Senin, 29 Agustus 2016

3 in 1


(3 Agenda dalam 1 Malam)
Jumat kemarin, saya benar-benar menjadi orang yang (sok) sibuk. Betapa tidak, sepulang kerja, pikiran saya belum benar-benar bisa plong, mengingat sabtunya saya harus masuk lembur. Kemudian, sore harinya saya memiliki agenda ke solo, yaitu lebih tepatnya ke toko buku untuk kado pernikahan kawan seperjuangan saya. Sebenarnya membeli kado ini sudah saya agendakan jauh-jauh hari. Namun apa daya, jiwa-jiwa prokrastinasi semasa kuliah masih mendarah daging dalam tubuh ini. Akhirnya jumat kemarin saya paksakan untuk pergi ke solo, ke toko buku.

Sore itu, setidaknya saya memiliki tiga agenda. Selain ke toko buku, saya juga berencana untuk melihat konser barasuara di gedung putih kabupaten Boyolali. Kemudian juga memenuhi undangan perpisahan rekan kerja dari department lain yang memutuskan resign karena mendapat tawaran pekerjaan yang lebih menjanjikan. Kabarnya acara perpisahan malam itu sekitar jam 10an malam, dengan acara bakar-bakar, yaitu bakar ayam serta sosis.

Baru sehabis magrib saya menuju ke solo, meski sedikit gerimis namun saya nekat menggeber motor saya menuju ke solo. Jujur saya belum mempunyai rencana kado apa yang akan saya beli untuk saya berikan kepada kawan seperjuangan saya yang minggu nanti akan menikah.

“Dipikir nanti pas di toko buku aja” begitu sikap saya, karena saya tidak begitu memusingkan hal itu. Sesampai di toko buku saya baru benar-benar pusing karena saya tidak tahu, buku bacaan apa yang disukai kawan saya itu. Saya pun harus beranjak dari toko buku satu ke toko buku yang lain. Awalnya saya ke togamas Solo, kemudian merasa buku yang saya cari belum ada yang cocok, kemudian saya pindah ke gramedia. Karena menurut saya, koleksi di gramedia menurut saya lebih lengkap.

Saya berusaha untuk tidak menuruti selera buku yang saya sukai untuk saya jadikan kado pernikahan kawan saya tersebut. Dan setelah lihat-lihat, saya kemudian teringat, bahwa ada buku dengan tema rumah tangga. Saya pun membaca sekilas sebelum memastikan untuk menjadikan buku itu sebagai kado. Dan setelah membaca satu bab judul itu, saya pun membulatkan tekad untuk membeli buku itu, kemudian sekalian membeli kertas kado. Tentu meminta bantuan pegawai toko buku itu untuk sekalian membungkus kado, karena saya tidak memiliki skill dalam membungkus kado.

Selesai membeli kado, saya membuka salah satu percakapan grup wasap yang saya ikuti. Ternyata kawan kuliah saya sudah berada di Boyolali untuk menonton konser barasuara. Saya pun segera menyusul mereka, karena menonton konser menjadi salah satu agenda saya malam itu.

Sesampai di komplek Kabupaten baru Boyolali, kemudian memarkirkan motor, kemudian segera menuju tempat konser, dan mencari kawan kuliah saya yang sudah berada di sana semenjak habis isya. Saya menelpon serta mengirim pesan wasap untuk menanyakan posisinya. Saya pun menyusul kawan kuliah saya itu, yang kebetulan ia datang bersama kawan-kawannya dari Solo.

Konser yang bertajuk “1000 Semangat untuk Negeri” yang merupakan peluncuran lagu pertama dari Voice Of Boyolali, yang dimeriahkan oleh Soloensis dan Barasuara sebagai guest star-nya. Selain itu, acara yang di sponsori oleh produsen rokok itu juga dimeriahkan dengan festival lampion. Kawan saya dan teman-temannya sebenarnya ingin mencuri star dengan menerbangkan lampion lebih dulu. Meski sudah menjadi pusat perhatian bagi orang-orang di sekitar kami, namun lampion kami gagal terbang.

