan siang terlebih dahulu. Ohiya karena aku masuk shift pagi, jadi istirahatku pukul 09:45.

Setelah makan siang, aku menuju ruang rekruitmen untuk melakukan psikotes. Dan sebelum melakukan psikotes aku menanyakan apakah dia muslim atau bukan. “Mohon maaf, Anda muslim?” tanyaku sebelum melakukan psikotes.
“Iya, saya muslim, Pak”Jawabnya yang tetap sopan meski aku jauh lebih muda darinya. Kemudian aku membuat kesepakatan, karena hari ini adalah hari jumat, maka psikotes akan dibagi menjadi dua tahap, beberapa sub tes akan dilakukan sebelum jumatan, dan beberapa sub tes lagi akan dilanjutkan setelah jumatan.

Sekitar pukul 11:30 aku mengakhiri psikotes meski belum selesai. Sesuai kesepakatan akan kami lanjutankan setelah sholat jumat. Kemudian aku mempersilakan untuk makan siang terlebih dahulu, bersama dengan karyawan day shift yang sedang istirahat makan siang. Untuk hari jumat, jadwal istirahat karyawan day shift maju, jadi pukul 11:30 karena digunakan juga untuk persiapan sholat jumat, namun untuk jadwal pulang masih tetap sama, meski jadwal istirahat maju setengah jam.

***
Sebuah kejadian terjadi ketika hendak sholat jumat. Aku kala itu menuju ke office untuk mengambil kunci motor yang kebetulan berada di dalam tas. Aku hendak mengambil kunci motor karena baru ingin ke masjid dengan motor. Biasanya aku lebih sering berjalan kaki ke masjid ketika hendak sholat jumat.

Sesampai di dalam office, aku yang merasa haus mengambil gelas yang tersimpan di dalam laci, kemudian membuka kran pada dispenser. Terdengar suara dari HT, bahwa terjadi kecelakaan kerja pada karyawan bagian cutting. Kemudian korban langsung di bawa ke poliklinik untuk mendapatkan pertolongan pertama. Aku segera menyusul ke poliklinik untuk memastikan seberapa parah lukanya.

Waktu aku mulai masuk ke poliklinik, nampak sudah ramai di sana, terlihat bercak-bercak darah di lantai poliklinik. Korban masih dalam keadaan sadar, dan darah masih mengalir terus dari luka yang berada pada jari tengah tangan kirinya. Aku yang mulai sedikit panik mulai membagi tugas, ada yang membuat surat ke trauma center, dan ada juga yang menghubungi pihak keluarga agar segera menyusul ke RSUD Boyolali, yaitu RS Pandan Arang.

Apesnya mobil operasional perusahaan sedang berada di luar semua. Kemudian ada yang langsung kontak ke manager-ku untuk meminjam mobilnya, kebetulan beliau membawa mobil pribadi. Untung ada mobil yang dari semarang baru datang dan bisa dipinjam, sekaligus dengan diriver-nya. Jadi tidak jadi meminjam mobil pribadi manager-ku. Kemudian aku yang seharusnya membuat trauma center, semakin panik ketika waktu aku tanya, apakah membawa kartu BPJS ketenagakerjaan atau tidak, namun jawabnya “Aku belum dapat kartu BPJS Ketenagakerjaan, Pak”
“Matih!” pikirku. Kemudian yang ada dikepalaku adalah bagaimana agar segera mendapat tindakan dari dokter, mengingat luka dari pisau cutting, masih mengeluarkan darah terus. Kemudian aku ke teman-temannya meminta nomor telpon keluarganya, kebetulan ada kerabatnya yang juga bekerja di perusahaan tempatku bekerja. Namun ketika aku suruh menghubungi pihak keluarga malah jawabnya “aku tidak tega, Pak, jika harus menhubungi keluarganya”

Aku segera mengambil keputusan, segera bawa ke rumah sakit dan tetap berusaha menghubungi keluarganya ketika dalam perjalanan ke rumah sakit. “Yang penting segera mendapat tindakan” pikirku kala itu yang sedikit panik. Sebelum ke membawa ke rumah sakit, aku menyerahkan kunci ruang rekruitmen kepada Bu Devi, partner kerjaku sekalian meminta tolong untuk melanjutkan psikotes yang akan dilanjtukan sehabis sholat jumat.

Sebelum berangkat, rekan kerjaku baru datang dari dinas luar, dan sepertinya sudah tahu permasalahan kami, yaitu masalah kartu BPJS. beliau adalah bagian legal, dan yang biasa mengurusi ketika masalah BPJS, Kemudian rekan kerjaku tersebut, membuatkanku trauma center, yang kebetulan form-nya dari tadi aku bawa kemana-mana, namun karena sedikit panik aku lupa mengisinya. Kemudian menyuruhku untuk segera ke rumah sakit dan akan membantu mengurusi masalah kartu dengan menghubungi pihak BPJS.

