Senin, 07 Maret 2016

Berkunjung Ke Tempat Kawan Lama

Sudah minggu kedua ini, aku memanfaatkan waktu liburku untuk berkunjung ke rumah Mbah dan beberapa kawan lama. Minggu kemarin aku berkunjung ke kawan lamaku. Sudah lama aku tidak berkunjung ke rumahnya. Dia adalah kawanku yang dulu waktu aku masih sekolah sering menginap di rumahku. Dan semenjak aku kuliah dan nge-kos di solo dia sudah jarang menginap di rumahku lagi.

Kawanku yang ini sudah berkeluarga, anaknya kini sudah bisa berjalan. Dia adalah seorang pengrajin kayu, atau tukang. Awalnya dia hanya ikut bantu-bantu pada seorang pengrajin kayu. Meski awalnya ragu, berdasarkan pengalaman ikut di beberapa pengrajin kayu, kini ia mulai membuka usaha secara mandiri.

Sekarang ia benar-benar sibuk dengan banyaknya pesanan. Segala sesuatunya masih ia lakukan sendiri. Mulai dari membeli kayu gelondongan, kemudian memotongkan kayu gelondongan tersebut, karena ia belum mempunyai alat potong, kemudian proses pembuatan meubel dan kusen, mulai dari proses awal sampai dengan finishing, dilakukan sendiri.

Ketika aku berkunjung ke tempatnya, dia nampak sedang istirahat, dan aku diajak ngopi di sebuah warung dan menikmati gorengan. Banyak hal yang kami bicarakan kala itu, maklum semenjak aku bekerja, sudah sangat jarang aku berkunjung ke tempat kawan lamaku itu, bertemu pun sangat jarang, meski bertemu itu pun hanya sekedar say hello.

Selesai mengobrol di warung, kami pun kembali lagi ke “kantor” kawanku. Dia mulai bekerja dan aku hanya sekedar melihat apa saja yang ia lakukan ketika sedang bekerja. Dia menjelaskan kepadaku, bahwa kini ia sedang dikejar deadline. Dia dituntut untuk menyelesaikan sebuah project. Project yang sedang ia garap saat itu, adalah membuat segala hal yang diperlukan dalam sebuah warung makan, setidaknya dia harus menyelesaikan sebuah gerobak tanpa roda yang berukuran lumayan besar, kemudian lemari untuk perkakas, serta beberapa meja kecil untuk meja makan lesehan. Dia juga memberitahuku bahwa semua itu harus segera diselesaikan karena sebentar lagi warung akan segera buka perdana.

Aku kenal betul dengan kawanku, yang bisa disebut pengusaha ini. Dia yang dulu, awalnya merantau ke Bengkulu. Dia dulu tak bisa apa-apa, namun dia belajar sambil bekerja. Dia pernah bercerita kepadaku, bahwa dulu awalnya hanya sebagai tukang amplas, yaitu bagian finishing sebelum dilakukan pengecatan, atau di-plitur. Kemudian perlahan tapi pasti, ia belajar ilmu-ilmu pertukangan, hingga ia bisa membuat furniture serta kusen-kusen.

Kemudian dia memutuskan untuk pulang ke tanah kelahiran. Karena belum berani membuka usaha sendiri, alasannya waktu itu, karena ia belum mempunyai pasar. Dan ia memutuskan untuk ikut orang dulu untuk belajar lagi, bukan belajar membuat sesuatu namun lebih ke mencari pasar.

Baru setelah menikah ia mulai berani membuka usaha sendiri, meski awalnya ia sangat ragu. Dan ia mulai menjual apa yang ia punya untuk membeli kayu-kayu gelondongan dan memotongkan kayu-kayu tersebut menjadi balok-balok untuk pembuatan sebuah meubel, kusen atau furniture.

Waktu aku berkunjung, nampak ia sudah mulai sambat, bahwa sudah mulai kewalahan melayani order-an. Dan aku menyarankan untuk mencari pegawai untuk membantunya, namun sepertinya ia masih ragu untuk mencari pegawai untuk membantunya, alasannya ia masih tidak enak jika ada sesutau dikemudian hari. Dan jika sudah merasa kewalahan ia justru menolak pesanan, tentu yang ia tolak bukan berarti tanpa alasan, di samping karena order-an sudah penuh, namun kebanyakan yang ia tolak adalah pelanggan yang tidak mau membayar DP terlebih dahulu. Karena jika tidak membayar DP terlebih dahulu, kawanku itu akan kesulitan jika ingin berbelanja bahan kebutuhan, seperti kayu gelondongan. Jadi untuk menjaga agar usaha tetap berjalan, dengan modal yang terbatas, ia akan mempriotaskan pelanggan yang sudah membayar DP.

***
Kalau minggu kemarin aku berkunjung ke kawan lama yang memiliki usaha meubel, minggu ini aku berkunjung ke salah satu kawan futsal. Kawanku yang ini, usianya masih lebih muda daripada aku. Aku berkunjung ke tempatnya, selain ingin mengambil kaos pesananku, aku juga ingin bersilaturahmi. Selain itu, juga ada kabar bahwa seminggu yang lalu ia mendapat musibah, bahwa ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan patah tulang pada kakinya. Jadi, aku sekalian ingin menjenguknya.

Aku mengunjungi rumahnya ketika di sana masih ada beberapa orang yang juga sedang menjenguknya. Aku berkumpul menjadi satu bersama penjenguk lainnya. Namun tidak lama setelah aku datang, orang-orang itu justru sudah berpamitan pulang. Mungkin mereka sudah lama di sana, pikirku saat itu.

