Minggu, 19 Juni 2016

Buka Bersama Keluarga

Sabtu kemarin, sebenarnya saya sudah berencana untuk pulang sore harinya. Namun, sepulang kerja, saya masih mempunyai PR yang harus saya selesaikan, yaitu pakaian segunung yang belum diseterika. Maklum lah, saya masih bujang, jadi apa-apa masih sendiri, (yang ini curhat banget, yaa J?)

Selesai menyeterika, sepertinya gaya gratifikasi diatas kasur  tiba-tiba menjadi sangat besar dan membuat badan saya kelet dengan kasur. Alhasil saya tertidur hingga menjelang buka puasa.

Ketika mata mulai terbuka, dan masih dalam kondisi mengumpulkan nyawa, terdengar suara bahwa di luar sedang turun hujan.

Hujan kala itu bukan hanya membuat saya buka puasa seadanya, karena belum sempat membeli takjil untuk buka puasa. Namun, juga menunda kepulangan saya ke Sukoharjo.

Sore itu, saya hanya buka puasa dengan teh manis dan biskuit. Dan baru setelah sholat teraweh saya baru keluar untuk makan malam di luar. Karena hujan tidak reda-reda, saya memutuskan untuk membawa jas hujan untuk menuju angkringan milik Mas hik.

Sesampai di angkringan milik Mas hik, nampaknya tak banyak pelanggan yang jajan. “Udan-udan hawane, enake yo turu neng ngomah, rep metu jajan do males” Mas hik, nampak sedikit sambat. Maklum, hujan deras membuat orang-orang betah di rumah dan dagangan masih banyak.
Ketika saya baru datang, Mas hik memberi saya takjil sisa buka puasanya tadi. Sambil menikmati takjil dari Mas hik, saya memesan teh panas untuk menghangatkan badan saya yang sudah mulai kedinginan karena hujan malam itu.

Hujan malam itu sangat awet, bahkan saya mendengar kabar bahwa ada beberapa wilayah di Solo tergenang banjir akibat meluapnya sungai bengawan Solo. Semoga airnya cepat surut, dan semua korban dapat menghadapi cobaan di bulan puasa ini dengan istiqomah.

Hanya saya saja yang jajan di angkringan milik Mas hik malam itu. Mas hik mencoba menghibur diri dan berusaha untuk memaklumi, bahwa dagangannya malam itu masih banyak, karena tak banyak yang jajan malam itu.  “Diambil hikmahnya aja, Bos, mungkin Gusti Allah pengen aku mulih risik terus istirahat gasik, wong dagang nek ndekaki ramai ngasi bingung sik ngedoli, tapi nek lagi sepi yang piye meneh” ucap Mas hik di tengah obrolan kami.

Semakin malam, udara menjadi semakin dingin, malam itu saya yang hanya memakai celana pendek pun sudah tidak kuat lagi dengan dinginnya malam itu. Saya pun pamit pulang, karena paginya saya harus bangun untuk makan sahur, dan saya berencana pulang ke Sukoharjo.

Ada beberapa alasan kenapa saya harus pulang pagi itu, meski sore harinya saya harus kembali lagi ke Boyolali. Salah satunya, karena ibu dan kakak saya baru saja pulang dari Sumatera. Jadi, saya berencana buka bersama dengan keluarga.

Beberapa hari yang lalu, saya pernah mendapat kabar, bahwa ibu saya lebaran ini tidak akan pulang, karena lebih memilih untuk lebaran di tanah rantau, yaitu di Jambi. Kemudian, kakak saya yang saat itu posisinya sedang di Bengkulu, berencana untuk menjenguk Ibu. Singkatnya, kunjungan kakak saya ke tempat Ibu, juga dalam rangka membujuk ibu saya untuk pulang. Akhirnya bujukannya berhasil, Ibu dan kakak saya pulang bersama-sama. Padahal, kakak saya baru sekitar dua bulan di Bengkulu, namun demi bisa lebaran bersama keluarga besar, kakak saya barhasil membujuk Ibu saya pulang.

Saya pulang pagi harinya, setelah mencuci pakaian, saya mandi dan segera bergegas meski cuaca dari pagi sangat dingin, karena sedari pagi awan nampak mendung. Hal itu tidak mengurangi niat saya untuk pulang ke Sukoharjo.

