Jumat, 17 Juni 2016

Di Pinggir Lapangan

Ketika saya baru akan menikmati soto panas pesanan saya. Tiba-tiba ada telpon masuk. Telpon dari Manager saya. “Sekarang di mana, Kik? Ini teman-teman sudah menunggu” saya terpaksa harus menyudahi sarapan saya pagi itu. Ini murni salah saya, karena kami sudah sepakat, bahwa jam 7 pagi, kami semua harus sudah berkumpul. Semalam saya pulang larut malam, meski sudah mepet saya juga memaksakan diri untuk mampir sarapan dulu di sebuah warung soto. Namun, ya begitulah, saya baru mau menyendok soto pesanan saya, Manager saya sudah menelpon saya agar segera berkumpul dengan teman-teman.

Pagi itu kami akan bertandang ke Salatiga, yaitu mengantar jawara team futsal dari kantor Solo, untuk bertanding dengan jawara dari team kantor Semarang. Salatiga dipilih, karena tempat tersebut kami anggap netral, yaitu tempatnya tepat tengah-tengah antara Solo dan Semarang.

Sebelumnya, tempat saya bekerja, baik kantor Solo maupun Semarang mengadakan turnamen futsal yang bisa diikuti oleh team-team dari antar department. Dan jawara dari masing-masing kantor, akan dipertemukan dalam sebuah laga yang diadakan di Salatiga.

Pagi itu, kami dari Solo men-carter dua bus besar untuk mengantar dua team ke Salatiga, yaitu team cewek dan cowok, dimana kedua team tersebut adalah juara satu turnamen yang kami adakan untuk kantor Solo. Sengaja kami men-carter dua bus agar bisa membawa supporter dari Solo, tentu dengan segala perlengkapan seorang supporter.

Saya tidak ikut bermain dan menjadi anggota team dari salah satu peserta turnamen, karena jelas, saya sudah menyadari bahwa saya sudah tak segesit waktu masih kuliah dulu. Bisa dibayangkan, saya sudah sangat jarang berolahraga, kemudian dulu badan saya masih bisa untuk diajak berlari-lari mengejar cintanya, eh maksud saya mengejar bola. Saya sekarang menjadi mudah lelah ketika berlari-lari dengan membawa beban tubuh saya, yang terakhir kali saya timbang sudah mencapai angka 74 Kg. Dari 74 Kg itu terdiri dari sedikit daging, lemak dan dosa-dosa saya selama hidup di dunia.

Saya hanya menjadi official team kala itu. tugasnya apa? Jelas saya bertugas menyiapkan segala kebutuhan yang dibutuhkan team ketika akan bertanding. Salah satunya angkat-angkat kardus yang berisi air mineral, serta menjadi team hore di pinggir lapangan.

Saya hanya berdiri di pinggir lapangan, berusaha mengamati dan membaca permainan lawan. Pertandingan pertama, yaitu untuk pertandingan team futsal cewek, kami kalah 2 – 0. Kekalahan yang bisa saya prediksi, karena dilihat dari materi pemain, kami kalah, ditambah mereka bermain jauh lebih bagus, dan saya gagal focus menikmati pertandingannya, karena mereka bermain bukan hanya dengan fisik yang keras, namun kecantikan yang uhuk ihirr. Duh, bagi saya cewek yang berkeringat saat berolahraga itu, bukan hanya seksi, tapi eksotis, iki uopo jane.

Pertandingan kedua, yaitu pertandingan team cowok, permainan jauh lebih dramatis, karena harus menunggu sampai adu penalty. Di babak pertama team kami bisa unggul 3 – 0. Meski, sudah unggul saya yang mengamati di pinggir lapangan, sudah sedikit was-was, karena apa? Fisik team kami jelas kalah jauh, saya tahu betul siapa saja pemain team kami, mereka semua perokok semua, dan secara permainan, team kami bermain tanpa pola. Sedangkan team lawan, saya melihat bahwa mereka sudah bermain dengan pola, mungkin dikarenakan grogi mengingat selama pertandingan, saya harus mengganjal telinga saya dengan tisu karena sangat berisik denga yel-yel antar supporter dengan teriakan dan suara perkusi mirip seperti supporter belakang gawang. Di Babak pertama, nampak pemain lawan sering membuat kesalahan yang berujung dengan kebobolan karena bisa dimanfaatkan dengan apik oleh team kami.

Di babak kedua, kekhawatiran saya terjadi juga, mereka bermain dengan sedikit lebih tenang daripada ketika bermain di babak kedua. Bermain lebih rapi, dan mampu mengejar ketertinggalan, bahkan mampu menyamakan kedudukan. Di saat team lawan mampu menyamakan kedudukan itulah, kami bermain agak grusa-grusu. Team kami sering melakukan tindakan-tindakan yang menurut saya, hal itu adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan saat pertandingan masih berjalan.

Pluit babak kedua berakhir, dan harus ditentukan dengan adu penalty. Dan di saat adu penalty itu lah saya lebih memilih menjauhi lapangan. Saya benci dengan situasi seperti saat itu.

Meski ada sedikit kekacauan, karena ada supporter yang ter-provokasi, team kami harus mengakui bahwa team Semarang lah yang berhak menggondol piala bergilir, dari kantor regional Indonesia.

Saya kemudian mendekati pemain kami, meski mereka kecewa, saya hanya bisa menguatkan mereka, bahwa mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami harus bisa menerima bahwa kedua team yang kami boyong ke Salatiga, belum bisa mengalahkan team dari kantor semarang.

Saya hanya di pinggir lapangan, dan sesekali mengingat masa lampau, bahwa saya pernah bermain futsal seperti mereka, namun melihat perut saya yang semakin membuncit ini, nampaknya saya harus minimal olahraga satu bulan dulu, baru saya bisa bermain futsal lagi seperti waktu zaman masih kuliah.


*catatan ini saya buat sebelum bulan puasa, dan baru ketemu untuk dipublikasikan