Sekitar pukul 21.00 Barasuara naik panggung dan menghibur warga Boyolali. Meski konser gratisan, karena kami bisa masuk hanya bermodalkan KTP. Namun suasana konser relative lenggang. Hal ini dikarenakan minat masyarakat Boyolai agak kurang dengan aliran music yang dibawakan band-band yang tampil malam itu. Akan berbeda ceritanya jika yang tampil malam itu OM Sera. Pasti begitu membludak oleh orang-orang yang ingin bernyanyi suket teki bersama Via Vallen.

Barasuara membawakan lagu-lagu andalannya, kurang lebih sekitar satu jam. Di saat Barasuara menyanyikan lagu terakhirnya malam itu, saya pamit pulang duluan. Karena, teman saya sudah menunggu saya, yaitu acara bakar-bakar perpisahan rekan kerja yang memutuskan untuk resign.

Segera saya mengambil motor di tempat parkir, yang kebetulan malam itu tak ada satupun petugas parkir. Sedikit aneh memang, ada acara seperti itu tapi tidak dimanfaatkan dengan baik dengan membuka jasa parkir. Setelah mengambil motor, saya segera menuju tempat kawan saya mengadakan bakar-bakar yang lokasinya tidak jauh dari kompleks kabupaten Boyolali.

Malam itu kami bakar ayam serta sosis, sambil menunggu semua matang kami juga menunggu kawan kami yang belum pulang kerja karena masuk shift dua.

Tak menunggu lama setelah semua sudah matang, kawan kami yang kerja shift dua juga sudah merapat. Kemudian tanpa menunggu aba-aba kami menikmati bakaran kami dengan begitu lahap. Sehabis makan pun, mereka semua segera menyulut sebatang rokok untuk memungkasi makan malam itu. Sambil sebal-sebul kami semua bercerita dan berbagi banyak hal. Dan obrolan kami tak jauh dari segala permasalahan pekerjaan yang kami alami. Bisa dibilang malam itu, kami sedang meeting dengan cara kami.

Hawan dingin sudah mulai menusuk kami semua malam itu. Waktu sudah menunjukan sekitar pukul 00.30 dini hari. Saya yang paginya masih harus bertugas pun pamit undur diri. Kami semua menyudahi acara bakar-bakar malam itu, sambil mengucap doa untuk kesuksesan karir kawan kami khususnya, dan kami semua pada umumnya.

Malam itu bukanlah sebuah perpisahan bagi kami, karena kami sepakat untuk tetap berkomunikasi, dan tidak luput pula, ada ageda kita bersama yang coba kita ikrarkan malam itu. “Kita semua masih tetap bekerja bersama, namun hanya saja, salah satu dari kami bekerja di tempat yang berbeda. Jangan pernah melupakan bahwa kita pernah bersama. Kalau perlu, kita buat kerajaan kecil kita dalam sebuah kerajaan yang bernama perusahaan”



Read more ...

Rabu, 24 Agustus 2016

Rokok


Saya sudah menyiapkan secangkir kopi hitam di meja, sebelum saya memulai tulisan ini. eh bentar, saya sruput dulu kopinya, nanti malah keburu dingin

Okey, kita awali tulisan kali ini dengan sebuah topik yang sedang ramai dibicarakan oleh banyak kalangan. Apalagi kalau bukan soal rokok.

