Jumat, 25 Maret 2016

Menggantikan Rio Haryanto dan Sederet Karir Lain untuk Sopir Sumber Kencono

Hiruk pikuk soal Rio Haryanto, pembalap muda yang berpeluang menjajal ganasnya ajang balap Formula 1 serta alokasi dana sebesar 100 Milyar untuknya agar dapat bergabung ke dalam tim Manor Racing, sebenarnya ya biasa-biasa saja. Di jalanan sesungguhnya, sejak dulu sudah ada banyak pembalap yang menyamar sebagai sopir bus.

Anda, terutama yang mendaulat diri sebagai anggota komunitas Bismania, tentu pernah mendengar nama bus keramat ini: Sumber Kencono.

Bus (balap) Sumber Kencono yang memiliki trayek Jogjakarta-Solo-Madiun-Surabaya, dan Surabaya-Madiun-Solo-Semarang itu terkenal dengan sebutan “raja jalanan”. Bahkan, karena saking brutalnya kebut-kebutan di jalan sehingga memakan banyak korban, banyak orang menganggap Sumber Kencono sebagai “bus maut”.

Salah seorang kawan saya pernah memposting kabar di sosial media miliknya setelah berhasil menyalip bus Sumber Kencono di jalanan Jogja – Solo dengan penuh kebanggaan. Ia melakukan hal tersebut dengan mengendarai Kawasaki Ninja 150 – 2 tak. Padahal, kalau dipikir-pikir, seberapa besar sih kebanggaan yang didapat hanya karena menyalip bus? Tapi, karena ini Sumber Kencono, persoalan menjadi lain.

Saya sendiri sempat mbatin, dan curiga: jangan-jangan tingkat prestasi sopir bus Sumber Kencono ini–atau dalam dunia HRD disebut dengan istilah KPI (Key Performance Indicators)–dinilai bukan dari banyaknya jumlah setoran yang didapat, melainkan dari seberapa cepat mereka sampai tujuan.
Namun demikian, sebagaimana telah disinggung sedikit di atas, saking gilanya saat melaju, bus Sumber Kencono sering mengalami kecelakaan lalu-lintas. Tak sedikit pula bus mereka yang dibakar massa karena hal tersebut.

Saya kesulitan mencari data terkini tentang kecelakaan lalu lintas yang melibatkan bus Sumber Kencono. Hal ini mungkin disebabkan karena kebanyakan supir Sumber Kencono sudah sadar tentang keselamatan di jalan raya. Atau bisa jadi mayoritas dari mereka telah dibajak oleh PO lain, sebab kini kian bermunculan bus-bus dengan gaya brutal Sumber Kencono.

Yang jelas, seperti dilansir okezone.com, sejak tahun 2009 hingga 2011 tercatat ada sebanyak 76 kecelakaan lalu-lintas yang melibatkan bus Sumber Kencono. Dengan rincian, 72 korban meninggal dunia, 67 korban luka berat , dan 69 luka ringan.

Melihat kondisi bus-busnya yang identik dengan kecelakaan lalu-lintas, sang pemilik PO Sumber Kencono kemudian mengganti nama Sumber Kencono menjadi Sumber Rahayu dan Sumber Selamat pada tahun 2011. Sikap mengganti nama ini identik dengan tradisi “klenik” masyarakat Jawa yang dapat diartikan sebagai “buang sial”. Nama baru tersebut dipilih sebagai wujud doa, agar dalam perjalanan bus senantiasa selamat atau rahayu (“rahayu” juga berarti “selamat”), serta tidak lagi dipelesetkan menjadi “Sumber Bencono”.

Meski tampak menggugah, nyatanya perubahan nama tersebut ya tidak terlalu sesuai harapan. Sebagaimana yang dilansir Tempo:

Minggu, 18 Maret 2012, bus Sugeng Rahayu bernomor polisi W 7743 UY rute Surabaya-Yogyakarta menabrak dari belakang mobil Toyota Avanza bernomor polisi L 1310 TS berisi sembilan orang di Jalan Raya Surabaya-Madiun Kilometer 137, tepatnya di Desa Pajaran, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Tiga penumpang Avanza tewas, satu luka berat, empat luka ringan termasuk sopir Avanza.

