Jumat, 30 September 2016

Merayakan Ulang tahunnya Sendiri.


Saya membayangkan bahwa di hari ulang tahun saya tahun ini, akan ada seseorang yang rela meluangkan waktunya untuk membuat kejutan kecil untuk saya. Ada yang membangunkan saya di pagi buta. Dengan membawakan kue ulang tahun dengan jumlah lilin yang berjumlah sesuai dengan usia saya, kemudian berteriak “Surpriseeee!”

Namun segala angan itu langsung hancur lembur begitu saya menyadari bahwa diri saya masih sendiri. Dan saya yakin hal itu hanya sebatas angan, yang tidak akan pernah terjadi. Tidak mungkin juga saya pergi ke Indomart atau alfamart untuk mendapatkan ucapan selamat ulang tahun, karena hanya ucapan selamat datang yang akan saya dapatkan.

Sebagai seorang yang masih sendiri, (dan agar nampak kekinian, saya akan menyebut kesendirian saya dengan sebutan jomblo) tentu bukan hal mudah menghadapi tuntutan zaman yang semakin tidak ramah lagi bagi kaum jomblo. Ketika berjalan seorang diri dikira manusia yang egois, dan giliran berjalan bersama teman lelaki, malah dikira homo. Di saat seperti itulah, saya merasa menyendiri dan menikmati kesunyian adalah jalan terbaik bagi seorang jomblo seperti saya ini.

Beruntunglah saya masih memiliki teman-teman yang baik. Meski mereka bisa dibilang adalah  teman-teman yang “kampret”. Bagi mereka, hari ulang tahun kawan adalah hari dimana kami semua bisa makan-makan gratisan. Tapi, sekampret-kampretnya mereka, mereka selalu ada di kala saya sedang susah. Beruntunglah bagi kalian yang memiliki teman-teman yang kampret seperti kawan-kawan saya.

Sebagai seorang jomblo bukan berarti saya tidak punya hak untuk merayakan hari lahir saya. Karena merayakan hari ulang tahun, adalah hak setiap manusia yang hidup di dunia. Dan jomblo juga manusia yang hidup di dunia. Jadi hak kita sama!

Saya berbagi kebahagiaan dengan membawa kue atau brownis amanda untuk bisa dinikmati teman-teman kantor, serta mentraktir makan untuk rekan kerja yang kebetulan makan siang bareng saya.

Saya adalah orang selalu berusaha bersikap adil terhadap diri saya sendiri. Saya tidak hanya menuntut diri saya untuk mencapai apa yang sudah saya tentukan, kemudian lalai memberikan reward kepada diri saya sendiri. Karena, terkadang saya akan menghadiahi diri saya sendiri untuk segala pencapaian saya. Termasuk ketika saya bisa menyelesaikan skripsi, saya langsung menghadiahi diri saya dengan menonton film secara marathon seharian penuh di kamar kos. Dengan ditemani segala macam cemilan serta minuman berbagai macam soda, saya pelototin layar laptop untuk menonton film-film yang baru saja saya copy dari warnet dekat kampus kentingan.

Terkadang, ketika berhasil menyesaikan suatu project, entah pekerjaan kantor ataupun project pribadi. Saya langsung menghadiahi diri saya dengan mampir ke warung tahu kupat langganan saya, kemudian memesan dua porsi sekaligus makanan kesukaan saya itu. Selain itu, terkadang juga saya menghadiahi diri dengan sesuatu yang murah meriah. Yaitu dengan tidur yang cukup, baik secara kuantitas maupun berkualitas, seperti sengaja tidur “ngebo” di kala libur. Karena saya sadar, tak ada sesuatu yang lebih mengasyikan selain bisa tidur pulas tanpa beban pekerjaan.

Dikira berpura-pura menjadi orang yang bahagia dalam kesendirian itu tidak melelahkan po?

Di hari ulang tahun saya ini. Saya berencana membuat perayaan kecil untuk hari ulang tahun saya sendiri. Saya membuat makanan untuk saya sendiri, yaitu dengan membuat indomie goreng sendiri sesuai selera saya. Dan tentu dengan prinsip murah meriah.

Saya merayakannya dengan membuat indomie goreng jumbo dengan menambahkan telor, diberi irisan cabai, potongan-potongan sosis yang saya beli di warung kelontong, yaitu sosis yang yang “tinggal lhep itu” karena harganya yang murah meriah. Serta 30 biji bakso syang bisa dibeli di tukang sayur keliling, seharga 6rb rupiah.

Karena merayakan ulangtahun tidak harus mewah, jadi yang murah meriah saja lah.


 Selamat ulang tahun, saya