Minggu, 27 November 2016

Maiyahan Lagi

suasana maiyahan di alun-alun Boyolali

Gerimis tipis menyelimuti alun-alun Boyolali. Meski hujan tak kunjung reda, tak ada satu orang pun yang beranjak dari tempat duduknya. 

Bahkan, ada orangtua yang turut membawa anaknya yang masih kecil, tidak segera beranjak meski kondisi masih gerimis tipis. Saya yang sebenarnya membawa jas hujan plastik. Namun, sengaja tidak saya keluarkan karena ingin ikut merasakan gerimis tipis yang semakin malam, semakin dingin itu.

Saya duduk membaur dengan anggota Polri yang turut serta dalam Boyolali mengaji ngangsu tepo sliro bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Sebenarnya saya berencana untuk menghadiri pengajian tersebut dengan teman kuliah, yang kini menjadi CEO sebuah online shop @gildansoc. Namun, tiba-tiba ia mengabari bahwa ia tidak bisa hadir karena di daerah tempat tinggalnya hujan deras.

Malam itu adalah kali ketiga saya ngalap berkah dengan menghadiri pengajian dari seseorang yang begitu dikagumi banyak orang karena pemikiran-pemikirannya

Sambil duduk menunggu Cak Nun dan Kiai Kanjeng naik ke atas panggung. Saya ngobrol-ngobrol dengan seorang bapak yang turut serta membawa anaknya ikut serta mendengarkan ilmu-ilmu dari Cak Nun. Seorang warga Musuk, Boyolali yang dengan ramah menceritakan tentang kehidupannya di desa. Hidup dari hasil pertanian dan peternakan untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari.

Cak Nun dan Kiai Kanjeng mulai naik ke panggung beserta Wakil Bupati dan jajarannya. Turut hadir juga berbagai tokoh agama dari Islam, Kristen dan Katolik. Hal itu seakan menunjukan bahwa, masih ada toleransi antar umat beragama di Boyolali. Karena perbedaan itu, bisa disatukan dalam satu tiang bernama NKRI.

Acara di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan lagu Syukur. Dan semua jamaah pun diminta untuk berdiri. Karena ingin khusyuk ngangsu ilmu, saya masukan handphone ke dalam plastik dan saya simpan dalam tas kecil yang biasa saya bawa ketika bepergian.

Saya tidak akan menceritakan dengan detail tentang apa saja yang di sampaikan dalam Boyolali mengaji malam itu. Karena hasil reportase lengkapnya sudah di posting di website caknun.com. Silakan dibaca dan diresapi sendiri.

Ada banyak alasan kenapa saya merasa harus menghadiri pengajian tersebut. Padahal, sebelumnya saya berencana menghadiri gathering komunitas anak bawang Solo, serta peluncuran buku permainan tradisional-nya Mba Diah. Saya sudah meminta Mba Diah untuk menuliskan keseruan malam itu, agar bisa dipajang di lobimesen.com.  Semoga minggu ini tulisane jadi dan bisa dinikmati. Karena saya harus pamit dan memilih menghadiri kajian di alun-alun Boyolali.

Ada kegelisahan yang saya alami. Dan mengikuti kajian dari Cak Nun setidaknya mampu mengurai sedikit kegelisahan yang saya alami. Karena saya mampu membuka kembali pikiran saya yang sudah diracuni dengan kebencian-kebencian akan sesuatu. 

Kita sekarang mudah menemukan kebencian. Karena kebencian itu hadir dimana-mana, apalagi di media sosial. Ketika ada yang berbeda pendapat atau tidak satu pemahaman, dengan mudah cangkem ini jeplak "sesat", "kafir" dan segala pisuhan yang menurut saya tidak ber-etika. Apalagi segala kebencian dan pisuhan itu ditujukan kepada seorang sesepuh yang secara keilmuan lebih tinggi dari kita. Menyedihkan!

Puncak dari malam itu. Sebelum lagu berjudul "kemesraan" yang dinyanyikan secara bersama-sama untuk mengakhiri acara malam itu. Dan sebelumnya, setiap pemuka agama diberi kesempatan untuk berdoa untuk keutuhan Indonesia. Baik dari pemuka agama Islam, Kristen, serta Katholik. 
Read more ...

Minggu, 20 November 2016

COD-an

Barang COD-an Online Shop Ditya

[27/10 07.12] Ditya Psi:"Preorder kaos polos 50k saja (exc ongkir) banyak warna"

[27/10 07.15] Johan Psi: "Dalile opo?"

[27/10 07.55] Ditya Psi: "Melu Rassul wae jo"
[27/10 07.55] Ditya Psi: "Bakulan barang halal"
[27/10 07.55] Ditya Psi: "Aku ki gur cah elon2"

[27/10 07.57] Arez Pyton: "Kui nggo samben cocok iku"

[27/10 07.57] Johan Psi: "Cah like and share ora?"

[27/10 07.58] Ditya Psi: "Nek like and share dagangan ku mbok tukoni, tak like and share 😁"
[27/10 07.58] Ditya Psi: "Ayo dipayoni"
[27/10 07.58] Ditya Psi: "Gen koyo antek yahudi Mark Zukerberg"
[27/10 07.59] Ditya Psi: "Mumpung lagi trend style minimalis"
[27/10 07.59] Ditya Psi: "Milyader hobi kaosan polos"

[27/10 07.59] Johan Psi: "Kaosku yo polosan kabeh saiki"

Di atas adalah potongan transkip percakapan dalam sebuah grup wasap yang saya ikuti. Grup wasap tersebut berisi begundal-begundal anak psikologi UNS angkatan 2009. Dan percayalah, tak ada yang penting dalam percakapan grup wasap tersebut. Seingat saya, hanya sekali saja kami diskusi serius di dalam grup tersebut. Yaitu ketika diskusi untuk membahas kado buat pernikahan Johan, satu tahun yang lalu. Dan kini, Johan sudah menjadi seorang ayah.

