Senin, 04 April 2016

Nama Boleh Berubah, Tapi Tidak Soal Rasa

“Maaf Pak, boleh izin untuk keluar kantor sebentar? Mau berobat ke Boyolali”
“Di poliklinik saja, mumpung dokternya sedang visit thu”
“Nganu Pak, biasanya kalau saya sedang greges-nggreges kaya gini obatnya ke Soto Segeer Mbok Giyem, terus minumnya jeruk panas”
Begitu kira-kira percakapan yang terjadi antara saya dengan manajer saya di sela-sela waktu kerja. Meski dia atasan saya, namun tak jarang kami dan rekan kerja yang lain saling melempar candaan untuk memecah keheningan serta kebosanan selama menjalani rutinitas pekerjaan di kantor. Saya bekerja sebagai HRD di salah satu perusahaan garment di Boyolali.
Boyolali adalah sebuah kota kecil yang sudah tak asing bagi saya. Saya memiliki kerabat yang tinggal di kota susu ini. Semasa kuliah dan ngekos di Solo dulu, setidaknya hampir sekali dalam seminggu, atau paling tidak dua kali dalam sebulan saya berkunjung ke Boyolali. Maklum, rumah asli saya yang terletak di Sukoharjo selalu sepi, jadi saya lebih senang berkunjung dan menginap di rumah kerabat saya di sana. Bahkan, karena saking seringnya berkunjung, saya sudah dianggap seperti anak mereka sendiri. Dan sepertinya saya berjodoh dengan kota Boyolali, mengingat sudah lebih dari satu tahun saya mencari nafkah di kota ini.
Boyolali yang terletak di barat Solo ini, identik dengan kota susu. Selain tentu saja surganya bagi pecinta kuliner. Untuk soal itu, Boyolali identik dengan soto-nya. Dan salah satu yang paling terkenal adalah Soto Segeer Mbok Giyem, warung soto yang kini sudah menyebar di mana-mana. Konon, brand Soto segeer Mbok Giyem, kini sudah diwaralabakan, atau bahasa kerennya di-franchise-kan. Jadi, tidak heran kini banyak bermunculan warung-warung soto yang menggunakan nama Soto segeer Mbok Giyem.
Di liburan weekend ini, saya tiba-tiba berkeinginan untuk mengunjungi warung soto itu. Apalagi kondisi badan sudahnggreges-nggreges. Dan Soto Segeer Mbok Giyem yang disajikan dalam keadaan panas, ditambah sedikit sambal, serta jeruk panas sebagai minumannya, sepertinya menjadi resep yang tepat untuk kondisi badan saya saat ini.
Di Boyolali ada dua warung Soto Segeer Mbok Giyem yang dibuka oleh pemilik aslinya, yaitu yang berlokasi di Jl Pandanaran no 27, dan di Jl Garuda. Kedua warung itu berjarak tak begitu jauh. Tapi jangan salah, jika sudah memasuki jam makan siang, kedua warung Soto Segeer Mbok Giyem akan selalu ramai dan sesak oleh pelanggan.
Tidak tahu kenapa, saya lebih suka makan di warung Soto Segeer Mbok Giyem yang berlokasi di Jl. Garuda. Meski tempatnya agak masuk; jika arah ke Semarang, sebelum pasar Sunggingan ada pertigaan di depan Supermarket Galaxy ada gang ke kanan. Nanti akan ketemu papan petunjuk arah: Soto Segeer Mbok Giyem kurang lebih 15 meter. Konon, warung Soto yang berada di Jl. Garuda, adalah cikal bakal warung soto yang semakin ramai itu.
Berganti nama menjadi Soto Segeer Hj Fatimah
meski warung Soto Segeer Mbok Giyem kini sudah banyak ditemukan, bagi saya, tidak puas jika tidak berkunjung langsung ke Warung Soto Segeer milik keluarga Mbok Giyem ini. Ada pemandangan aneh saat saya hendak memarkirkan sepeda motor tepat di parkiran depan warung soto itu. Di depan warung, bukan hanya terlihat deretan motor yang terparkir, di sepanjang jalan sekitar warung soto juga berjejer mobil dari para pelanggan.
Belakangan, nama Soto Segeer Mbok Giyem kini sudah berganti, menjadi “Soto Segeer Hj Fatimah”. Saya yang sudah penasaran sejak di kantor, tetap memutuskan masuk. Sekilas, tak ada yang berubah sejak kali pertama saya berkunjung ke warung soto itu. Saya memesan satu porsi soto daging sapi, dengan jeruk panas sebagai minumnya.
Hingga akhirnya saya menemukan semacam pengumuman di beberapa sisi tembok. “Mohon Doa Restu Soto Segeer Mbok Giyem Boyolali, Kami ganti dengan nama Soto Segeer Hj Fatimah Boyolali, dengan pemilik yang sama, dan hanya membuka cabang, di Boyolali ada dua warung, yaitu di Jl Pandanaran dan satunya lagi di Jl Garuda, kemudian di Jl Bhayangkara Tipes – Solo,” begitulah kira-kira isi pengumumannya. Ketiga warung yang dulunya bernama Soto Segeer Mbok Giyem itu kini berganti dengan nama Soto Segeer Hj Fatimah.
Dalam ruangan, warung sudah dipenuhi pelanggan. Saya agak kesulitan mencari tempat duduk. Beruntung, saya masih mendapatkan tempat duduk di pojokan ketika salah satu pengunjung baru saja selesai makan. Pelayan nampak sangat sibuk melayani pelanggan untuk memastikan semua pesanan pelanggan sudah terpenuhi. Tidak menunggu lama, soto daging sapi pesananku datang dalam keadaan masih mengepulkan asap panas. Selang sebentar saja, jeruk panas pun juga sudah diantar ke meja saya.
Saya langsung mencicipnya: apakah pergantian nama turut mengubah rasa soto itu. Kemudian saya aduk sebentar soto dalam mangkuk kecil itu. Dan rasanya, Sempurna! Perubahan nama, ternyata tidak membuat perubahan pada rasa. Nama boleh berubah, namun soal rasa, tidak!
Saya menikmati semangkuk soto panas dan sedikit pedas itu. Mengambil dua tempe mendoan sebagai pelengkap. Kuah soto yang masih panas membuat tubuh saya langsung berkeringat. Apalagi ditambah dengan segelas jeruk panas. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Badan yang awalnya nggreges-nggreges ini, kini segar kembali ketika sudah bermandikan keringat. Usai makan, rasanya tak lengkap jika tidak dipungkasi dengan satu batang rokok. Namun keinginan itu saya urungkan saat melihat banyak orang di sekitar saya. Kepulan asap rokok, sepertinya akan membuat suasana makan siang mereka akan sedikit terganggu, mengingat udara saat itu juga lumayan panas.
* * *
Sebuah langkah berani diambil oleh pemilik Soto Segeer Hj. Fatimah, yang dulu bernama Soto Segeer Mbok Giyem, apalagi mengingat brand Soto Segeer Mbok Giyem sudah terkenal ke mana-mana. Hingga nama Soto Segeer Mbok Giyem di-franchise-kan. Ketika saya melacak lewat beberapa sumber atas alasan pergantian nama atau rebranding itu, kabarnya itu adalah sebuah langkah penyegaran. Namun demikian, Hj Fatimah, si pemilik warung soto yang baru ini sepertinya tahu betul, yang terpenting dalam bisnis kuliner adalah soal rasa. Iya, rasa.

Note: Tulisan ini pernah dimuat di minumkopi.com dengan judul yang sama.