Jumat, 19 Agustus 2016

Kerokan

Pas 17 Agustus Kemarin, adalah hari kemerdekaan, dan saya benar-benar merdeka dari rutinitas. Iya, karena dalam rangka memperingati hari kemerdekaan NKRI, kantor tempat saya bekerja diliburkan. Meski kantor tempat saya bekerja adalah milik orang asing. Namun bukan berarti nasionalisme telah ditiadakan. Bahkan, factory manager yang sejatinya adalah orang asing, beliau mengusulkan agar pada tanggal 16 agustusnya kami semua diberi waktu untuk mengadakan upacara versi kami. Yaitu menyanyikan lagu Indonesia raya, sambil membawa bendera merah putih serta mendoakan pahlawan-pahlawan yang gugur dalam melawan penjajah serta berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini.

Karena libur, tentu saya memanfaatkan hari itu untuk sowan ke tempat simbah. Dan saya memutuskan untuk menginap di sana. Dan ketika sore hari, Simbah kakung saya sepertinya sedang ingin minum wedang jahe, dan saya pun berencana untuk membelikannya sambil cari angin di luar. Saya pergi dengan membawa motor matic saya, dan hanya dengan kaos serta celana pendek, padahal udara saat itu sudah mulai dingin.

Sampai di warung, ternyata warung sangat ramai, sambil menunggu wedang jahe pesanan saya, saya memesan es teh sambil memakan beberapa gorengan. Saat itu badan saya tidak merasakan apa-apa. Setelah pesanan saya sudah selesai dibuat, saya pun segera pulang. Di jalan udara dingin sudah mulai menusuk, dan tidak tahu kenapa sesampai di rumah justru saya langsung merasa tidak enak badan. Tubuh saya sedikit demam, serta saya merasakan seluruh persendian saya sakit semua.

Mbah saya langsung tanggap dan menawari saya untuk dikeroki, “Tak keroki, ben ndang mari, masuk angin kui”. Jujur sejak saya kuliah dan hidup menjadi anak kos, saya sedikit demi sedikit sudah meninggalkan kebiasaan kerokan. Dan hingga saat ini pun saya sudah lama sekali tidak kerokan. Bagi saya kerokan adalan kebiasaan, jadi untuk menghilangkan kebiasaan kerokan, saya tidak melakukan itu di kala saya merasakan tidak enak badan. Ketika sudah merasa tidak enak badan atau dalam bahasa saya nggreges-nggreges, saya hanya minum tolak angin kemudian istirahat. Kalau tidak begitu, biasanya saya langsung menuju ke soto segeer mbok giyem untuk memesan seporsi soto daging sapi dan jeruk panas. Karena bagi saya, “soto segeer adalah kunci”

Malam itu dengan lincah tangan Mbah mengoleskan minyak angin ke tubuh saya diikuti dengan gesekan uang lima ratusan hingga saya sedikit menahan rasa sakit karena merasa sakit ketika dikerokin. Tak sampai 15 menit simbah saya selesai mengeroki tubuh saya hingga seluruh tubuh saya beraroma minyak kayu putih.

Meski sudah dikeroki, namun bukan berarti demam tubuh saya dan rasa tidak enak badan saya segera hilang dari tubuh ini. Hingga malam hari demam saya justru semakin menjadi-jadi. Saya tidak bisa tidur nyenyak, dan kata Mbah selama saya tidur, saya malah sering mengigau. Bahkan saya merasakan beberapa kali Mbah saya memegangi kening saya untuk memastikan demam saya sudah turun atau belum.

Baru menjelang subuh saya terbangun dan merasakan demam saya sudah mulai turun. Namun, karena tak terbiasa kerokan atau bagaimana, tubuh saya merasa njarem semua. Rasanya seperti habis digebuki orang satu kampung. Saya terbangun dengan tergopoh-gopoh menuju kamar mandi. Mbah melihat saya seperti sedang merasakan kesakitan, segera menyarankan agar saya istirahat saja, atau dengan kata lain mbolos kerja. Namun, saya segera ingat, bahwa hari itu saya sudah ada janji untuk ke kantor BPJS Ketenagakerjaan. iya, BPJS Ketenagakerjaan, salah satu perusahaan penjaminan sosial milik BUMN, dimana saya sudah dua kali gagal dalam seleski rekruitmen di sana. *malah curhat


Awalnya saya malas untuk sarapan, namun saya memaksakan diri untuk sarapan pagi ditemani teh panas. Pagi itu saya sudah kehilangan selera untuk ngopi di pagi hari. Namun saya tetap semangat, karena saya memiliki tanggung jawab.