Minggu, 20 November 2016

COD-an

Barang COD-an Online Shop Ditya

[27/10 07.12] Ditya Psi:"Preorder kaos polos 50k saja (exc ongkir) banyak warna"

[27/10 07.15] Johan Psi: "Dalile opo?"

[27/10 07.55] Ditya Psi: "Melu Rassul wae jo"
[27/10 07.55] Ditya Psi: "Bakulan barang halal"
[27/10 07.55] Ditya Psi: "Aku ki gur cah elon2"

[27/10 07.57] Arez Pyton: "Kui nggo samben cocok iku"

[27/10 07.57] Johan Psi: "Cah like and share ora?"

[27/10 07.58] Ditya Psi: "Nek like and share dagangan ku mbok tukoni, tak like and share 😁"
[27/10 07.58] Ditya Psi: "Ayo dipayoni"
[27/10 07.58] Ditya Psi: "Gen koyo antek yahudi Mark Zukerberg"
[27/10 07.59] Ditya Psi: "Mumpung lagi trend style minimalis"
[27/10 07.59] Ditya Psi: "Milyader hobi kaosan polos"

[27/10 07.59] Johan Psi: "Kaosku yo polosan kabeh saiki"

Di atas adalah potongan transkip percakapan dalam sebuah grup wasap yang saya ikuti. Grup wasap tersebut berisi begundal-begundal anak psikologi UNS angkatan 2009. Dan percayalah, tak ada yang penting dalam percakapan grup wasap tersebut. Seingat saya, hanya sekali saja kami diskusi serius di dalam grup tersebut. Yaitu ketika diskusi untuk membahas kado buat pernikahan Johan, satu tahun yang lalu. Dan kini, Johan sudah menjadi seorang ayah.

Hasil diskusi tersebut, kami semua sepakat untuk memberi kado Johan dengan sejumlah sempak, yang menurut Ditya tak lekang oleh waktu. Kami beri beberapa sempak yang cukup untuk selama seminggu. Kopi kapal api kesukaan Johan. Dan dua judul buku yang yang saya tahu betul Johan sangat mengagumi pemikiran-pemikiran penulisnya.

Eh, tunggu dulu, Anda anggap hal tersebut tidak penting? Mungkin dalam hal ini frekuensi otak kalian tidak sama dengan kami. Mungkin kalian sudah terbawa dengan media sosial yang semakin "brisik" ini. Karena apa yang kalian anggap tidak penting justru sangat penting bagi kami. Bagi kami, media sosial sudah darurat hiburan, sejak copras-capres dan hajatan 5 tahunan Jakarta, membuat mereka yang tidak ber-KTP Jakarta juga ikut nimbrung.

Okey, jangan melebar membahas situasi media sosial yang semakin "brisik" ini. 

Dalam sebuah grup wasap tersebut. Setelah sekian lama tak berjumpa, Ditya sedang merintis usaha online shop. Di saat orang-orang sedang memikirkan desain untuk kaos yang akan dijualnya. Ditya seperti tidak ambil pusing. Berbekal dari pengalaman diri sendiri yang menganut paham "sik penting simpel". Kaos polos aja ada peminatnya, ngapain repot-repot pusing mikir desain? Dan sepertinya Ditya ingin menarik hati mereka yang satu ideologi dengan dirinya. Jadilah ia berjualan kaos polos impor.

Saya yang sudah hampir satu tahun ini berpuasa untuk tidak melakukan belanja baju baru. Bahkan lebaran kemarin pun saya juga tidak membeli pakaian baru. Namun, entah kenapa saya kok ya tertarik untuk order di tempat Ditya. 

Padahal, saya sempat berpikir keras ketika mulai merapikan baju-baju yang berada di sebuah lemari kecil yang terletak di sudut kamar. "Kenapa saya membeli baju sebanyak ini?" Padahal saya hanya butuh baju sekitar 4 stel yang bisa dipakai dan dicuci bergantian. "Kenapa harus ada baju untuk kerja, untuk harian. Dan lebih ekstrim lagi, untuk tidur pun harus pakai baju khusus?" Tapi lupakan saja kegelisahan saya ini, ini weekend, sudah males mikir.

Kebetulan saya juga bukanlah pemuja fesyen. Itu artinya saya tidak peduli dengan sebuah brand. Apa yang menurut saya bagus, nyaman dipakai, dan tentu bandrol harganya juga terjangkau. Udah, itu sudah cukup untuk menjadi sebuah standar dalam membeli sesuatu.

Bagi saya, diri kita dilihat bukan dari merk dan banderol harga baju kita. Namun lebih ke tutur kata dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.

Dan karena alasan: simpel, bagus, nyaman dipakai, serta harga terjangkau untuk ukuran buruh di balik meja seperti saya ini. Saya pun order satu potong kaos berkerah.

Sekalian ingin bersilaturahmi dengan Ditya, Saya lebih memilih COD daripada harus melalui jasa transfer.

Melakukan COD di manahan. Dan setelah saya amati dengan seksama Ditya yang memilih tempat di sebelah taman baru manahan. Tempat remang-remang, yang waktu saya amati sekitar. Ternyata tepat di sebelah kami melakukan COD-an, ada sepasang sejoli sedang asyik pacaran.

Jadilah prosesi COD-an yang dilakukan secara sakral, disaksikan oleh dua sejoli yang sedang asyik berpacaran. "Saya terima barang berupa kaos polo shirt, seharga 75rb, dibayar tunai dengan uang 100rb, dan kembaliannya 25rb. Sah?" Kemudian, dua sejoli yang sedang berpacaran pun sebagai saksi akan berkata "Sah!"

Tentu tidak begitu juga, itu hanya sekedar imajinasi liar saya saja. 

Meski Ditya sudah akrab dengan saya, ia melakukan sesuai SOP. Ya mirip kaya transaksi narkoba gitulah. "Barangnya mana?" Kemudian saya cek. "Halah, dianggap langsung cocok wae lah, kesuwen" kata saya kepada Ditya. Saya langsung menyerahkan uangnya. "Sik, foto dulu, harus sesuai SOP"

Bagi kalian yang sedang ingin berpenampilan simpel. Hubungi kawan saya saja. Jangan sungkan untuk tanya-tanya dulu. Saya jamin fast respon, orangnya juga ramah, sekarang orangnya masih studi S2. Tapi sudah punya calon lho. 

Tapi kalo mau kepincut silakan, sama daganganya tapi. Di jamin kualitas bagus, harga terjangkau.