Kamis, 25 Februari 2016

Mendadak Rapi

Sebelum pulang kerja, ada pengumuman dari manager-ku, bahwa untuk besok pagi, semua karyawan untuk level staff diminta untuk berpakaian rapi, karena akan ada tamu penting. Tamu yang akan berkunjung besok konon adalah penggede dari kantor pusat tempat kerjaku saat ini, yaitu salah satu pimpinan perusahaan dari Hongkong.

Mendengar kata rapi, yang ada di pikiranku kala itu adalah, kemeja lengan panjang, celana bahan, kemudian sepatu mengkilap. Jujur aku lebih sering pergi ke kantor dengan kemeja lengan pendek, bahkan aku terkadang lebih suka dengan kaos berkerah, celana jeans, kemudian sepatu kets. Aku masih merasa lebih nyaman dengan pakaian yang simpel namun tetap rapi, dan tentu sesuai dengan karakterku, santai!

Dalam hal sepatu, aku jauh lebih nyaman dengan sepatu kets, karena sepatu kets cukup memudahkanku dalam pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi. Aku bukan tipe pekerja di balik meja, meski sebagai staff HRD, aku lebih suka turun ke produksi. Jadi berkeliling dari sudut gedung ke sudut gedung lain sudah hal yang biasa aku lakukan.

***
Terakhir kali memakai celana bahan, kira-kira satu tahun yang lalu, yaitu tepatnya ketika aku sedang wisuda, kemudian aku sudah tidak pernah lagi memakai celana bahan. Koleksi celana panjangku pun didominasi oleh celana dengan bahan jeans, karena ketika pertama kali bekerja, aku melihat, kebanyakan karyawan termasuk staff sering menggunakan celana jeans ketika bekerja. Jadi, aku hanya mengikuti arus saja, karena jujur aku lebih suka dengan celana jeans dan kaos, hehehe.

Waktu aku membuka lemari, aku mencari celana bahan yang kupakai ketika wisuda. Dan ketika melihat celana itu ada sesuatu yang sangat aneh. Celana bahanku tiba-tiba mengecil, padahal ketika aku pakai ketika wisuda celana itu masih terasa longgar, namun sekarang celana itu mengecil dan tidak muat lagi. Dalam hati, bekerja selama satu tahun telah membuat kemajuan besar diriku, bukan hanya secara financial yang kini aku lebih mandiri, namun perutku juga ikut sedikit maju, maju lho ya, bukan buncit! Dan dengan terpaksa aku harus membeli celana bahan ketika dompet sudah mulai sekarat akibat tanggal tua.

Sebelum berangkat kerja pun, subuh-subuh aku menyetrika kemeja dan celana bahan yang baru aku beli kemarinnya. Kemudian tidak lupa aku menyemir sepatu agar lebih mengkilap. Dan dengan rambut klimis aku berangkat ke kantor kira-kira pukul 05.00 pagi. Karena aku kali ini masuk shift pagi.

Ketika sampai di kantor, aku melakukan pekerjaan sebagaimana hari-hari biasanya. Dan untuk pagi itu, banyak karyawan yang merespon dengan penampilanku pagi itu. Aku yang biasanya lebih suka dengan celana jeans, kaos berkerah, kemudian sepatu kets, kini berpenampilan jauh lebih rapi, kemeja lengan panjang dengan dimasukan ke dalam celana bahan, sepatu mengkilap dan tatanan rambut klimis. Penampilanku kala itu membuat karyawan sempat heran “Tumben rapi, Pak?” kemudia ada juga yang sedikit mengejek “Karyawan baru ya?”

Tidak sedikit juga yang yang mendukung agar aku berpenampilan rapi terus untuk hari-hari kedepannya “Nah, begitu dong Pak, HRD thu harus rapi” saya pun hanya bisa membalas senyum kepada mereka yang menyapaku pagi itu. Rekan kerja pun  juga demikian, entah kenapa mereka seakan lebih suka dengan penampilan rapiku, mungkin mereka sudah bosan dengan penampilanku yang menurutku cinderung santai dan berusaha tetap sopan.
Pak managerku pun juga turut merespon penampilanku kala itu “Wuih, Pak Riki sekarang terlihat keren!, kamu masih pantes Kik, kalau pakai pakaian kaya gitu, kalau aku udah nggak nyaman ini kalau harus rapi kaya gini”


Dan dalam hati aku mbatin “Untuk kedepannya, aku akan berpakaian rapi, eh tapi sekali-sekali aja ding. Ya seperti kalau ada panggilan interview kerja gitu lah *uppsss
Read more ...

