Rabu, 17 Februari 2016

Benci dan Dendam

“Pernahkah engkau membenci seseorang karena ucapan dan perbuatannya kepadamu?”
“Pernahkan engkau merasa dendam terhadap perlakuan orang lain terhadapmu”

Kedua pertanyaan diatas secara manusiawi aku akan menjawab, “Iya, aku terkadang membenci seseorang karena ucapan dan perbuatannya yang terlalu menyakitiku hati dan perasaaan” dan untuk pertanyaan kedua dengan mentap aku akan menjawab “Iya, aku sangat dendam dengan perlakuan semena-semena orang terhadapku”

Kemudian dalam hati aku justru bertanya, mengapa aku membenci seseorang? Dan buat apa aku terus memupuk dendam? Aku tidak tahu kenapa hati terus saja berontak dengan ucapanku.

Dan semakin aku membenci seseorang, serta semakin aku menaruh dendam kepada seseorang bukan ketenangan yang aku rasakan. Hidup dipenuhi benci dan dendam, hanya seperti menyimpan buah busuk. Orang lain tidak tahu apa yang kusimpan, dan aku sendiri yang mencium bau busuk itu.

Benci dan dendam adalah suatu emosi yang akan menguras energy dan pikiran. Sampai aku menyadari bahwa hanya dengan memaafkan dan mendoakan yang terbaik bagi orang yang secara sengaja atau tidak sengaja telah melukai kita.

Bukankah Nabi kita telah mengajarkan bahwa kita harus membalas perlakuan buruk orang lain dengan kebaikan. Aku belum sampai pada maqom, ketika ada yang melempari kita dengan tai, maka kita harus membalas dengan melempari mereka dengan roti. Namun dengan mendoakan kebaikan kepada orang yang telah menyakiti kita, kita akan jauh dari membenci dan menyimpan dendam.

Dengan mendoakan kebaikan untuk orang lain juga, akan memberikan kebaikan kepada kita pula, hati menjadi tenang dari kebencian dan dendam dalam hati kita.


Masih terus menyimpan benci dan dendam? Kita tunggu saja mana yang lebih cepat gila dan hidup jauh dari ketenangan.