Hasil diskusi tersebut, kami semua sepakat untuk memberi kado Johan dengan sejumlah sempak, yang menurut Ditya tak lekang oleh waktu. Kami beri beberapa sempak yang cukup untuk selama seminggu. Kopi kapal api kesukaan Johan. Dan dua judul buku yang yang saya tahu betul Johan sangat mengagumi pemikiran-pemikiran penulisnya.

Eh, tunggu dulu, Anda anggap hal tersebut tidak penting? Mungkin dalam hal ini frekuensi otak kalian tidak sama dengan kami. Mungkin kalian sudah terbawa dengan media sosial yang semakin "brisik" ini. Karena apa yang kalian anggap tidak penting justru sangat penting bagi kami. Bagi kami, media sosial sudah darurat hiburan, sejak copras-capres dan hajatan 5 tahunan Jakarta, membuat mereka yang tidak ber-KTP Jakarta juga ikut nimbrung.

Okey, jangan melebar membahas situasi media sosial yang semakin "brisik" ini. 

Dalam sebuah grup wasap tersebut. Setelah sekian lama tak berjumpa, Ditya sedang merintis usaha online shop. Di saat orang-orang sedang memikirkan desain untuk kaos yang akan dijualnya. Ditya seperti tidak ambil pusing. Berbekal dari pengalaman diri sendiri yang menganut paham "sik penting simpel". Kaos polos aja ada peminatnya, ngapain repot-repot pusing mikir desain? Dan sepertinya Ditya ingin menarik hati mereka yang satu ideologi dengan dirinya. Jadilah ia berjualan kaos polos impor.

Saya yang sudah hampir satu tahun ini berpuasa untuk tidak melakukan belanja baju baru. Bahkan lebaran kemarin pun saya juga tidak membeli pakaian baru. Namun, entah kenapa saya kok ya tertarik untuk order di tempat Ditya. 

Padahal, saya sempat berpikir keras ketika mulai merapikan baju-baju yang berada di sebuah lemari kecil yang terletak di sudut kamar. "Kenapa saya membeli baju sebanyak ini?" Padahal saya hanya butuh baju sekitar 4 stel yang bisa dipakai dan dicuci bergantian. "Kenapa harus ada baju untuk kerja, untuk harian. Dan lebih ekstrim lagi, untuk tidur pun harus pakai baju khusus?" Tapi lupakan saja kegelisahan saya ini, ini weekend, sudah males mikir.

Kebetulan saya juga bukanlah pemuja fesyen. Itu artinya saya tidak peduli dengan sebuah brand. Apa yang menurut saya bagus, nyaman dipakai, dan tentu bandrol harganya juga terjangkau. Udah, itu sudah cukup untuk menjadi sebuah standar dalam membeli sesuatu.

Bagi saya, diri kita dilihat bukan dari merk dan banderol harga baju kita. Namun lebih ke tutur kata dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.

Dan karena alasan: simpel, bagus, nyaman dipakai, serta harga terjangkau untuk ukuran buruh di balik meja seperti saya ini. Saya pun order satu potong kaos berkerah.

Sekalian ingin bersilaturahmi dengan Ditya, Saya lebih memilih COD daripada harus melalui jasa transfer.

Melakukan COD di manahan. Dan setelah saya amati dengan seksama Ditya yang memilih tempat di sebelah taman baru manahan. Tempat remang-remang, yang waktu saya amati sekitar. Ternyata tepat di sebelah kami melakukan COD-an, ada sepasang sejoli sedang asyik pacaran.

Jadilah prosesi COD-an yang dilakukan secara sakral, disaksikan oleh dua sejoli yang sedang asyik berpacaran. "Saya terima barang berupa kaos polo shirt, seharga 75rb, dibayar tunai dengan uang 100rb, dan kembaliannya 25rb. Sah?" Kemudian, dua sejoli yang sedang berpacaran pun sebagai saksi akan berkata "Sah!"

Tentu tidak begitu juga, itu hanya sekedar imajinasi liar saya saja. 

Meski Ditya sudah akrab dengan saya, ia melakukan sesuai SOP. Ya mirip kaya transaksi narkoba gitulah. "Barangnya mana?" Kemudian saya cek. "Halah, dianggap langsung cocok wae lah, kesuwen" kata saya kepada Ditya. Saya langsung menyerahkan uangnya. "Sik, foto dulu, harus sesuai SOP"

Bagi kalian yang sedang ingin berpenampilan simpel. Hubungi kawan saya saja. Jangan sungkan untuk tanya-tanya dulu. Saya jamin fast respon, orangnya juga ramah, sekarang orangnya masih studi S2. Tapi sudah punya calon lho. 

Tapi kalo mau kepincut silakan, sama daganganya tapi. Di jamin kualitas bagus, harga terjangkau. 
Read more ...

Rabu, 16 November 2016

Selamat Johan

Foto yang dikirim Johan via wasap
Jauh, sebelum media sosial ramai tentang adanya pernyataan yang sedikit nggapleki. Yaitu tentang adanya sebuah opini di media yang menyatakan bahwa kejadian bom molotov di depan gereja yang menyebabkan meninggalnya gadis mungil yang tak berdosa, itu hanya dianggap sebagai pengalihan asu, eh maksud saya isu. 

Dan beberapa jam sebelum media arus utama ramai memberitakan tentang status Ahok yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka, atas kasus dugaan penistaan agama. Melalui grup wasap yang saya ikuti. Ada berita dari seorang kawan yang beberapa hari yang lalu mentraktir saya sebuah nama domain untuk blog baru saya. 

Selain itu, kawan saya tersebut juga beberapa hari ini sedikit saya repotkan untuk membantu saya berada di balik meja hrfile.net. Setidaknya berkat tangan dinginnya, tampilan blog baru saya menjadi sedikit lebih kece. Saya percaya dengannya, karena tampilan blog bersama lobimesen.com juga dari hasil tangan dinginnya. 

Dan melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada yang bersangkutan.