Terlepas dari segala hal di atas, saya sebagai seorang HRD di salah satu perusahaan merasa harus memberi saran untuk karier sopir bus Sumber Kencono jika sudah mulai bosan menjadi pembalap jalanan di balik kemudi bus dan kerap kecelakaan. Tentu saran saya akan disesuaikan dengan bakat terpendam mereka yang cepat, agresif, serta ontime dilevery.
Berikut di antaranya.

Sopir Ambulans
Mungkin di antara kita sering melihat betapa mobil ambulans kerap melaju seperti raja jalanan. Semua pengendara pun diwajibkan memberi jalan agar mobil dengan suara tuing-tuing itu dapat melenggang.

Saya kira, sopir Sumber Kencono akan bahagia bekerja sebagai sebagai sopir ambulans. Jika selama ini mereka harus menghadapi keruwetan di jalanan dan harus menyelinap di sela-sela sumpeknya kendaaraan, kini mereka tak perlu lagi demikian karena semua orang sudah menyingkir tanpa perlu dipaksa (baca: ditabrakin satu per satu).

Ya, menjadi sopir ambulans adalah job specification yang tepat untuk mereka para sopir Sumber Kencono.

Sopir Pemadam Kebakaran
Pemadam kebakaran dibutuhkan untuk segera memadamkan api saat terjadi musibah kebakaran (ya iyalah!). Ngomong-ngomong, pabrik milik keluarga Rio Haryanto, yaitu pabrik Buku Kiki, PT Solo Murni, juga pernah mengalami musibah ini, lho.

Nah, untuk menghadapi situasi seperti itu, hal pertama yang harus dipastikan adalah: mobil pemadam harus lekas tiba di lokasi. Bagaimana hal ini bisa terjadi tentu dibutuhkan seorang sopir yang tangkas. Sopir Sumber Kencono jelas sangat masuk untuk kriteria ini, mengingat semasa menjadi KPI mereka tidak diukur dari jumlah setoran, tetapi dari kecepapatan sampai ke tujuan.

Bermain di Film Fast and Furious
Kini produser film Fast and Furious tidak perlu gusar lagi dalam mencari pengganti almarhum Paul Walker. Cukup dengan mengadakan audisi sopir-sopir bus Sumber Kencono, pilih tampang dan aktingnya yang terbaik di antara mereka, setelah itu lalu kirim ke Pare, Kediri, untuk kursus Bahasa Inggris. Percayalah, jika hal ini dilakukan, Fast and Furious pasti akan kembali merajai box office.
Jika tidak memenuhi syarat sebagai seorang aktor utama, sopir Sumber Kencono toh masih bisa dipekerjakan sebagai pemain figuran. Jangankan syuting yang penuh setting-an, dalam kondisi real saja kemampuan mengemudi mereka bahkan jauh lebih beringas ketimbang Dominic Toretto. Bukan tidak mungkin sopir Sumber Kencono bisa menjadi Jackie Chan-nya genre film balapan.

Sopir Perjalanan Wisata Religi
Di balik citra ugal-ugalan seorang sopir Sumber Kencono, sesungguhnya ada sebuah nilai religi yang bisa kita ambil. Lho kok bisa?

Ya jelas bisa, karena, ketika para wisatawan tahu mobil yang mereka tumpangi disopiri oleh mantan sopir Sumber Kencono, mereka dengan serentak akan segera melafalkan doa-doa keselamatan dan berserah diri dengan total kepada Tuhan. Jika menurut Anda ini lebay, silakan coba sendiri sensasi religi tersebut dengan melakukan perjalanan menaiki Sumber Kencono.

Kalau berani sih…

Menjadi Pembalap Betulan Menggantikan Rio Haryanto
Dengan segala ketangkasan dan nyali besar yang dimiliki setiap sopir Sumber Kencono, rasanya tak berlebihan jika mereka didaulat menggantikan Rio. Soal dana 100 milyar itu pun juga tak lagi dibutuhkan. Sebab buat apa tim mewah jika dengan sumber daya seadanya saja sopir Sumber Kencono dapat menempuh jarak 325 kilometer hanya dalam waktu 6 jam?



Nb: Tulisan ini pertama kali dimuat di mojok.cp
Read more ...

