Rabu, 15 Juni 2016

Nonton Bareng

Sudah dua hari saya benar-benar menjadi manusia kalong. Betapa tidak, saya baru benar-benar bisa tertidur pulas setelah sholat subuh. Entah apa yang sedang saya risaukan, yang jelas, saya sudah terus berusaha untuk tidur, namun saya tetap terjaga hingga suara pasukan saur berteriak-teriak membangunkan sahur dengan irama perkusinya.

Dan pada akhirnya kondisi kesehatan saya K.O juga. Hal ini mungkin dikarenakan saya kurang istirahat, kemudian ditambah lagi, ketika “nunut” berbuka puasa di rumah Sukoharjo, saya justru di jamu dengan Kolak, Es Jeruk Sachet, cemilan serta makan besar tentunya. Sebenarnya, saya sudah mengurangi minuman dingin ketika berbuka puasa, kalau minum dingin itu pun biasanya es the manis, dan hanya dengan tambahan batu es sedikit saja, istilah jawanya tombo pengen. Namun, karena saya merasa sungkan atau tidak enak, saya akhirnya memutuskan untuk meminum Es Jeruk Sachet itu.

Setelah berbuka dengan hidangan buka puasa sore itu, sehabis sholat magrib saya pamit. Saya sudah merasakan keanehan di tenggorokan saya, kemudian saya mampir di sebuah angkringan untuk membeli jeruk panas untuk mencegah agar tenggorokan saya tidak terjadi radang. Namun, saat terbangun untuk sahur, saya benar-benar merasakan radang tenggorokan. “Gejala flu ini” pikirku saat itu. Saat sahur saya mengurangi makanan berminyak, kemudian membuat teh panas untuk meredakan tenggorokanku.

Kemudian puasa hari itu benar-benar saya jalani dengan radang tenggorokan, bersin-bersin, serta saya kemana-mana menggunakan masker agar tidak menular ke orang lain.

Sepulang kerja, saya berniat menunggu buka puasa dengan beristirahat, yaitu dengan tidur-tiduran. Dan di sela-sela waktu istirahat itu lah, terdengar ada suara BBM masuk dari handphone saya. Ternyata dari teman kantor, waktu saya buka ternyata ajakan untuk menonton film bersama. “Bos, nanti ditunggu jam 5 sore, di Solo Square ya, filmya jam 17.55, tiketnya sudah dibeli sama Ratu lebah”

Saya masih merasa bahwa tubuh saya masih butuh untuk istirahat, kemudian saya membalas pesan BM kawan saya, “Saya sedang flu berat, Bro”
“Terus tiketmu piye? Sudah terlanjur dibeli inih”
Karena saya merasa sungkan, saya jawab bahwa saya akan datang “Okey, saya istirahat dulu, semoga semakin membaik dan bisa menyusul”

Ajakan untuk menonton film sebenarnya saya yang menyuruh mereka untuk mengagendakan. Namun, saya tidak mengira bahwa mereka segera merespon ajakan saya. Waktu itu, film yang akan kami tonton “Now You See Mee 2” film pertama dari film ini bagus, jadi kami semua sangat antusias untuk menontonnya.

Salah satu dari rekan kerja saya, kemudian menyuruh pacarnya, eh maksud saya calon istrinya untuk membelikan tiketnya. Dia (pacar rekan kerja saya) biasa kami panggil dengan si ratu lebah, karena apa? Itu sebenarnya hanya guyunan kami saja, mengingat teman saya berubah menjadi bukan dirinya ketika bersama pacarnya. Dan pacarnya (eh sekali lagi, calon istrinya) sudah sering diajak rekan kerja saya bermain bersama ketika kami mengadakan acara kumpul-kumpul atau sekedar nonton bareng.

Dan yang menjadi masalah adalah, waktu menonton yang menurut saya nggak ada toleransinya. Bayangkan saja, nonton jam 17.55 padahal buka sekitar am 17.30. kemudian yang membuat saya ragu, saya bakal sholat magrib dimana? Saya tidak yakin bakal sholat magrib di Solo Square, setau saya baru Hartono Mall yang memiliki ruang mushola yang memadai. Kemudian saya mengabari kawan saya yang sudah berkumpul di sana sekitar pukul 17.00, bahwa saya akan menyusul di waktu injury time. Kawan saya menawari agar saya berbuka di sana saja menemani Bapaknya yang juga buka di sana. Bapak yang saya maksud di sini adalah Managernya. Karena rekan kerja yang mengajak saya menonton adalah dari satu department di tempat kerja saya, bisa dibilang kala itu saya hanya nimbrung saja.

Akhirnya saya berangkat sekitar pukul 17.00, kemudian melaju dengan kecepatan yang sedang-sedang saja, sambil sesekali melihat jam di tangan kiri saya. Menjelang berbuka puasa saya masuk di perkampungan sebelum Solo Square, tujuan saya adalah saya bisa berbuka dan bisa sholat magrib di masjid perkampungan itu. Waktu itu saya hanya berbuka dengan kolak dan satu buah pisang goreng untuk sekedar membatalkan puasa.

Setelah berbuka puasa, baru saya mencari masjid di perkampungan itu untuk sholat magrib berjamaah. Dan tepat setelah saya selesai sholat magrib, handphone saya berbunyi, nampaknya saya sudah ditunggu. “Ya udah, saya tunggu di studio 3, nanti kalau sudah sampai saya jemput” suara kawan saya mengakhiri teleponnya.