Dalam sebuah grup wasap, kawan saya tersebut mengirimkan sebuah pesan suara. Pesan suara yang ketika saya dengarkan baik-baik. Adalah suara tangisan bayi yang seperti baru saja dilahirkan ke dunia. Kawan saya tersebut seperti sedang berbagi kebahagian dengan kelahiran anak pertamanya. Bayi perempuan yang baru saja dilahirkan dengan penuh perjuangan. Lahir secara normal dengan berat 4,3 dari rahim seorang istri yang begitu ia cintai.

Pesan wasap darinya seolah menandai, bahwa statusnya sekarang sudah naik lagi. Yang sebelumnya berstatus suami siaga; siap antar jaga. Kini sudah naik satu level lagi, yaitu menjadi seorang ayah. Kini tambah berat tanggung jawab yang diembannya. Ia sekarang sudah menjadi imam bagi istri dan anaknya. Padahal menjadi imam untuk dirinya sendiri saja sudah berat. Namun, yang namanya manusia, ia akan terus berproses.

Dan sepertinya saya tidak perlu berbasa-basi lagi. Saya hanya ingin mengucapkan selamat buat kawan sekaligus sahabat saya: Johan, atas kelahiran anak pertamanya. Sudah terlalu banyak doa yang dipanjatkan untuk keluarga sampeyan. Saya cukup mengamini segala doa itu saja. 

Doa saya singkat saja bro. Semoga bisa menjadi imam yang baik bagi anak dan istri panjenengan. Serta semoga dedek bayi menjadi anak yang sholehah. Dan yang paling penting, semoga tidak se-liberal bapaknya. 
Read more ...

Mendidik dengan Kambing

Belajar Mencintai Kambing. Adalah buku kumpulan cerpen pertama karya Mahfud Ikhwan. Iya, Mahfud Ikhwan penulis novel "Kambing dan Hujan" yang berhasil memenangkan sayembara menulis novel yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta, pada tahun 2014 lalu. Kebetulan saya juga sudah melahap habis novel tersebut. Dan isinya benar-benar menarik.

Buku kumpulan cerpen "Belajar Mencintai Kambing" ini saya dapatkan, ketika salah satu tulisan saya, yaitu tentang salah satu ikon kuliner Boyolali; Soto Segeer Mbok Giyem, dimuat di situsweb minumkopi.com. 

Sebenarnya, ada beberapa pilihan terbitan buku mojok yang bisa saya dapatkan. Namun, saya lebih tertarik dengan buku kumpulan cerpen pertama dari Mahfud Ikhwan itu. 

Buku kumpulan cerpen tersebut saya terima satu minggu setelah tulisan saya dimuat, tentu beserta uang ngopi sebagai honor atas dimuatnya tulisan saya tersebut. Kebetulan buku tersebut dikirim ke alamat kantor saya. Setelah menerima buku tersebut, tidak sabar saya untuk segera membacanya.

Ada beberapa cerpen dalam buku tersebut. Dan semuanya terbagi menjadi 3 bab, atau bagian. Yaitu bagian pertama yang ia beri nama dengan "Belajar". Bagian kedua dan ketiga, ia beri nama: "Mencintai" dan "Kambing"

Dari semua cerpen yang ada dalam buku tersebut. Cerpen yang berjudul sama dengan judul buku kumpulan cerpen tersebut yang paling saya sukai, yaitu "Belajar Mencintai Kambing"

Cerpen yang berjudul "Belajar Mencintai Kambing" bercerita tentang seorang anak kecil yang merengek kepada ayahnya agar dibelikan sepeda. Namun, bukan sepeda yang diberikan oleh ayahnya. Tapi seekor kambing. Sebagaimana seorang anak kecil yang tidak dituruti keinginannya, ia merengek dan merasa bapaknya tidak menyayanginya. Bahkan sempat mempertanyakan apakah dia anak kandungnya atau bukan.

Meski awalnya si anak sangat membenci kambing tersebut. Karena dengan adanya kambing tersebut, itu artinya waktu bermainnya akan sedikit tersita karena harus mengurusi kambing pemberiaan ayahnya. Perlahan tapi pasti, si anak mulai belajar mencintai kambing. Dan belajar bertanggung jawab terhadap kambing miliknya. Karena alasan tanggung jawab itulah kenapa sang ayah membelikan kambing. Karena ia sedang mendidik anaknya agar lebih bertanggung jawab.

Pada akhirnya, si anak bisa menikmati perannya sebagai pengembala kambing. Mengembala kambing tak ubah seperti halnya dengan bermain. Ia hanya mencari tanah lapang yang penuh dengan rumput. Menali kuat-kuat kambing dengan tali panjang. Sambil menunggu kambingnya kenyang ia bisa bermain apapun di sekitar tanah lapang tersebut. Kemudian, sebelum pulang ia menyabit beberapa rumput sebagai makanan cadangan kambing di kandang. 

Di saat ia sudah bisa mencintai kambing, musibah menimpa ayahnya. Dan kambing pun dijual oleh ayahnya. Si anak benar-benar merasa kehilangan. Dan disaat seperti itulah ia sadar akan perkataan ayahnya, "Bahwa manusia bisa menjadi lebih jahat dari kambing" 

Untuk lebih jelasnya, saya persilakan untuk membaca sendiri cerpennya. Hehehe
***

Membaca cerpen "Belajar Mencintai Kambing" saya jadi teringat dengan sesuatu yang dilakukan oleh Om saya kepada diri saya. Tentang bagaimana beliau mendidik saya, agar lebih bertanggung jawab.

Jika dalam cerpen tersebut, si anak dididik untuk bertanggung jawab dengan cara membelikannya seekor kambing. Maka yang dilakukan oleh Om saya adalah mengambilkan sebuah motor baru, kemudian membayar angsurannya setiap bulan.

Hal itu dilakukan oleh Om saya, karena ketika sudah mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Ada perubahan besar pada diri saya. Terutama dalam hal membelanjakan uang. Saya seperti sedang melakukan balas dendam. Dulu semasa kuliah saya berhasil mengekang segala keinginan saya. Namun, hal itu tidak berlaku ketika saya sudah memiliki penghasilan sendiri.