Senin, 07 Maret 2016

Berkunjung Ke Tempat Kawan Lama

Sudah minggu kedua ini, aku memanfaatkan waktu liburku untuk berkunjung ke rumah Mbah dan beberapa kawan lama. Minggu kemarin aku berkunjung ke kawan lamaku. Sudah lama aku tidak berkunjung ke rumahnya. Dia adalah kawanku yang dulu waktu aku masih sekolah sering menginap di rumahku. Dan semenjak aku kuliah dan nge-kos di solo dia sudah jarang menginap di rumahku lagi.

Kawanku yang ini sudah berkeluarga, anaknya kini sudah bisa berjalan. Dia adalah seorang pengrajin kayu, atau tukang. Awalnya dia hanya ikut bantu-bantu pada seorang pengrajin kayu. Meski awalnya ragu, berdasarkan pengalaman ikut di beberapa pengrajin kayu, kini ia mulai membuka usaha secara mandiri.

Sekarang ia benar-benar sibuk dengan banyaknya pesanan. Segala sesuatunya masih ia lakukan sendiri. Mulai dari membeli kayu gelondongan, kemudian memotongkan kayu gelondongan tersebut, karena ia belum mempunyai alat potong, kemudian proses pembuatan meubel dan kusen, mulai dari proses awal sampai dengan finishing, dilakukan sendiri.

Ketika aku berkunjung ke tempatnya, dia nampak sedang istirahat, dan aku diajak ngopi di sebuah warung dan menikmati gorengan. Banyak hal yang kami bicarakan kala itu, maklum semenjak aku bekerja, sudah sangat jarang aku berkunjung ke tempat kawan lamaku itu, bertemu pun sangat jarang, meski bertemu itu pun hanya sekedar say hello.

Selesai mengobrol di warung, kami pun kembali lagi ke “kantor” kawanku. Dia mulai bekerja dan aku hanya sekedar melihat apa saja yang ia lakukan ketika sedang bekerja. Dia menjelaskan kepadaku, bahwa kini ia sedang dikejar deadline. Dia dituntut untuk menyelesaikan sebuah project. Project yang sedang ia garap saat itu, adalah membuat segala hal yang diperlukan dalam sebuah warung makan, setidaknya dia harus menyelesaikan sebuah gerobak tanpa roda yang berukuran lumayan besar, kemudian lemari untuk perkakas, serta beberapa meja kecil untuk meja makan lesehan. Dia juga memberitahuku bahwa semua itu harus segera diselesaikan karena sebentar lagi warung akan segera buka perdana.

Aku kenal betul dengan kawanku, yang bisa disebut pengusaha ini. Dia yang dulu, awalnya merantau ke Bengkulu. Dia dulu tak bisa apa-apa, namun dia belajar sambil bekerja. Dia pernah bercerita kepadaku, bahwa dulu awalnya hanya sebagai tukang amplas, yaitu bagian finishing sebelum dilakukan pengecatan, atau di-plitur. Kemudian perlahan tapi pasti, ia belajar ilmu-ilmu pertukangan, hingga ia bisa membuat furniture serta kusen-kusen.

Kemudian dia memutuskan untuk pulang ke tanah kelahiran. Karena belum berani membuka usaha sendiri, alasannya waktu itu, karena ia belum mempunyai pasar. Dan ia memutuskan untuk ikut orang dulu untuk belajar lagi, bukan belajar membuat sesuatu namun lebih ke mencari pasar.

Baru setelah menikah ia mulai berani membuka usaha sendiri, meski awalnya ia sangat ragu. Dan ia mulai menjual apa yang ia punya untuk membeli kayu-kayu gelondongan dan memotongkan kayu-kayu tersebut menjadi balok-balok untuk pembuatan sebuah meubel, kusen atau furniture.

Waktu aku berkunjung, nampak ia sudah mulai sambat, bahwa sudah mulai kewalahan melayani order-an. Dan aku menyarankan untuk mencari pegawai untuk membantunya, namun sepertinya ia masih ragu untuk mencari pegawai untuk membantunya, alasannya ia masih tidak enak jika ada sesutau dikemudian hari. Dan jika sudah merasa kewalahan ia justru menolak pesanan, tentu yang ia tolak bukan berarti tanpa alasan, di samping karena order-an sudah penuh, namun kebanyakan yang ia tolak adalah pelanggan yang tidak mau membayar DP terlebih dahulu. Karena jika tidak membayar DP terlebih dahulu, kawanku itu akan kesulitan jika ingin berbelanja bahan kebutuhan, seperti kayu gelondongan. Jadi untuk menjaga agar usaha tetap berjalan, dengan modal yang terbatas, ia akan mempriotaskan pelanggan yang sudah membayar DP.