Di perjalanan pihak keluarga korban berhasil aku hubungi, aku memberi kabar agar segera menyusul ke rumah sakit, tentu dengan cara yang lebih santai agar pihak keluarga tidak ikut panik. Dan selang beberapa saat, rekan kerjaku telpon bahwa sudah ada jawaban dari BPJS ketenagakerjaan, bahwa kartu milik korban masih di kantor BPJS Ketengakerjaan Klaten. Kemudian beliau mengirim fotonya kartu BPJS-nya kepada suster klinik yang ikut merujuk ke rumah sakit melalu pesan BBM.

Aku agak lega, namun bukan berarti semua masalah selesai. Hari ini adalah hari jumat. Aku masih berkewajiban sholat jumat. Ketika mobil kami sudah masuk menuju IGD, aku lihat jam di handphone ternyata sudah jam 12:10. Aku kemudian memastikan karyawan yang mengalami kecelakaan kerja tersebut sudah mendapat tindakan dari dokter, mengingat aku pernah mendapat kabar ada pasien peserta BPJS yang tidak segera mendapat tindakan.

Setelah karyawan-ku sudah mendapat tindakan, aku kemudian meminta kepada suster poliklinik yang turut merujuk ke rumah sakit agar tetap di IGD, karena akan aku tinggal sebentar untuk sholat jumat, dan dia hanya mengiyakan saja, mengingat korban kecelakaan kerja sudah mendapatkan tindakan.

Aku keluar IGD, dan bertanya kepada beberapa orang letak masjid terdekat, namun kebanyakan mereka tidak tahu, karena mereka juga di sana sedang menunggu pasien. Aku bertanya kepada penjual angkringan, dan penjual angkringan tersebut menyarankan untuk sholat di masjid rumah sakit. Kemudian beliau menunjukan arah menuju masjid rumah sakit yang terletak di dalam rumah sakit.

Aku segera ke masjid, dan waktu aku sampai di masjid. Ternyata sudah mulai sholat, dan imam sudah membaca surat yang lumayan panjang setelah surat alfateha. Aku lihat, masjid sudah penuh sesak, bahkan membludak hingga jalan-jalan di lorong rumah sakit, turut di gunakan untuk sholat jumat. Maklum bukan hanya pegawai rumah sakit saja yang sholat jumat di masjid rumah sakit itu, namun juga mereka yang sedang menunggu pasien.

Aku kesulitan menuju ke tempat wudhu. Dan aku beranikan diri untuk memohon ijin meminjam toilet di ruang rawat inap untuk wudhu dan segera ikut sholat jumat. Dan selesai wudhu aku turut bergabung sholat jumat, tanpa sajadah, aku hanya mengusap lantai tempatku sujud dengan tangan yang masih basah sehabis wudhu tadi. Kemudian aku sholat jumat dengan ketinggalan satu rekaat.

Aku menyelesaikan sholat jumatku yang tertinggal satu rekaat tadi. Kemudian tanpa dzikir panjang aku berdoa dan memutuskan untuk kembali ke IGD. Perjalanan ke IGD aku bertemu dokter yang biasa visit di poliklinik perusahaan. Aku menyapanya dan memberi tahu telah terjadi kecelakaan kerja di tempatku kerja.

***
Aku kembali lagi ke IGD. Kebetulan pihak keluarga sudah di sana. Aku bertanya kepada suster poliklinik yang turut merujuk ke rumah sakit, dia ia menjawab bahwa telah selesai dilakukan tindakan. Dan kini tinggal menunggu obat.

Masalah itu datang lagi ketika, ada masalah di saat pembayaran. Ada syarat yang kurang ketika kami akan mengeklaim dengan BPJS ketenagakerjaan. Dengan sigap rekan kerjaku, yaitu rekan kerja bagian legal tadi yang juga merupakan seorang pengacara segera menyusul kami ke rumah sakit. Dan selesai! Masalah kami selesai, dan dari pihak korban tidak dikenakan biaya apapun.

Kami segera mengantar korban kecelakaan kerja ke rumahnya. Menjelaskan kepada pihak keluarga, dan rekan kerja-ku juga yang menjelaskan dengan bahasa yang sangat halus berbeda ketika berada di rumah sakit tadi.

Ketika perjalanan pulang menuju ke tempat kerjaku. Masih ada rasa yang sedikit mengganjal. Bukan masalah kejadian kecelakaan kerja tadi. Bukan! Karena atas bantuan rekan kerjaku, semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Namun lebih kepada pertanyaan, tentang bagaimana dengan sholat jumatku tadi? Sah kah? Hal itu yang terus terngiang-ngiang di pikiranku.

Aku seperti menyakinkan diriku sendiri. Di saat seperti itu, aku hanya bisa berusaha menjalankan kewajibanku, yaitu sholat jumat. Meski harus tertinggal satu rekaat. Dan tentu tanpa khutbah jumat. Jadi sholat jumat hari ini, adalah shalat jumat tanpa khutbah jumat, bagiku.


Dan (bagiku) tak ada khutbah jumat hari ini