Sesampai di Sukoharjo, saya langsung bertemu dengan Ibu saya, kemudian mencium tangannya. Saya senang Ibu saya sehat-sehat saja. Saya tahu betul Ibu saya. Beliau sangat membenci perjalanan, karena beliau mabuk darat dan laut, padahal perjalanan dari Sumatera paling tidak membutuhkan waktu tiga hari dua malam. Sedangkan kakak saya masih tidur. Saya kemudian menyalakan televisi dan tidur-tiduran.

Banyak hal yang kami obrolkan bersama dari siang hari hingga menjelang buka. Mulai dari keadaan di tanah rantau. Kabar dari kerabat-kerabat yang ada di perantauan, kemudian cerita-cerita menarik lainnya selama hidup di perantauan. Dan kala itu saya lebih sebagai pendengar setia saja.
***
Adzan magrib mulai berkumandang dan saling bersautan antara masjid yang satu dengan yang lain. Kemudian kami semua mulai berbuka. Saya dan kakak saya sudah mempersiapkan kopi sebelumnya. Tentu saya tidak langsung berbuka dengan kopi, namun saya membatalkan puasa denga segelas air putih. Sebagai teman ngopi dan buka puasa sore itu, saya menikmati cemilan-cemilan oleh-oleh dari Sumatera. Dan kopi yang saya minum kala itu pun juga oleh-oleh dari sumatera.

Setelah berbuka dengan kopi beserta cemilan, saya pun mengambil wudhu dan menjalankan ibadah sholat magrib. Dan baru setelah sholat magrib saya mulai makan besar. Tak seperti biasanya, kala itu saya sudah ingin langsung makan besar. Biasanya, saya makan besar setelah sholat teraweh. Makan besar yang sederhana, hanya ada sambel, lalapan, sayur, ikan bandeng, tempe dan tahu goreng, serta kerupuk. Saya sangat menikmati kesederhanaan itu, bahkan saya minta tambah nasi.

Buka bersama kali ini lain, meski dalam beberapa kesempatan saya lebih sering buka bersama di tempat kerja, yaitu bareng dengan karyawan shift dua. Buka bersama kali ini saya di kelilingi oleh orang-orang yang sangat peduli dengan saya.


Dan sepertinya, untuk kali pertama semenjak beberapa tahun, lebaran tahun ini keluarga besar kami akan berkumpul semua tanpa ada yang absen, karena Pak dhe yang berdomisili di Bengkulu pun kabarnya minggu depan juga pulang ke Jawa.  
Read more ...

Adil Sejak Dari Postingan

Pagi-pagi kawan saya Johan Hariyanto sms saya, bahwa ada tulisan yang harus saya edit. Kemudian waktu saya buka, ternyata tulisan tersebut adalah tulisan tentang kehidupan saya. Hanya membaca sekilas, saya langsung mempublikasikan tulisan itu. Alasan saya sederhana, itu tulisan tentang saya. Saya sangat paham dengan kawan saya. Mungkin dia menyuruh saya untuk menyamarkan nama tokohnya atau menghapus beberapa yang menurut saya tidak sesuai, atau ada hal-hal yang tidak berkenan bagi saya untuk dipublikasikan. Namun, bagi saya itu justru tidak adil. Toh, jika saya menyamarkan nama tokoh, gambar ilustrasinya saja sudah jelas itu foto saya (untuk masalah gambar ilustrasinya, saya akan menuliskannya saja, kalau sempet lho ya)

Sebenarnya saya bisa saja, menghapus tulisan itu, atau mengeditnya dengan nama samaran, atau mengedit beberapa tulisan dengan menambahkan fitnah-fitnah kecil tentang segala hal yang berisi kebaikan-kebaikan tentang saya. Namun, sekali lagi, itu tidak adil, dan itu tidak akan saya lakukan. Tulisan yang jujur dari kawan saya ini membuat saya sedikit bungah, setidaknya kawan saya sudah mulai posting lagi setelah mengganti status bujangnya dengan status menikah dan sedang mempersiapkan diri sebagai Bapak.

Tulisan yang apik, dari Johan yang ia beri judul "Cinta Kasih Tak Memilih" berusaha untuk mengkaitkan makna sebuah lagu dengan kehidupan seseorang. Sebuah lagu dari letto yang berjudul “kasih tak memilih” adalah lagu yang sarat makna. Hampir setiap lagu-lagu yang diciptakan oleh band asal Jogja yang kini memilih jalur indie itu semua sarat makna. Bahkan, makna dari sebuah lagu dari letto sangat mendalam, bukan hanya berkisah tentang percintaan, namun lebih dari itu, juga tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Saya mengucapkan terima kasih kepada kawan saya, Johan Hariyanto yang telah membuat tulisan yang apik. Mungkin ini adalah balasan untuk saya yang sudah beberapa kali mengutip kisah hidupnya untuk melengkapi tulisan saya.