Rabu, 17 Februari 2016

Benci dan Dendam

“Pernahkah engkau membenci seseorang karena ucapan dan perbuatannya kepadamu?”
“Pernahkan engkau merasa dendam terhadap perlakuan orang lain terhadapmu”

Kedua pertanyaan diatas secara manusiawi aku akan menjawab, “Iya, aku terkadang membenci seseorang karena ucapan dan perbuatannya yang terlalu menyakitiku hati dan perasaaan” dan untuk pertanyaan kedua dengan mentap aku akan menjawab “Iya, aku sangat dendam dengan perlakuan semena-semena orang terhadapku”

Kemudian dalam hati aku justru bertanya, mengapa aku membenci seseorang? Dan buat apa aku terus memupuk dendam? Aku tidak tahu kenapa hati terus saja berontak dengan ucapanku.

Dan semakin aku membenci seseorang, serta semakin aku menaruh dendam kepada seseorang bukan ketenangan yang aku rasakan. Hidup dipenuhi benci dan dendam, hanya seperti menyimpan buah busuk. Orang lain tidak tahu apa yang kusimpan, dan aku sendiri yang mencium bau busuk itu.

Benci dan dendam adalah suatu emosi yang akan menguras energy dan pikiran. Sampai aku menyadari bahwa hanya dengan memaafkan dan mendoakan yang terbaik bagi orang yang secara sengaja atau tidak sengaja telah melukai kita.

Bukankah Nabi kita telah mengajarkan bahwa kita harus membalas perlakuan buruk orang lain dengan kebaikan. Aku belum sampai pada maqom, ketika ada yang melempari kita dengan tai, maka kita harus membalas dengan melempari mereka dengan roti. Namun dengan mendoakan kebaikan kepada orang yang telah menyakiti kita, kita akan jauh dari membenci dan menyimpan dendam.

Dengan mendoakan kebaikan untuk orang lain juga, akan memberikan kebaikan kepada kita pula, hati menjadi tenang dari kebencian dan dendam dalam hati kita.


Masih terus menyimpan benci dan dendam? Kita tunggu saja mana yang lebih cepat gila dan hidup jauh dari ketenangan.
Read more ...

Kamis, 11 Februari 2016

Blog Baru

Sebenarnya sudah sejak akhir 2015 kemaren aku sudah mempunyai rencana untuk membuat blog baru lagi. Namun aku belum mem-posting tulisan apapun di blog tersebut. Dalam blog baruku tersebut, aku tetap menggunakan blogspot, karena untuk urusan blog aku masih nyaman dengan blogspot. Simpel!

catatanseoranghrd.blogspot.com dengan nama blog “Sisi Lain HRD” itulah nama blog baruku. Sebenarnya aku sudah membuat satu tulisan sebagai pembuka, atau bahasa kerennya prolog. Namun untuk template belum fix masih tahap coba-coba. Karena aku lebih suka template yang simpel saja. Namun justru apa yang menurutku simpel itulah ternyata yang membuatnya terlihat rumit.

Beberapa hari yang lalu, aku sudah menemukan template yang menurutku simpel, namun aku masih ragu untuk memposting tulisan apapun. Dan baru beberapa hari kemaren aku mem-posting, posting-an perdana di blog itu.

Ada perasaan kurang srek ketika melihat template blog itu. Kemaren malam di tengah kesibukanku bekerja, meski bisa dibilang curi-curi waktu, aku menemukan template yang menurutku benar-benar simpel.

Sedikit gambaran saja tentang blog baruku. Blog ini saya beri nama “Sisi Lain HRD” seperti namanya, blog ini akan bercerita tentang sisi lain seorang HRD. Jangan pernah berpikir bahwa tulisan-tulisan di blog tersebut adalah mengenai jobdesc seorang HRD. Karena kemungkinan besar Anda tidak akan menemui postingan tentang, Jobdesc HRD seperti rekruitmen, pelatihan, kompensasi, punishment, dll.

“Sisi Lain HRD” akan bercerita tentang sisi lain kehidupan seorang hrd, tentang bagaimana bertemu dengan orang-orang saat interview, saat melakukan pemutusan hubungan kerja. Dan apa yang kurasakan sebagai seorang HRD. Dan menurut saya, ada sisi manusiawi yang perlu saya bagikan.

Berbagi pengalaman, bagaimana saya justru belajar banyak dari calon karyawan yang aku interview saat seleksi. Belajar dari kehidupan karyawan-karyawanku, atau hal-hal lain yang perlu untuk dibagi.

Meski aku mempunyai blog baru, bukan berarti aku tidak menghidupi blog ini dengan tulisan-tulisanku. Blog ini tetap akan kuhidupi dengan tulisan-tulisan yang menyangkut tentang kehidupan pribadiku. Dan selain itu, aku tetap tetap menulis di lobimesen.com sebuah blog bersama, yang aku bangun (lagi) bersama sahabatku sejak agustus lalu.

Iya, sebuah blog tentang catatan seorang HRD, semoga bisa bermanfaat, setidaknya bermanfaat untuk diriku sendiri.


Salam.
Read more ...