Saya segera menuju ke Solo Square, untuk mempersingkat waktu saya parkir di parkir depan Solo Square. Kemudian dengan berjalan agak cepat saya menuju studio XXI, sesampai di lobi, saya menelpon kawan saya, kemudian teman saya menjemput saya, dan mengajak masuk ke studio 3.

Ternyata kami memesan deretan kursi paling belakang, itu artinya kursi paling atas. Padahal waktu saya lihat, masih banyak kursi kosong di bawah, saya mencoba berpikir positif saja, mungkin pada teraweh dulu, jadi bioskop masih sepi. Duduk di barisan paling belakang, entah mengapa membuat saya seperti kehilangan keutamaan dalam menonton sebuah film di bioskop. Kami memesan 2 kursi di deretan kiri dan 4 kursi di deretan kanan. Sepertinya kawan saya dan pacarnya, (duh maksud saya calon istrinya) memilih memisah dari kita. Mungkin takut terganggu. Dan empat deret di kanan diisi dua kawan saya, dan tepat di samping saya adalah Manager mereka. Sekali lagi, saya cuma nimbrung.

Baru sebentar duduk, film yang ingin kami tonton baru dimulai. Artinya saya belum bisa dikatakan terlambat. Kawan saya memberi saya sebotol soft drink dan cemilan, agar kami bisa tetap khusyuk menonton meski berada di barisan paling belakang. Jujur tempat duduk favorit saya waktu nonton di bioskop sebenarnya di tengah, jadi layar pas di hadapan kita.

Film yang sangat bagus menurut saya. Namun dalam tulisan saya kali ini, saya tidak akan menceritakan kepada kalian, pokoknya apik, tontonen dewe nek ra percoyo

Kami menikmati setiap adegan dalam film dengan khusyuk, nyaris tak ada celetukan-celetukan diantara kami, dan hanya terdengar suara kemriuk dari mulut kami selagi menikmati cemilan.
***
Ketika film hampir selesai, saya mengalami masalah perut, jadi ketika film sudah selesai, saya harus segera menuju toilet untuk menyelesaikan masalah saya. Saya lupa sejak kapan saya berubah menjadi seorang yang “ngisengan” padahal dulu saya sangat riwi, bahkan saya biasanya susah BAB ketika berada di lingkungan baru. Terkadang, saya seperti mau BAB, tapi ketika sampai di toilet malah tidak keluar-keluar.  

Selesai menunaikan hajat, saya segera menyusul kawan-kawan saya yang kebetulan masih menunggu di lobi. Ketika perjalanan menuju pintu keluar, kawan saya nyeletuk, “Pak, sebenernya kamu tadi belum sempat tak belikan tiket lho, soale Manager saya juga ikut, tapi berhubung sudah terlanjur mau, akhirnya kami ngantri lagi buat beli satu tiket lagi, untung aja kursi sebelah kita tadi masih kosong, kalau sudah penuh, mungkin besok paginya sudah di SP aku”
***
Setelah kami selesai menonton, kami berencana untuk mencari makan, karena saya dan Pak Manager belum makan besar, kami hanya sekedar makan cemilan untuk berbuka. Sedangkan ketiga manusia yang nonton bareng dengan saya waktu itu jebul mereka sedang tidak berpuasa. Mengapa tidak berpuasa? Kuwi dudu urusanku!

Tepat ketika kami keluar dari Solo Square dan mau menuju ke tempat makan, hujan turun dengan deras kami semua numpang berteduh di sebuah emperan toko, yang kebetulan di emperan tersebut ada yang menjual sosis bakar dan tempura. Kami semua memesan sosis dan tempura bakar milik Mba Cantik itu, untuk sekedar menggangjal perut kami. Ohiya sebutan Mba cantik itu berasal dari celotehan salah satu kawan saya. yang jelas bukan yang sedang bersama pacarnya lho, ya. Bisa gawat kalau ratu lebah ngamuk. Hahaha

Dan ternyata mencari tempat makan bagi kami waktu itu tidak sesedehana menikmati nasi padang di waung makan sederhana. Karena apa? Request dari Pak Manager, belio ingin makan sambil nonton bola, malam itu yang sedang bermain Spanyol Vs Ceko. Dan setelah muter-muter, kami tidak jadi makan, tapi malah nongkrong di sebuah kedai kopi di ruko dekat stasiun Purwosari. Saya yang berencana minum obat pun, tidak memesan kopi, namun saya memesan lemon tea panas serta cemilan. Dan di saat nonton bola yang dimenangkan oleh Spanyol dengan Skor 1 – 0 itu, kawan saya berbisik “Bos, ini mau sampai jam berapa? besok kalo tidak pada masuk, aku nggak tanggung jawab lho” kemudian saya mengajak mereka untuk pulang dengan alasan besok masih ada pekerjaan.

Dan paginya, saya justru merasaka badan saya agak enakan, mungkin karena obat yang diberikan suster poliklinik kepada saya manjur. Namun justru salah satu kawan saya yang ikut nonton bareng, malah mengirim pesan melalui BBM, bahwa dia sedang sakit dan tidak bisa masuk kerja, mungkin karena dia sudah kelalahan.
***

Dan, pagi ini saya justru dipamiti oleh Manager yang kami ajak untuk nonton bareng itu, ternyata hari ini adalah terakhir belio bekerja. Waktu saya mengobrol dengan belio, belio mendapatkan tawaran di perusahaan yang bisa membuatnya dekat dengan keluarga kecilnya. “Sukses terus, Pak, padahal kami mau mengagendakan buat nonton Conjuring 2 lho, Pak, hahahaha”