*Berikut link tulisan Johan yang diposting di lobimesen.com
http://www.lobimesen.com/2016/06/cinta-kasih-tak-memilih.html


Read more ...

Jumat, 17 Juni 2016

Di Pinggir Lapangan

Ketika saya baru akan menikmati soto panas pesanan saya. Tiba-tiba ada telpon masuk. Telpon dari Manager saya. “Sekarang di mana, Kik? Ini teman-teman sudah menunggu” saya terpaksa harus menyudahi sarapan saya pagi itu. Ini murni salah saya, karena kami sudah sepakat, bahwa jam 7 pagi, kami semua harus sudah berkumpul. Semalam saya pulang larut malam, meski sudah mepet saya juga memaksakan diri untuk mampir sarapan dulu di sebuah warung soto. Namun, ya begitulah, saya baru mau menyendok soto pesanan saya, Manager saya sudah menelpon saya agar segera berkumpul dengan teman-teman.

Pagi itu kami akan bertandang ke Salatiga, yaitu mengantar jawara team futsal dari kantor Solo, untuk bertanding dengan jawara dari team kantor Semarang. Salatiga dipilih, karena tempat tersebut kami anggap netral, yaitu tempatnya tepat tengah-tengah antara Solo dan Semarang.

Sebelumnya, tempat saya bekerja, baik kantor Solo maupun Semarang mengadakan turnamen futsal yang bisa diikuti oleh team-team dari antar department. Dan jawara dari masing-masing kantor, akan dipertemukan dalam sebuah laga yang diadakan di Salatiga.

Pagi itu, kami dari Solo men-carter dua bus besar untuk mengantar dua team ke Salatiga, yaitu team cewek dan cowok, dimana kedua team tersebut adalah juara satu turnamen yang kami adakan untuk kantor Solo. Sengaja kami men-carter dua bus agar bisa membawa supporter dari Solo, tentu dengan segala perlengkapan seorang supporter.

Saya tidak ikut bermain dan menjadi anggota team dari salah satu peserta turnamen, karena jelas, saya sudah menyadari bahwa saya sudah tak segesit waktu masih kuliah dulu. Bisa dibayangkan, saya sudah sangat jarang berolahraga, kemudian dulu badan saya masih bisa untuk diajak berlari-lari mengejar cintanya, eh maksud saya mengejar bola. Saya sekarang menjadi mudah lelah ketika berlari-lari dengan membawa beban tubuh saya, yang terakhir kali saya timbang sudah mencapai angka 74 Kg. Dari 74 Kg itu terdiri dari sedikit daging, lemak dan dosa-dosa saya selama hidup di dunia.

Saya hanya menjadi official team kala itu. tugasnya apa? Jelas saya bertugas menyiapkan segala kebutuhan yang dibutuhkan team ketika akan bertanding. Salah satunya angkat-angkat kardus yang berisi air mineral, serta menjadi team hore di pinggir lapangan.

Saya hanya berdiri di pinggir lapangan, berusaha mengamati dan membaca permainan lawan. Pertandingan pertama, yaitu untuk pertandingan team futsal cewek, kami kalah 2 – 0. Kekalahan yang bisa saya prediksi, karena dilihat dari materi pemain, kami kalah, ditambah mereka bermain jauh lebih bagus, dan saya gagal focus menikmati pertandingannya, karena mereka bermain bukan hanya dengan fisik yang keras, namun kecantikan yang uhuk ihirr. Duh, bagi saya cewek yang berkeringat saat berolahraga itu, bukan hanya seksi, tapi eksotis, iki uopo jane.