Aku mulai mengobrol dengan kawanku yang mendapatkan musibah itu. Dia bercerita kepadaku, menjelaskan peristiwa dengan detail tentang musibah yang menimpanya. Ia mengalami kecelakaan tunggal, kala itu ia sedang menuju Sukoharjo. Setelah melewati jembatan sebelum daerah Ban mati, ada seseorang yang akan belok kanan, kawanku kala itu hanya membonceng, kemudian karena kaget, orang yang mengendarai motor banting ke kiri dan terjatuh. Yang mengendarai motor tidak mengalami apa-apa, namun justru kawanku yang hanya membonceng justru malah naas, kakinya ketiban mesin. Dia bercerita ketika kakinya tertimpa mesin, dia menahan sakit, dan kakinya sudah bengkak dan sulit digerakan. Kemudian ia mencoba berdiri dan hanya bisa duduk di pinggir jalan. Beruntung ada malaikat yang menghampirinya. Malaikat yang aku maksud, tentu bukan malaikat izrail lho ya, namun adalah seorang bapak-bapak yang katanya sudah berkeluarga, menghampirinya dan menawarkan bantuan. Mengapa aku menyebutnya malaikat? Silakan lanjutkan membaca tulisanku ini.

Bapak itu menawarkan bantuan kepada kawanku yang sudah tak mampu berdiri lagi itu. “Kalau dibawa ke rumah sakit pakai motor bisa nggak, Dek? Kalau tidak bisa aku akan pulang ambil mobil dulu” kawan berkata apa adanya bahwa ia kesulitan untuk berdiri, sambil terus menahan rasa sakit.

Kemudian bapak itu membawa ke tukang urut, kepada tukang urut itu, kawanku menjelaskan rasa sakitnya. Namun tukang urut itu tidak berani mengurutnya, karena sudah bengkak dan dimungkinkan patah tulang. Kemudian tukang urut itu menyarankan untuk melakukan rongten terlebih dahulu.

Kemudian kawanku dibawa oleh bapak-bapak itu ke Kimia farma dekat alun-alun Sukoharjo. Alasan kenapa dibawa ke Kimia farma, selain apotek disana ada klinik juga yang bisa melakukan rongten, karena jika dibawa ke RSUD, dimungkinkan akan agat telat dalam pelayanan. Kemudian setelah di rongten, ternyata kaki kawanku benar-benar patah. Dan lagi-lagi bapak itu langsung membawanya ke sangkal putung palur.

Waktu perjalanan ke sangkal putung, bapak itu memberikan info bahwa ia sudah sering mengantar teman atau tetangganya ke sana, dan patah tulang bisa sembuh disana. Kemudian untuk pelayanannya sudah tidak diragukan lagi. “Di sangkal putung sana, sudah tidak diragukan lagi, Mas. ora usah wedi, coba lihat saja banyak orang jauh yang juga ke sana” Bapak itu coba menenangkan kawanku yang masih menahan rasa sakit.

Sesampai disana, lagi-lagi bapak itu menunjukan bahwa pasien di sana banyak berasal dari luar kota, “Liat banyak plat luar kota AB (Jogja) AE (Jawa timuran) dan plat H (Semarang)”

Ketika masih mengantri kawanku bercerita, bahwa dirinya sempat bertanya apakah tindakan yang akan dilakukan nanti akan sangat sakit atau tidak, dan bapak itu menjawab dengan entang “Neng kene kie nggone wong njerit, nek kowe kroso loro njerit sak kencengmu rapopo, Mas

Dan kata kawanku, berdasarkan hasil rongten, tidak sampai lima menit, sudah selesai dilakukan tindakan. Kaki kawanku tidak dioperasi dan hanya dibenarkan dan digipsum agar tidak geser lagu tulangnya.

Dan kenapa bapak itu aku sebut sebagai malaikat di awal tadi, karena semua pengobatan dia yang tanggung, dan termasuk transportasi, ia tidak meminta ganti uang bensin. Mendengar cerita kawanku, aku langsung terdiam dan nggumun, ternyata di zaman seperti saat ini ada juga yang berhati baik, Bapak itu bukan siapa-siapa, bahkan juga tidak terlibat apapun dalam kecelakaan tersebut, namun ia justru membantu semua pengobatan kawanku. Bahkan sebelum mengantar pulang kawanku sempat diberikan sarung juga.

Dan kata kawanku sebelum ia mengakhiri ceritanya, ada pesan yang disampaikan ketika perjalanan pulang, bahwa Bapak itu keberatan jika hal ini sampaikan diceritakan, dalam menceritakan kejadian ini pun, aku sempat bertanya, siapa bapak-bapak itu? Kawanku hanya menjawab “Bapak itu, pokoknya lah”

Mengobrol membuat waktu berjalan dengan cepat, tidak sadar aku sudah lumayan lama di sana. Aku melihat kawanku sudah nempak menahan rasa kantuk. Aku pun kemudian berpamit pulang.


Dan ternyata adalah sebuah kesalahan besar, atas dasar alasan kesibukan aku tidak lagi berkunjung ke tempat kawan lamaku. Karena dengan berkunjung ke kawan lama, selain untuk memperkuat tali silaturahmi, juga kita bisa belajar banyak hal. Dua minggu ini, setiap minggu aku menyempatkan berkunjung ke tempat kawan lamaku. Dan aku belajar banyak hal. Ke tempat kawanku yang kini sudah bisa mandiri dengan membuka usaha sendiri. Kemudian pelajaran dari seorang bapak-bapak penolong kawanku.