Beberapa hari yang lalu sempat gempar dan ramai di media sosial tentang isu harga rokok yang (katanya) akan naik menjadi 50rb perbungkusnya. Sebenarnya saya sudah menahan diri untuk tidak ikut nimbrung dalam isu tersebut. Namun, semakin saya tahan, justru keinginan untuk ikut nyebur dalam kubangan wacana rokok menjadi semakin kuat. Hampir sama lah, seperti rasa cinta ini kepadamu, Dek, semakin saya mencoba untuk menahan gejolak cinta ini, namun justru semakin tak kuasa untuk menahan gelora asmara ini. *lebay yo ben :p

Isu rokok yang katanya akan naik menjadi 50rb perbungkus bulan depan, adalah wacana yang muncul dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kepala pusat kajian ekonomi dan kebijakan kesehatan, fakultas kesehatan masyarakat UI. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hasbullah Thabrany dan timnya, dihasilkan sebuah kesimpulan bahwa jumlah perokok akan berkurang jika rokok di naikan dua kali lipatnya, dan kebanyakan perokok akan berhenti merokok jika harga rokok 50rb perbungkusnya.

Hasil penelitian itulah yang dilempar ke media, kemudian tanpa perlu di-gocek terlebih dahulu hasil penelitian tersebut seperti umpan manis yang diberikan kepada orang-orang antirokok dan dimanfaatkan dengan baik dengan dilempar ke media dan seolah-olah menjadi sebuah wacana.

saya sendiri belum menemukan pernyataan resmi dari pemerintah menanggapi isu tersebut. Yang saya temukan adalah mereka yang tidak kompeten dalam bidang ini dan turut memberikan pernyataan tentang menanggapi isu kenaikan harga rokok menjadi 50rb perbungkusnya. Bahkan foto hoax tentang harga rokok di minimarket pun sudah jadi viral.

Media sosial terbelah menjadi dua kubu. Kubu perokok yang masih asyik sebal-sebul menikmati rokok favoritnya untuk menemai secangkir kopi hitam. Kubu antirokok yang menurut saya sedikit “berisik” dalam merespon isu ini.

Menurut saya, kubu antirokok cinderung membabi buta dalam menelaah berita. Seperti terkesan hanya membaca judul artikel kemudian membagikan artikel tersebut melalui akun media sosialnya, tentu dengan ditambahi komentar nyinyirnya. Dalam menanggapi isu ini, saya justru tertarik dengan kubu prorokok. Mereka tetap kalem, kemudian menganalisa dengan baik motif dibalik kampanye antirokok. Dan saya banyak membaca esay tentang motif dibalik kampanye antitembakau, yang ternyata ada modal besar dibaliknya.

Kubu antirokok biasanya menggunakan dalih-dalih dari hasil penelitian tentang bahaya merokok. Mereka menganggap bahwa rokok adalah candu dan sangat berisiko terhadap kesehatan. Rokok menyebabkan penyakit kanker, impotensi dan gangguan kehamilan sudah tertulis besar di bungkus-bungkus rokok. Bukan hanya tulisan, gambar-gambar seram dengan tulisan merokok membunuhmu pun kini juga terdapat dibungkus-bungkus rokok.

Saya tidak pernah berpihak pada salah satu kubu, karena mereka semua memiliki pandangan masing-masing. Dan dalam hal ini saya hanya sebagai penonton saja. Sebagai penonton saya justru seperti sedang membandingkan antara argumen dari kubu satu dengan kubu yang satunya lagi. Dan secara pribadi saya lebih suka argumen-argumen yang prorokok. Argumen mereka sangat mendalam. Mereka bukan hanya saja mengangkat isu tentang dibalik kampanye antirokok yang dibelakangnya ada modal besar yang menyokongnya. Kemudian mereka juga membuat sanggahan tentang dampak bagi kesehatan. Pernah saya membaca bahwa rokok kretek justru bermanfaat bagi kesehatan. Kalau selo silakan melihat juga video di youtube yang berjudul “mereka yang melampaui waktu” bahkan ada juga buku cetaknya dengan judul yang sama. Betapa mereka tetap sehat di usia senja padahal merokok sudah menjadi bagian dari hidup mereka.