Pertandingan kedua, yaitu pertandingan team cowok, permainan jauh lebih dramatis, karena harus menunggu sampai adu penalty. Di babak pertama team kami bisa unggul 3 – 0. Meski, sudah unggul saya yang mengamati di pinggir lapangan, sudah sedikit was-was, karena apa? Fisik team kami jelas kalah jauh, saya tahu betul siapa saja pemain team kami, mereka semua perokok semua, dan secara permainan, team kami bermain tanpa pola. Sedangkan team lawan, saya melihat bahwa mereka sudah bermain dengan pola, mungkin dikarenakan grogi mengingat selama pertandingan, saya harus mengganjal telinga saya dengan tisu karena sangat berisik denga yel-yel antar supporter dengan teriakan dan suara perkusi mirip seperti supporter belakang gawang. Di Babak pertama, nampak pemain lawan sering membuat kesalahan yang berujung dengan kebobolan karena bisa dimanfaatkan dengan apik oleh team kami.

Di babak kedua, kekhawatiran saya terjadi juga, mereka bermain dengan sedikit lebih tenang daripada ketika bermain di babak kedua. Bermain lebih rapi, dan mampu mengejar ketertinggalan, bahkan mampu menyamakan kedudukan. Di saat team lawan mampu menyamakan kedudukan itulah, kami bermain agak grusa-grusu. Team kami sering melakukan tindakan-tindakan yang menurut saya, hal itu adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan saat pertandingan masih berjalan.

Pluit babak kedua berakhir, dan harus ditentukan dengan adu penalty. Dan di saat adu penalty itu lah saya lebih memilih menjauhi lapangan. Saya benci dengan situasi seperti saat itu.

Meski ada sedikit kekacauan, karena ada supporter yang ter-provokasi, team kami harus mengakui bahwa team Semarang lah yang berhak menggondol piala bergilir, dari kantor regional Indonesia.

Saya kemudian mendekati pemain kami, meski mereka kecewa, saya hanya bisa menguatkan mereka, bahwa mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami harus bisa menerima bahwa kedua team yang kami boyong ke Salatiga, belum bisa mengalahkan team dari kantor semarang.

Saya hanya di pinggir lapangan, dan sesekali mengingat masa lampau, bahwa saya pernah bermain futsal seperti mereka, namun melihat perut saya yang semakin membuncit ini, nampaknya saya harus minimal olahraga satu bulan dulu, baru saya bisa bermain futsal lagi seperti waktu zaman masih kuliah.


*catatan ini saya buat sebelum bulan puasa, dan baru ketemu untuk dipublikasikan
Read more ...

Rabu, 15 Juni 2016

Nonton Bareng

Sudah dua hari saya benar-benar menjadi manusia kalong. Betapa tidak, saya baru benar-benar bisa tertidur pulas setelah sholat subuh. Entah apa yang sedang saya risaukan, yang jelas, saya sudah terus berusaha untuk tidur, namun saya tetap terjaga hingga suara pasukan saur berteriak-teriak membangunkan sahur dengan irama perkusinya.

Dan pada akhirnya kondisi kesehatan saya K.O juga. Hal ini mungkin dikarenakan saya kurang istirahat, kemudian ditambah lagi, ketika “nunut” berbuka puasa di rumah Sukoharjo, saya justru di jamu dengan Kolak, Es Jeruk Sachet, cemilan serta makan besar tentunya. Sebenarnya, saya sudah mengurangi minuman dingin ketika berbuka puasa, kalau minum dingin itu pun biasanya es the manis, dan hanya dengan tambahan batu es sedikit saja, istilah jawanya tombo pengen. Namun, karena saya merasa sungkan atau tidak enak, saya akhirnya memutuskan untuk meminum Es Jeruk Sachet itu.

Setelah berbuka dengan hidangan buka puasa sore itu, sehabis sholat magrib saya pamit. Saya sudah merasakan keanehan di tenggorokan saya, kemudian saya mampir di sebuah angkringan untuk membeli jeruk panas untuk mencegah agar tenggorokan saya tidak terjadi radang. Namun, saat terbangun untuk sahur, saya benar-benar merasakan radang tenggorokan. “Gejala flu ini” pikirku saat itu. Saat sahur saya mengurangi makanan berminyak, kemudian membuat teh panas untuk meredakan tenggorokanku.

Kemudian puasa hari itu benar-benar saya jalani dengan radang tenggorokan, bersin-bersin, serta saya kemana-mana menggunakan masker agar tidak menular ke orang lain.

