Senin, 29 Agustus 2016

3 in 1


(3 Agenda dalam 1 Malam)
Jumat kemarin, saya benar-benar menjadi orang yang (sok) sibuk. Betapa tidak, sepulang kerja, pikiran saya belum benar-benar bisa plong, mengingat sabtunya saya harus masuk lembur. Kemudian, sore harinya saya memiliki agenda ke solo, yaitu lebih tepatnya ke toko buku untuk kado pernikahan kawan seperjuangan saya. Sebenarnya membeli kado ini sudah saya agendakan jauh-jauh hari. Namun apa daya, jiwa-jiwa prokrastinasi semasa kuliah masih mendarah daging dalam tubuh ini. Akhirnya jumat kemarin saya paksakan untuk pergi ke solo, ke toko buku.

Sore itu, setidaknya saya memiliki tiga agenda. Selain ke toko buku, saya juga berencana untuk melihat konser barasuara di gedung putih kabupaten Boyolali. Kemudian juga memenuhi undangan perpisahan rekan kerja dari department lain yang memutuskan resign karena mendapat tawaran pekerjaan yang lebih menjanjikan. Kabarnya acara perpisahan malam itu sekitar jam 10an malam, dengan acara bakar-bakar, yaitu bakar ayam serta sosis.

Baru sehabis magrib saya menuju ke solo, meski sedikit gerimis namun saya nekat menggeber motor saya menuju ke solo. Jujur saya belum mempunyai rencana kado apa yang akan saya beli untuk saya berikan kepada kawan seperjuangan saya yang minggu nanti akan menikah.

“Dipikir nanti pas di toko buku aja” begitu sikap saya, karena saya tidak begitu memusingkan hal itu. Sesampai di toko buku saya baru benar-benar pusing karena saya tidak tahu, buku bacaan apa yang disukai kawan saya itu. Saya pun harus beranjak dari toko buku satu ke toko buku yang lain. Awalnya saya ke togamas Solo, kemudian merasa buku yang saya cari belum ada yang cocok, kemudian saya pindah ke gramedia. Karena menurut saya, koleksi di gramedia menurut saya lebih lengkap.

Saya berusaha untuk tidak menuruti selera buku yang saya sukai untuk saya jadikan kado pernikahan kawan saya tersebut. Dan setelah lihat-lihat, saya kemudian teringat, bahwa ada buku dengan tema rumah tangga. Saya pun membaca sekilas sebelum memastikan untuk menjadikan buku itu sebagai kado. Dan setelah membaca satu bab judul itu, saya pun membulatkan tekad untuk membeli buku itu, kemudian sekalian membeli kertas kado. Tentu meminta bantuan pegawai toko buku itu untuk sekalian membungkus kado, karena saya tidak memiliki skill dalam membungkus kado.

Selesai membeli kado, saya membuka salah satu percakapan grup wasap yang saya ikuti. Ternyata kawan kuliah saya sudah berada di Boyolali untuk menonton konser barasuara. Saya pun segera menyusul mereka, karena menonton konser menjadi salah satu agenda saya malam itu.

Sesampai di komplek Kabupaten baru Boyolali, kemudian memarkirkan motor, kemudian segera menuju tempat konser, dan mencari kawan kuliah saya yang sudah berada di sana semenjak habis isya. Saya menelpon serta mengirim pesan wasap untuk menanyakan posisinya. Saya pun menyusul kawan kuliah saya itu, yang kebetulan ia datang bersama kawan-kawannya dari Solo.

Konser yang bertajuk “1000 Semangat untuk Negeri” yang merupakan peluncuran lagu pertama dari Voice Of Boyolali, yang dimeriahkan oleh Soloensis dan Barasuara sebagai guest star-nya. Selain itu, acara yang di sponsori oleh produsen rokok itu juga dimeriahkan dengan festival lampion. Kawan saya dan teman-temannya sebenarnya ingin mencuri star dengan menerbangkan lampion lebih dulu. Meski sudah menjadi pusat perhatian bagi orang-orang di sekitar kami, namun lampion kami gagal terbang.

Sekitar pukul 21.00 Barasuara naik panggung dan menghibur warga Boyolali. Meski konser gratisan, karena kami bisa masuk hanya bermodalkan KTP. Namun suasana konser relative lenggang. Hal ini dikarenakan minat masyarakat Boyolai agak kurang dengan aliran music yang dibawakan band-band yang tampil malam itu. Akan berbeda ceritanya jika yang tampil malam itu OM Sera. Pasti begitu membludak oleh orang-orang yang ingin bernyanyi suket teki bersama Via Vallen.

Barasuara membawakan lagu-lagu andalannya, kurang lebih sekitar satu jam. Di saat Barasuara menyanyikan lagu terakhirnya malam itu, saya pamit pulang duluan. Karena, teman saya sudah menunggu saya, yaitu acara bakar-bakar perpisahan rekan kerja yang memutuskan untuk resign.

Segera saya mengambil motor di tempat parkir, yang kebetulan malam itu tak ada satupun petugas parkir. Sedikit aneh memang, ada acara seperti itu tapi tidak dimanfaatkan dengan baik dengan membuka jasa parkir. Setelah mengambil motor, saya segera menuju tempat kawan saya mengadakan bakar-bakar yang lokasinya tidak jauh dari kompleks kabupaten Boyolali.

Malam itu kami bakar ayam serta sosis, sambil menunggu semua matang kami juga menunggu kawan kami yang belum pulang kerja karena masuk shift dua.

Tak menunggu lama setelah semua sudah matang, kawan kami yang kerja shift dua juga sudah merapat. Kemudian tanpa menunggu aba-aba kami menikmati bakaran kami dengan begitu lahap. Sehabis makan pun, mereka semua segera menyulut sebatang rokok untuk memungkasi makan malam itu. Sambil sebal-sebul kami semua bercerita dan berbagi banyak hal. Dan obrolan kami tak jauh dari segala permasalahan pekerjaan yang kami alami. Bisa dibilang malam itu, kami sedang meeting dengan cara kami.

Hawan dingin sudah mulai menusuk kami semua malam itu. Waktu sudah menunjukan sekitar pukul 00.30 dini hari. Saya yang paginya masih harus bertugas pun pamit undur diri. Kami semua menyudahi acara bakar-bakar malam itu, sambil mengucap doa untuk kesuksesan karir kawan kami khususnya, dan kami semua pada umumnya.

Malam itu bukanlah sebuah perpisahan bagi kami, karena kami sepakat untuk tetap berkomunikasi, dan tidak luput pula, ada ageda kita bersama yang coba kita ikrarkan malam itu. “Kita semua masih tetap bekerja bersama, namun hanya saja, salah satu dari kami bekerja di tempat yang berbeda. Jangan pernah melupakan bahwa kita pernah bersama. Kalau perlu, kita buat kerajaan kecil kita dalam sebuah kerajaan yang bernama perusahaan”