Kamis, 06 Oktober 2016

Akta Kelahiran

Barusan saya menerima pesan wasap dari seseorang-yang-peduli-dengan-masa-depan saya. Kira-kira pesan wasap itu bertuliskan "Le, ini harus dicoba ya, aku akan terus mendoakan untuk kebaikanmu" diikuti dengan sebuah gambar yang berisi pemberitahuan tentang dibukanya pendaftaran CPNS di Badan Pemeriksa Keuangan, atau BPK. Dan ada salah satu lowongan yang sesuai dengan latarbelakang pendidikan saya, yaitu: psikologi.

Sebenarnya informasi CPNS itu sudah saya ketahui jauh-jauh hari di salah satu grup wasap yang saya ikuti. Dan ketika seseorang-yang-peduli-dengan-masa-depan-saya itu mengabari hal itu. Saya langsung sedikit tratapan, karena saya sudah memutuskan untuk tidak mengikuti seleksi itu. Ada salah satu berkas yang tidak saya miliki, yaitu: akta kelahiran.

Yang ada dalam pikiran saya, "Saya tidak mau membuat kecewa orang yang begitu peduli dengan masa depan saya". Namun dengan berat hati saya membalas pesan wasapnya, bahwa saya tidak bisa mengikuti seleksi CPNS BPK karena saya tidak memiliki akta kelahiran. Ini adalah penolakan kali kedua ketika saya disarankan untuk mengikuti seleksi di sebuah instansi pemerintahan.

Saya yakin, ada raut kecewa ketika saya memutuskan untuk tidak ikut seleksi karena alasan yang bisa dibilang sangat sepele itu; tidak memiliki akta kelahiran. 

"Yaudah, le. Kalo ada waktu longgar mending bikin akte saja, siapa tau sewaktu-waktu dibutuhkan" Jawaban pesan wasap darinya meski tak ada emoticon apapun, saya merasakan ada sedikit kekecewaan dalam pesan wasap tersebut.

Bisa dibilang, setelah lahir saya tidak segera dibuatkan akta kelahiran. Entah karena ketidaktahuan kedua orangtua saya. Atau karena keterbatasan keluarga saya kala itu, hingga enggan untuk menguruskan akta kelahiran, baik untuk saya maupun kakak saya.

Saya hanya memiliki surat kelahiran. Dan dengan surat kelahiran itulah saya bisa mendaftar TK, kemudian SD, hingga lulus perguruan tinggi. Beruntung dulu persyaratan administrasi untuk mendaftar sekolah tidak seketat sekarang yang mengharuskan memiliki akta kelahiran sebagai syarat mendaftar TK maupun SD.

Dan surat kelahiran yang saya punya itu pun, kini sudah tidak ada. Karena dulu saya pernah mengalami masalah administrasi. Nama saya dan kakak saya tidak tercatat baik di KK Sukoharjo maupun Klaten. Padahal waktu itu saya sedang ingin membuat KTP, agar bisa segera memiliki SIM. Akhirnya atas bantuan Pak Dhe, saya bisa dimasukan KK di Klaten yaitu dengan menggunakan surat kelahiran saya itu sebagai bukti. Saya pun memiliki KTP untuk membuat SIM.

Saat sedang ramai-ramainya e-KTP. Saya kemudian membuat KK baru di Sukoharjo, sekaligus foto e-KTP di sana. Dan saya pun memiliki dua KTP, yaitu e-KTP Sukoharjo dan KTP lama di Klaten. Saya pun memilih untuk menggunakan e-KTP Sukoharjo, karena saya sudah menetap di sana.
***

Tidak bisa mengikuti seleksi karena berkas yang kurang, yaitu akta kelahiran. Tentu tidak serta merta membuat saya menyalahkan keadaan. Terlebih menyalahkan kedua orangtua saya, karena tidak segera mengurus akta kelahiran saat saya baru saja dilahirkan. Saya tidak akan seperti itu. Bagi saya, segala hal yang menimpa saya, pasti ada hikmahnya.

Sebenarnya dulu sempat terpikirkan untuk membuat akta kelahiran. Namun, karena harus melalui proses persidangan perdata, saya enggan untuk mengurusnya. Lagian, selama ini saya belum pernah bermasalah hanya karena ketiadaan akta kelahiran. 

Dan karena kejadian ini pula, saya mulai iseng untuk browsing, apakah akta kelahiran dibutuhkan untuk mendaftarkan pernikahan. Dan ternyata, salah satu syarat menikah harus mengumpulkan akta kelahiran.

Kamu, mau sabar sebentar nunggu aku sidang buat ngurus akta kelahiran to dek?