Melihat gelagat saya yang seperti itu. Saya kemudian diajak berbicara empat mata oleh Om saya. Pembicaran satu arah dimana Om saya lebih mendominasi tersebut, tidak lain sedang menasehati saya. "Saya tidak minta uang kamu, itu uang kamu, tapi kamu harus bertanggung jawab terhadap pengeluaranmu" katanya dengan nada lirih.

Dari hasil pembicaraan tersebut, akhirnya kami sepakat bahwa saya harus mengambil motor baru. Awalnya saya tidak merasa pengen untuk membeli motor. Karena bagi saya, motor suzuki shogun 125 yang menemani saya dari SMA hingga lulus kuliah masih sangat layak. Namun, setelah bingung mau membeli motor apa. Tidak tahu kenapa, pilihan saya jatuh pada motor matic scoopy. 

Awalnya saya mau membeli motor tersebut dengan cara kredit. Namun, entah karena takut hukum riba, atau selisih harga cash dan kredit terlalu tinggi. Akhirnya motor dibeli secara cash. Dan saya akan menyicilnya setiap bulan, sehabis gajian. Tentu kredit ini tanpa ada tanggal jatuh tempo. Bahkan kalau tidak dicicil pun bukan sebuah masalah.

Tapi, dari motor itulah saya menjadi lebih bertanggung jawab. Meski awal-awalnya berat bagi saya. Mengingat saya belum bisa menyesuaikan dengan pengeluaran saya setiap bulannya. Pelan-pelan saya bisa mengatur keuangan saya. Karena memiliki tanggungan angsuran, saya yang sebelumnya hampir setiap bulan menyempatkan diri untuk nge-mall dan berbelanja baju. Kini mulai menggunakan skala prioritas, dan membedakan mana kebutuhan dan mana hanya sekedar pengen.

Bisa disimpulkan, bahwa memberikan tanggungan angsuran adalah salah satu cara untuk mendidik saya lebih bertanggung jawab dengan keuangan saya sendiri. Yaitu tentang bagaimana mengatur pengeluaran.
Kemudian mengontrol diri saya agar membeli sesuatu berdasarkan kebutuhan, bukan hanya sekedar keinginan, atau bahasa jawanya "penginan"



Di kamar sunyi, 16 November 2016
Read more ...

Selasa, 15 November 2016

Gething Bakal Nyanding

"Jika mencintaimu harus dimulai dengan membencimu, maka aku rela jika harus membencimu"
Riki S

Kalau kata orang jawa, gething bakal nyanding. Atau dalam bahasa Indonesia, mungkin artinya kira-kira begini; ketika kamu membenci seseorang, akan ada saatnya kebencian itu malah berubah menjadi cinta.

Kalau ditinjau dari hukum kekekalan energi. Energi yang dikeluarkan untuk membenci seseorang, sama dengan energi yang dikeluarkan untuk mencintai seseorang. Keduanya sama-sama melelahkan. Namun, saya lebih memilih untuk mencintai.

Kenapa bisa begitu? Bisa saja! Karena ketika kita membenci seseorang, secara tidak sadar kita telah mencurahkan energi kita untuk mencari segala keburukan yang ada pada diri orang yang kita benci. Sedangkan, ketika kita mencintai seseorang, itu berarti kita telah mencurahkan energi kita untuk mencari kebaikan-kebaikan, serta kesamaan yang ada pada diri orang yang kita cintai. Untuk meleburkan perbedaan.

Namun, yang terjadi bisa saja sebaliknya. Seperti yang saya sebutkan di awal, bahwa; gething bakal nyanding. Benci secara perlahan berubah menjadi cinta. Ada sebuah proses di sana. Sebelum cinta itu bersemi. Harus melalui sebuah proses bernama; benci. 

Atau sebaliknya, yang awalnya cinta pun, bisa berubah menjadi benci. Di sinilah ego berperan. Ketika kita mencintai seseorang, dan kecewa dengan orang tersebut. Apa yang awalnya kita sebut dengan cinta berubah menjadi benci. Hal itu seakan membuat  mereka lupa. Bahwa dulu , mereka pernah bahagia bersama.

Sambil menuliskan catatan ini, terdengar sama-samar sebuah lagu yang diputar di handphone milik rekan kerja saya. sebuah lagu yang berjudul, benci untuk untuk mencinta dari naif. 

Mari kita dengarkan lagu tersebut, sambil sruput dulu kopinya. Cekidot


Catatan ringan di sela-sela pekerjaan
Read more ...

Senin, 14 November 2016

Simbah, Adalah Alasan Kenapa Saya Harus Pulang

Setidaknya, hampir setiap akhir pekan saya pulang, meski hanya sekedar untuk menengok Simbah. Di beberapa kesempatan, saya juga menyempatkan diri untuk menginap di rumah Simbah.

Mengunjungi tempat Simbah, adalah salah satu cara saya untuk me-refresh otak, yaitu dengan cara keluar dari rutinitas yang bernama; pekerjaan. Saya suka dengan suasana rumah Simbah. Terutama dalam hal kesederhanaannya. Ketika sedang di rumah Simbah, momen yang paling saya sukai adalah ketika usai bangun pagi. Saya selalu bangun pagi meski hari libur,  kemudian sedikit melakukan aktivitas di pagi hari. Membuat kopi. Menyalakan televisi meski pada kenyataannya tidak saya tonton. Setidaknya hadirnya net.tv membuat saya memiliki alasan kenapa saya sesekali harus menonton televisi. Kemudian sarapan pagi.