***
Kalau minggu kemarin aku berkunjung ke kawan lama yang memiliki usaha meubel, minggu ini aku berkunjung ke salah satu kawan futsal. Kawanku yang ini, usianya masih lebih muda daripada aku. Aku berkunjung ke tempatnya, selain ingin mengambil kaos pesananku, aku juga ingin bersilaturahmi. Selain itu, juga ada kabar bahwa seminggu yang lalu ia mendapat musibah, bahwa ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan patah tulang pada kakinya. Jadi, aku sekalian ingin menjenguknya.

Aku mengunjungi rumahnya ketika di sana masih ada beberapa orang yang juga sedang menjenguknya. Aku berkumpul menjadi satu bersama penjenguk lainnya. Namun tidak lama setelah aku datang, orang-orang itu justru sudah berpamitan pulang. Mungkin mereka sudah lama di sana, pikirku saat itu.

Aku mulai mengobrol dengan kawanku yang mendapatkan musibah itu. Dia bercerita kepadaku, menjelaskan peristiwa dengan detail tentang musibah yang menimpanya. Ia mengalami kecelakaan tunggal, kala itu ia sedang menuju Sukoharjo. Setelah melewati jembatan sebelum daerah Ban mati, ada seseorang yang akan belok kanan, kawanku kala itu hanya membonceng, kemudian karena kaget, orang yang mengendarai motor banting ke kiri dan terjatuh. Yang mengendarai motor tidak mengalami apa-apa, namun justru kawanku yang hanya membonceng justru malah naas, kakinya ketiban mesin. Dia bercerita ketika kakinya tertimpa mesin, dia menahan sakit, dan kakinya sudah bengkak dan sulit digerakan. Kemudian ia mencoba berdiri dan hanya bisa duduk di pinggir jalan. Beruntung ada malaikat yang menghampirinya. Malaikat yang aku maksud, tentu bukan malaikat izrail lho ya, namun adalah seorang bapak-bapak yang katanya sudah berkeluarga, menghampirinya dan menawarkan bantuan. Mengapa aku menyebutnya malaikat? Silakan lanjutkan membaca tulisanku ini.

Bapak itu menawarkan bantuan kepada kawanku yang sudah tak mampu berdiri lagi itu. “Kalau dibawa ke rumah sakit pakai motor bisa nggak, Dek? Kalau tidak bisa aku akan pulang ambil mobil dulu” kawan berkata apa adanya bahwa ia kesulitan untuk berdiri, sambil terus menahan rasa sakit.

Kemudian bapak itu membawa ke tukang urut, kepada tukang urut itu, kawanku menjelaskan rasa sakitnya. Namun tukang urut itu tidak berani mengurutnya, karena sudah bengkak dan dimungkinkan patah tulang. Kemudian tukang urut itu menyarankan untuk melakukan rongten terlebih dahulu.

Kemudian kawanku dibawa oleh bapak-bapak itu ke Kimia farma dekat alun-alun Sukoharjo. Alasan kenapa dibawa ke Kimia farma, selain apotek disana ada klinik juga yang bisa melakukan rongten, karena jika dibawa ke RSUD, dimungkinkan akan agat telat dalam pelayanan. Kemudian setelah di rongten, ternyata kaki kawanku benar-benar patah. Dan lagi-lagi bapak itu langsung membawanya ke sangkal putung palur.

Waktu perjalanan ke sangkal putung, bapak itu memberikan info bahwa ia sudah sering mengantar teman atau tetangganya ke sana, dan patah tulang bisa sembuh disana. Kemudian untuk pelayanannya sudah tidak diragukan lagi. “Di sangkal putung sana, sudah tidak diragukan lagi, Mas. ora usah wedi, coba lihat saja banyak orang jauh yang juga ke sana” Bapak itu coba menenangkan kawanku yang masih menahan rasa sakit.