Membaca tulisan saya ini, bisa dipastikan kalian akan menuduh saya adalah orang yang prorokok. Tapi ya memang sih :p, 

Jujur saya pernah merokok, karena bohong besar jika saya mengatakan bahwa saya tidak pernah merokok. Saya merokok di saat saya masih masa puber, kalau tidak salah, saat saya masih SMP. Perkenalan dengan rokok, karena saya memiliki simbah seorang perokok. Rokok simbah saya adalah rokok linting dewe. Simbah saya seperti sudah memiliki tembakau favorit, kemudian meracik sendiri rokoknya dengan cengkeh serta menggulungnya dengan kertas cigarette. Kertas itu memiliki rasa manis, dulu waktu saya masih kecil sering mencuri kertas itu dan melumatnya hingga klomoh.

Sesuai dengan teori psikologi yang pernah saya pelajari, bahwa perilaku seseorang bisa terjadi karena meniru perilaku orang lain, bahasa kerennya observational learning. Kemudian saya (belajar) merokok, namun bukan menggunakan rokok, namun dengan batang pohon (kalau tidak salah dari pohon gembili) kemudian menyulutnya dengan api dan menghisapnya seolah saya sedang merokok sungguhan.

Kemudian saya mulai penasaran dengan rokok beneran. Namun, saya tidak menemukan kenikmatan dalam rokok itu sendiri. Kemudian saya benar-benar jauh dari rokok. Saya berteman dengan siapa saja, termasuk mereka yang perokok berat, bagi saya itu tidak masalah.

Setelah dewasa saya mulai merokok lagi, meski bisa dikatakan sangat jarang. Saya merokok karena alasan yang menurut saya diluar logika. Pernah suatu ketika saya merasa ada beban psikologis, dan dalam keadaan itulah saya ditawari rokok oleh kawan saya, dia berkata kepada saya ”ada kalanya, ada beban yang harus diurai bersama asap rokok” Dan benar, rokok itulah yang membuat saya dan kawan saya menjadi lebih terbuka. Saya tidak tahu dampak psikologis apa yang ada dalam rokok itu. Atau bisa jadi saya justru sudah tersugesti oleh kawan saya tadi. Mungkin.


Dan akhir-akhir ini saya merokok pun bisa dihitung dengan jari, dalam sebulan mungkin saya satu kali dan itu pun tidak pernah saya habiskan, seperti yang saya lakukan ketika buka bersama dengan kawan-kawan kuliah, saya juga mengambil satu batang rokok dari kawan saya. Dan lagi-lagi saya tidak habis dan membuangnya. Dan sebenarnya orang yang patut di salahkan itu ya orang macam kaya saya ini, merokok tapi tidak dihabiskan. Karena dari segi antirokok, merokok saja itu sudah salah. Kemudian bagi prorokok, salah juga, karena merokok kok tidak dihabiskan, urip kok nanggung men.

Salahkan saya saja!
Read more ...

Mak Nyarmi


“Mas Rizky, bangun, hari ini masuk apa?”
Suara Mak nyarmi membangunkan saya yang terlambat bangun pagi kala itu. “Rizky” begitulah Mak nyarmi memanggil nama saya. Padahal dari awal saya sudah mengenalkn diri saya dengan nama Riki. Entah mengapa Mak nyarmi lebih sering memanggil nama saya dengan sebutan, Rizky. Namun, saya tidak pernah mempermasalahkan itu.

Sekarang pertanyaannya adalah, siapa itu Mak nyarmi? Mak nyarmi sekarang menjadi bagian dari orang yang hidup di sekeliling saya. Beliau telah mengijinkan saya untuk menempati salah satu sudut ruang rumahnya, untuk saya jadikan tempat singgah. Iya, saya memiliki kos yang sangat sederhana. Ada beberapa alasan kenapa saya memilih hidup sebagai anak kos, tapi itu akan saya coba ceritakan di lain kesempatan. Tapi saya tidak janji lho ya.

