Senin, 25 April 2016

Raka

Sore itu, Raka yang awalnya sudah bersiap untuk mandi, tiba-tiba ngambek. Dia tidak mau mandi dan hanya merengek di pojok kamar. Raka mendadak merengek bukan tanpa alasan. Raka baru saja mendengar kabar, bahwa Ibunya lembur. Hampir putus asa untuk membujuk Raka agar mau mandi. Namun, karena rayuan dari neneknya, Raka pun bersedia mandi, meski dengan isak tangis.

Sehabis mandi, Raka berganti baju, masih dengan isak tangis. Sepertinya, ia kecewa dengan Ibunya. Sepemahaman Raka, lembur itu artinya Ibunya akan terlambat pulang. Karena terlambat pulang, itu artinya, akan berkurang juga waktu yang ia akan habis bersama dengan Ibunya.

“Ibu, nakal!” masih dengan isak tangis, Raka mengatakan hal itu kepada neneknya. Nampak, neneknya berusaha menjelaskan mengapa Ibunya terlambat pulang. Namun, Raka masih terlalu kecil untuk memahami penjelasan neneknya. Yang Raka tahu, seharusnya Ibunya sudah pulang. Itu saja!

***

Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah, bukan mengapa Ibu Raka harus bekerja. Namun, yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa saya terpikir dengan tokoh Raka? Dan mengapa nama tersebut mirip dengan nama saya, hanya berbeda huruf vocal saja. Saya tidak tahu. Meski terbesit dalam pikiran saya, akan menamai anak saya dengan nama Raka. Namun, meski ini masih cerita fiktif, saya kesulitan menuliskan nama ibunya Raka.