Minggu, 09 Oktober 2016

Di Warung Sederhana


Kemarin sore, sehabis acara ngobrol bareng lobimesen dot com, yang diadakan di kampus psikologi, Mesen. Saya dan beberapa teman yang juga merupakan kontributor lobimesen.com; Johan, Mas Wildan, Mba Kiki, dan Sandy. Sholat dhuhur terlebih dahulu di masjid depan kampus mesen. Sehabis sholat dhuhur, di luar sudah hujan deras. Kami tertahan di serambi masjid. Mba kiki dan Mas wildan nampak sedang asyik mengobrol di dekat pagar besi pembatas serambi masjid. Sedangkan saya, Sandy dan Johan asyik dengan handphonenya masing-masing.

Hujan nampak sudah mulai sedikit reda. Johan mengajak makan siang di warung sederhana. Saya yang dari pagi hanya sarapan sepotong roti dan kopi nescafe kotak, yang dibelikan Johan ketika saya menjemputnya di minimarket dekat kampus mesen. Juga sudah mulai lapar, dan cacing dalam perut sudah meronta-ronta menuntut hak-nya.

Kami semua akhirnya menuju ke warung makan sederhana, yang letaknya masih satu deret dengan masjid. Warung sederhana ini adalah tempat saya dan kawan-kawan kuliah untuk makan siang, atau sekedar untuk ngopi. Lauk favorit saya dan kawan-kawan kuliah saya sama; yaitu kepala (ayam) goreng tepung.

Warung sederhana yang terletak di seberang kampus mesen ini, adalah tempat kami menggelar diskusi. Jadi tidak heran jika saya dan kawan-kawan kuliah akan betah berlama-lama di sana. Mulai dari mendiskusikan tentang skripsi, membahas sepak bola, wanita, bahkan sampai ngrasani. Seperti ngrasani dosen, misalnya.

Adik-adik tingkat saya sering menyebut warung sederhana itu dengan sebutan warung bu baik. Saya tidak tahu kenapa mereka menyebutnya dengan sebutan itu. Mungkin karena Ibu pemilik warung adalah orang yang baik. Bisa juga karena warung tersebut memasang harga yang terjangkau untuk kalangan mahasiswa.

Kalau saya tanya kepada salah satu kawan kuliah saya, kenapa sering mengajak kesini di saat senggang atau sedang tidak ada kuliah. Jawabannya simpel, "Di warung ini menjual rokok ketengan dan ia bebas merokok tanpa ada gangguan"

Sekampret-kampretnya kawan saya itu, ia sangat memperhatikan hak orang lain. Ia akan sangat sungkan ketika merokok di sekitar wanita. Alasan yang cukup mendasar "mereka berhak untuk menggirup udara bersih" maka ia sungkan jika merokok di kantin kampus. Apalagi di kampus psikologi kebanyakan adalah mahasiswi. Dan di kantin kampus milik Bu No mayoritas yang jadi pengunjungnya adalah wanita.  Maka ia sering mengajak saya ke warung seberang agar tetap bisa merokok.

Sebagai perokok, ia tahu bagaimana menghargai orang yang tidak merokok. Tapi ya itu, sebuah alasan yang menurut saya terkadang sedikit gapleki ketika diajak untuk segera bergegas "Sik bro, sak ududan sik"

Di warung sederhana itu, ketika saya hendak memesan makanan, pemilik warung nampak kaget ketika saya sapa. "Heh, sekarang tambah gemuk, sekarang kerja dimana?" Nampaknya pemilik warung masih ingat dengan saya. "Maklum Bu, saiki wes kopen" jawab saya kala itu sambil mengambil lauk.

Sehabis menyantap makan siang. Sambil menunggu hujan reda, kami pun cukup lama nongkrong di sana. Hampir sama seperti dulu, ketika saya dan teman-teman kuliah saat nongkrong di warung itu.

Banyak hal yang kami obrolkan siang itu. Mas wildan, Mba kiki, Johan, Sandy dan saya saling sharing banyak hal. Dan obrolan itu, malah menjadi diskusi kedua kami, karena sebelumnya kami juga terlibat dalam diskusi di "ngobrol bareng lobimesen"

Bedanya, di warung sederhana, Mba kiki lebih mendominasi dalam obrolan kami kala itu. Ia berbagi banyak hal, mulai tentang studi S2-nya, bercerita tentang kawan-kawan kuliah S2-nya yang masih satu almameter. Bercerita tentang dosen muda yang memiliki passion dalam melakukan penelitian. Dan di jogja sana, dosen muda itu bahkan sudah mendapat julukan calon rektor.

Banyak hal yang kami bicarakan kala itu, karena kami sudah lama duduk di sana. Dan di luar hujan juga sudah mulai reda. Mas wildan, Mba kiki dan Sandy langsung pamit pulang. Sedangkan saya dan Johan, sholat ashar terlebih dahulu di masjid tempat kami sholat dhuhur tadi.

Setelah sholat, di bawah rintik hujan yang menguyur kota Solo sore itu. Saya mengantar Johan ke tempat mertuanya terlebih dahulu, sebelum saya berhujan-hujan pulang ke Boyolali.