Sabtu, 20 Agustus 2016

Mba Sus


Saya tidak tahu, kenapa Johan menggunakan gambar tersebut untuk ilustrasi di postingannya di lobimesen.com. Saya yakin ia mengambilnya dari DP BBM saya beberapa waktu yang lalu. Kemudian menjadikan gambar tersebut sebagai ilustrasi postingannya di lobimesen.com, yang kebetulan ia bercerita tentang secuil kisah kehidupan saya.

Pada gambar itu, terlihat  saya dan Mba Sus, begitu saya memanggilnya. Foto itu diambil oleh salah satu karyawan saya ketika saya sedang masuk lembur di hari sabtu. Karena lembur, jadi saya hanya menggunakan kaos tanpa krah dan celana jeans serta sepatu kets. Dan ketika itu saya benar-benar menjadi diri saya, karena saya sangat nyaman dengan kaos dan celana jeans. Jadi hari sabtu adalah hari saya. Itulah kenapa saya sangat menikmati dan tetap enjoy ketika hari sabtu masih harus tetap masuk kerja, padahal hari sabtu seharusnya adalah hari libur. Sebuah alasan yang sederhana bukan?

Saya masih ingat pertemuan kali pertama dengan Mba Sus. Kala itu, saya mendapat panggilan interview di suatu perusahaan. Perusahaan itu adalah tempat kerja saya saat ini. Ketika itu saya diinterview di poliklinik perusahaan tersebut. Dan kala itu, suster yang sedang berjaga adalah Mba Sus. Namun, kala itu saya hanya interview dengan seorang wanita yang kini menjadi partner kerja saya, dan tanpa tes kesehatan terlebih dahulu, saya langsung tes interview dengan User, yaitu yang sekarang menjadi atasan saya.

Setelah bekerja, Mba Sus menjadi cepat akrab dengan saya, karena pada awal-awal saya mulai bekerja, di tempat kerja saya saat itu belum mempunyai ruangan rekruitmen sendiri. Jadi, saya lebih sering meminjam ruangan poliklinik untuk melakukan interview calon karyawan, serta terkadang saya melakukan psikotest di ruang itu, yaitu poliklinik.

Sering bertemu menjadikan saya akrab dengan Ibu satu anak itu. dan Mba sus adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap perubahan besar dalam hidup saya. karena ia adalah otak intelektual dibalik perubahan size tubuh saya, yang dulu L kini sedang bermetamorfosa menuju XL, serta perubahan lingkar perut yang kini sudah tak muat lagi dengan celana size 30, karena perut saya saat ini sudah mengalami kemajuan, karena kata buncit terlalu semena-mena bagi saya, hehehe. Gimana nggak cepat gemuk, lha wog setiap ada makanan Mba Sus selalu BBM saya “Pak, Riki di poliklinik ada banyak makanan”

Dulu awal-awal masuk kerja, saya masih berusaha mengenal satu sama lain. Dan ternyata lingkungan pekerjaan sangat kekeluargaan. Tidak jarang saya dibawakan makanan oleh salah satu karyawan saya, ketika ada yang mendapatkan bonus tidak jarang saya ditraktir makan siang. Piye nggak tambah lemu, nek ngunu kui jal?

Perlu diketahui, bahwa Mba Sus adalah salah satu prototype manusia yang hidup secara mandiri, karena ia kuliah dan ambil jurusan keperawatan dengan uangnya sendiri. Dan yang membuat saya kagum dengan sosok Mba Sus adalah, saya tidak menyangka bahwa ia pernah beberapa tahun hidup di luar negeri, yaitu tepatnya di sebuah Negara  yang beberapa bulan lalu telah menggelar hajatan besar yang bertajuk piala eropa, yaitu Perancis.

Mba sus pernah bercerita, ketika ia hidup di Perancis, tepatnya di Marseile, ia sering menghabiskan waktu akhir pekanya dengan menziarahi kota-kota terkenal seperti Roma, Madrid dan kota-kota lain yang saya yakin jika dikujungi oleh orang-orang masa kini, tidak akan bisa menahan “nafsu” untuk berfoto selfie

Ada yang tahu kenapa setelah lulus SMA, Mba Sus bisa nyasar sampai ke Perancis? Iya, Mba Sus mendapat tawaran untuk bekerja di Kantor Konsulat, ia bertugas di bagian kerumah tanggaan, yang mengurusi segala keperluan Bosnya, baik itu urusan dapur, maupun mengurusi anak Bosnya yang masih kecil.

Pikir Mba Sus kala itu sangat sederhana.” Tidak semua orang diberi kesempatan seperti dirinya” jadi ia mengambil tawaran itu, meski dirinya tidak pernah membayangkan akan hidup di Perancis. Hanya dengan modal bahasa Inggris pas-pasan ia berangkat ke Perancis seorang diri. Segala kebutuhan untuk penerbangan ke Perancis sudah disiapkan, ia hanya tinggal membuat paspor, kemudian terbang ke Perancis.

Dan apa yang terjadi ketika di Perancis? Ternyata tidak semua orang Perancis bisa berbahasa Inggris, untungya ia tinggal di tempat yang mudah dikenali.

Beberapa tahun hidup di Negara orang, untuk mengusir rasa bosan, ia biasanya mencari tiket promo perjalanan wisata untuk mengisi akhir pekannya. Jadilah ia bisa menikmati pekerjaannya, karena ia bisa bekerja sambil berwisata di luar negeri. Benar kata Mba Sus, bahwa tidak semua orang bisa seperti dirinya, bahkan ia menganggap bahwa dirinya sedang berwisata sambil bekerja.

Di saat pemberitaan media mengenai nasib seorang TKW yang bekerja di luar negeri. Mba Sus selalu bersyukur, ia bekerja di tempat orang Indonesia yang bertugas menjadi Konsulat. Dan keluarganya tidak mengkhawatirkan anaknya meski hidup jauh dari keluarganya.

Ketika masa kerja “juragannya” habis, ia pun juga turut kembali ke Indonesia. Dan jangan ditanya barang-barang branded apa saja yang turut ia bawa pulang ke Indonesia, tentu bukan hanya gantungan kunci seperti oleh-oleh kebanyakan  orang yang baru saja liburan dari luar negeri. Namun, yang namanya barang. Dan itu sangat duniawi sekali, dimana hal-hal yang sifatnya duniawi tidak akan pernah kekal. Baju-baju yang ia beli, atau dibelikan Bosnya, bisa mengecil, tas-tas atau dompet juga bisa rusak, uang dolar yang ia peroleh juga bisa habis juga.

Sepulang dari Indonesia, ia kemudian memutuskan untuk kuliah dan mengambil jurusan keperawatan, dan baru setelah lulus ia memutuskan untuk menikah, sebelum akhrinya bekerja di perusahaan tempat saya bekerja, sebagai suster di poliklinik perusahaan. Sekarang Mba Sus sudah memiliki seorang putra yang tahun ini sudah masuk TK.


Saya justru banyak belajar dari Mba Sus, bagaimana ia menjalani kehidupan ini seperti air, mengalir dan tetap terus berserah diri kepada Tuhan tentang kehidupan yang ia jalani. Bukan berarti tanpa usaha, ia terus berusaha, namun selalu ikhlas menjalani takdir hidupnya. Karena sebagai orang yang telah berkeluarga, saya tidak pernah mendengar ia mengeluh dengan kehidupan yang ia jalani. “semua itu sudah ditakdirkan, tinggal jalani saja”