Sarapan pagi di tempat Simbah, sederhana tetapi membuat saya merasa bahagia. Dan justru kesederhanaan itulah yang sangat saya sukai. Menu yang disajikan pun benar-benar sederhana. Seperti tempo hari, menu sarapan kami, meski hanya nasi putih, yang berasnya merupakan hasil panen dari sawah sendiri, dan masih dalam keadaan panas, kemudian tempe goreng tanpa tepung, daun singkong dan pepaya, ikan bandeng, serta sambal. Dan semua itu, luar biasa lezatnya bagi saya. Bahkan saya pun sampai nambah.

Meski sekilas nampak tak se lezat ketika makan di warung makan padang. Namun, percayalah, ada sesuatu yang berbeda yang saya rasakan. Terlebih Simbah saya masih mempertahankan cara menanak nasi tempo dulu, meski kini sudah ada magicom. 

Simbah masih memasak menggunakan kayu bakar meski di rumah juga sudah ada kompor gas. Jadi, kompor gas hanya saya gunakan untuk masak air ketika akan menyeduh kopi, atau memasak indomie saat tengah malam.

Kayu bakar didapatkan dari pohon besar yang terletak tak jauh dari rumah. Beberapa bulan sekali, ranting-ranting pohon itu ditebang untuk dijadikan kayu bakar. Meski jauh dari kata kemajuan, namun saya menyukai hal itu.

Masyarakat desa adalah masyarakat yang mandiri. Mereka bisa hidup dari apa yang bisa dihasilkan dari lingkungan sekitar. Di halaman rumah Simbah saya misalnya, ditanami berbagai tanaman. Seperti pohon pisang, yang terkadang karena tidak habis untuk dimakan sendiri, maka harus dijual. Ada pohon pepaya, selain buahnya, daunnya terkadang dijadikan sayur. Pohon singkong, sambil menunggu umbinya besar, daunya bisa digunakan untuk pelengkap makan siang kami, untuk mendampingi sambal. Dan masih banyak lagi tanaman lainnya.

Selain itu, Simbah juga berternak ayam. Namun demikian, sangat jarang Simbah menyembelih ayam-ayamnya untuk dijadikan lauk. Paling hanya telurnya saja yang terkadang diambil sebagian untuk lauk, dan sebagian lagi untuk ditetaskan.

Selalu ada alasan kenapa saya harus pulang. Karena dari kehidupan Simbah lah saya selalu belajar. Bahwa hidup secukupnya itu menyenangkan. Dan seperti kata Jon Jandai dalam sebuah video di youtube, bahwa hidup itu mudah, itu benar adanya. Simbah saya contohnya. 

Namun demikian, simbah seperti tidak percaya bahwa anak cucunya akan bahagia dengan cara hidupnya. Dan ia lebih mempercayakan sekolah untuk masa depan anak-cucunya. Karena itu Simbah sangat peduli dengan pendidikan anak-cucunya. Termasuk dengan pendidikan saya. 

Namun, dari sekolah dan pergaulan lah yang membuat pandangan hidup kita berubah. Hidup bukan lagi tentang kebutuhan. Namun hidup adalah tentang sebarapa banyak materi yang kita dapatkan. Dan di saat seperti itulah hidup akan terasa sulit.

Satu hal yang selalu saya ingat dari simbah saya, beliau pernah berucap "Tugasku hanya membesarkan anak-anakku, setelah itu biarkan mereka bertanggung jawab sendiri dengan kehidupannya". Sepertinya hal itu benar-benar ia tunaikan. Meski kini anak-anaknya bisa dikatakan mapan dan sudah hidup mandiri, Simbah tidak pernah sekalipun bercerita tentang apa yang sudah dicapai oleh anak-anaknya. Simbah tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya. Dan Simbah lebih memilih diam ketika ia tidak sependapat dengan anak-anaknya. Dan simbah selalu risau ketika mendengar anaknya sedang tertimpa kesulitan.

Dan Simbah. Iya, Simbah lah alasan kenapa saya harus selalu pulang di akhir pekan.


Di kamar sunyi, 14 November 2016
Read more ...

Minggu, 13 November 2016

Mental "Embuh"

Di grup wasap yang saya ikuti, ada seorang kawan yang melontarkan pertanyaan, "Memberi tips kepada tukang ojek itu baik nggak? Dan apa hal itu mampu membentuk mental yang tidak baik?"

Saya kala itu segera merespon pertanyaan kawan saya tersebut. "Kondisional. Ada saat dimana kita memberikan tips karena kita merasa perlu untuk memberikan bayaran yang lebih" begitu kira-kira balasan dari saya.

Kenapa kondisional? Saya berkaca pada pengalaman seorang teman. Waktu itu ia sedang ingin makan pizza. Berbekal salah satu fitur dari aplikasi gojek di handphone android miliknya, yaitu: go-food. Ia memesan di salah satu kedai pizza di Solo via gojek. Padahal rumah teman saya tersebut di daerah Klaten. Butuh sekitar 45 menit-an pesanan sampai di tempatnya. Padahal awalnya ia juga ragu, bakal ada driver gojek yang mau menerima order tersebut. Namun ternyata, ada driver gojek yang menerima order tersebut, dengan biaya jasa antar sekitar 30rb an. 

Di aplikasi gojek ada gps untuk memantau pesanan kita. Nah, pada waktu itu, terjadi hujan deras banget. Dari aplikasi gps, nampak driver gojek sempat berhenti di suatu tempat. Mungkin berteduh sebentar. Atau bisa jadi menepi sebentar untuk memakai jas hujan terlebih dahulu agar pizza pesanan teman saya diterima dalam kondisi baik.

Tak lama lama berselang, dan di luar masih dalam keadaan hujan deras. Ada telpon masuk di handphone teman saya. Ternyata telpon tersebut dari driver gojek yang sudah berada di depan rumahnya. 

Teman saya sengaja membayar semua, yaitu uang untuk bayar pizza pesanan, serta jasa pengiriman pizza tersebut dengan uang lebih. "Sisanya buat Bapak saja, soalnya uda sampai hujan-hujan"

Menurut cerita teman saya tersebut, sisa pembayarannya mungkin sekitar 10rb an. Dan ia ikhlas memberikan uang sisa itu. "Kalo dia sampai sakit, ke dokter aja 50rb, bro" kata teman saya saat menceritakan hal tersebut.

