Minggu, 19 Juni 2016

Buka Bersama Keluarga

Sabtu kemarin, sebenarnya saya sudah berencana untuk pulang sore harinya. Namun, sepulang kerja, saya masih mempunyai PR yang harus saya selesaikan, yaitu pakaian segunung yang belum diseterika. Maklum lah, saya masih bujang, jadi apa-apa masih sendiri, (yang ini curhat banget, yaa J?)

Selesai menyeterika, sepertinya gaya gratifikasi diatas kasur  tiba-tiba menjadi sangat besar dan membuat badan saya kelet dengan kasur. Alhasil saya tertidur hingga menjelang buka puasa.

Ketika mata mulai terbuka, dan masih dalam kondisi mengumpulkan nyawa, terdengar suara bahwa di luar sedang turun hujan.

Hujan kala itu bukan hanya membuat saya buka puasa seadanya, karena belum sempat membeli takjil untuk buka puasa. Namun, juga menunda kepulangan saya ke Sukoharjo.

Sore itu, saya hanya buka puasa dengan teh manis dan biskuit. Dan baru setelah sholat teraweh saya baru keluar untuk makan malam di luar. Karena hujan tidak reda-reda, saya memutuskan untuk membawa jas hujan untuk menuju angkringan milik Mas hik.

Sesampai di angkringan milik Mas hik, nampaknya tak banyak pelanggan yang jajan. “Udan-udan hawane, enake yo turu neng ngomah, rep metu jajan do males” Mas hik, nampak sedikit sambat. Maklum, hujan deras membuat orang-orang betah di rumah dan dagangan masih banyak.
Ketika saya baru datang, Mas hik memberi saya takjil sisa buka puasanya tadi. Sambil menikmati takjil dari Mas hik, saya memesan teh panas untuk menghangatkan badan saya yang sudah mulai kedinginan karena hujan malam itu.

Hujan malam itu sangat awet, bahkan saya mendengar kabar bahwa ada beberapa wilayah di Solo tergenang banjir akibat meluapnya sungai bengawan Solo. Semoga airnya cepat surut, dan semua korban dapat menghadapi cobaan di bulan puasa ini dengan istiqomah.

Hanya saya saja yang jajan di angkringan milik Mas hik malam itu. Mas hik mencoba menghibur diri dan berusaha untuk memaklumi, bahwa dagangannya malam itu masih banyak, karena tak banyak yang jajan malam itu.  “Diambil hikmahnya aja, Bos, mungkin Gusti Allah pengen aku mulih risik terus istirahat gasik, wong dagang nek ndekaki ramai ngasi bingung sik ngedoli, tapi nek lagi sepi yang piye meneh” ucap Mas hik di tengah obrolan kami.

Semakin malam, udara menjadi semakin dingin, malam itu saya yang hanya memakai celana pendek pun sudah tidak kuat lagi dengan dinginnya malam itu. Saya pun pamit pulang, karena paginya saya harus bangun untuk makan sahur, dan saya berencana pulang ke Sukoharjo.

Ada beberapa alasan kenapa saya harus pulang pagi itu, meski sore harinya saya harus kembali lagi ke Boyolali. Salah satunya, karena ibu dan kakak saya baru saja pulang dari Sumatera. Jadi, saya berencana buka bersama dengan keluarga.

Beberapa hari yang lalu, saya pernah mendapat kabar, bahwa ibu saya lebaran ini tidak akan pulang, karena lebih memilih untuk lebaran di tanah rantau, yaitu di Jambi. Kemudian, kakak saya yang saat itu posisinya sedang di Bengkulu, berencana untuk menjenguk Ibu. Singkatnya, kunjungan kakak saya ke tempat Ibu, juga dalam rangka membujuk ibu saya untuk pulang. Akhirnya bujukannya berhasil, Ibu dan kakak saya pulang bersama-sama. Padahal, kakak saya baru sekitar dua bulan di Bengkulu, namun demi bisa lebaran bersama keluarga besar, kakak saya barhasil membujuk Ibu saya pulang.

Saya pulang pagi harinya, setelah mencuci pakaian, saya mandi dan segera bergegas meski cuaca dari pagi sangat dingin, karena sedari pagi awan nampak mendung. Hal itu tidak mengurangi niat saya untuk pulang ke Sukoharjo.

Sesampai di Sukoharjo, saya langsung bertemu dengan Ibu saya, kemudian mencium tangannya. Saya senang Ibu saya sehat-sehat saja. Saya tahu betul Ibu saya. Beliau sangat membenci perjalanan, karena beliau mabuk darat dan laut, padahal perjalanan dari Sumatera paling tidak membutuhkan waktu tiga hari dua malam. Sedangkan kakak saya masih tidur. Saya kemudian menyalakan televisi dan tidur-tiduran.

Banyak hal yang kami obrolkan bersama dari siang hari hingga menjelang buka. Mulai dari keadaan di tanah rantau. Kabar dari kerabat-kerabat yang ada di perantauan, kemudian cerita-cerita menarik lainnya selama hidup di perantauan. Dan kala itu saya lebih sebagai pendengar setia saja.
***
Adzan magrib mulai berkumandang dan saling bersautan antara masjid yang satu dengan yang lain. Kemudian kami semua mulai berbuka. Saya dan kakak saya sudah mempersiapkan kopi sebelumnya. Tentu saya tidak langsung berbuka dengan kopi, namun saya membatalkan puasa denga segelas air putih. Sebagai teman ngopi dan buka puasa sore itu, saya menikmati cemilan-cemilan oleh-oleh dari Sumatera. Dan kopi yang saya minum kala itu pun juga oleh-oleh dari sumatera.

Setelah berbuka dengan kopi beserta cemilan, saya pun mengambil wudhu dan menjalankan ibadah sholat magrib. Dan baru setelah sholat magrib saya mulai makan besar. Tak seperti biasanya, kala itu saya sudah ingin langsung makan besar. Biasanya, saya makan besar setelah sholat teraweh. Makan besar yang sederhana, hanya ada sambel, lalapan, sayur, ikan bandeng, tempe dan tahu goreng, serta kerupuk. Saya sangat menikmati kesederhanaan itu, bahkan saya minta tambah nasi.

Buka bersama kali ini lain, meski dalam beberapa kesempatan saya lebih sering buka bersama di tempat kerja, yaitu bareng dengan karyawan shift dua. Buka bersama kali ini saya di kelilingi oleh orang-orang yang sangat peduli dengan saya.


Dan sepertinya, untuk kali pertama semenjak beberapa tahun, lebaran tahun ini keluarga besar kami akan berkumpul semua tanpa ada yang absen, karena Pak dhe yang berdomisili di Bengkulu pun kabarnya minggu depan juga pulang ke Jawa.