Sesampai disana, lagi-lagi bapak itu menunjukan bahwa pasien di sana banyak berasal dari luar kota, “Liat banyak plat luar kota AB (Jogja) AE (Jawa timuran) dan plat H (Semarang)”

Ketika masih mengantri kawanku bercerita, bahwa dirinya sempat bertanya apakah tindakan yang akan dilakukan nanti akan sangat sakit atau tidak, dan bapak itu menjawab dengan entang “Neng kene kie nggone wong njerit, nek kowe kroso loro njerit sak kencengmu rapopo, Mas

Dan kata kawanku, berdasarkan hasil rongten, tidak sampai lima menit, sudah selesai dilakukan tindakan. Kaki kawanku tidak dioperasi dan hanya dibenarkan dan digipsum agar tidak geser lagu tulangnya.

Dan kenapa bapak itu aku sebut sebagai malaikat di awal tadi, karena semua pengobatan dia yang tanggung, dan termasuk transportasi, ia tidak meminta ganti uang bensin. Mendengar cerita kawanku, aku langsung terdiam dan nggumun, ternyata di zaman seperti saat ini ada juga yang berhati baik, Bapak itu bukan siapa-siapa, bahkan juga tidak terlibat apapun dalam kecelakaan tersebut, namun ia justru membantu semua pengobatan kawanku. Bahkan sebelum mengantar pulang kawanku sempat diberikan sarung juga.

Dan kata kawanku sebelum ia mengakhiri ceritanya, ada pesan yang disampaikan ketika perjalanan pulang, bahwa Bapak itu keberatan jika hal ini sampaikan diceritakan, dalam menceritakan kejadian ini pun, aku sempat bertanya, siapa bapak-bapak itu? Kawanku hanya menjawab “Bapak itu, pokoknya lah”

Mengobrol membuat waktu berjalan dengan cepat, tidak sadar aku sudah lumayan lama di sana. Aku melihat kawanku sudah nempak menahan rasa kantuk. Aku pun kemudian berpamit pulang.


Dan ternyata adalah sebuah kesalahan besar, atas dasar alasan kesibukan aku tidak lagi berkunjung ke tempat kawan lamaku. Karena dengan berkunjung ke kawan lama, selain untuk memperkuat tali silaturahmi, juga kita bisa belajar banyak hal. Dua minggu ini, setiap minggu aku menyempatkan berkunjung ke tempat kawan lamaku. Dan aku belajar banyak hal. Ke tempat kawanku yang kini sudah bisa mandiri dengan membuka usaha sendiri. Kemudian pelajaran dari seorang bapak-bapak penolong kawanku.
Read more ...

Sabtu, 05 Maret 2016

Operasi Paket Hemat

Jumat kemarin, setelah pulang kerja, aku menyempatkan untuk menjenguk rekan kerjaku yang masih dirawat di salah satu rumah sakit yang terletak di Kragilan, Mojosongo, Boyolai. Karena setiap sore sering hujan, baru jumat kemarin aku sempat untuk menjenguknya.

Rekan kerjaku yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut, dulu pernah menjadi staff administrasi HR, namun karena alasan performance yang masih dibilang kurang dalam pengelolaan data, dia harus dimutasi ke bagian lain, namun masih dalam satu HR Department. Dia kini under GA, yaitu menjadi Receptionist di kantor tempatku bekerja.

Kami bisa dibilang lumayan akrab, karena hampir setiap hari bertemu. Orang yang kocak, namun lebih tepat disebut “gila” itu, beberapa hari ini sedang dirawat di rumah sakit. Tanpa dia, office nampak sepi. Dan sekarang aku menyadari, bahwa “orang gila” sangat dibutuhkan, agar kita tetap dalam kondisi waras di tengah rutinitas bernama pekerjaan.

Dan jujur, aku juga pernah memarahinya ketika ia tidak segera menjalankan instruksiku mengenai data karyawan. Kala itu, aku mengecek absensi karyawan, dan sesuai aturan, jika ada karyawan tidak masuk kerja 5 kali berturut-turut tanpa keterangan, maka sudah dianggap keluar. Jadi orang-orang yang sudah dianggap keluar tersebut harus dikeluarkan dari database karyawan. Aku menyuruhnya segera mengeluarkan dari database, karena hal itu menjadi bagian laporan daily attendance yang harus dikirim setiap harinya.

Namun selang beberapa saat, aku mengecek, ternyata database karyawan belum di-update juga. Sepertinya aku sudah kehilangan sedikit kesabaranku, dan aku langsung meng-update sendiri database tersebut, kemudian aku menasehatinya dengan nada agak tinggi agar selalu meng-update database karyawan.

