Senin, 08 Februari 2016

Tempe Goreng

Aku pulang ke tempat Mbah kemarin malam, karena paginya aku harus njagong di pernikahan sahabatku. Sehabis njagong aku putuskan kembali ke kos, kos yang menurutku bukan hanya sekedar tempat untuk tidur, namun sudah seperti ruang kerjaku setelah di kantor. Iya ruang kerja untuk menggarap tulisan untuk lobimesen.com. Aku ke kos untuk mengedit postingan #SundayNight edisi spesial pernikahan kawan, sekaligus sahabatku itu.

Untuk masalah lobimesen.com, sempat ada juga yang bertanya kepadaku "Buat apa kamu pusing-pusing mikir lobimesen.com, bahkan rela begadang untuk menulis di blog itu?"Pertanyaan yang menurutku tak perlu aku jawab sebenarnya. Memang benar apa yang aku lakukan tidak menghasilkan uang. Namun apakah semua hal harus dinilai dengan uang? Kalau hanya sekedar uang, aku sudah punya. Dikira aku pengangguran? Aku juga kerja, namun untuk lobimesen.com ada di wilayah hobi, jadi bukan uang yang aku dapatkan. Tapi, lebih dari sekedar itu, yaitu bahagia! Karena setidaknya aku punya wadah untuk menyalurkan kesenanganku.
Kalo bekerja untuk mencari uang dan relasi, lobimesen.com dan blog pribadiku untuk mencari kesenangan. Aku kira itu jawaban yang logis, karena aku belum bisa menemukan kebahagiaan dalam pekerjaanku, jadi aku harus mencari kebahagian di tempat lain.

***

Hari ini, aku libur kerja. Pagi-pagi setelah usai mencuci motorku, motor matic yang sudah seminggu ini aku ajak berhujan-hujan untuk pulang-pergi kantor. Aku menuju meja yang di atasnya masih tertutup tudung saji. Waktu aku buka, nampak nasi putih pulen yang masih mengepul, baru saja matang, kemudian ada lauk pepes ikan, tahu goreng, ikan teri. Dan pastinya sambal yang masih tersaji di atas
 layah, nampak baru saja diulek, sambal seakan menjadi menu wajib di keluargaku.

"Tempe ne nggak ono to?" tanyaku kepada Mbah. Tempe adalah menu kesukaanku ketika di rumah Mbah. Dalam hal menu makanan, aku bukan orang yang cerewet. Aku cinderung makan seadanya. Aku bisa memaklumi dengan menu yang ada. Jika tidak cocok, aku hanya akan makan sedikit di rumah Mbah, kemudian jajan di luar, karena aku harus menghargai masakan Mbah. Dan agar tidak melukai perasaan Mbah aku juga tidak akan membawa pulang makanan dari luar.

"Tempenya ngko sore" jawab Mbah. Aku hanya mengiyakan saja, kemudian menyeduh kopi, agar bisa kunikmati setelah mandi pagi.

Setelah mandi pagi, masih dalam keadaan memakai handuk, aku mengambil cangkir kopiku dan menyruputnya untuk membuat tubuh sedikit hangat setelah mandi diguyur air. Selesai ganti baju, aku membuka tudung saji untuk sarapan pagi. Dan satu piring dengan beberapa irisan tempe sudah ada di sana. Aku kemudian mengambil sepiring nasi putih pulen yang masih hangat itu, kemudian menambahkan pepes ikan, sedikit ikan teri dan sambal, serta tempe goreng yang nampak baru saja digoreng.

Aku menikmati sarapan pagi ini dengan lahap, bahkan aku sempat imbuh nasi. Dan menu sarapan pagi yang sederhana namun terasa nikmat, apalagi ditambah kopi, jadi dobel nikmatnya.

Tempe goreng itu membuatku merasa, bahwa Mbah adalah orang yang sangat menyayangiku. Mbah sering mengkhawatirkanku ketika hari minggu atau dalam seminggu aku tidak pulang dan mengunjunginya. Pernah waktu itu aku menunda kepulanganku karena sahabatku, mengajakku main-main ke toko buku. Dan karena hari rabunya libur karena ada Pilkada, minggunya aku menunda kepulanganku dan lebih memilih main ke toko buku bersama sahabatku itu.

Kala itu, waktu aku sampai rumah, belum melepas jaket dan menaruh tas bawaanku, Mbah sudah langsung membrondong beberapa pertanyaan. "Minggu nggak balek ngopo? Kowe loro? Keluarga di boyolali do sehat kabeh?" Serta pertanyaan-pertanyaan yang penuh dengan kekhawatiran lainnya.

Tak perlu mewah untuk menunjukan kasih sayang. Karena meski hanya sekedar tempe goreng khas Mbah, tempe yang digoreng tanpa tepung. Sudah cukup bagiku untuk menyakinkan bahwa Mba sangat menyayangiku.

Terima kasih Mbah.