Selasa, 15 November 2016

Gething Bakal Nyanding

"Jika mencintaimu harus dimulai dengan membencimu, maka aku rela jika harus membencimu"
Riki S

Kalau kata orang jawa, gething bakal nyanding. Atau dalam bahasa Indonesia, mungkin artinya kira-kira begini; ketika kamu membenci seseorang, akan ada saatnya kebencian itu malah berubah menjadi cinta.

Kalau ditinjau dari hukum kekekalan energi. Energi yang dikeluarkan untuk membenci seseorang, sama dengan energi yang dikeluarkan untuk mencintai seseorang. Keduanya sama-sama melelahkan. Namun, saya lebih memilih untuk mencintai.

Kenapa bisa begitu? Bisa saja! Karena ketika kita membenci seseorang, secara tidak sadar kita telah mencurahkan energi kita untuk mencari segala keburukan yang ada pada diri orang yang kita benci. Sedangkan, ketika kita mencintai seseorang, itu berarti kita telah mencurahkan energi kita untuk mencari kebaikan-kebaikan, serta kesamaan yang ada pada diri orang yang kita cintai. Untuk meleburkan perbedaan.

Namun, yang terjadi bisa saja sebaliknya. Seperti yang saya sebutkan di awal, bahwa; gething bakal nyanding. Benci secara perlahan berubah menjadi cinta. Ada sebuah proses di sana. Sebelum cinta itu bersemi. Harus melalui sebuah proses bernama; benci. 

Atau sebaliknya, yang awalnya cinta pun, bisa berubah menjadi benci. Di sinilah ego berperan. Ketika kita mencintai seseorang, dan kecewa dengan orang tersebut. Apa yang awalnya kita sebut dengan cinta berubah menjadi benci. Hal itu seakan membuat  mereka lupa. Bahwa dulu , mereka pernah bahagia bersama.

Sambil menuliskan catatan ini, terdengar sama-samar sebuah lagu yang diputar di handphone milik rekan kerja saya. sebuah lagu yang berjudul, benci untuk untuk mencinta dari naif. 

Mari kita dengarkan lagu tersebut, sambil sruput dulu kopinya. Cekidot


Catatan ringan di sela-sela pekerjaan