Rabu, 24 Agustus 2016

Mak Nyarmi


“Mas Rizky, bangun, hari ini masuk apa?”
Suara Mak nyarmi membangunkan saya yang terlambat bangun pagi kala itu. “Rizky” begitulah Mak nyarmi memanggil nama saya. Padahal dari awal saya sudah mengenalkn diri saya dengan nama Riki. Entah mengapa Mak nyarmi lebih sering memanggil nama saya dengan sebutan, Rizky. Namun, saya tidak pernah mempermasalahkan itu.

Sekarang pertanyaannya adalah, siapa itu Mak nyarmi? Mak nyarmi sekarang menjadi bagian dari orang yang hidup di sekeliling saya. Beliau telah mengijinkan saya untuk menempati salah satu sudut ruang rumahnya, untuk saya jadikan tempat singgah. Iya, saya memiliki kos yang sangat sederhana. Ada beberapa alasan kenapa saya memilih hidup sebagai anak kos, tapi itu akan saya coba ceritakan di lain kesempatan. Tapi saya tidak janji lho ya.

Mak nyarmi adalah seorang yang sudah tidak berusia muda lagi, usianya kira-kira seusia adik Simbah saya. Mak nyarmi sangat sabar, ia nikah dua kali. Suaminya yang pertama meninggal dunia, dengan meninggalkan tiga anak yang sudah berkeluarga semua. Anak laki-laki yang pertama membuat rumah minimalis di dekat rumah Mak nyarmi, sedangkan anak laki-laki yang kedua satu rumah dengan mak nyarmi. Kemudian anak terakhirnya, tinggal bersama suaminya. Mak nyarmi juga dititipi keponakan yang menempati salah satu kamar di rumahnya.

Mak Nyarmi adalah orang yang sabar, ia sangat sayang dengan cucu-cucunya. Kesabarannya menghadapi segala polah dan kenakalan cucu-cucunya ia tangani dengan hangat. Mak nyarmi memiliki keahlian dalam memijat bayi, jadi tidak heran Mak nyarmi memiliki kesabaran yang luar biasa. Tangannya begitu halus dan lihai dalam memijat bayi. Selama saya tinggal di sana, suara tangisan bayi menjadi sangat akrab di telinga saya.

Hampir sholat lima waktu ia tunaikan secara berjamaah di masjid yang letaknya hanya di seberang rumahnya. Sholat tahajud dan dhuha tak pernah lupa ia jalankan. Bahkan terkadang saya sering diingatkan agar saya bisa sholat berjamaah juga.

 Mak nyarmi pernah mengalami sakit dan harus di rawat di rumah sakit. Kala itu banyak orang dengan menggendong bayi harus menelan kekecewaan karena Mak nyarmi selama sakit harus banyak beristirahat, dan untuk sementara waktu tidak melayani pijat bayi.

Mak nyarmi juga pernah bercerita terbuka kepada saya. bahwa ia sudah menikah lagi, namun karena tidak tega meninggalkan cucu-cucunya, ia memilih hidup di rumahnya sendiri dan sesekali berkunjung ke tempat suaminya.

Beberapa hari yang lalu, suami dari pernikahan kedua Mak nyarmi mengalami kecelakaan dan Mak nyarmi pun menemaninya di rumah sakit. Dan setelah keluar dari rumah sakit, justru suami Mak nyarmi terkena stroke. Jadilah sekarang Mak nyarmi memutuskan untuk tinggal di rumah suaminya untuk merawatnya. Mak nyarmi tahu betul, bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk merawat suami yang sedang sakit, apalagi sakitnya stroke, tentu membutuhkan orang yang merawat dan menjaganya.

Di saat seperti itulah Mak nyarmi mengambil sebuah pilihan. Baginya sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk merawat suaminya yang sedang sakit. Maka untuk beberapa hari ini, merawat suami menjadi prioritasnya. Kemudian mengabarkan kepada orangtua yang mau memijatkan anaknya agar pijat pas hari sabtu dan minggu. Dalam seminggu hari sabtu dan minggu, Mak nyarmi pulang ke rumahnya, memijat bayi-bayi yang sudah lama menjadi pasiennya, sedikit mengurus rumah yang menjadi berantakan karena bisa dibilang tanpa Mak nyarmi rumah menjadi semakin tidak terurus.


Saya belajar dari Mak nyarmi tentang sebuah kewajiban. Bagaimana Mak nyarmi bisa mengatur waktunya, untuk merawat suaminya, kemudian tetap menjalankan apa yang menjadikan keahliannya, yaitu memijat bayi. Bertemu dengan anak kecil, kemudian memijatnya mungkin adalah kebahagian tersendiri bagi Mak nyarmi. Dan saya selalu dengar, ketika tangannya sedang memijat, Mak nyarmi selalu mendoakan bayi-bayi yang ia pijat agar menjadi anak yang sholeh/sholehah “Semoga cepat sehat, jadi anak yang sholeh/sholehah ya le/nduk”