Sepulang kerja, saya berniat menunggu buka puasa dengan beristirahat, yaitu dengan tidur-tiduran. Dan di sela-sela waktu istirahat itu lah, terdengar ada suara BBM masuk dari handphone saya. Ternyata dari teman kantor, waktu saya buka ternyata ajakan untuk menonton film bersama. “Bos, nanti ditunggu jam 5 sore, di Solo Square ya, filmya jam 17.55, tiketnya sudah dibeli sama Ratu lebah”

Saya masih merasa bahwa tubuh saya masih butuh untuk istirahat, kemudian saya membalas pesan BM kawan saya, “Saya sedang flu berat, Bro”
“Terus tiketmu piye? Sudah terlanjur dibeli inih”
Karena saya merasa sungkan, saya jawab bahwa saya akan datang “Okey, saya istirahat dulu, semoga semakin membaik dan bisa menyusul”

Ajakan untuk menonton film sebenarnya saya yang menyuruh mereka untuk mengagendakan. Namun, saya tidak mengira bahwa mereka segera merespon ajakan saya. Waktu itu, film yang akan kami tonton “Now You See Mee 2” film pertama dari film ini bagus, jadi kami semua sangat antusias untuk menontonnya.

Salah satu dari rekan kerja saya, kemudian menyuruh pacarnya, eh maksud saya calon istrinya untuk membelikan tiketnya. Dia (pacar rekan kerja saya) biasa kami panggil dengan si ratu lebah, karena apa? Itu sebenarnya hanya guyunan kami saja, mengingat teman saya berubah menjadi bukan dirinya ketika bersama pacarnya. Dan pacarnya (eh sekali lagi, calon istrinya) sudah sering diajak rekan kerja saya bermain bersama ketika kami mengadakan acara kumpul-kumpul atau sekedar nonton bareng.

Dan yang menjadi masalah adalah, waktu menonton yang menurut saya nggak ada toleransinya. Bayangkan saja, nonton jam 17.55 padahal buka sekitar am 17.30. kemudian yang membuat saya ragu, saya bakal sholat magrib dimana? Saya tidak yakin bakal sholat magrib di Solo Square, setau saya baru Hartono Mall yang memiliki ruang mushola yang memadai. Kemudian saya mengabari kawan saya yang sudah berkumpul di sana sekitar pukul 17.00, bahwa saya akan menyusul di waktu injury time. Kawan saya menawari agar saya berbuka di sana saja menemani Bapaknya yang juga buka di sana. Bapak yang saya maksud di sini adalah Managernya. Karena rekan kerja yang mengajak saya menonton adalah dari satu department di tempat kerja saya, bisa dibilang kala itu saya hanya nimbrung saja.

Akhirnya saya berangkat sekitar pukul 17.00, kemudian melaju dengan kecepatan yang sedang-sedang saja, sambil sesekali melihat jam di tangan kiri saya. Menjelang berbuka puasa saya masuk di perkampungan sebelum Solo Square, tujuan saya adalah saya bisa berbuka dan bisa sholat magrib di masjid perkampungan itu. Waktu itu saya hanya berbuka dengan kolak dan satu buah pisang goreng untuk sekedar membatalkan puasa.

Setelah berbuka puasa, baru saya mencari masjid di perkampungan itu untuk sholat magrib berjamaah. Dan tepat setelah saya selesai sholat magrib, handphone saya berbunyi, nampaknya saya sudah ditunggu. “Ya udah, saya tunggu di studio 3, nanti kalau sudah sampai saya jemput” suara kawan saya mengakhiri teleponnya.

Saya segera menuju ke Solo Square, untuk mempersingkat waktu saya parkir di parkir depan Solo Square. Kemudian dengan berjalan agak cepat saya menuju studio XXI, sesampai di lobi, saya menelpon kawan saya, kemudian teman saya menjemput saya, dan mengajak masuk ke studio 3.

Ternyata kami memesan deretan kursi paling belakang, itu artinya kursi paling atas. Padahal waktu saya lihat, masih banyak kursi kosong di bawah, saya mencoba berpikir positif saja, mungkin pada teraweh dulu, jadi bioskop masih sepi. Duduk di barisan paling belakang, entah mengapa membuat saya seperti kehilangan keutamaan dalam menonton sebuah film di bioskop. Kami memesan 2 kursi di deretan kiri dan 4 kursi di deretan kanan. Sepertinya kawan saya dan pacarnya, (duh maksud saya calon istrinya) memilih memisah dari kita. Mungkin takut terganggu. Dan empat deret di kanan diisi dua kawan saya, dan tepat di samping saya adalah Manager mereka. Sekali lagi, saya cuma nimbrung.