Mak nyarmi adalah seorang yang sudah tidak berusia muda lagi, usianya kira-kira seusia adik Simbah saya. Mak nyarmi sangat sabar, ia nikah dua kali. Suaminya yang pertama meninggal dunia, dengan meninggalkan tiga anak yang sudah berkeluarga semua. Anak laki-laki yang pertama membuat rumah minimalis di dekat rumah Mak nyarmi, sedangkan anak laki-laki yang kedua satu rumah dengan mak nyarmi. Kemudian anak terakhirnya, tinggal bersama suaminya. Mak nyarmi juga dititipi keponakan yang menempati salah satu kamar di rumahnya.

Mak Nyarmi adalah orang yang sabar, ia sangat sayang dengan cucu-cucunya. Kesabarannya menghadapi segala polah dan kenakalan cucu-cucunya ia tangani dengan hangat. Mak nyarmi memiliki keahlian dalam memijat bayi, jadi tidak heran Mak nyarmi memiliki kesabaran yang luar biasa. Tangannya begitu halus dan lihai dalam memijat bayi. Selama saya tinggal di sana, suara tangisan bayi menjadi sangat akrab di telinga saya.

Hampir sholat lima waktu ia tunaikan secara berjamaah di masjid yang letaknya hanya di seberang rumahnya. Sholat tahajud dan dhuha tak pernah lupa ia jalankan. Bahkan terkadang saya sering diingatkan agar saya bisa sholat berjamaah juga.

 Mak nyarmi pernah mengalami sakit dan harus di rawat di rumah sakit. Kala itu banyak orang dengan menggendong bayi harus menelan kekecewaan karena Mak nyarmi selama sakit harus banyak beristirahat, dan untuk sementara waktu tidak melayani pijat bayi.

Mak nyarmi juga pernah bercerita terbuka kepada saya. bahwa ia sudah menikah lagi, namun karena tidak tega meninggalkan cucu-cucunya, ia memilih hidup di rumahnya sendiri dan sesekali berkunjung ke tempat suaminya.

Beberapa hari yang lalu, suami dari pernikahan kedua Mak nyarmi mengalami kecelakaan dan Mak nyarmi pun menemaninya di rumah sakit. Dan setelah keluar dari rumah sakit, justru suami Mak nyarmi terkena stroke. Jadilah sekarang Mak nyarmi memutuskan untuk tinggal di rumah suaminya untuk merawatnya. Mak nyarmi tahu betul, bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk merawat suami yang sedang sakit, apalagi sakitnya stroke, tentu membutuhkan orang yang merawat dan menjaganya.

Di saat seperti itulah Mak nyarmi mengambil sebuah pilihan. Baginya sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk merawat suaminya yang sedang sakit. Maka untuk beberapa hari ini, merawat suami menjadi prioritasnya. Kemudian mengabarkan kepada orangtua yang mau memijatkan anaknya agar pijat pas hari sabtu dan minggu. Dalam seminggu hari sabtu dan minggu, Mak nyarmi pulang ke rumahnya, memijat bayi-bayi yang sudah lama menjadi pasiennya, sedikit mengurus rumah yang menjadi berantakan karena bisa dibilang tanpa Mak nyarmi rumah menjadi semakin tidak terurus.


Saya belajar dari Mak nyarmi tentang sebuah kewajiban. Bagaimana Mak nyarmi bisa mengatur waktunya, untuk merawat suaminya, kemudian tetap menjalankan apa yang menjadikan keahliannya, yaitu memijat bayi. Bertemu dengan anak kecil, kemudian memijatnya mungkin adalah kebahagian tersendiri bagi Mak nyarmi. Dan saya selalu dengar, ketika tangannya sedang memijat, Mak nyarmi selalu mendoakan bayi-bayi yang ia pijat agar menjadi anak yang sholeh/sholehah “Semoga cepat sehat, jadi anak yang sholeh/sholehah ya le/nduk”
Read more ...

Sabtu, 20 Agustus 2016

Mba Sus


Saya tidak tahu, kenapa Johan menggunakan gambar tersebut untuk ilustrasi di postingannya di lobimesen.com. Saya yakin ia mengambilnya dari DP BBM saya beberapa waktu yang lalu. Kemudian menjadikan gambar tersebut sebagai ilustrasi postingannya di lobimesen.com, yang kebetulan ia bercerita tentang secuil kisah kehidupan saya.