Dan karena cerita dari kawan saya tersebut. Saya menyimpulkan bahwa ada saatnya kita membayar uang lebih, atau uang tips atas kinerja seseorang.
***

Di lain kesempatan. Saya bertemu dengan seseorang yang sedikit gapleki. Cerita ini baru saja saya alami tempo hari. Saat di kantor tempat saya bekerja mengadakan training outbond di kawasan agrowisata di Salatiga. Karena peserta hampir 100 orang, kami menyewa dua bus. 

Saya yang bertugas mengkoordinir peserta outbond pun, juga dititipi uang untuk pelunasan sewa bus. Uang itu rencananya saya serahkan ketika bus sudah mengantarkan kami semua ke perusahaan tempat saya bekerja, karena di situ lah kami semua berkumpul sebelum berangkat. Jadi, pembayaran baru saya lakukan ketika bus sudah purna tugasnya.

Karena peserta ingin mampir dulu ke kawasan Kopeng untuk beli oleh-oleh. Rekan kerja saya selaku penanggung jawab kegiatan acara outbond tersebut melakukan nego dengan pihak bus. Akhirnya sepakat naik ke Kopeng dengan tambahan biaya sebesar 500rb.

Dan baru ketika sampai di Kopeng, dari pihak bus sudah meminta uang pelunasan bus. Saya pun segera melakukan pelunasan bus, serta biaya tambahannya sekalian. Ketika saya membayar uang sesuai kesepakatan dari pihak bus dengan penanggung jawab kegiatan outbond tersebut, yaitu rekan kerja saya. Ada sopir yang nyeletuk, "berarti kurang uang rokoknya" mendengar hal itu, saya langsung menatap tajam orang yang nyeletuk itu. Bukan! Saya bukan mau ngajak berantem. Cuma memastikan yang nyeletuk tadi manusia atau bukan, hehehe

Kemudian ada temannya yang langsung mendinginkan suasana. "Jangan gitu, begini Mas" ia mulai mengajak berbicara dengan saya. "Uang ini kan untuk keperluan sewa bus, barangkali ada, mungkin bisa ditanyakan lagi aja"

Saya tahu maksud beliau. Dan saya pun menanyakan ke rekan kerja saya, selaku penanggung jawab kegiatan outbond tersebut. Dan ia menyanggupi penambahan biaya tambahan tersebut. Ia memberikan uang 100rb sebagai uang rokok. "Udah mas kasih aja, daripada ribet" kata rekan kerja saya sambil memberikan uang.

Tidak sampai di situ, ada lagi suatu momen di mana saya bertemu dengan manusia gapleki lainnya. Masih di tempat yang sama. Ada petugas parkir yang menagih uang parkir kepada saya. Dua bus, 60rb rupiah. Sebelum membayar, saya meminta karcis retribusi terlebih dahulu. "Ndak ada Mas, jam segini sudah tutup soalnya" mendengar hal itu, saya sedikit menaikan tekanan suara saya "Yo, nggak bisa, kalo ada karcis retribusi saya langsung bayar, Pak. Soalnya nanti biar bisa saya klaim juga"

Anehnya, si petugas parkir tiba-tiba menuju ke suatu tempat dan membawa karcis retribusi parkir, yang sebelumnya berkata sudah tidak ada. Mendengar pembicaraan saya dan tukang parkir, driver kantor yang membawa Factory Manager saya pun ternyata juga membayar parkir tapi belum mendapatkan karcis retribusi buat tanda parkir. Si petugas parkir pun kembali ke tempatnya dan membawakan karcis retribusi parkirnya.

Pernah juga, saat saya berpergian ke tempat wisata di agrowisata Karanganyar. Kala itu kami datang menjelang sore hari, ketika sebagian orang sudah mulai keluar dari kawasan agrowisata. Dan ketika akan memasuki wahana jembatan gantung menuju sebuah rumah pohon. Ada yang menagih uang, katanya tempat retribusi tutup, jadi langsung bayar saja. Dan kala ditagih uang. Saya menjadi sosok manusia yang pelit. Saya tidak mau membayar jika tidak ada retribusinya. Si penjaga nampak sedikit kesal, namun entah kenapa saya tetap diijinkan masuk bersama keponakan saya.

Dari beberapa kejadian tersebut, saya seperti harus merevisi jawaban atas pertanyaan kawan saya yang ia lontarkan di grup wasap yang saya ikuti. Ketakutannya sepertinya terbukti, yaitu memberi tips hanya akan membentuk perilaku yang tidak baik. Dan membuat seseorang bermental "embuh". Bermental "embuh" yang saya maksud adalah, mental yang jelas tidak baik. Silakan terjemahkan sendiri mental embuh yang saya maksud. Karena saya tidak menemukan kata yang lebih halus dari mental pengemis.

Uang tips yang sejatinya, kalo dikasih ya di terima, kalo nggak dikasih yang tidak apa-apa. Atau bahasa jawanya "rapatheken". Bukan karena tidak dikasih uang tips, terus dengan tanpa malu ia justru malah meminta.

Atau malah melakukan pungutan halus dengan tetap menerima uang parkir atau masuk ke tempat wisata tanpa ada karcis retribusi. Karena saya yakin, tanpa ada bukti karcis retribusi bisa dipastikan itu hanya akan menjadi tai. Alias masuk ke kantong pribadi.

Mau jadi apa bangsa ini, dengan mental seperti itu, embuh lah. . . .
Read more ...