Baru sebentar duduk, film yang ingin kami tonton baru dimulai. Artinya saya belum bisa dikatakan terlambat. Kawan saya memberi saya sebotol soft drink dan cemilan, agar kami bisa tetap khusyuk menonton meski berada di barisan paling belakang. Jujur tempat duduk favorit saya waktu nonton di bioskop sebenarnya di tengah, jadi layar pas di hadapan kita.

Film yang sangat bagus menurut saya. Namun dalam tulisan saya kali ini, saya tidak akan menceritakan kepada kalian, pokoknya apik, tontonen dewe nek ra percoyo

Kami menikmati setiap adegan dalam film dengan khusyuk, nyaris tak ada celetukan-celetukan diantara kami, dan hanya terdengar suara kemriuk dari mulut kami selagi menikmati cemilan.
***
Ketika film hampir selesai, saya mengalami masalah perut, jadi ketika film sudah selesai, saya harus segera menuju toilet untuk menyelesaikan masalah saya. Saya lupa sejak kapan saya berubah menjadi seorang yang “ngisengan” padahal dulu saya sangat riwi, bahkan saya biasanya susah BAB ketika berada di lingkungan baru. Terkadang, saya seperti mau BAB, tapi ketika sampai di toilet malah tidak keluar-keluar.  

Selesai menunaikan hajat, saya segera menyusul kawan-kawan saya yang kebetulan masih menunggu di lobi. Ketika perjalanan menuju pintu keluar, kawan saya nyeletuk, “Pak, sebenernya kamu tadi belum sempat tak belikan tiket lho, soale Manager saya juga ikut, tapi berhubung sudah terlanjur mau, akhirnya kami ngantri lagi buat beli satu tiket lagi, untung aja kursi sebelah kita tadi masih kosong, kalau sudah penuh, mungkin besok paginya sudah di SP aku”
***
Setelah kami selesai menonton, kami berencana untuk mencari makan, karena saya dan Pak Manager belum makan besar, kami hanya sekedar makan cemilan untuk berbuka. Sedangkan ketiga manusia yang nonton bareng dengan saya waktu itu jebul mereka sedang tidak berpuasa. Mengapa tidak berpuasa? Kuwi dudu urusanku!

Tepat ketika kami keluar dari Solo Square dan mau menuju ke tempat makan, hujan turun dengan deras kami semua numpang berteduh di sebuah emperan toko, yang kebetulan di emperan tersebut ada yang menjual sosis bakar dan tempura. Kami semua memesan sosis dan tempura bakar milik Mba Cantik itu, untuk sekedar menggangjal perut kami. Ohiya sebutan Mba cantik itu berasal dari celotehan salah satu kawan saya. yang jelas bukan yang sedang bersama pacarnya lho, ya. Bisa gawat kalau ratu lebah ngamuk. Hahaha

Dan ternyata mencari tempat makan bagi kami waktu itu tidak sesedehana menikmati nasi padang di waung makan sederhana. Karena apa? Request dari Pak Manager, belio ingin makan sambil nonton bola, malam itu yang sedang bermain Spanyol Vs Ceko. Dan setelah muter-muter, kami tidak jadi makan, tapi malah nongkrong di sebuah kedai kopi di ruko dekat stasiun Purwosari. Saya yang berencana minum obat pun, tidak memesan kopi, namun saya memesan lemon tea panas serta cemilan. Dan di saat nonton bola yang dimenangkan oleh Spanyol dengan Skor 1 – 0 itu, kawan saya berbisik “Bos, ini mau sampai jam berapa? besok kalo tidak pada masuk, aku nggak tanggung jawab lho” kemudian saya mengajak mereka untuk pulang dengan alasan besok masih ada pekerjaan.

Dan paginya, saya justru merasaka badan saya agak enakan, mungkin karena obat yang diberikan suster poliklinik kepada saya manjur. Namun justru salah satu kawan saya yang ikut nonton bareng, malah mengirim pesan melalui BBM, bahwa dia sedang sakit dan tidak bisa masuk kerja, mungkin karena dia sudah kelalahan.
***

Dan, pagi ini saya justru dipamiti oleh Manager yang kami ajak untuk nonton bareng itu, ternyata hari ini adalah terakhir belio bekerja. Waktu saya mengobrol dengan belio, belio mendapatkan tawaran di perusahaan yang bisa membuatnya dekat dengan keluarga kecilnya. “Sukses terus, Pak, padahal kami mau mengagendakan buat nonton Conjuring 2 lho, Pak, hahahaha”
Read more ...