Pada gambar itu, terlihat  saya dan Mba Sus, begitu saya memanggilnya. Foto itu diambil oleh salah satu karyawan saya ketika saya sedang masuk lembur di hari sabtu. Karena lembur, jadi saya hanya menggunakan kaos tanpa krah dan celana jeans serta sepatu kets. Dan ketika itu saya benar-benar menjadi diri saya, karena saya sangat nyaman dengan kaos dan celana jeans. Jadi hari sabtu adalah hari saya. Itulah kenapa saya sangat menikmati dan tetap enjoy ketika hari sabtu masih harus tetap masuk kerja, padahal hari sabtu seharusnya adalah hari libur. Sebuah alasan yang sederhana bukan?

Saya masih ingat pertemuan kali pertama dengan Mba Sus. Kala itu, saya mendapat panggilan interview di suatu perusahaan. Perusahaan itu adalah tempat kerja saya saat ini. Ketika itu saya diinterview di poliklinik perusahaan tersebut. Dan kala itu, suster yang sedang berjaga adalah Mba Sus. Namun, kala itu saya hanya interview dengan seorang wanita yang kini menjadi partner kerja saya, dan tanpa tes kesehatan terlebih dahulu, saya langsung tes interview dengan User, yaitu yang sekarang menjadi atasan saya.

Setelah bekerja, Mba Sus menjadi cepat akrab dengan saya, karena pada awal-awal saya mulai bekerja, di tempat kerja saya saat itu belum mempunyai ruangan rekruitmen sendiri. Jadi, saya lebih sering meminjam ruangan poliklinik untuk melakukan interview calon karyawan, serta terkadang saya melakukan psikotest di ruang itu, yaitu poliklinik.

Sering bertemu menjadikan saya akrab dengan Ibu satu anak itu. dan Mba sus adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap perubahan besar dalam hidup saya. karena ia adalah otak intelektual dibalik perubahan size tubuh saya, yang dulu L kini sedang bermetamorfosa menuju XL, serta perubahan lingkar perut yang kini sudah tak muat lagi dengan celana size 30, karena perut saya saat ini sudah mengalami kemajuan, karena kata buncit terlalu semena-mena bagi saya, hehehe. Gimana nggak cepat gemuk, lha wog setiap ada makanan Mba Sus selalu BBM saya “Pak, Riki di poliklinik ada banyak makanan”

Dulu awal-awal masuk kerja, saya masih berusaha mengenal satu sama lain. Dan ternyata lingkungan pekerjaan sangat kekeluargaan. Tidak jarang saya dibawakan makanan oleh salah satu karyawan saya, ketika ada yang mendapatkan bonus tidak jarang saya ditraktir makan siang. Piye nggak tambah lemu, nek ngunu kui jal?

Perlu diketahui, bahwa Mba Sus adalah salah satu prototype manusia yang hidup secara mandiri, karena ia kuliah dan ambil jurusan keperawatan dengan uangnya sendiri. Dan yang membuat saya kagum dengan sosok Mba Sus adalah, saya tidak menyangka bahwa ia pernah beberapa tahun hidup di luar negeri, yaitu tepatnya di sebuah Negara  yang beberapa bulan lalu telah menggelar hajatan besar yang bertajuk piala eropa, yaitu Perancis.

Mba sus pernah bercerita, ketika ia hidup di Perancis, tepatnya di Marseile, ia sering menghabiskan waktu akhir pekanya dengan menziarahi kota-kota terkenal seperti Roma, Madrid dan kota-kota lain yang saya yakin jika dikujungi oleh orang-orang masa kini, tidak akan bisa menahan “nafsu” untuk berfoto selfie

Ada yang tahu kenapa setelah lulus SMA, Mba Sus bisa nyasar sampai ke Perancis? Iya, Mba Sus mendapat tawaran untuk bekerja di Kantor Konsulat, ia bertugas di bagian kerumah tanggaan, yang mengurusi segala keperluan Bosnya, baik itu urusan dapur, maupun mengurusi anak Bosnya yang masih kecil.

