Kamis, 21 April 2016

Kehilangan Semangat

Malam itu, ada sebuah pesan BBM masuk. Ternyata dari salah satu kawanku. Aku membuka pesan itu. Dan mak deg! Tiba-tiba saja pesan itu membuatku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Aku terus mencoba menenangkan diriku. Aku sedikit tidak percaya dengan hal itu, karena pesan dari kawanku belum tentu benar. Kemudian, aku menelpon salah satu kawanku lagi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Dan benar! Apa yang dikabarkan melalui pesan BBM kawanku itu benar-benar terjadi.

Sepanjang malam aku terus mencoba untuk tidur. Namun, sepertinya mata ini masih ingin terus terjaga. Aku benar-benar dalam keadaan sedikit kacau malam itu. Aku terus membayangkan apa yang akan terjadi keesok harinya. Hingga aku merasakan bahwa gejala alergiku sepertinya muncul lagi. Aku mengambil obat dalam kotak obatku. Dan ternyata ada salah satu obat alergi yang memiliki efek samping kantuk. Aku akhirnya bisa tertidur lelap, karena pengaruh obat.

Aku tertidur pulas hingga melewatkan bunyi alarm handphone-ku. Beruntung tempat singgahku tidak jauh dari masjid. Suara adzan subuh begitu jelas hingga membuatku terbangun dari tidur lelapku. Aku kemudian segera bergegas untuk ke kamar mandi, menyalakan air, menunaikan hajatku, kemudian mandi. Baru setelah sholat subuh aku bersiap-siap untuk menjalani rutinitasku. Iya, rutinitas yang mampu menyita sebagian besar waktuku. Dan aku bisa menikmati rutinitasku itu.

Pagi itu, tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku tidak melihat wajah-wajah penuh semangat. Aku melihat mereka dengan wajah-wajah lesu. Pagi yang menurutku bukanlah pagi yang aneh, bagi mereka yang sudah mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tak ada lagi teriakan-teriakan yang penuh semangat pagi itu. Hanya suara-suara mesin yang terdengar begitu jelas. Mereka tetap berjalan, namun dalam keheningan. Dari mereka, nampak mata basah seperti menahan kesedihan. Dan aku? Aku hanya terus mencoba agar diriku tidak larut dalam kesedihan, dan keheningan.

Aku tahu betul bagaimana rasanya kehilangan. Apalagi kehilangan seorang panutan. Panutan yang bukan hanya bisa mengayomi, tapi juga mengasihi. Seorang panutan yang begitu dicintai oleh anak-anaknya, meski tak ada ikatan darah diantara mereka.

***
Ketika diantara mereka berinisiatif untuk mengadakan pertemuan, aku pun turut ambil bagian dalam pertemuan itu. Karena, bagaimana pun juga, aku juga merasa kehilangan seorang sosok, sekaligus figur seorang pemimpin. Apa yang ada dalam dirinya adalah cermin dari sikap leadership. Ibarat sebuah perahu, ia adalah nahkoda, yang bukan hanya mampu mengendalikan perahu menuju pulau tujuan, namun juga seorang problem solver ketika perahu itu diombang-ambing oleh ombak maupun badai. Nahkoda yang mau turun ke bawah untuk mengatasi kebocoran perahu, karena nahkoda tahu betul, kebocoran perahu sangat berakibat pada lamanya perahu sampai ke pulau tujuan.

Dan aku belajar banyak tentang sosok, sekaligus figur seorang pemimpin itu. Dia adalah figur pemimpin yang bukan hanya menuntut hasil, tapi juga memberi solusi. Selain itu, ia juga seorang problem solver. Dia adalah seorang pemimpin modern, karena ia tahu betul, dia hanya mendampingi, maka ia lebih sering menggunakan pendekatan emosional, hingga tercipta suasana keakraban dan kekeluargaan dalam lingkungannya. Karena sekarang bukanlah jaman penjajahan, yang menuntut hasil dengan ancaman-ancaman.

Tapi, ini adalah proses kehidupan. Bagaimana pun juga, roda kehidupan akan tetap berjalan. Kami semua diam, dengan suara lirih, ia menjelaskan kepada kami semua. Dan benar-benar bijak, kami semua diminta untuk tetap berprasangka baik, ”Semuanya tetap berprasangka baik, jangan pernah berprasangka buruk,  karena dengan berprasangka buruk, itu hanya akan menghalangi langkah kita” Semuanya masih hening, kemudian, dia tetap melanjutkan bicara. Namun, kali ini diiringi dengan isak tangis dari kami semua. Aku tidak pernah mengalami kondisi seperti ini sebelumnya, dalam hatiku “Dia adalah orang baik, pantas jika semua orang menangis dengan kepergiannya”

Dan yang membuat saya turut larut dalam kesedihan ketika ia mencoba memberikan ucapan perpisahan kepada kami semua “Saya akui, saya tidak bisa bekerja sendirian tanpa kalian, saya hanya mendampingi kalian, segala pencapaian yang pernah kita raih bersama adalah pencapaian kalian,” semua semakin larut dalam kesedihan.

Nada getir keluar dari mulutnya, namun ia mencoba tetap berbicara “Kita tetap kerja bareng-bareng, kalian juga bekerja seperti biasanya, saya pun juga tetap bekerja, karena roda kehidupan tetap berjalan, hanya saja papan kita yang berbeda”  diam sesaat kemudian beliau meminta lagi agar tetap berprasangka baik.
“Dan tetap berprasangka baik” Dia selalu mengulang kata-kata itu. Entah sudah berapa kali ia mengulangi kata-kata itu.

Seperti katanya, roda kehidupan akan tetap berjalan, dan kami pun juga akan terus berjalan. Iya, kami akan tetap berjalan! Namun sepertinya, untuk beberapa hari kedepan, kami akan kehilangan semangat.