Senin, 08 Februari 2016

Tempe Goreng

Aku pulang ke tempat Mbah kemarin malam, karena paginya aku harus njagong di pernikahan sahabatku. Sehabis njagong aku putuskan kembali ke kos, kos yang menurutku bukan hanya sekedar tempat untuk tidur, namun sudah seperti ruang kerjaku setelah di kantor. Iya ruang kerja untuk menggarap tulisan untuk lobimesen.com. Aku ke kos untuk mengedit postingan #SundayNight edisi spesial pernikahan kawan, sekaligus sahabatku itu.

Untuk masalah lobimesen.com, sempat ada juga yang bertanya kepadaku "Buat apa kamu pusing-pusing mikir lobimesen.com, bahkan rela begadang untuk menulis di blog itu?"Pertanyaan yang menurutku tak perlu aku jawab sebenarnya. Memang benar apa yang aku lakukan tidak menghasilkan uang. Namun apakah semua hal harus dinilai dengan uang? Kalau hanya sekedar uang, aku sudah punya. Dikira aku pengangguran? Aku juga kerja, namun untuk lobimesen.com ada di wilayah hobi, jadi bukan uang yang aku dapatkan. Tapi, lebih dari sekedar itu, yaitu bahagia! Karena setidaknya aku punya wadah untuk menyalurkan kesenanganku.
Kalo bekerja untuk mencari uang dan relasi, lobimesen.com dan blog pribadiku untuk mencari kesenangan. Aku kira itu jawaban yang logis, karena aku belum bisa menemukan kebahagiaan dalam pekerjaanku, jadi aku harus mencari kebahagian di tempat lain.

***

Hari ini, aku libur kerja. Pagi-pagi setelah usai mencuci motorku, motor matic yang sudah seminggu ini aku ajak berhujan-hujan untuk pulang-pergi kantor. Aku menuju meja yang di atasnya masih tertutup tudung saji. Waktu aku buka, nampak nasi putih pulen yang masih mengepul, baru saja matang, kemudian ada lauk pepes ikan, tahu goreng, ikan teri. Dan pastinya sambal yang masih tersaji di atas
 layah, nampak baru saja diulek, sambal seakan menjadi menu wajib di keluargaku.

"Tempe ne nggak ono to?" tanyaku kepada Mbah. Tempe adalah menu kesukaanku ketika di rumah Mbah. Dalam hal menu makanan, aku bukan orang yang cerewet. Aku cinderung makan seadanya. Aku bisa memaklumi dengan menu yang ada. Jika tidak cocok, aku hanya akan makan sedikit di rumah Mbah, kemudian jajan di luar, karena aku harus menghargai masakan Mbah. Dan agar tidak melukai perasaan Mbah aku juga tidak akan membawa pulang makanan dari luar.

"Tempenya ngko sore" jawab Mbah. Aku hanya mengiyakan saja, kemudian menyeduh kopi, agar bisa kunikmati setelah mandi pagi.

Setelah mandi pagi, masih dalam keadaan memakai handuk, aku mengambil cangkir kopiku dan menyruputnya untuk membuat tubuh sedikit hangat setelah mandi diguyur air. Selesai ganti baju, aku membuka tudung saji untuk sarapan pagi. Dan satu piring dengan beberapa irisan tempe sudah ada di sana. Aku kemudian mengambil sepiring nasi putih pulen yang masih hangat itu, kemudian menambahkan pepes ikan, sedikit ikan teri dan sambal, serta tempe goreng yang nampak baru saja digoreng.

Aku menikmati sarapan pagi ini dengan lahap, bahkan aku sempat imbuh nasi. Dan menu sarapan pagi yang sederhana namun terasa nikmat, apalagi ditambah kopi, jadi dobel nikmatnya.

Tempe goreng itu membuatku merasa, bahwa Mbah adalah orang yang sangat menyayangiku. Mbah sering mengkhawatirkanku ketika hari minggu atau dalam seminggu aku tidak pulang dan mengunjunginya. Pernah waktu itu aku menunda kepulanganku karena sahabatku, mengajakku main-main ke toko buku. Dan karena hari rabunya libur karena ada Pilkada, minggunya aku menunda kepulanganku dan lebih memilih main ke toko buku bersama sahabatku itu.

Kala itu, waktu aku sampai rumah, belum melepas jaket dan menaruh tas bawaanku, Mbah sudah langsung membrondong beberapa pertanyaan. "Minggu nggak balek ngopo? Kowe loro? Keluarga di boyolali do sehat kabeh?" Serta pertanyaan-pertanyaan yang penuh dengan kekhawatiran lainnya.

Tak perlu mewah untuk menunjukan kasih sayang. Karena meski hanya sekedar tempe goreng khas Mbah, tempe yang digoreng tanpa tepung. Sudah cukup bagiku untuk menyakinkan bahwa Mba sangat menyayangiku.

Terima kasih Mbah.
Read more ...