Jumat, 04 November 2016

Acara “Hore” Bareng BPJS TK

Berfoto selfie di Batu alien

Sore itu, saya sudah siap akan pulang dari kantor. Baru saja keluar dari gerbang, karena kebetulan motor saya parkirkan di luar. Secuirity yang sedang bertugas di pos jaga memanggil saya kembali. Katanya, saya dipanggl oleh manager saya. Pikir saya kala itu, akan ada meeting dadakan. Dan saya cuma bisa mbatin “Nasib!, baru mau pulang, malah diajak meeting”

Namun, ketika saya menghadap ke Pak Manager, beliau langsung bertanya kepada saya, “Jumat – sabtu kamu ada acara nggak, Kik?” Saya yang kala itu belum mempunyai agenda apapun, menjawabnya dengan jawaban yang agak diplomatis, “Sementara ini belum sih, Pak”
“Okey, ini hadiah buat kamu, karena saya Jumat – sabtu ada acara, jadi kamu yang mewakili”

Beliau memberikan sebuah undangan kepada saya. Waktu saya baca, ternyata undangan gathering dari BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Saya membayangkan bahwa acara tersebut akan berjalan formal, serius, dan pasti membosankan. Namun, setelah manager saya menjelaskan sedikit hal tentang acara tersebut. Bahwa acara tersebut akan diadakan di Hotel Griya Persada Resort, Kaliurang, serta akan di akhiri dengan kegiatan outbond. Saya pun menerima undangan tersebut. Itung-itung dapat liburan gratisan, pikir saya.

Karena harus check in jumat sore. Saya yang sudah order mobil fasilitas dari perusahaan sehari sebelumnya. Kemudian, jumat pagi saya berangkat kerja langsung membawa baju ganti yang akan saya pakai dalam acara gathering BPJS Ketenagakerjaan tersebut. Kebetulan acara intinya adalah Gathering Night and Gala Dinner dengan tema coboy. Karena acara ulang tahun kantor tempat saya bekerja tahun lalu juga ber-tema-kan coboy, saya tidak kesulitan dalam memperoleh baju coboy. Cukup baju motif kotak-kotak, celana jeans biru, serta topi coboy.
selfie dengan costum coboy
Sekitar pukul 15.00 saya berangkat dari kantor menuju Kaliurang. Dan saya beruntung, karena driver yang membawa saya kala itu, adalah seorang driver yang sukses membuat saya tidak bisa tidur di mobil, karena saya selalu merafalkan doa-doa keselamatan. Mengingat gaya mengemudinya sedikit slengekan. Namun demikian, saya harus berterima kasih kepada driver saya kala itu, karena dia tidak mau ngalang lewat prambanan, dia memutuskan untuk melewati jalur alternatif yaitu lewat cangkringan (kalo tidak salah). Dan hanya sekitar dua jam perjalanan, dengan diiringi drama harus bertanya di setiap pertigaan ataupun perempatan yang membuat kami semua ragu. Mengingat saya tidak bisa memastikan melalui GPS di handphone saya, mengingat ketiadaan sinyal.

Kurang lebih pukul 5 sore, saya check in di hotel. Kemudian mandi, membuat kopi serta menonton tv sambil menunggu acara.

Tidak lama kemudian, teman satu kamar saya datang. Seorang senior HR di perusahaan tetangga. Satu kamar, harusnya diisi bertiga, namun untuk kamar kami, nampaknya hanya diisi dua orang saja. Karena yang satu berhalangan untuk hadir.

Meski bisa dibilang sudah tidak muda, kawan satu kamar saya, adalah orang yang memiliki selera humor yang tinggi. Betapa tidak, saya pun dibuat malu olehnya. Ketika makan malam, kami yang datang hanya memakai kaos dan sandal jepit, namun mencoba untuk tetap percaya diri, meski yang lainnya sudah berpakaian lengkap sesuai tema malam itu; yaitu coboy.

Sehabis makan, saya kemudian buru-buru untuk berganti dengan pakaian coboy. Kemudian, tak lengkap rasanya mendaku diri sebagai orang yang kekinian namun tidak menyempatkan untuk berfoto bersama, maupun selfie di foto board yang telah disediakan oleh panitia acara. Kami semua seakan lupa akan usia. Berfoto layaknya abege masa kini dengan segala kekonyolannya.

Sebelum duduk di meja yang telah disediakan, saya mlipir sebentar untuk mengambil secangkir kopi, untuk menjaga mata ini agar senantiasa terus terjaga. Ketika acara dimulai. Bayangan acara yang bakal berjalan, secara formal, dan membosankan sirna begitu saja. Karena malam itu adalah sekumpulan acara “hore” yang sifatnya sekedar untuk menjalin keakraban.

Acara gathering night and gala dinner malam itu juga diisi dengan bagi-bagi doorprize. Saya pun kecipratan doorprize karena telah dipermalukan dengan dikerjain mc acara untuk joget-joget yang nggak jelas. Meski saya sadar sedang dikerjai, saya menikmati malam itu. Hiburan musik acoustic, kemudian ada sesi motivasi dari dr Andre, serta dagelan dari duo apalah, yang kebetulan saya lupa namanya. Membuat kita semua seakan lupa dengan pekerjaan kita masing-maing.

Saya sangat menikmati acara malam itu, meski saya baru pertama kali mengikuti acara yang diadakan oleh BPJS Ketengakerjaan tersebut. Kebanyakan dari peserta sudah saling kenal, mengingat acara tersebut, bukan kali pertama diadakan.

Puas dengan acara hore malam itu, kami semua kembali ke kamar kita masing-masing. Mengingat sehabis shubuh kami semua akan mengikuti kegiatan 2. Dan target kami pagi itu adalah menikmati sunrise.

Apes memang, saya dan teman kamar saya tidak bisa langsung tidur. Kami terlibat dalam sebuah obrolan, dan mungkin baru sekitar pukul 01.00 kami tertidur. Beruntung saya sudah menyetel alarm handphone saya. Jadi sekitar pukul 04.00 saya sudah bangun dan sholat shubuh. Tanpa mandi terlebih dahulu, saya berganti dengan kaos yang disediakan oleh panitia, kemudian berkumpul di depan hotel.

Di depan hotel sudah terparkir deretan mobil-mobil jeep yang akan mengantar kami napak tilas menyusuri desa-desa yang terkena dampak langsung awan panas, atau sering disebut dengan wedus gembel.