Pikir Mba Sus kala itu sangat sederhana.” Tidak semua orang diberi kesempatan seperti dirinya” jadi ia mengambil tawaran itu, meski dirinya tidak pernah membayangkan akan hidup di Perancis. Hanya dengan modal bahasa Inggris pas-pasan ia berangkat ke Perancis seorang diri. Segala kebutuhan untuk penerbangan ke Perancis sudah disiapkan, ia hanya tinggal membuat paspor, kemudian terbang ke Perancis.

Dan apa yang terjadi ketika di Perancis? Ternyata tidak semua orang Perancis bisa berbahasa Inggris, untungya ia tinggal di tempat yang mudah dikenali.

Beberapa tahun hidup di Negara orang, untuk mengusir rasa bosan, ia biasanya mencari tiket promo perjalanan wisata untuk mengisi akhir pekannya. Jadilah ia bisa menikmati pekerjaannya, karena ia bisa bekerja sambil berwisata di luar negeri. Benar kata Mba Sus, bahwa tidak semua orang bisa seperti dirinya, bahkan ia menganggap bahwa dirinya sedang berwisata sambil bekerja.

Di saat pemberitaan media mengenai nasib seorang TKW yang bekerja di luar negeri. Mba Sus selalu bersyukur, ia bekerja di tempat orang Indonesia yang bertugas menjadi Konsulat. Dan keluarganya tidak mengkhawatirkan anaknya meski hidup jauh dari keluarganya.

Ketika masa kerja “juragannya” habis, ia pun juga turut kembali ke Indonesia. Dan jangan ditanya barang-barang branded apa saja yang turut ia bawa pulang ke Indonesia, tentu bukan hanya gantungan kunci seperti oleh-oleh kebanyakan  orang yang baru saja liburan dari luar negeri. Namun, yang namanya barang. Dan itu sangat duniawi sekali, dimana hal-hal yang sifatnya duniawi tidak akan pernah kekal. Baju-baju yang ia beli, atau dibelikan Bosnya, bisa mengecil, tas-tas atau dompet juga bisa rusak, uang dolar yang ia peroleh juga bisa habis juga.

Sepulang dari Indonesia, ia kemudian memutuskan untuk kuliah dan mengambil jurusan keperawatan, dan baru setelah lulus ia memutuskan untuk menikah, sebelum akhrinya bekerja di perusahaan tempat saya bekerja, sebagai suster di poliklinik perusahaan. Sekarang Mba Sus sudah memiliki seorang putra yang tahun ini sudah masuk TK.


Saya justru banyak belajar dari Mba Sus, bagaimana ia menjalani kehidupan ini seperti air, mengalir dan tetap terus berserah diri kepada Tuhan tentang kehidupan yang ia jalani. Bukan berarti tanpa usaha, ia terus berusaha, namun selalu ikhlas menjalani takdir hidupnya. Karena sebagai orang yang telah berkeluarga, saya tidak pernah mendengar ia mengeluh dengan kehidupan yang ia jalani. “semua itu sudah ditakdirkan, tinggal jalani saja”
Read more ...

Jumat, 19 Agustus 2016

Kerokan

Pas 17 Agustus Kemarin, adalah hari kemerdekaan, dan saya benar-benar merdeka dari rutinitas. Iya, karena dalam rangka memperingati hari kemerdekaan NKRI, kantor tempat saya bekerja diliburkan. Meski kantor tempat saya bekerja adalah milik orang asing. Namun bukan berarti nasionalisme telah ditiadakan. Bahkan, factory manager yang sejatinya adalah orang asing, beliau mengusulkan agar pada tanggal 16 agustusnya kami semua diberi waktu untuk mengadakan upacara versi kami. Yaitu menyanyikan lagu Indonesia raya, sambil membawa bendera merah putih serta mendoakan pahlawan-pahlawan yang gugur dalam melawan penjajah serta berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini.

