Senin, 11 Juli 2016

Reuni


Gambar diambil dari grup BBM yang diikuti penulis


Sepertinya bukan hanya sekedar mitos, bahwa mengumpulkan kawan-kawan lama untuk reunian itu sama susahnya dengan ngumpulin tujuh dragon ball. Sepertinya halnya reuni SMP beberapa hari yang lalu. Libur lebaran bukan hanya momentum yang tepat untuk berkumpul dengan sanak saudara. Namun juga untuk berkumpul dengan kawan-jawan lama.

Sebelumnya, saya diculik dalam sebuah grup BBM. Grup itu dibuat oleh salah satu kawan lama saya, yaitu kawan semasa SMP. Dan dari obrolan dalam grup itulah ada yang ingin mengagendakan reunian.

Awalnya saya tidak begitu tertarik. Maklum, saya masih sibuk libur lebaran. Dan untuk grup wasap maupun BBM, sengaja saya silent mode. Namun setelah saya scroll dan baca-baca balasan dari kawan-kawan saya di grup. Saya malah semakin penasaran. Karena saya sudah agak lupa dengan mereka semua. Bertemu dengan mereka mungkin bisa membuat saya mengais kembali kenangan-kenangan masa lalu. Iya, kenangan ketika saya belum bisa ngelap ingus sendiri. Dan tentunya kenangan masa lalu, dimana saya untuk pertama kalinya mencicipi manis dan pahitnya cinta. Iya, cinta.

Saya sadar, bahwa tidak semua kawan saya bakal datang di acara reuni yang kami adakan secara dadakan itu. Namun, saya sudah memantapkan hati untuk menghadiri acara itu. Bagi saya, reuni tidak harus menunggu semua hadir. Saya sangat menghargai kesibukan mereka masing-masing. Bahkan, ada beberapa kawan yang yang belum bisa mudik di lebaran tahun ini. Seadanya saja, siapa yang bisa datang, pokoknya jalan. Bahkan saya juga tidak bakal kecewa jika yang datang hanya dua orang termasuk saya.

Dan ternyata benar. Sore itu yang datang tak seramai ketika pembahasan di grup. Bahkan ada kawan kami yang pas di grup begitu nggedebus, tapi malah tidak datang. Dan itulah salah satu prototipe sekampret-kampretnya manusia. Hahaha becanda ini Bos.

Sore itu yang datang hanya 6 orang. Itu yang keliatan aja lho. Ndak tau kalo yang tak kasat mata. Alfateha untuk kawan kami Dhenis. Saya masih ingat betul saat SMP, saya pernah dibuly oleh Almarhum.

Kami kemudian menuju ke sebuah pemancingan yang tak penting untuk saya sebutkan namanya. Lokasinya tak jauh dari sekolah SMA saya dulu. Itu rekondasi dari salah satu kawan kami. Waktu saya masuk, pemancingan itu sudah ramai. Padahal, tepat di bawah pendopo besar, yang di bawahnya ada sebuah kolam. Dan kolam itulah yang membuat saya rada ragu. Kolam sangat tidak terawat. Air kolam sudah keruh dan menimbulkan bau tak sedap. Demi kawan-kawan lama, saya rela deh. Karena yang penting bagi saya adalah kebersamaan.

Kami datang sekitar pukul setengah lima sore. Namun hingga sehabis magrib pesanan kami belum datang juga. Sambil menunggu pesanan, kami memanfaatkan waktu untuk saling sapa dan berbagi pengalaman, sambil sesekali mengingat kembali kenangan-kenangan semasa SMP. Ada juga yang sengaja mengungkit kembali kisah-kisah cinta monyetnya. Dan ada juga yang ditinggal cinta monyetnya menikah. Dan untuk yang terakhir mereka berdua kini sudah bahagia dengan pilihan hidupnya masing-masing.

Ketika kawan saya menceritakan si A, si B atau si C. Di saat yang bersamaan, saya langsung mikir keras. Maklum, banyak hal yang sudah saya lupakan.

Hampir dua jam pesanan kami tak kunjung datang. Dan waktu datang ternyata hanya nila bakar saja. Kata pramusajinya, nasinya belum matang. Karena kami semua sudah dalam kondisi lapar. Sambil menunggu nasi, kami justru malah langsung makan nila bakarnya tanpa nasi. "Ojo koyo wong susah, lebaran kok" celetuk salah satu kawan saya.

Satu nila bakar di hadapan saya hanya tinggal tulang-tulang saja. Kemudian nasinya baru datang. Saya pun mengambil nasi dan satu nila bakar lagi. Sore itu benar-benar membuat kami semua kenyang. Bukan hanya kenyang dengan nila bakar, namun juga mampu mengobati rindu kami semua.

Ternyata ada positifnya juga, mengapa pesanan kami tak kunjung datang. Ternyata hal itu justru membuat kami memiliki banyak waktu untuk saling berbagi cerita dan pengalaman. Coba saja pesanan kami cepat datang, mungkin kami hanya akan makan, kemudian setelah kenyang kami langsung berpamitan pulang tanpa banyak hal yang bisa kami bagi.

Sehabis makan, karena diantara kami sudah ditunggu "bocahe" kami semua berpamitan. Dan berharap acara seperti saat itu bisa diagendakan lagi. Syukur-syukur tambah ramai.

Malam itu saya tidak langsung pulang. Namun, saya mengajak salah satu kawan saya untuk mampir di angkringan daerah Cawas untuk sekedar ngopi. Kawan saya itu ternyata kini memiliki hobi traveling. Bahkan setiap mudik dari Ibu kota ia tetap enjoy dengan motornya.

Banyak hal yang ia ceritakan. Mulai dari pengalamannya ketika harus digendong tim sar ketika dalam sebuah pendakian. Dan tentang kawan-kawan barunya yang ia temui dalam setiap perjalanan.

Malam semakin larut, saya pun segera pamit, karena saya keesok harinya saya masih memiliki beberapa agenda.

Pertemuan dengan kawan lama itu menyenangkan. Dulu mereka masih sangat polos. Kini mereka sudah tumbuh dewasa. Bahkam ada beberapa yang sudah berkeluarga. Bagi saya, reuni bukan sekedar seberapa banyak yang hadir dalam acara itu. Namun, seberapa banyak yang bisa kita bagi dengan mereka.

*foto ini adalah foto ketika kami berkumpul di depan gerbang SMP. Dan FYI aja, itu motor adalah motor matic saya. Iya motor yang saya beli dengan keringat ketek saya sendiri.