Saya satu jeep dengan tiga karyawan dari BPJS Ketenagakerjaan. Satu laki-laki yang merupakan staff IT, dengan dua perempuan yang lagi-lagi saya lupa berkenalan dengan mereka. Beitulah saya, ketika sudah saling nyaman buat ngobrol, apalah arti sebuah nama.

Meski sudah berusia tidak lagi muda, namun driver kami cukup trengginas ketika mengendarai jeep di medan-medan yang terjal. Driver kami seakan sedang pamer ketangkasan, serta melakukan pembuktian bahwa ia lebih jago daripada Vin Diesel dalam film Fast and Furious.

Selain menjadi driver yang mengantar kami ke setiap titik tujuan kami, beliau juga menjadi tour guide dan menjelaskan tentang daerah-daerah yang kami lewati. Setidaknya ada tiga titik yang kami jadikan tujuan dalam acara lava tour pagi itu. Pertama, sesuai tujuan kami, yaitu melihat sunrise, yaitu di bekas banker, yang bernama Kali Adem. Tiba di sana, kami langsung mengambil spot-spot paling keren untuk berfoto dengan background gunung merapi.

Sehabis dari kali adem, kami semua menuju ke batu alien. Ada juga yang menyebutnya dengan batu alihan. Saya tidak tahu pasti. Baru sampai di batu tersebut, sang driver yang tadinya menjadi driver sekaligus tour guide, kini ia menjelma menjadi fotografer kami.

foto hasil jepretan driver kami

Dan titik terakhir, dalam perjalanan lava tour adalah di mini musium. Mini musiun tersebut, dulu adalah rumah milik seorang lurah. Museum tersebut berisi sisa-sisa peninggalan atau barang-barang yang tersisa pasca erupsi merapi. Banyak sekali barang-barang yang berada di musium tersebut, seperti sepeda motor yang seperti habis terbakar, sapi yang hanya tinggal tulang saja, serta perabotan rumah tangga yang sudah meleleh karena terkena wedus gembel.

Untuk mengakhiri perjalanan lava tour, kami semua diberi bonus dengan offroad di sungai, serta bermain basah-basahan. Saya ketagihan dengan manuver-manuver driver kami, dan meminta satu putaran lagi, meski kawan saya yang berada di belakang sudah ingin menyudahi saja offroad di sungai tersebut. Namun sang driver justru langsung tancap gas dan menuruti keinginan saya.

Ada kejadian yang sempat membuat perjalanan lava tour menjadi sedikit menegangkan. Salah satu jeep di rombongan kami tiba-tiba macet ketika offroad di sungai. Kemudian mobio jeep yang saya tumpangi berhasil mengevakuasi dengan menariknya. Namun, ketika mobil yang macet tersebut mulai menyala, mobil tersebut justru menabrak kami dari belakang. Kami belum memiliki firasat apa-apa kala itu.

Tepat di depan hotel, ketika jeep-jeep sudah mulai terparkir dan menurunkan kami semua. Terdengar suara “duerrrrrr!” ternyata mobil jeep yang sempat macet di sungat tersebut menghantam tembok, dan salah satu penumpang terpental. Setidaknya ada 3 penumpang dalam jeep tersebut, dan mereka bertiga segera kami tenangkan dengan diberi air minum, agar tidak shock. Dan ternyata jeep yang mereka tumpangi remnya blong. Bersyukur kejadian tersebut terjadi ketika kami sudah berada di depan hotel. Saya tidak tahu apa yang terjadi jika kejadian rem blong tersebut terjadi ketika sedang offroad di medan yang terjal penuh bebatuan.

Tanpa mandi terlebih dahulu, kami semua langsung menuju restoran di hotel tersebut untuk sarapan pagi. Saya dan kawan baru saya mengambil nasi goreng serta jus jambu untuk sarapan pagi itu. Baru sehabis sarapan masih ada satu acara hore lagi, yaitu; outbond.

Fasilitator outbond saat itu tidak asing bagi saya. Dan ternyata ia juga merupakan HRD di salah satu peruahaan yang pernah saya lamar. Namun, nampaknya saya gagal seleksi di perusahaan tersebut.

Kegiatan outbond ternyata tidak kalah hore-nya dari acara-acara sebelumnya. Kami semua menikmati setiap sesi outbond yang menekankan pentingnya kerja sama dalam sebuah tim. Setidaknya ada 3 jenis outbond yang kami lakukan siang itu. Dua game bertanding secara tim. Dan satu game yang harus kami pecahkan secara bersama-sama.

Selesai outbond, dilanjutkan dengan penutupan acara, oleh kepada BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Kemudian biar lebih afdol tentu dilanjutkan dengan sesi foto-foto. Baru kemudian kami menikmati coffe break. Serta kemudian kembali ke kamar-kamar untuk mandi dan bersiap check out.

Acara gathering tersebut, di akhiri dengan makan siang bersama. Karena saya tidak dijemput, saya pun memutuskan untuk nebeng dengan kawan baru saya yang ternyata juga bertempat tinggal di Boyolali juga.

Sebelum pulang, saya pun menepi sebentar untuk membeli oleh-oleh, apalagi kalau bukan bak pia. Dan sebagai ucapan terima kasih, tak lupa saya menitipkan oleh-oleh untuk keluarga kawan baru saya yang mobilnya bersedia saya tumpangi.
***
Sebenarnya saya juga menuliskan kegiatan tentang ini untuk keperluan postingan di lobimesen.com. Namun sengaja saya menulis lagi, semata-mata ingin mengabadikan kegiatan “hore” yang pernah saya ikuti.

Tidak lupa saya berterima kasih dengan Pak Bos atas liburan gratisannya. Sering-sering aja ngajak saya untuk acara-acara hore selanjutnya ya, Pak. hehehe



Berikut oleh-oleh dari kaliurang
Di bekas banjer Kali adem

foto di atas jeep

foto dengan dreecode coboy

Read more ...