Karena libur, tentu saya memanfaatkan hari itu untuk sowan ke tempat simbah. Dan saya memutuskan untuk menginap di sana. Dan ketika sore hari, Simbah kakung saya sepertinya sedang ingin minum wedang jahe, dan saya pun berencana untuk membelikannya sambil cari angin di luar. Saya pergi dengan membawa motor matic saya, dan hanya dengan kaos serta celana pendek, padahal udara saat itu sudah mulai dingin.

Sampai di warung, ternyata warung sangat ramai, sambil menunggu wedang jahe pesanan saya, saya memesan es teh sambil memakan beberapa gorengan. Saat itu badan saya tidak merasakan apa-apa. Setelah pesanan saya sudah selesai dibuat, saya pun segera pulang. Di jalan udara dingin sudah mulai menusuk, dan tidak tahu kenapa sesampai di rumah justru saya langsung merasa tidak enak badan. Tubuh saya sedikit demam, serta saya merasakan seluruh persendian saya sakit semua.

Mbah saya langsung tanggap dan menawari saya untuk dikeroki, “Tak keroki, ben ndang mari, masuk angin kui”. Jujur sejak saya kuliah dan hidup menjadi anak kos, saya sedikit demi sedikit sudah meninggalkan kebiasaan kerokan. Dan hingga saat ini pun saya sudah lama sekali tidak kerokan. Bagi saya kerokan adalan kebiasaan, jadi untuk menghilangkan kebiasaan kerokan, saya tidak melakukan itu di kala saya merasakan tidak enak badan. Ketika sudah merasa tidak enak badan atau dalam bahasa saya nggreges-nggreges, saya hanya minum tolak angin kemudian istirahat. Kalau tidak begitu, biasanya saya langsung menuju ke soto segeer mbok giyem untuk memesan seporsi soto daging sapi dan jeruk panas. Karena bagi saya, “soto segeer adalah kunci”

Malam itu dengan lincah tangan Mbah mengoleskan minyak angin ke tubuh saya diikuti dengan gesekan uang lima ratusan hingga saya sedikit menahan rasa sakit karena merasa sakit ketika dikerokin. Tak sampai 15 menit simbah saya selesai mengeroki tubuh saya hingga seluruh tubuh saya beraroma minyak kayu putih.

Meski sudah dikeroki, namun bukan berarti demam tubuh saya dan rasa tidak enak badan saya segera hilang dari tubuh ini. Hingga malam hari demam saya justru semakin menjadi-jadi. Saya tidak bisa tidur nyenyak, dan kata Mbah selama saya tidur, saya malah sering mengigau. Bahkan saya merasakan beberapa kali Mbah saya memegangi kening saya untuk memastikan demam saya sudah turun atau belum.

Baru menjelang subuh saya terbangun dan merasakan demam saya sudah mulai turun. Namun, karena tak terbiasa kerokan atau bagaimana, tubuh saya merasa njarem semua. Rasanya seperti habis digebuki orang satu kampung. Saya terbangun dengan tergopoh-gopoh menuju kamar mandi. Mbah melihat saya seperti sedang merasakan kesakitan, segera menyarankan agar saya istirahat saja, atau dengan kata lain mbolos kerja. Namun, saya segera ingat, bahwa hari itu saya sudah ada janji untuk ke kantor BPJS Ketenagakerjaan. iya, BPJS Ketenagakerjaan, salah satu perusahaan penjaminan sosial milik BUMN, dimana saya sudah dua kali gagal dalam seleski rekruitmen di sana. *malah curhat


Awalnya saya malas untuk sarapan, namun saya memaksakan diri untuk sarapan pagi ditemani teh panas. Pagi itu saya sudah kehilangan selera untuk ngopi di pagi hari. Namun saya tetap semangat, karena saya memiliki tanggung jawab.
Read more ...