Meski pernah aku nasehati (dengan nada tinggi), kami tetap harus saling support mengingat kala itu kami satu tim. Pernah suatu ketika, kala itu dalam laporan daily attendance yang akan dikirim terjadi perbedaan atau selisih data, antara laporan daily attendance dan database karyawan, dia pun sepertinya sudah pasrah karena masih terjadi selisih satu karyawan. Aku yang merasa kasihan pun, membantunya dengan suka rela, karena bagaimana pun juga kami satu tim. Meski aku dengan suka rela membantunya, aku kala itu sedikit bercanda dengannya “Oke tak bantu, tapi buatin aku kopi, ya? Soale aku nggak iso mikir nek durung ngopi” Dan ketika sudah fix, tidak ada lagi selisih antara data di laporan daily attendance dan database, dia pun dengan polosnya membawakan secangkir kopi untukku.

***
Sampai di rumah sakit, aku segera menuju ke ruangan tempat ia dirawat. Waktu aku masuk ke dalam ruangan, nampak ada salah satu keluarga yang menunggunya, sedangkan dia nampak baru istirahat. Kemudian dia dibangunkan ketika aku datang, awalnya aku hendak langsung pamit, karena takut menganggu istirahatnya, namun sepertinya dia sudah terlanjur dibangunkan.

Ketika ia sudah mulai sadar penuh, dia malah bilang kepadaku “Pak, aku sudah hampir seminggu ini nggak mandi wie, bau nggak, Pak?” aku yang baru datang dan langsung menerima kabar itu langsung mengernyitkan kening.

Dan lagi-lagi ia masih bisa bercanda meski ketika ia tertawa ia merasa sedikit sakit dibagian bekas operasi “Aku sejak hari senin belum boleh makan lho, Pak. Jadi habis dari sini kayake aku bertambah ilmu kebatinan, dan terus besok aku kalau sudah masuk kerja aku langsung mau nimbang berat badan di poliklinik, aku kan sekarang diet”

Aku bertanya kepadanya tentang sakit apa yang sedang diderita hingga ia harus di rawat di rumah sakit “Sakit apa?” tanyaku. “Sakit anu, pak” Ia seperti sungkan menjelaskan penyakitnya, namun kemudian ia menjelaskan lagi kepadaku “Ada benjolan di, maaf, di anus, dan rasa nyeri pada benjolan kecil itu sampai aku demam, dan dua hari aku nggak bisa tidur, dan kalau tidur pun harus miring atau tengkurap, dan kata dokter itu harus dioperasi”

Awalnya aku mengira sakit ambien namun itu bukan ambien, karena ia juga mempunyai ambien dan sudah melakukan terapi karena takut dioperasi. Dan ia menceritakan proses operasi, karena ketika dioperasi ia tidak dibius total. Ia malah risi ketika dokter yang mengoperasi adalah dokter yang masih muda-muda.

Dan kejadian yang membuatku ngakak ketika ia bercerita bahwa ambien yang selama ini ia derita juga turut dioperasi “Tau nggak, Pak, aku kan juga punya ambien, lha pas operasi masak dokternya bilang ke aku “Kenapa nggak bilang kalau punya ambien?” aku jawab aja, aku takut pak kalau dioperasi, dan dokternya malah menjawab dengan enteng “Lha ini ambiennya sudah aku ambil”

“Padahal kan ambiennya tak eman-eman, eh malah dioperasi sekalian sama dokternya” aku yang mendengar ceritanya pun malah menimpalinya dengan berkata “Mungkin kamu sebelumnya pilih paket hemat, jadinya operasi benjolan itu bonus operasi ambien”

“Aku kan takut Pak, apalagi pas suster klinik kita bilang kalau operasi ambien sakit banget, makanya beberapa minggu kemaren aku sering terapi, biar nggak dioperasi, eh inih malah sekalian dioperasi, nggak tau apa ambiennya wes di man-eman

***

Hampir setengah jam aku menjenguknya, kemudian ada dokter yang hendak memeriksanya. Aku pun pamit pulang sambil mendoakan agar segera diberi kesembuhan, dan sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan ruangannya, aku juga bercanda dengannya “Istirahat yang cukup ya, dinikmati masa-masa magabut-nya (baca; makan gaji buta)” tentu itu aku ucapkan dengan penuh becanda. 
Read more ...